Perkenalkan Ini Pacar Baruku!

1159 Words
"Ssttt ... gelo bingits! Ver, kok si bos ganteng sampe bela-belain jemput cewek alay itu buat ke kantor?!" seru heboh Yuni ketika melihat dari balik kaca jendela ruang kerja Fame Palette Artisans Co pagi itu. Vera yang tadinya sedang menata barang bawaan ke mejanya pun buru-buru menghampiri Yuni. "Mana ... mana sih?" ucapnya kepo. Segera sumpah serapah dan kata makian pedas menghambur dari bibir berlipstick plump red devil itu. Rekan-rekannya yang lain pun tak ingin ketinggalan melihat tontonan heboh pagi itu di dekat Yuni dan Vera. Sementara Bu Rita yang bersikap netral menggelengkan kepalanya lalu keluar dari ruangan kerja bersama itu untuk menemui William. Di ruang tengah, William menggandeng Emmy yang melingkarkan tangan dengan manis di lekuk lengannya. Gadis itu menyapa Bu Rita, "Selamat pagi, Bu!" "Selamat pagi, Emmy. Syukur kamu sudah pulih kembali. Semangat kerja ya hari ini!" balas Bu Rita dengan senyuman tulus. Dia lalu bertanya ke bosnya, "Pak Willy, apa jadi meeting pagi?" "Jadi, kumpulkan anak-anak di ruang rapat ya, Bu Rita. Saya tunggu di sana!" jawab William lalu mengajak Emmy langsung ke ruangan tersebut lebih dahulu. Dia ingin memastikan gadis imut kesayangannya duduk di sebelahnya ketika mengitari meja kayu jati oval di sana. Tak seberapa lama, para karyawan dan karyawatinya menyusul masuk ke ruang meeting. Mereka melihat pemandangan tidak biasa itu. Big boss mereka duduk ditemani seorang gadis yang tak lain adalah Emmy, si asisten arsitek baru. 'Huh, enak banget dia disuruh nemenin duduk di samping Boss William!' kesal Anneke dalam hatinya yang diwarnai rasa iri terhadap Emmy. Dia duduk di kursi nomor dua dari William setelah Vera yang paling senior. Senada dengan Anneke, perempuan itu juga dongkol dan benci setengah mati kepada Emmy. Tatapan matanya tajam menusuk terarah kepada gadis imut berusia 22 tahun itu. 'Awas aja ya, gue bikin loe jadi perkedel nanti, Emmy! Dasar ganjen, murahan! Gatel loe!' rutuk Vera dalam hatinya. Setelah semua orang mendapat tempar duduk, William mulai angkat bicara, "Selamat pagi, Semuanya. Sebelum kita mulai diskusi tentang proyek terbaru yang saya bawa dari New York. Saya ingin memperkenalkan pacar baru saya, Emmy Estelia Setiawan." Sontak seisi ruangan heboh dengan bisik-bisik komentar mengenai pengumuman status Emmy dengan bos mereka. Ada yang terkejut, ada yang mencibir, ada yang sekadar menerima saja pengumuman barusan. "Saya sudah melihat rekaman kamera CCTV bangunan ini. Ternyata ada pihak yang gemar melakukan bullying di kantor. Hal yang lebih memprihatinkan, mereka tanpa pikir panjang mencelakakan Emmy dengan menaruh minyak goreng di anak tangga dari lantai dua agar dia terjatuh. Kalian mengakulah sekarang dan minta maaf kepada Emmy, saya tunggu!" tutur William bersedekap sambil duduk santai mengedarkan pandangannya ke empat karyawati senior itu. Anneke menyenggol lengan Vera dan Virna, Yuni juga menyenggol lengan Virna di sebelahnya. Mereka seperti macan kehilangan taringnya. Ternyata ketika di hadapan William, mereka tak berani petentengan terhadap Emmy. Gadis imut itu terkikik pelan saat telapak tangan William meremas tangannya perlahan di bawah meja. Dia melirik kekasihnya yang tampan dan berwibawa lalu melemparkan senyum terima kasihnya. Namun, William tidak merespon berlebihan, dia justru fokus menekan keempat karyawati senior itu, "Ayo, jangan buang-buang waktu kerja kita semua. Mengaku dan minta maaf ke Emmy!" Setelah menghela napas, Vera yang memang paling senior dan tinggi jabatannya di sana berkata, "Saya mengaku salah, Pak Willy. Maaf, Emmy!" "Ohh ... good. Jangan ulangi lagi ya, Ver. Saya akan pantau terus! Gimana nih yang tiga ekor, apa nggak berani mengakui kesalahan kalian?" desak William melihat ke wajah Anneke, Virna, dan Yuni. Mendengar perkataan bosnya yang setengah memaksa itu, Anneke menyusul langkah Vera untuk meminta maaf kepada Emmy, "Maafkan aku ya, Emmy!" Virna dan Yuni pun ikut meminta maaf dengan kalimat singkat yang terdengar tidak tulus. Mereka menggerutu dalam hatinya dan tetap membenci Emmy. Bisa-bisanya sebagai senior justru dipermalukan di rapat oleh karyawati yang baru berumur beberapa hari di perusahaan. "Okay, semua sudah clear ya masalah bullying terhadap Emmy. Kalau ada kejadian buruk yang menimpa pacar saya. Kalian berempat yang akan pertama saya tanyai dan selidiki, paham?!" tegas William lalu dia memulai meeting proyek terbaru dari New York. Sekalipun Emmy adalah karyawati termuda sekaligus paling baru di Fame Palette Artisans Co, dia justru yang paling bersemangat menyambut penuturan bosnya. Gadis itu membuat catatan penting yang harus dikerjakan olehnya atau rekan-rekannya. "Detail tugas kalian masing-masing akan dibagi oleh Vera seperti biasanya. Silakan dikerjakan secepat mungkin agar bisa saya periksa lalu kirim ke kolega pengembang proyek di New York. Meeting selesai!" ujar William mengakhiri rapat kerja pagi jelang siang itu. Seisi ruangan menghambur keluar membubarkan diri untuk mulai bekerja di meja masing-masing. Ketika Emmy ingin meninggalkan meeting room juga, tangannya ditangkap oleh William. Dia pun menoleh dan bertanya, "Ada apa, Kak?" Pria itu pun menjawab, "Kamu minta tugas ke Vera lalu kerjakan di ruang kantorku saja, okay?" "Hmm ... okay, sebentar ya, Kak. Aku menghadap Kak Vera dulu. Permisi!" jawab Emmy patuh. Dia pun bergegas menuju ke ruangan kerja bersama, tempat Vera berada. Itu bagaikan masuk ke sarang macan betina, tetapi Emmy memberanikan dirinya karena itu sebuah keharusan. Dia melangkah tenang menghampiri meja Vera disaksikan seisi ruangan luas tersebut. "Permisi, Kak Vera. Saya—" Belum sampai Emmy menyebutkan keperluannya, Vera sudah memotong perkataannya, "Ohh, butuh gue ya? Sorry ya antre, semua juga minta job description project, loe kalo mau ... ya sabar!" Anneke, Yuni, dan Virna pun menertawakan Emmy dengan sinis di bangku mereka masing-masing. Virna pun mencemoohnya, "Pacar boss juga butuh antre kalee!" "Antre sampe kering loe, rasain!" timpal Anneke seraya menyeringai puas. Dia tak ingin bosnya curiga dan langsung mengerjakan tugasnya sambil menikmati tontonan gratis rekannya mengerjai pacar baru bos mereka. "Yun, nih daftar kerjaan kamu. Jangan lama-lama ngerjainnya. Ditunggu Pak Willy cuayaang!" Vera sengaja mengatakannya di hadapan Emmy yang berdiri mematung di depan meja kerjanya. Sambil menerima kertas tugas dari asisten arsitek senior itu, Yuni menyenggol keras bahu Emmy hingga gadis itu terhuyung-huyung menjaga keseimbangannya. "Upss ... maaf, Mbak Pacar Baru Bos. Makanya jangan berdiri di tengah jalan kayak patung Tugu Selamat Datang dong!" sindir Yuni lalu mengeloyor ke meja kerjanya. Kemudian Virna pun ikut menceletuk, "Heran ya, Pak Willy kok demen sama cewek yang IQ rendah macam beginian. Ckckck!" "Yaelah, kayak nggak paham aja loe, Vir. Gayanya aja tuh lugu, siapa tahu kalo lagi berdua doang sama si bos. Centil bin ganjen pastinya!" sahut Vera sambil menuliskan job description milik Emmy agar dia tidak dimarahi lagi oleh William seperti tadi. Sementara Emmy yang hanya bisa pasrah dijadikan obyek olok-olokan para karyawati senior yang membencinya, berdiri menundukkan wajahnya menatap lantai dengan mata panas berkaca-kaca. Dia sudah menduga sebelumnya, teman-teman sekantornya tidak akan menerima keputusan William yang menjadikannya pacar. "Mau nangis tuh, Ver! Awas loe diaduin sama si Emmy ke bos ntar," ujar Anneke sembari menatap tajam Emmy yang wajahnya merah padam. "Ckk ... heh, eloe jangan jadi tukang adu ya! Kalau sampai gue kena omel bos lagi, tahu rasa ntar loe!" hardik Vera sambil menyodorkan selembar kertas catatan kepada Emmy. Dengan menitikkan air mata, Emmy menerima kertas tersebut. Dia mengucap lirih terima kasih lalu bergegas meninggalkan ruangan kerja bersama itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD