Empat

1057 Words
Suci masih mengepalkan kedua tangan saat melihat sang suami di hadapannya. Dengan percaya diri tanpa rasa takut, wanita di samping Arya, suaminya masih saja menggandeng pria beristri itu. Gisel namanya, wanita dengan paras cantik, hidung mancung juga rambut pirang. Arya merasa bangga datang bersamanya. “Siapa dia, Mas?” Suci bertanya dengan luapan emosi yang kian memuncak. Mereka semua yang ada di sana menatap penuh cemas menunggu jawaban dari Arya. Apalagi Pak Adijaya yang tidak tahu menahu tentang wanita yang dibawa sang anak. “Mas, jawab aku? Siapa dia?” Suci menghampiri sang suami dan melepaskan pegangan wanita itu. Walau ia merasa semua sudah tak ada yang harus di perbaiki, setidaknya ia mempunyai rasa, tidak seenaknya di perlakukan seenaknya oleh keluarga suaminya. “Suci, jangan kasar seperti itu sama Gisel!” teriak Arya. Melihat perlakuan sang suami, Suci meradang. Ia bersumpah akan membalas semuanya, termaksud sikap mereka yang membuat ia seperti pembantu di rumah itu. “Dia itu lebih penting dari kamu, kamu tahu kalau Gisel ini akan membawa keberuntungan untuk aku. Dia wanita yang pantas menemani aku dari pada kamu, dandan saja nggak pernah. Bagaimana menemani aku bertemu klien.” Kalimat Arya begitu menusuk jantung, perih hingga membuat ia tak bisa bernapas kali ini. “Bagaimana aku bisa tampil cantik, aku saja sudah di sibukkan dengan mengurus semua pekerjaan rumah. Bahkan, mungkin kalian menganggap aku pembantu bukan menantu.” Suci berteriak dengan lantang hingga membuat Bu Ratu dan Cindy juga Pak Adiguna terkesiap melihat perubahan Suci yang kini mulai berani. “Diam kamu suci, saya tidak pernah memperlakukan kami sebagai pembantu,” ujar Pak Adiguna. “Iya, memang Papa nggak memperlakukan aku seperti itu, tapi Papa tahu dan hanya diam saja tanpa menegur anak, istri dan menantu papa kan? Bukannya itu sama aja?” Lagi, Suci berani bicara hal itu di depan keluarga suaminya. Suci jatuh tersungkur dengan memegangi pipi saat Arya menamparnya. Rasanya dunia berguncang sangat kencang membuat ia hampir tak percaya dirinya kini di permalukan di rumah suaminya sendiri. Sementara, Gisel menatap senang wanita yang menjadi istri pria yang kini sedang dekat dengannya. Tamparan itu pun puas membuat Gisel merasa menang karena lebih di bela Arya. Suci mencoba bangkit, Sahren sang anak berteriak dan langsung memeluk ibunya. Suci pun sadar jika anaknya melihat hal yang belum cukup bisa ia pahami, akan membuat mental Sahren jatuh. Buru-buru ia memeluk sang anak. “Dengar kalian semua, aku nggak akan diam di perlakukan seperti ini.” Suci berkata tegas dan ia pun langsung membawa anaknya masuk. Mereka seperti tak merasa bersalah. Apalagi Arya yang dengan santai memperkenalkan Gisel pada mereka. Pak Adiguna merasa memang mereka semua seperti tak adil pada Suci. Setelah mengajak Sahren masuk, Suci menidurkan anaknya. Apa yang harus ia lakukan saat ini? Ia memikirkan semuanya, sampai ia pun berpikir untuk kembali ke luar dan memberi balasan pada wanita ular itu. Napasnya memburu, ia ingin sekali membuat wanita itu kapok. Suci ke luar dengan luapan emosi, ia kembali membawa sebuah gayung dan langsung menyiramkan pada Gisel. “Ah, aduh, basah,” ujar Gisel. Semua pun panik melihat keadaan Gisel yang basah kuyup. Arya menatap tajam pada Suci, ia menarik tangan Suci, tapi sang istri menampiknya. “Mas istri kamu emang benar sudah depresi. Kalau orang waras, nggak akan berbuat seperti ini.” Gisel terus mengoceh saat ia tahu ponsel mahalnya pun basah kena air. “Aduh ponsel malah aku, kamu harus ganti rugi!” “Iya, aku memang depresi, lagian biar otak kamu fres dan pikiran kamu jernih kalau pria di samping kamu itu punya istri. Biar kamu sadar, wanita macam kamu harus di kasih kesadaran.” Suci semakin menjadi. Bu Ratu mengajak Gisel untuk berganti baju, ia menyuruh Cindy meminjamkan baju miliknya untuk Gisel. Arya menarik Suci ke kamar dan menjatuhkannya ke ranjang. Pria itu bertolak pinggang, Arya mengoceh dan membuat ulah lagi dan kembali membuat Suci sakit hati. “Kamu tega, Mas sama aku. Kalau kamu mau aku terlihat cantik, beri uang aku lebih untuk beli scincare dan ke salon. Jangan malah mencari yang lain,” oceh Suci. “Heh, kamu pakai apa pun yang mahal, sudah nggak akan ada perubahan. Tetap saja nggak enak di pandang, mengerti!” Arya membanting pintu saat ia ke luar kamar. Tubuh suci melemas saat sang suami mengatakan hal yang sangat membuatnya ya sakit hati. Tangannya mengepal keras, ia bersumpah akan membuat suaminya menyesal. *** Untung saja baju Cindy muat dengan baju Gisel, jika tidak pasti Gisel diberikan baju Suci. Wanita dengan paras cantik itu terus mengomel karena kesal. Ia sudah ke salon pula, tapi nyatanya hancur seketika saat Suci menyiramnya pakai air. Arya kembali menghampiri Gisel, ia meminta maaf atas kesalahan sang istri. Ia pun tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa. Namun, ia berharap Gisel tak marah padanya. “Aku nggak marah sama kami, Mas. Hanya saja istri kamu yang ngeselin itu.” Gisel kembali mengoceh. “Maaf, ya.” Arya mencoba meminta maaf karena Gisel adalah sekretaris Pak Wahyu pengusaha yang memiliki saham paling besar. Pria itu akan memberikan saham pada perusahaan yang ia anggap bagus, Arya mendekati Gisel berharap wanita itu bis membantunya mendapatkan kontrak besar. Mereka kembali ke meja makan. Walau sempat terjadi insiden, kembali makan malam bersama. Apalagi Arya merasa senang Gisel berada di antara keluarganya. Sementara, Suci menatap dari ambang pintu. Mereka semua bisa bersenang-senang di atas penderita dirinya. Apalagi ayah mertua yang mengatakan pro ke dia, malah sepertinya asyik mengobrol dengan Gisel. *** Setelah kejadian semalam, Suci malas melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan. Bu Ratu sudah berteriak di ambang pintu memanggilnya. “Ma, jangan terus berteriak, anakku masih tidur,” ucap Suci. “Mana peduli saya, mana sarapan untuk kami?” tanah Bu Ratu tanpa bersalah. Suci melirik dengan cepat, ia merasa keluarga suaminya tak mempunyai urat malu. Masih saja menyuruh dirinya melakukan pekerjaan rumah, sedangkan mereka sudah membuat luka di hati Suci. “Maaf, aku nggak bisa. Kebetulan lagi kurang enak badan.” Suci menolak tegas. “Eh, kamu sudah berani membantah saya, ya. Masih untung kamu kami kasih tempat tinggal dan makan. Mau kamu di ceraikan anak saya, hah?” Bu Ratu mengancam Suci. Akan tetapi, Suci tidak takut dan malah menantang sang mertua. Ia tak masalah di ceraikan, dari pada status istri rasa pembantu. “Silakan, jika Mas Arya mau menceraikan saya.” Wajah Bu Ratu dan Cindy berubah saat mendengar bentakan Suci. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD