"Bagaimana ujian kalian? Lancar?" Tanya Vani.
Alexa, Leo, Felix, dan Farel hanya berdehem sebagai jawabannya. Sedangkan Kevin, ia nampak seperti orang yang tak punya semangat hidup sama sekali.
"Huft! Kurasa tidak." Ucap Kevin lesu.
"Ow..oke." Ujar Vani ragu karna sepertinya ia sedang berbicara dalam waktu yang tak tepat.
Keadaan pun kembali hening, sampai akhirnya suara dari beberapa spiker yang ada diaula terdengar.
"Bagi seluruh murid-murid Dimension academy, khusunya yang mengikuti ujian diharapkan segera berkumpul di lapangan outdoor. Sekalilagi bagi seluruh murid-murid Dimension Academy khususnya yang mengikuti ujian diharapkan segera berkumpul di lapangan outdoor. Terima kasih." Ucap suara itu.
Alexa, Leo, Felix, Farel, Kevin dan Vani pun segera ke lapangan outdoor untuk ujian praktek.
"Ini akan lama." Ucap Kevin bosan.
"Ya. Kau benar. Apa lagi kalian berada di giliran paling akhir. Apa lagi Alexa." Ucap Vani.
Yang di bicarakan pun hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Sedangkan yang lainnya hanya menonton siapa yang diluan saja.
Beberapa jam kemudian, tibalah giliran Kevin yang maju dan melawan siswa lain yang sekelas dengannya.
"Aku diluan." Ucap Kevin saat namanya dipanggil.
"Semangat Vin!" Ucap Vani memberi semangat sedangkan yang lainnya tak bergerak sedikitpun dari tempat mereka.
"Pasti! Bye!" Ucap Kevin sambil berlari ke lapangan.
Pruiiittttt...
Terdengar bunyi peluit pertanda ujian telah dimulai.
"Menurut kalian Kevin lolos gak ya?" Tanya Vani sambil melihat ke arah lapangan.
"Entah." Ucap Farel malas sambil meminum minuman yang baru saja di belinya tadi.
Sementara itu di lapangan, terlihat Kevin dan lawannya sedang berbincang basa-basi sembentar sebelum memulainya.
"Hello Dar! Aku tersanjung loh. Ternyata kaulah yang menjadi lawanku!" Ucap Kevin sambil menyeringai.
"Ck! Rasakan ini!" Ucap seseorang yang dipanggil 'Dar' tadi.
"Wow.. wow. Santailah Dar. Perlahan-lahan saja. Atau kau mau aku langsung membunuhmu disini? Seperti orang tuamu itu Darren Oliver Wizard?" Bisik Kevin yang tiba-tiba berada di belakanya dan tepat ditelinganya.
"Kau!!!" Ucap Darel marah dan langsung menyerangnya dengan cara membabi buta.
Kevin pun menangkis semua serangannya dengan santai dan berucap "Kenapa? Kaget?" Ucap Kevin meremehkan.
"Akan ku bunuh kau bajingan!!" Teriak Darel murka.
Semantara itu Alexa dan Leo yang melihat itupun hanya tersenyum sinis sambil membatin.
Ternyata selama ini ia hanya memasang topeng didepan kami ya. Bagus. Batin mereka serempak.
Tetapi tiba-tiba mereka diam karena mendengar pikiran Farel yang mengejutkan.
Bagus Kev! Lawan ia! Bunuh ia! Dan setelah ujian sampah ini selesai kita akan kembali dan membunuh semua orang bodoh yang ada disini. Hahaha. Batin Farel sambil tersenyum licik.
Apa yang harus kita lakukan? Tanya Leo melalui telepati.
Kau hubungi nenek dan kakek untuk siapkan pasukan, dan aku akan meminta bantuan dari Para troll untuk meminta bantuan sekarang. Dan beritahu mereka datang disaat 2 jam lagi karna kira-kira waktu yang akan kita habiskan adalah segitu! Balas Alexa sambil menatap tajam Kevin yang berada di lapangan.
Baik! Ucap Leo memutuskan telepati.
"Sial!" Umpat Alexa pelan sebelum melakukan tugasnya.
***
Roll. Aku boleh minta bantuan kalian? Tanya Alexa tiba-tiba lewat telepati pastinya.
Silahkan saja Alexa, apa itu? Tanya Roll ramah.
Aku perlu bantuan kalian untuk membantuku melawan pasukan darkness yang akan datang 2 jam lagi. Ku mohon. Dan janganlah tunjukan diri kalian sebelum mereka datang atau kalian nanti akan diambil oleh mereka dan dimanfaatkan. Aku akan membuka portal menuju ke sini 2 jam lagi. Jadi bersiaplah. Ucap Alexa panjang lebar.
Baiklah Lex. Ucap Roll.
Oh iya! Suruh para troll yang tidak ikut kemari bersembunyi didalam gua dan menutup pintu gua dengan batu yang besar. Aku akan membuat barier pelindung yang kuat untuk keamanan kalian nanti. Ucap Alexa lagi.
Baiklah Lex, terima kasih. Aku akan sampaikan pesanmu ke yang lain. Ucap Roll.
Terima kasih Roll. Aku sangat berhutang budi kepadamu. Baiklah, aku akan memutuskan telepatinya sebelum aku ketahuan. Sekali lagi terima kasih Roll. Ucap Alexa kemudian telepati antar mereka pun terputus.
"Perhatian semuanya! Tolonglah berkumpul disini." Ucap Roll meminta perhatian.
"Ada apa tuan? Apakah ada masalah?" Tanya Tony bingung.
"Iya Ton. Saat ini Alexa dan Leo sedang dalam masalah, academy mereka akan diserang oleh pasukan kegelapan 2 jam lagi. Kita harus bersiap dan membantunya segera. Dan ia berpesan jangan menunjukan diri sebelum mereka datang atau kita akan diambil dan dikendalikan oleh mereka. Dan juga untuk para troll yang lain, aku harap kalian tetap bersembunyi di dalam gua dan menutup pintu gua rapat rapat. Nanti Alexa akan datang dan membuatkan barier pelindung untu kalian. Aku harap kalian tidak kemana-mana saat ini atau kita akan celaka." Ucap Roll tegas.
"Baik tuan!" Ucap seluruh para troll.
`"Baiklah, untuk kalian yang akan mengikuti membantu Alexa, silahkan siapkanlah peralatan kalian. Dan yang lainnya segeralah masuk ke dalam goa." Ucap Roll lagi.
"Baik tuan!" Ucap mereka serempak dan melakukan tugas mereka masing-masing.
Semoga saja ini berhasil. Batin Roll sambil mempersiapkan peralatannya.
***
Setelah beberapa saat, tiba lah pertandingan terakhir. Yaitu adalah Alexa dan Leo.
Saat Kevin melawan Darel tadi, tentu saja ia yang menang. Kemudian dilanjutkan dengan Kevin VS Farel dan Farel lah pemenangnya. Dan dialnjutkan dengan Farel melawan Felix yang pastinya dimenangkan oleh Felix. Dan terakhir saat ia bertanding melawan Leo sempat terjadi pertarungan yang sangat sengit karna kekuatan mereka hampir setara tetapi akhirnya dimenangkan oleh Leo.
Hingga sekarang tibalah saat dimana Alexa dan Leo bertarung. Hal ini tentu saja ditanggapi dengan antusias oleh seluru warga academy. Termasuk para guru-guru disana.
"Kira-kira siapa kah pemenangnya?" Ucap Mr. Albert.
"Kurasa hasilnya akan seri." Ucap Mr. Delius sambil melipat tangannya didepan dada.
"I think so." Ucap Mrs. Lili tiba-tiba.
Pertandingan pun dimulai, Leo dan Alexa berjalan mendekati 1 sama lain. Tetapi sebelum itu Leo berteriak ke arah semua yang ada di sana.
"Jika pertarungan kami masih bertahan selama 40 menit, maka hasil kami adalah seri." Ucap Leo dengan berteriak.
"Kita tak punya banyak waktu kak. Ayo selesaikan." Ucap Alexa sambil bersalaman tanda perdamaian sebelum memulai.
"Baik!" Ucap Leo dan memulai pertandingan.
Terdengar suara dari berbagai arah untuk menyemangati mereka berdua.
"40 menit ya? Kenapa mereka bilang begitu? Apakah mereka ada keperluan?" Tanya Mr. Delius dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bersaudara itu.
Sedangkan di lain sisi terlihat Leo yang menyerang Alexa dengan sangat cepat dan lincah yang juga di tangkis oleh Alexa dengan sama lincahnya.
"Masih seperti dulu eh?" Ucap Leo sambil tersenyum.
Alexa yang mendengar itupun hanya membalasnya dengan senyum kecil dan melanjutkan pertandingan.
Awalnya mereka saling beradu dengan tangan kosong sampai akhirnya mereka beradu dengan kekuatan di 10 menit terakhir.
"Sedikit energi tak apa kan?" Ucap Leo kemudian mengeluarkan elementnya.
"Ya. Asalakan kau masih sanggup melawan 'mereka' nantinya." Balas Alexa dan menangkis serangan Leo dengan element esnya.
Tak mau kalah, Alexa pun mengeluarkan element crystallnya dan melemparkannya ke arah Leo dengan bentuk kerucut yang tajam seperti peluru dalam jumlah banyak dan di tangkis oleh Leo dengan element es dan tanahnya sehingga tak mengenai dirinya.
Kemudian Alexa meneleportasi dirinya tiba-tiba kedepan Leo saat ia sudah menghilangkan pelindungnya dan berucap dengan pelan.
"Gunakanlah mantra agar kita tak mengeluarkan banyak energi." Gumam Alexa yang hampir menyerupai bisikan kemudian melontarkan mantra ke arah Leo yang membuatnya terpental sampai menabrak tembok pembatas hingga retak.
"Ukh! it's so hard Lex." Gerutu Leo kesal dan kembali bangkit sambil merenggangkan ototnya yang sakit.
Kemudian ia berlari ke arah Alexa dan melontarkan berbagai mantra untuk menyerangnya. Tak ada satupun mantra yang mengenai Alexa, sampai saat mantra terakhir yang dilontaran oleh Leo membuat Alexa terpental kedinding pembatas hingga retak dan menimbulkan pekikan histeris dari bangku penonton.
"Seri." Ucap Leo sambil memperlihatkan seringaiannya ke Alexa.
"Huh! Sisa berapa menit lagi?" Tanya Alexa seraya bangkit dan melangkah ke arah Leo yang tak jauh darinya.
"15 mungkin?" Ucap Leo.
"Huft! Kenapa lama sekali!" Gerutu Alexa kesal dan melafalkan mantra yang mengeluarkan tanaman rambat untuk menangkap Leo.
Tentu saja Leo menangkisnya dengan berbagai mantra yang dilontarkannya. Sesekali ia mengeluarkan element Esnya jika ia terdesak.
Pertandingan pun terus berlangsung dengan sengit sampai akhirnya waktu yang di minta oleh Leo sisa 1 menit lagi.
"One minute again and finish!" Ucap Leo saat mereka berhadapan dan kembali beradu dengan tangan kosong sampai akhirnya waktu pun habis.
"STOPP! Waktu yang kalian minta sudah habis. And then, as you think. Kalian seri." Ucap salah satu guru yang menjadi jurinya itu.
"Ok. Thanks Mr. Kami permisi dulu." Ucap Alexa dan Leo sambil menunduk hormat dan meninggalkan lapangan.
"Bagaimana dengan pasukan?" Tanya Alexa saat mereka hampir keluar area.
"Sudah siap. Kita tinggal menunggu waktunya saja. Gantilah bajumu dan jemput mereka. Waktu yang kita punya hanya 20 menit lagi." Ucap Leo kemudian berjalan ke arah ruang ganti. Begitu juga dengan Alexa.
Setelah 10 menit kemudian mereka bertemu lagi ditempat awal dengan keadaan yabg lebih segar sehabis mandi.
"Kita kemana? Siapkan pasukan atau ke 'mereka'" Tanya Leo.
"Siapkan saja pasukan kita. Kalau kita menemui mereka semua orang tak akan selamat." Ucap Alexa.
"Baiklah kalau begitu, buatkan portal untuk ke sana dulu, tidak banyak waktu untuk terbang lagi kesana." Ucap Leo.
"Iya iya. Aku buatkan. Kalau waktunya sudah tepat akan kubuatkan portal untuk kembali bersamaan dari sana dan kita mulai." Ucap Alexa dan kemudian muncullah portal yang menuju ke kerajaan langit.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati." Ucap Leo sambil mengecup bibir Alexa cepat sebelum hilang di telan portal.
Alexa pun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Leo itu dan menutup portal kemudian hilang dengan teleportasinya menuju ke tempat para troll berada.
***
"Kalian siap!?" Tanya seorang dengan jubah hitam dan mahkota dikepalanya menandakan kalau ia adalah seorang raja.
"SIAP!!" Ucap seluruh pasukannya dengan serentak.
"Mari kita serang Academy busuk itu dan menguasai dunia ini! Hahaha." Ucap Raja itu dengan tawa meneramkannya.
"Permisi Raja Ronald. Farel baru saja menghubungi saya dan memberitahukan kalau inilah waktunya." Ucap Seorang pria berbadan tegap yang menjabat sebagai satu-satunya tangan kanan Raja Ronald yang tersisa.
"Baiklah. Mari kita mulai perjalanan ini. AYO MAJU!" Ucap Raja itu yang ternyata adalah Raja Ronald dari pihak Darkness.
Terdengar sorak-sorai dari para pengikutnya yang berseru 'AYO' dengan mengangkat senjata mereka masing-masing juga mengambil langkah yang cepat menuju Dimension Academy.
Sebentar lagi dunia akan menjadi miliku. Hahaha Batin Raja Ronald seraya tersenyum licik diatas kudanya.
***
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Alexa kepasa para troll didepannya saat ia keluar dari portal.
"Sudah Lex." Ucap Roll mewakili.
"Baik, bagi semua yang tidak mengikuti kami, segeralah masuk ke dalam goa. Aku akan memasangkan barier untuk kalian. Dan aku mohon kalian janganlah keluar sampai kami datang kembali." Ucap Alexa dengan sedikit memohon.
"Baiklah sayang. Dan berhati-hatilah kalian." Ucap Tere sebelum memasuki goa yang dibalas senyum oleh mereka semua.
"Tentu saja sayang." Ucap Roll sambil mengecup kening istrinya itu sebelum pergi.
Saat semua para troll yang tidak mengikuti mereka, memasuki goa itu. Alexa segera memasangkan barier pelindung tingkat S++ yang transparant yang dipelajarinya saat masih di istana kerajaan.
Saat ia sudah selesai, iapun mentelepati kakaknya itu.
Apakah sudah waktunya - Alexa.
Sedikit lagi..... dan,,..... ya! Cepat buatkan kami portal sekarang - Leo.
Baik! - Alexa.
Setelah memutuskan telepati mereka, Alexa pun dengan segera memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk membuatkan portal di kerajaan langit.
Berhasil! Telepati Leo menginstrupsi Alexa untuk berhenti.
Kemudian ia membuka matanya dan menatap para troll yang berda didepannya.
"Baiklah, kita akan memulainya sekarang. Ku harap kalian baik-baik saja sampai ini selesai." Ucap Alexa sendu.
"Kami akan baik-baik saja Alexa. Kau tenang saja. Kami kan kuat!" Ucap Tony membuat Alexa sedikit tersenyum.
"Iya. Kalian memang sangat kuat." Ucap Alexa sambil tersenyum dan membukakan portal untuk mereka.
"Ayo." Lanjutnya.
Setelah itu, para troll mulai memasuki portal itu satu persatu dan di akhiri oleh Alexa yang masuk paling terakhir.
***
"Alexa sama Leo kemana sih? Dari tadi ditungguin juga!" Gerutu Vani kesal.
Saat ini Vani masih berada di tribun penonton di lapangan outdoor. Vani tak sendiri, ia bersama kakaknya yang tak lain tak bukan adalah Felix.
"Farel dan Kevin juga kemana? Ini sudah sangat lama tau." Gerutu Vani lagi.
Felix pun hanya bisa mendungus kesal dan memutar bola matanya malas melihat sikap adiknya.
"Sudahlah. Palingan mereka ada urusan." Ucap Felix santai dan menyandarkan punggungnya ke kursi yang didudukinya.
"Urusan apa lagi sih! Kalau mereka ada urusan atau keperluan harusnya mereka kasih tau kita dulu dong!" Protes Vani tak terima.
Felixpun hanya bisa menghembuskan nafas pasrah saat mendengar omelan adiknya yang tidak ada hentinya itu.
Vani! Felix! Kalian dengar aku!? Tiba-tiba suara Alexa terdengar dikepalamereka membuat Vani menghentikan omelannya.
Telepati? Balas Vani bingung.
Ya! Balas Alexa.
Kamu itu di- Baru saja Vani akan mengomeli Alexa tetapi didahului oleh Alexa sendiri.
DIAM VANI! Diam. Maaf, tapi untuk sekarang situasi sedang dalam berbahaya. Cepat amankanlah seluruh murid dan beritahu Mrs. Lili kalau academy di serang. Aku, Leo dan lainnya sedang menahan mereka di hutan dekat sekolah. Cepat dan JANGAN MEMBANTAH! Ucap Alexa dengan nada dingin dan perintahnya membuat Vani mati kutu seketika.
Aku akan membantumu. Balas Felix cepat dan akan berdiri.
SUDAH KU BILANG JANGAN MEMBANTAH ATAU KAU AKAN MATI! Bentak Alexa di sana membuat kepala merela agak pening dan juga diam seketika.
Ini bukan saatnya bermain-main dan lakukan apa yang ku perintah! Lanjutnya dengan nada dinginnya kembali.
Baiklah. Putus Vani dan Felix sebelum Alexa memutuskan telepati mereka.
"Ayo kak! Sebelum Alexa marah lagi. Cepat!" Ucap Vani sambil menarik tangan Felix yang masih diam mematung ditempatnya.
***
Sementara itu diposisinya Alexa dan Leo yang sedang menahan musuh, ia mengumpat kesal dengan tingkah Felix yang menyebalkan itu.
Dasar keras kepala! Apa maksudnya itu? Apa maksudnya itu? 'Aku akan kesana'. Sudah ku bilang urus saja semua orang di academy dan dia malah dengan nekadnya ingin kesini? Dia bodoh atau apa? Kalau terjadi apa-apa pada academy bagaimana? Kan kita yang repot. Untung saja ia tidak jadi pergi kesini karena aku membentaknya, meskipun ku tahu kalau rasanya pasti pening. Batin Alexa kesal sambil menebas lawan-lawannya.
"Sial! Kenapa kalian menghalangiku, dasar bocah!?" Tanya Raja Ronald marah.
Ia baru saja sampai karna tadi sempat berbincang kecil dengan satu-satunya tangan tangannya membuatnya baru sampai disaat trakhir.
Dan disaat ia sudah sampai, yang ia lihat adalah 1/4 dari prajurit yang dibawanya susah tewas karna ulah Alexa dan Leo.
Pasukan para Troll dan prajutit dari Sky Kingdom disembunyikan mereka berdua dan mengatakan jika para prajurit dari darkness sudah tiba di academy dan mulai menyerang barulah mereka keluar dari persembunyian mereka yang disetujui oleh semuanya.
"Eh. Ada kakek jelek. Ngapain marah-marah kek? Nanti keriputnya nambah dalam loh!" Ucap Leo dengan senyum usilnya.
"APA KATAMU!?" Teriak Raja Ronald lantang.
"Gak." Ucap Leo lagi. Kali ini dengan wajah datar nan dinginnya.
Raja Ronaldpun segera menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap mereka berdua dengan tatapan yang tajam.
"Minggirlah kalian anak kecil." Ucap Raja Ronald datar.
"Langkahi kami sebelum kau dan pasukan jelekmu ini menyerang academy kami." Ucap Alexa dengan tenang.
"Baiklah jika itu permintaanmu bocah tengik. Akan ku kabulkan dengan senang hati." Ucap Raja Ronald sambil tersenyum meremehkan.
"Okay." Ucap Alexa dengan seringai liciknya.
"Pasukan, SERANG BOCAH PENGGANGGU INI!" Ucap Raja Ronald dengan lantang yang di soraki pasukannya.
Setelah mengatakan itu, pihak Darkness langsung menyerang Alexa dan Leo secara membabi buta. Alexa dan Leo pun melawan mereka dan bersaha untuk memperkecil jumlah lawan agar mudah dikalahkan nantinya.
Setelah beberapa menit, Alexa dan Leo sudah dapat membunuh setengah dari jumla pasukan yang di bawa oleh Raja Ronald.
Sudah sisa setengah. Gimana? Apakah kita berhenti? Tanya Leo kepada Alexa lewat telepati.
Teleport ke kamar dan ambil jubah serta topeng kemudian datang ke titik pusat! Ucap Alexa seraya menghentikan gerakannya.
Okay. Balas Leo kemudian memutuskan telepati mereka.
Saat melihat Leo dan Alexa yang dirasa menyerah, 2 orang diantara berencana mereka akan menghunuskan pedang ke arah jantung mereka. Baru saja mereka melakukannya, kedua orang tersebut sudah hilang dan mereka akhirnya menghunuskan pedang mereka ke 2 orang prajurit disana.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Teriak Raja Ronald marah saat melihat kejadian ini.
"M.ma..af raja. Ka..kami tadi be..berencana akan membunuh mereka menggunakan pedang. Ta..tapi mereka ti..tiba-tiba m..menghilang." ucap mereka terbata-bata karena takut.
"Huft! Baiklah. Terserah kalian." Ucap Raja Ronald dan kemudian berbalik dengan kudanya.
"Tapi kalian juga harus mati." Baru saja mereka akan menghembuskan nafas lega, tetapi gagal seketika.
Baru saja mereka akan memohon ampun, tetapi badan mereka sudah berubah menjadi abu dan hilang terbawa angin.
"Apa yang kalian lihat? Cepat kembali ke posisi masing-masing dan ayo pergi menghancurkan academy busuk itu!" Ucap Raja Ronald dengan nada dingin dan tajam membuat mereka bergidik ngeri dan segera kembali ke posisi awal mereka dan kembali melanjutkan rencaNa awal mereka meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit.
Akan ku bunuh kalian bocah kecil! Batin Raja Ronald sambil menyeringai licik dalam perjalanannya.
***
Tok tok tok..
"Masuk!" Ucap suara dari dalam.
Ceklek..
"Ada apa Felix, Vani?" Tanya seorang wanita yang berada didalam ruangan tersebut.
"Begini Mrs. Lili dan... Mr. Delius?" ucap Vani menggantung.
Ternyata di ruangan bukan hanya Mrs. Lili saja, melainkan ada Mr. Delius juga.
"Ada apa Van? Kenapa muka kalian kayak orang sedang panik begitu?" Tanya Mr. Delius bingung.
"Anoo... Mr. Tadi Alexa menelepati kami dan bilang kalau Darkness akan menyerang kita sekarang dan juga kita disuruh untuk mengungsikan seluruh warga academy agar tak terjadi apa-apa." Ucap Felix.
Sontak apa yang dikatakan oleh Felix membuat mereka berdua kaget dan menanyakan sesuatu.
"Apa kah betul dengan apa yang kau ucapkan Lix? Kau sendiri tau bukan bagaimana sifat mereka kepada kami." Ucap Mrs. Lili mencoba yak percaya.
"Saya ya.."
Duaarrr...
Baru saja Vani memastikannya, terdengar suara ledakan yang membuat muka mereka berempat pucat pasi.
"Sudah ku bilang Mrs." Ucap Felix berusaha tenang.
Mrs. Lili pun tak menanggapi hal itu dan segera menyuruh agar seluruh warga academy untuk segera ke ruang aula.
Setelah selesai menyuruh seluruh warga academy memasuki ruang aula. Mrs. Lili dan Mr. Delius pun segera mengumpulkan para guru dan murid kelas 4 untuk membantu.
"Aku juga ikut Miss." Ucap Felix.
"Aku juga!" Ucap Vani juga.
"Kalau kalian ikut, siapa yang akan menjaga seluruh murid academy nanti!? Bukan kah sudah ku bilang untuk kalian jangan ikut!?" Ucap Alexa yang tiba-tiba muncul di sana. Juga Leo.
Sontak seluruh orang yang ada disana pun kaget akibat kemunculannya yang tiba-tiba itu.
"Ka...kalian sejak kapan disini?" Tanya Mrs. Lili.
"Kalian tidak perlu tau, dan Felix juga Vani. Tolong lah dengarkan apa yang dikatakan Alexa. Kalau kalian tetap memaksa untuk ikut, maka seluruh warga academy akan dalam bahaya!" Ucap Leo dengan nada dingin dan perintahnya.
"Tapi.."
"SUDAH KU BILANG TIDAK ADA BANTAHAN! Kenapa kalian keras kepala sekali sih!?" Bentak Alexa yang mulai terpancing emosi.
'Turutilah apa yang dikatakan Alexa atau kalian akan tau akibatnya. Aku tak sedang bermain-main, karena aku juga sudah pernah melihat Alexa marah pada seseorang dan membuatnya masuk ke rumah sakit dalam keadaan koma.' Telepati Leo ke Vani dan Felix membuat mereka dengan susah payah menelan silivanya.
"Ba..baik." Ucap Vani kemudian pergi bersama Felix menuju aula.
Duarr...
Tak lama setelah Vani dan Felix pergi, terdengar suara ledakan lagi dari depan academy.
"Kami pergi." Ucap Leo dan Alexa bersamaan dan menghilang tiba-tiba.
"Baiklah semua, persiapkan diri kalian dan segera ke sumber ledakan itu berada." Ucap Mrs. Lili yang diangguki oleh semua yang ada disana.
***
Saat mereka semua sudah sampai ke sumber ledakan itu yang ternyata berada di halaman depan academy.
"Astaga.. apa yang sudah terjadi disini?" Tanya Mrs. Selena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pertanyaan yang dikeluarkan Mrs. Selena pun tak ada yang menjawabnya karna sebagian sibuk dengan kegiatan mereka melihat kerusakan-kerusakan yang terjadi, sedangkan sisanya sedang menatap lawan dengan tatapan tajam.
"Hahaha.. Halo Lili. Lama tak berjumpa." Ucap Raja Ronald.
"Kau.. apa yang telah kau perbuat dengan academy ku!?" Tanya Mrs. Lili dengan sedikit berteriak menahan marah.
"Academy yang jelek ini sudah sepantasnya di hancurkan bukan? Hahaha..." ucap Raja Ronald dengan tawa jahatnya.
"Kau..."
"Sudah-sudah. Raja Ronald, ada perlu apa kau dan pasukanmu datang kesini?" Ucap dan tanya Mr. Delius menengahi perdebatan mereka.
"Serahkan padaku 'sang terpilih' itu Deli!" Ucap Raja Ronald dengan nada dinginnya.
"'Sang terpilih' katamu? Kami saja tak mengetahui siapa dia itu!" Ucap Mr. Albert.
"Jangan bohong kalian! Jelas-jelas aura keberadaannya ada disini! Cepat serahkan dia kepadaku atau kuhancurkan kalian!" Ucap Raja Ronald dengan nada yang lebih dingin lagi.
"Kami tidak berbohong Ronald!" Ucap Mrs. Lili tak mau kalah.
"Kau masih mengelak? Baiklah. Akan ku panggilkan 2 prajurit kesayanganku untuk menanyakan apa benar dia ada disini atau tidak. KEMARILAH KALIAN BERDUA!" Tak lama setelah Raja Ronald mengatakan itu, munculah Farel dan Kevin dengan wajah datar dan bengisnya.
Sontak kedatangan mereka membuat yang lain terkejut. Baik yang ada dilapangan maupun di aula.
"A..apa? Ja..jadi selama i..ini me..reka....?" Ucap Vani tak percaya dengan apa yang dilihatnya dari layar didepan mereka.
Sontak desas desus tentang Farel dan Kevin pun menyebar kemana-mana.
A...apa?
Kenapa?
Aku gak nyangka mereka seperti itu.
Kak Farel...
Kak Kevin, kenapa kau seperti ini?
Dan sebagainya.
Vani pun hanya bisa terpaku ditempatnya, sedangkan Felix hanya bisa diam dan menatap kosong kearah layar.
'Kenapa kalian melakukan ini?' Batin Felix.
***
"Jadi kalian yang selama ini..."
"Kenapa Mrs? Terkejut?" Belum sempar Mrs. Selena menyelesaikan kata-katanya, Kevin sudah diluan memotongnya.
" Gak tuh!" Tiba-tiba ada sebuah suara yang menyaut dari belakang barisan warga academy yang berada dilapangan membuat mereka membuka jalan untuk mengetahui siapa itu.
"Kau..." ucap Farel sambil menunjuknya.
"Kau bukannya yang waktu itu?" Tanya Kevin kepada salah satu dari 2 orang tersebut.
Ya, orang yang tadi berucap ialah Leo dan Alexa yang datang menggunakan jubah dan topeng agar tak ketahuan yang lain. Yang tentu saja tidak ada yabg mengetahui dengan pasti siapa 2 orang tersebut. Yang mereka tau mereka adalah laki-laki dan perempuan.
"Sudah ku bilang jangan mencarinya!" Ucap Leo dingin.
"Siapa kau sebenarnya?!" Tanya Farel.
"Aku? Kau tak perlu mengetahuinya, yang kau perlu ketahui adalah kalian tidak akan pernah mendapatkannya!" Ucap Leo dengan tekanan di kalimat terakhir.
"Banyak omong kau! SERANG MEREKA!" Ucap Raja Ronald tiba-tiba.
Langsung saja para pasukan yang di bawa Raja Ronald menyerang warga academy yang berada di sana.
Peperangan kecil pun tak dapat terelakan. Jika diliat dari jumlah, sudah di pastikan jika pihak academy kalah jumlah dengan pihak Darkness. Tetapi itu tak menutup kemungkinan sedikItpun kalau pihak academy berani melawan.
"Ck! Menyerahlah kalian! Sudah dipastikan kalian akan kalah dengan jumlah sigini!" Ucap Kevin ditengah-tengah ia melawan anak senior kelas 4 yang bernama Jonathan.
"Tidak akan pernah!" Ucap Jonathan sambil memberikan Kevin berbagai serangan.
Sedangkan dilain tempat, terdapat Mrs. Lili dan Raja Ronald yang sedang bertarung.
"Sudah kubilang cepat berikan ia kepadaku dan akan ku selesaikan ini!" Ucap Raja Ronald dengan nada remeh.
"Sudah kubilang aku tak tau siapa itu dia! Sekalipun kalau aku mengetahuinya tidak akan pernah ku birikan ia kepadamu!" Ucap Mrs. Lili berang.
Kalau pihak Darkness dan academy sedang sibuk bertarung sambil berbincang hal yang tak penting dengan lawannya, berbeda lagi dengan 2 sosok berjubah yang sedang memperhatikan mereka.
"Sudah waktunya." Ucap salah satu dari mereka yang diangguki oleh yabg satunya.
"NOW!" Teriak orang itu tiba-tiba membuat yang lain bingung tetapi itu tak berlangsung lama setelah mereka melihat para Troll dan sejumlah pasukan--yang menurut mereka entah berantah datang dari mana--keluar dari berbagai arah dan membantu pihak academy untuk melawan Darkness.
"ARGHH!! Siapa yang berani-beraninya mengacaukan rencanaku!?" Teriak Raja Ronald marah sambil menatap pasukannya yang tumbang satu persatu.
Hal itu membuat Raja Ronald sangat marah karena kedatangan para pasukan--yang entah berantah--datang dari berbagai arah itu memperkecil jumlah pasukan yang awalnya ia bawa 1000 orang menjadi 10 orang. Meskipun memerlukan waktu yang cukuplama untuk itu.
Dan pada akhirnya hanya tersisa ia, tangan kanannya yang bernama Dannies, Kevin, Farel, serta 6 peajurit yang berasal dari pihak Darkness tersisa.
"s**t!" Umpat Raja Ronald kesal.
"Mengaku kalah eh?" Tanya Leo dibalik topengnya.
"Tidak akan pernah!! Liat saja nanti! Dengan ini aku mengibarkan bendera perang kepada kalian orang-orang lemah! Liat saja, aku akan kembali pada saat bulan purnama muncul. INGAT ITU!" Ucapnya sambil melempar sesuatu didepan mereka dan mengeluarkan asap hitam yang akan membawa mereka kembali ke istana.
"I'll wait for you, OLD MAN" Ucap Alexa dibalik topengnya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.
"And i will have one more surprise later for you at that time." Ucap Alexa sebelum mereka benar-benar menghilang dan mengeluarkan sedikit aura mengintimidasinya.
Tentunya apa yang diucap Alexa membuat mereka penasaran sekaligus bergidik mendengarnya.
"'She' has come and been here for a long time guys." Ucap Leo sebelum ia dan Alexa menghilang dalam tiupan angin.
"What does it mean?" Ucap Jonathan bingung.
"Could he mean that 'she' was 'the chosen one'?"
"I think you right. But, before that, let's go back and treat your wounds now! Untung saja tadi 'mereka' datang membantu dan membela kita." Ucap Mrs. Lili yang disetujui semuanya.
***
"Ukh! This is so sick!"
"Slowly okay?!"
"Mana obatnya."
"Finish!"
Begitulah suara-suara yang terdengar saat Felix dan Vani memasuki ruang kesehatan academy.
"Ukh! It's very nousy here. Sucks!" Gerutu Vani saat mereka memasuki ruang kesehatan.
"Shut up please!" Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari pintu ruang kesehatan membuat mereka semua diam dan melihat ke arah pintu.
"Alexa, Leo! Where have you been?" Ucap Vani dengan setengah berteriak.
"You don't need to know now bat later." Ucap Alexa dengan nada misterius.
"Oh! C'mon! Beritahukan kami sekarang saja lah Lex." Bujuk Vani.
"No!" Ucap Alexa dengan tegas membuat Vani bungkam.
"Are you guys okay?" Tanya Alexa sambil melangkah masuk.
"Yes/sure/okay/ Lex" ucap mereka serempak.
"Good." Ucap Alexa pelan.
"So? What are you guys doing in here?" Tanya Felix.
"Hanya melihat keadaan yang lain." Jawab Leo santai sambil mendekat ke arah Alexa dan membisikan sesuatu kepadanya.
Felix, Vani, dan semua yang berada diruangan itu pun hanya menatap mereka berdua dengan bingung.
"Now?" Tanya Leo yang sudah menegakkan badannya.
"I think we must do it now. Dari pada membuang waktu bukan?" Ucap Alexa sambil menatap Leo yanh dianggukinya.
Kemudian mereka berjalan ke arah pintu lagi untuk keluar. Tetapi sebelum itu, saat mereka melewati Felix dan Vani, mereka sempatkan untuk berpamitan terlebih dahulu.
"We must to go now, again." Ucap Leo.
"Again? But where?" Tanya Vani dengan setengah berteriak saat Alexa dan Leo sudah berjalan agak jauh darinya.
Dan seperti biasanya, mereka berdua tetap berjalan dan mengabaikan pertanyaan Vani dan tatapan penasaran dari Felix ataupun yang lainnya.
"Sebenarnya apa yang telah mereka rencanakan?" Gumam Felix.
***
Tok tok tok
"Come in."
Ceklek.
"Hello, Mrs. Lili." Ucap seseorang yang mengetuk pintu tadi.
Mendengar sebuah suara yang memanggil namanya, Mrs. Lili pun segera mendongakkan kepalanya dari kertas yang ada dihadapannya.
"Kalian..?" Ucap Mrs. Lili kaget sambil berdiri.
"Wow, wow, calm down Mrs. Kita datang ke sini hanya untuk membahas tentang peperangan yang tadi." Ucapnya lagi.
Setelah itu, muncul lagi seseorang dibalik pintu yang mengenakan pakaian yang sama persis dengannya.
"Ba..baiklah. Tapi kalau boleh tau siapa kah kalian dan mengapa kalian menggunakan jubah dan topeng seperti itu!?" Ucap dan tanya Mrs. Lili pada mereka berdua.
Ternyata yang mengetuk dan memasuki ruangan Mrs. Lili tadi ialah Alexa dan Leo yang mengenakan jubah dan topengnya sekarang.
"Kau tak perlu tahu siapa kami. Tapi kau besa memanggilku George, dan dia Angel." Ucap Leo tenang.
Alexa pun hanya melihat interaksi keduanya sambil bersandar didinding dengan tangan yang dilipat sambil membatin.
Semoga setelah ini aku bisa memperbaiki keluargaku. Batinnya sambil menunggu Leo dan Mrs. Lili berbincang.
***
"Sial, sial , sial! Kenapa harus gagal lagi!?" Ucap Raja Ronald marah sambil bolak-balik didepan kedua anak buahnya.
"King.. i think you should be calm then we think about we plans for the war later?" Ucap Kevin memberi usulan.
"SHUT UP!!" Bentak Raja Ronald marah.
Prankk..
Kevin yang tadi berucap pun diam dengan tubuh mematung dan gemetar dan wajah yang pucat pasi, begitu juga dengan yang lainnya.
"Huft! Kevin, Ferel, Dennis, cepat siapkan dan latih pasukan kita untuk berperang nanti! Waktu kita hanya tinggal 1 setengah bulan menuju bulan purnama! Dan yang lainnya, siapkan peralatan yang di perlukan saat berperang SEKARANG!" Ucap Raja Ronald.
"Baik!" Ucap Mereka serempak kemudian pergi untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Aku akan menghancurkanmu b***h!" Ucap Raja Ronald dengan penuh amarah saat semua orang sudah meninggalkan ruangannya.
"Kau tak apa yah?" Tanya seorang remaja pria kepada Raja Ronald.
"Oh William. Kemarilah nak!" Ucap Raja Ronald kepada remaja itu yang ternyata adalah anaknya.
"Ada apa yah? Kenapa kau kelihatan marah begitu?" Tanya William penasaran.
"Huft! Ayah gagal saat ayah menyerang academy itu tadi. Dan juga dia masih belum keluar." Ucap Raja Ronald kepada anaknya.
"'The chosen one' right?" Tanya William memastikan.
"Yeah. You right son." Ucap Raja Ronald sambil menepuk bahu anaknya.
"Kenapa tak ayah kasih masukan saja mata-mata ke academy itu untuk mencarinya?" Tanya William bingung sambil bersandar di banku singahsananya yang berada di sebelah singahsana ayahnya.
"Sudah ayah coba tapi gagal." Ucap Raja Ronald sambik mengusap wajahnya kasar.
"Bagaiman kalau aku saja yang masuk." Ucap William sambil menyeringai.
"Sepertinya kau punya rencana untuk ini." Tebak Raja Ronald sambil melihat putranya.
"Sure Daddy." Ucap William sambil melebarkan seringaiannya.
"Baiklah kalau bagitu. Lakukan sesukamu saja Will." Ucap Raja Ronald seraya berdiri dari singgasananya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Sedangkan William masih tetap berada di situ dan melebarkan seringaiannya dengan pikiran liciknya untuk nanti.
'Akan ku buat mereka menderita karena telah membunuh ibuku! Liat saja nanti.' Batin William dalam kesunyian ruangan itu.