Malam larut. Cahaya bulan memantul-mantul, menerangi seluruh jagad. Hawa dingin merasuk. Menusuk-nusuk ke dalam pori. Dalam gamang dia terpekur. Wajah cantiknya membias sembab. Air mata luruh dalam tangis. Bisikan serta omongan orang-orang di sekitarnya diam-diam telah menancap dalam ulu hatinya, bagai mata pisau yang tajam. "Kenapa kamu menangis?" "Aku takut Mas. Kalau-kalau apa yang mereka perbincangkan menjadi kenyataan. Hal buruk itu menimpa diriku." "Kamu lebih percaya perkataan mereka atau Kuasa Allah?" Dia kembali bergeming. Otaknya memutar obrolan tadi sore dengan sang suami. Bukan obrolan ringan layaknya biasanya, tetapi ada sedikit debat yang membauri. Marissa Attaya tidak bisa untuk cuek atau masa bodo dengan slentingan dari beberapa mulut jail. Memang benar makna

