20

1077 Words
Ghaniy baru saja selesai berpakaian dengan kemeja batik dan celana kain di depan cermin dan sekarang tengah memakai arloji di pergelangan tangan kiri. Ia berpakaian dengan diperhatikan oleh Fiora yang duduk di pinggir ranjang sambil menghela napas berulang kali. “Jadi bagaimana keadaannya? Panasnya sudah turun?” tanya Ghaniy sambil memerhatikan pantulannya di cermin sekali lagi. “Sudah lebih baik. Dan sekarang dia tertidur setelah minum obat. Untung aku sempat mengganti pakaiannya.” Fiora menghela napas lagi. “Dan malam ini kamu terlihat tampan sekali.” Ghaniy tersenyum tipis menanggapi perkataan itu. Kemudian berbalik. Fiora berdiri untuk merapikan sedikit kerah kemejanya. Tangan wanita itu tetap berada di pundaknya ketika mereka saling tatap cukup lama. “Beberapa hari terakhir ini kamu seperti sedang banyak pikiran? Apa sesuatu telah terjadi?” Fiora sambil menatapnya lurus-lurus. “Hanya lelah. Itu saja. Ada banyak hal yang terjadi di kampus.” Ghaniy balas menatapnya sebelum beralih ke puncak kepalanya. Fiora mengangguk kecil. Melepaskan tangannya dari pundak Ghaniy lalu mundur selangkah. “Kalau begitu kamu siap pergi.” Ghaniy mengambil kunci mobil di atas meja rias setelah memasang kacamatanya. Dengan Fiora yang mengikutinya rapat di belakang ia menuju teras rumah. Ia sekali lagi tersenyum ketika Fiora melambai ke arahnya. Siang ini Ghaniy menghadiri pesta pernikahan salah satu mahasiswanya yang juga teman seangkatan Cassie. Pria yang juga memberi undangan padanya di Long Dock Caffe hari itu. Ia merasa ia harus hadir dan secara mengejutkan itu bertepatan dengan putranya juga mendadak demam dan pilek...  Tidak butuh waktu lama Ghaniy sudah sampai di gedung pesta pernikahan tersebut. Para tamu undangan sudah mulai ramai membuat Ghaniy sempat kesulitan mendapatkan parkir... Ketika mobilnya sudah aman, Ghaniy berjalan menuju gedung acara bersama dengan sebuah rombongan ibu-ibu dengan pakaian  berwarna-warni dengan suara bicara dan tawa yang keras sekali. Ghaniy menahan senyumnya ketika ia mendengar merek tengah seru membahas tentang seorang aktor yang kedapatan berselingkuh dengan istri orang. Lalu Ghaniy merasakan ironi yang menusuk relung hatinya. Mereka membahas hal seperti sebelum mendatangi sebuah acara pernikahan. Ia tetap berjalan dengan kepala tertunduk hingga ia mendengar seseroang meneriakkan namanya, membuatnya menoleh mencari asal suara. Salah seorang dari sebuah rombongan berisi mantan mahasiswa dan mahasiswinya itu berjalan cepat ke arahnya. Ghaniy menyadari rombongan itu terdiri dari mantan mahasiwi dan mahasiswa dari angatan 2013. “Pak Ghaniy sendiri? Istrinya mana?” tanya salah satu pria dari rombongan itu. Mereka sekarang tengah mengantri untuk mengisi buku tamu. “Sedang menjaga putra kami yang sakit di rumah.” Ghaniy sambil tersenyum. Tidak berapa lama kemudian tiba gilirannya untuk menulis nama. Ia kemudian mendapatkan cenderamata berupa magnet berbentuk botol cola. Ghaniy memandangi magnet itu cukup lama sebelum memasukkannya ke dalam kantong celananya... *** “Ini berlebihan!” Cassie Ardana memandang dirinya di cermin dan nyaris tidak mengenali dirinya setelah didandani membabi-buta oleh pegawai salon mahal pilihan Sang Manajer Minuman Bersoda itu. Rambutnya sudah ditata apik dengan mainan manik-manik bunga. Gaunya minimalis, cocok dipakai untuk acara siang dan melekat sempurna ditubuhnya yan berisi. Wedges bewarna senada dengan tas tangannya. Tidak ada satupun dari barang-barang itu berasal dari uangnya sendiri. “Jangan protes. Kamu terdengar tidak bersyukur. Lagipula kamu cantik.” Sang Manajer Minuman Bersoda sambil mengamati dirinya di cermin. Pria itu sekarang berdiri sangat dekat dengannya. Cassie merasakan punggungnya nyaris menempel dengan bagian depan tubuh pria itu. “Jadi apa kamu masih ingin bekerja di kitchen? Perusahaanku sedang membuka...” Cassie dengan cepat mengangkat tangannya untuk membuat pria itu berhenti bicara. “Ayo, kita selesaikan ini segera.” Cassie dengan cepat mengumpulkan barang-barangnya di depan meja rias. Pria itu menyeringai. “Nah, yang tertinggal hanya satu sekarang.” Cassie masih sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas tangannya ketika ia mengangkat wajahnya. “Kamu harus panggil aku dengan “Mas” sekarang. Agar aku tidak terdengar terlalu tua...” Cassie memutar bola mata. “Mas....” Sang Manajer masih menunggu hingga Cassie akhirnya menyerah dan menyebut namanya. “Mas Fadli.” Sang Manajer Perusahaan Minuman Bersoda itu rampak senang sekali. “Yeah, Cassie sayang?” Cassie merasakan sensasi bulu kuduk meremang ketika ia mendengar namanya dipanggil seperti itu. Membuat pria itu tertawa sebelum menyorongkan lengannya. “Ayo, kita pergi sekarang sebelum ketika kehabisan makanan di buffet.” Cassie menaruh tangannya di lengan pria itu karena akan nampak canggung sekali jika ia menolaknya. Sang Manajer Perusahaan Minuan Bersoda – Fadli, Fadli sudah cukup baik dengan meminta Cassie sendiri untuk datang bersamanya. Ia tidak bisa membayangkan datang ke acara tersebut sendirian. Apalagi jika di sana ia bertemu dengan Ghaniy dan keluarganya... Fadli memiliki sikap yang membuatnya terlihat sebagai seseorang dengan kuasa. Sehingga setiap bersama pria itu Cassie merasa orang-orang lebih menghormatinya. Itu terlihat bagaimana cara para karyawan salon ini memperlakukannya. Fadli tidak lupa untuk melirik ke arahnya, mengobrol ringan dengannya ketika black card miliknya sedang diproses di balik meja kasir. “Apa Mas sengaja?” Cassie ketika mereka berdua sudah berada dalam mobil dan sedang sibuk memasang sabuk pengaman. “Sengaja apa?” Tidak ada perasaan sama sekali dalam suaranya. “Bersikap seperti ada yang spesial dalam diriku.” “Karena kamu spesial, Cassie. Sayang sekali kamu menilai rendah dirimu sendiri selama ini.” Lalu Fadli meninggalkan area parkir salon dan mereka sudah berada dalam jalan raya. Hening di antara mereka dipakai Cassie untuk mengamati lalu-lintas ada di luar jendelanya. “Akhirnya aku ingat di mana aku pernah bertemu dengan pria yang kta temui di mall hari itu. Dia adalah mantan dosenmu, kan? Pria yang diam-diam mengikutimu selama kamu mendampingku hari itu.” Cassie menoleh dengan cepat, mendapati ekspresi Fadli masih sama datarnya ketika melanjutkan, “Apa kamu menyukainya?” Cassie membuang buka kembali ke jendela. Ia sama sekali tidak ingin menjawab. “Dari diammu saja aku tahu. Aku juga ingat dia sedang menunggu istri dan anaknya di mall hari itu.” “Jangan dilanjutkan. Aku sudah tahu,” jawab Cassie terlalu ketus. “Apakah dia juga adalah alasan kepindahanmu?” Fadli masih sangat tenang. Cassie kembali menolak untuk menjawab. “Yah, paling tidak aku tahu siapa yang menjadi sainganku. Aku punya nilai plus karena aku single dan dia tidak.” Cassie mendengus. Membuat Fadli menyelanya dengan, “Hey, aku juga melupakan satu poin. b******k secara terang-terangan, daripada b******k dalam hati. Semua orang tahu itu.” “Dan untungnya Mas mengakui kalau Mas brengsek.” Cassie tidak bisa menahan senyumnya, melirik ke arah pria itu. “Tidak ada pria yang tidak b******k, Cassise. Walau sebaik apapun ia kelihatannya.” Fadili menoleh ke arah Cassie lalu mengedip ke arahnya.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD