Tak terasa peperangan yang dikibarkan oleh Raja Ronald pun tinggal menghitung hari. Alexa sendiri sudah kembali pulih dan berlatih bersama yang lain semenjak 3 hari seusai kejadian itu. Sedangkan Felix dan Vani pun juga sudah berbaikan dengan Leo dan Alexa kembali.
Para pendiri dimensi imortal dan juga petinggi pada masing-masing klan pun sudah mulai berkumpul kembali ke dimensi imortal untuk ikut turun tangan juga saat berperang. Dan yah, orang tua Alexa dan Leo juga telah datang ke dimensi imortal juga untuk ikut membantu.
Tapi tidak ada yang sama sekali sadar kalau ternyata mereka adalah kedua orang tua Alexa dan Leo. Hal itu karena Jesica yang kembali menggunakan nama aslinya tanpa marga Witz, begitu juga dengan Arnold.
Banyak juga yang kaget saat kedatangan mereka yang diketahui yang lain telah hilang dan telah menjadi lagenda. Tetapi tak sedikit juga yang menanyakan apakah mereka sudah berkeluarga dan mempunyai anak atau belum yang hanya dibalas dengan senyum tipis mereka.
Kali ini Alexa sendiri sedang berada di tengah-tengah hutan, atau lebih tepatnya dengan padang rumput yang berada ditengah-tengah hutan selatan. Atau yng lebih dikenal dengan hutan terlarang.
Alexa sendiri kali ini sedang dalam wujud Freensca. Sambil mengepakan sayapnya dan tidur diudara sambil menatap langit-langit. Dalam batin Alexa sendiri sedang bergulat dengan masalahnya kali ini yang membuatnya pusing. Sangat pusing. Apa lagi perkataan dari neneknya saat ia datang sehari sebelum kedatangan orang tua Alexa untuk berkunjung dan memantau perkembangan latihan para warga academy sebentar dan akan kembali lagi saat perang akan dimulai.
Perkataan neneknya itulah dan juga kata pikiran dan hatinya yang saling memberontak membuat ia sangat pusing dan bingung memikirkannya.
Flashback on
Seorang wanita paruh baya dengan mahkota dikepalanya sedang berjalan beriringan dengan lelaki paruh baya yang juga mengenakan mahkota pada kepalanya. Sepanjang jalan, semua orang tunduk memberikan hormat pada kedua orang tersebut. Yang tak lain dan tak bukan adalah raja dan ratu dari kerajaan Skylar. Kerajaan yang memimpin dimensi ini.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka telah tiba di halaman academy cucu mereka dan melihat semua guru dan staf academy telah berkumpul dan membungkuk hormat kepada mereka. Sang raja pun segera memberikan aba-aba agar mereka kembali berdiri kembali yang langsung dituruti mereka.
"Selamat datang raja dan ratu Skylar. Suatu kehormatan yang besar bagi kami untuk melayani Anda." Ucap Mrs. Lili sambil menunduk hormat kembali.
"Terima kasih Lili. Berdirilah. Aku dan istriku datang kesini hanya untuk melihat perkembangan kalian berlatih untuk peperangan nanti." Ucap Raja Sean sambil menatap kearah para guru dan anggota staf academy yang sedang menatap mereka penuh hormat.
"Mari ikut saya Baginda. Saya akan mengantarkan kalian ke tempat para murid yang sedang berlatih saat ini." Ucap Mr. Delius memberi saran.
"Baiklah. Ayo." Ucap Raja Sean dan segera mengikuti Mr. Delius bersama Ratu Scarla digandengannya.
Sesampainya ditempat para murid yang sedang berlatih di taman belakang karena luas dan juga cocok untuk dijadikan tempat latihan untuk sementara karena ada kunjungan dari Raja dan Ratu Skylar. Terlihat mereka yang sedang serius berlatih dengan sihirnya ataupun powernya. Ada juga yang berlatih melafalkan mantra yang ia hafalkan. Dan ada juga yang sedang beristirahat karena kelelahan berlatih.
Mr. Delius pun segera menepuk-nepuk tangannya beberapa kali dan meminta perhatian dari mereka semua.
"Perhatian anak-anak! Mari berkumpul disini sebentar." Ucap Mr. Delius dengan agak berteriak agar mereka semua dapat mendengar suaranya.
Tak butuh waktu lama mereka sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi di depan Mr. Delius dan juga Raja dan Ratu Skylar.
"Anak-anak. Hari ini kita kedatangan tamu dari kerajaan Skylar. Beri hormat pada mereka!" Ucap Mr. Delius yang langsung di lakukan semua murid academy itu.
"Salam Raja dan Ratu Skylar." Ucap Mereka dengan serempak sambil membungkuk hormat kepada mereka.
"Bangunlah." Ucap Ratu Scarla dengan lembut yang langsung dituruti mereka.
"Bagaimana latihan kalian?" Tanya Ratu Scarla kepada mereka.
"Baik dan lancar, Ratu." Ucap ketua osis disana dengan sopan.
"Baguslah." Ucap Ratu Scarla lagi dengan senyum lembutnya.
Setelah itu terjadilah perbincangan kecil antar mereka dan juga tour keliling untuk mereka.
***
Tak lama, malam pun tiba. Seluruh warga academy pergi ke ruang makan untuk makan malam. Termasuk Alexa, Leo, Felix, dan Vani juga.
"Kenapa mereka bersemangat begitu?" Tanya Alexa bingung.
"Kau tak tahu? Raja dan Ratu Skylar sedang datang berkunjung dan juga dengar-dengar menginap disini sampai besok!" Ucap Vani dengan dramatis.
"Makanya jangan latihan sendiri melulu! Jadi kudet kan." Lanjutnya lagi dan mencibir Alexa yang semenjak mereka kembali tak pernah berlati bersama mereka. Begitu juga Leo. Jika mereka bergabung, palingan mereka hanya menonton Vani dan Felix yang sedang latihan saja.
Alexa yang mendengar penuturan Vani pun hanya mengidikan bahunya acuh dan memasang headsetnya sambil memutarkan lagunya.
Sesampainya disana, terlihat ruang makan yang sudah sangat ramai dengan desas desus tentang Raja dan Ratu kerajaan Skylar. Untung saja tempat yang biasa mereka duduk tak di sentuh satupun siswa siswi ataupun para guru disana. Jadi mereka bisa langsung duduk dan memesan makanan mereka.
Saat baru saja akan memakan makanan mereka, terdengar suara Mrs. Lili yang meminta perhatian dari semuanya.
"Tes tes.. ekhem! Perhatian semuanya." Ucap Mrs. Lili yang langsung mendapat perhatian seluruh warga academy disana.
"Hari ini kita kedatangan Raja dan Ratu dari kerajaan Skylar yang juga akan menginap disini. Beri hormat pada mereka!" Ucap Mrs. Lili yang langsung dituruti semuanya. Termasuk Alexa dan Leo, meski dalam hati mereka sangat malas untuk melakukan itu.
"Terima kasih semuanya, silahkan kembalilah berdiri." Ucap Ratu Scarla kepada mereka.
"Ya, seperti yang saya katakan tadi saat melihat kalian latihan. Saya dan istri saya datang berkunjung ke sini untuk melihat perkembangan kalian. Dan juga saya harap kalian akan siap dengan peperangan yang nantinya akan datang." Ucap Raja Sean memberi sambutan.
"Saya harap peperangan ini adalah akhir dari semuanya. Dan saya mohon, jagalah diri Anda saat peperangan nanti." Ucap Ratu Scarla kepada mereka.
"Baik Ratu." Ucap mereka serempak.
"Mungki cukup begitu saja sambutan dari kami. Tak perlu banyak kata, saya tau kalian sudah sangat lapar sekarang." Ucap Raja Sean sambil menatap Alexa yang sedang memasang wajah kesalnya.
Raja Sean sendiri terkekeh karena melihat wajah cucunya yang kesal karenanya. Begitu juga Ratu Scarla yang hanya tersentum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat kelakuan jahil suaminya sudah keluar.
Sedangkan para warga academy pun berbondong-bondong mengaku kalau karena dirinya lah yang membuat Raja Sean dan Ratu Scarla terkekeh dan tersenyum. Tapi hal itu langsung berhenti karena deheman dari Alexa yang langsung membuat mereka semua diam.
"Em.. kalau begitu silahkan lanjutkan makan kalian yang tertunda. Selamat malam." Setelah mengatakan itu, semuanya pun langsung sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
***
"ALEXA!!" Panggil Ratu Scarla saat dilihat cucunya akan segera pergi.
Sontak hal itu menjadi perhatian bagi seluruh orang yang masih ada di ruang makan.
"Ada apa, Ratu?" Tanya Alexa dengan sopan.
"Ikuti aku." Ucap Ratu Scarla dengan lembut dan langsung dibalas anggukan Alexa.
Vani, Felix, dan seluruh warga academy yang melihat hal itupun terbingung-bingung. Beda halnya dengan Leo yang hanya acuh tak acuh dan segera pergi dari sana.
Dilain tempat, lebih tepatnya taman belakang, terlihat 2 orang wanita yang beda generasi itu sedang berdiri sambil memandang bintang yang bertaburan dilangit itu.
"Ada apa nenek memanggilku?" Tanya Alexa to the point.
"Besok orang tuamu akan datang." Ucap Ratu Scarla yang langsung membuat Alexa terkejut. Tetapi hal itu tidak diketahui diapapun termasuk neneknya, karena ia sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.
"Terus?" Tanya Alexa lagi.
"Ku harap kau menghindari mereka selalu. Dan menghidari tatapan dari mereka." Ucap Ratu Scarla dengan serius sambil menatap cucu perempuan satu-satunya itu.
"Emang kenapa nek?" Tanya Alexa sambil membalas tatapan neneknya.
"Jika mereka melihatmu, maka kutukan itu akan berlaku. Dimanapun kamu, tak perduli didepan orang banyak atau tidak, mereka akan menyiksamu disana juga. Meskipun mereka tak menginginkan hal itu terjadi. Dan tanpa perduli tatapan orang lain." Ucap Ratu Scarla dengan sendu.
"Kalau mereka melihatku dengan penampilan yang lain? Apakah mereka akan tetap menyiksaku?" Tanya Alexa sambil menatap kearah langit kembali dengan tatapan sendunya.
"Kurasa selama mereka masih tidak mengenalimu mereka tak akan melakukan itu. Tapi aku tak jamin." Ucap Ratu Scarla dengan nada sedihnya.
Mendengar hal itu, Alexa hanya menarik dan kembali menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Baiklah. Aku akan pergi nanti dan datang hanya dengan wujud lain dari dalam diriku. Ku harap nenek tak memberi tahukan perihal ini pada siapapun. Dan tenang saja, aku akan ikut dalam peperangan itu dan datang saat dimulainya peperangann itu." Ucap Alexa dengan mantap.
"Dan ku mohon, jangan memberitahukan kepergianku pada siapapun. Termasuk ke kak Leo dan temanku. Karna aku tak sepenuhnya pergi." Lanjutnya lagi membuat Ratu Scarla menatapnya dengan bingung.
"Maksud kamu?" Tanya Ratu Scarla dengan bingung.
Mendengar pertanyaan itu, Alexa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil menatap neneknya.
"Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku pergi dulu, nek. Good night." Ucap Alexa sambil beranjak pergi dari sana sesudah berpamitan dan mengecup pipi neneknya itu.
Flashback off
***
"Alexa sebenarnya kemana sih!!?" Tanya Leo dengan frustasi saat ia tidak menemukan adiknya seharian ini.
"Aku juga tidak tau." Ucap Vani sambil menunduk.
Sedangkan Leo yang mendengar hal itupun semakin frustasi dan mengacak-acak rambutnya asal. Felix yang melihat bagaimana kacaunya sahabatnya itupun segera menenangkannya.
"Tenanglah Le, kita tunggu sampai sebentar malam. Siapa tau dia sedang pergi ke suatu tempat untuk sekedar jalan-jalan." Ucap Felix berusaha untuk menenangkannya.
Mendengar itu, Leo hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan beranjak pergi dari sana. Vani dan Felix pun hanya bisa menatap kepergian Leo dengan sendu.
"Mungkin dia butuh waktu." Ucap Vani kepada Felix yang kelihatan khawatir dengan Leo.
"Ya, mungkin kau benar." Ucap Felix menyetujuinya.
Dilain tempat, terdengar suara gaduh yang berasal dari ruang rapat pada gedung utama academy.
"Bagaimana ini!?" Ucap Elena, pemimpin dari klan elf dan peri.
"Apakah kalian masih belum menemukannya!?" Tanya Forix, pemimpin klan werewolf.
"Tapi kalau kalian tak menemukannya, kenapa Ronald bisa menyimpulkan kalau dia berada disini!?" Tanya Delisa, pemimpin dari klan vampir.
"Tenang semuanya, saya harap kalian bisa tenang dulu." Ucap Mrs. Lili mencoba untuk menenangkan suasana yang ricuh karena membahas tentang keberadaan sang terpilih bersembunyi.
Kali ini seluruh pemimpin para masng-masing klan, para petinggi dari dimensi imortal, pendiri dimensi imortal, dan juga para lagendaris yang masiih tersisa sedang berkumpul disana untuk mengadakan rapat dengan para guru inti di Dimension Academy.
Setelah dirasanya keadaan sudah kembali tenang, Mrs. Lili kembali membuka suaranya untuk mengkonfirmasikan semua pertanyaan beruntun itu.
"Kami sebenarnya pernah merasakan keberadaannya, hanya saja entah mengapa keberadaannya itu hanya bertahan sebentar saja. Kadang kita dapat merasakannya,tapi saat kita mencarinya ia sudah menghilang. Tapi saat beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya setelah kunjungan mendadak dari Raja Ronald saat prom night yang diadakan waktu itu, hawa keberadaannya pun menghilang begitu saja." Ucap Mrs. Lili panjang lebar sambil menghembuskan nafasnya lelah.
"Bagaimana bisa?" Tanya Jessica tak percaya.
"Kami semua pun tak mengerti." Ucap Mr. Delius dengan lesu.
Terjadi keheningan beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara terdengar yang langsung membuat mereka membelalakan mata mereka kaget.
"Kalian tenang saja. Dia akan datang dan selalu berada didekat kita semua." Ucap Ratu Scarla dengan santai.
***
Di sebuah padang rumput yang luas, terlihat seorang gadis yang sedang tidur berbaring sambil menatap langit yang cerah.
"Kapan ini semua akan berakhir?" Gumam gadis itu dengan lesu.
Krek.. krek..
Tiba-tiba terdengar suara decikan semak-semak dari berbagai arah membuat ia langsung mengambil posisi duduk dan menatap sekitar dengan waspada.
"Siapa itu!?" Tanyanya entah kepada siapa.
Suara gemeresek semak-semak itupun semakin terdengar. Sampai-sampai gadis itu kemudian berdiri dan mengambil posisi siaganya.
Tiba-tiba, munculah berbagai mahkluk mitos yang berasal dari tujuh arah dan membungkuk hormat kepadanya seolah-olah ia adalah ratu disana.
"Hormat kami kepada Anda, nona Alexa." Ucap mereka sambil membungkuk hormat kepada Alexa.
'Nona?' Tanya batin gadis yang ternyata adalah Alexa dengan bingung.
"Ba..bangunlah." Ucap Alexa dengan gugup karena diperlakukan seperti itu.
Disisi lain ia juga sangat terkejut melihat kehadiran para mahkluk mitos yang katanya telah punah dan juga tidak diketahui keberadaannya berada dihadapannya sekarang. Yang lebih parahnya lagi mereka bisa bicara!
"Si.. siapa kalian?" Tanya Alexa kepada mereka semua.
Yang terdiri dari seekor grifin, pheonix, unicorn pelangi, peri, pegasus emas, naga berkepala 9 (atau bisa juga dibilang dengan raja dari para naga), dan juga seekor kyubi berekor 5.
"Kami adalah hewan pendamping Anda, nona." Ucap griffin itu.
"Hewan pendamping?" Beo Alexa.
"Benar nona. Kami semua yang ditakdirkan untuk mendampingi nona disaat apapun itu." Ucap pegasus itu.
"Kami sudah mencari nona keseluruh hutan ini tapi kami belum menemukan nona. Sampai akhirnya kemarin kami semua merasakan keberadaan nona disini dan langsung mencari Anda dan menemukan Anda disini." Ucap Pheonix itu.
"Eh.. emm.. tapi bukannya hewan pedamping itu baru akan didapatkan saat kelas 4 ya?" Tanya Alexa lagi.
"Secara peraturan sekolah Anda memang seperti itu. Tetapi Anda bisa menemukan hewan pendamping juga saat belum memasuki kelas 4. Dan baru akan dilatih bersama hewan pedamping Anda saat Anda sudah kelas 4." Ucap Unicorn itu.
"Oh.. begitu." Ucap Alexa mengerti.
Setelah itu terjadilah keheningan diantara mereka. Sampai akhirnya sang peri membuka suaranya untuk memecahkan keheningan yang telah terjadi.
"Apakah nona ingin menandakan kami sebagai hewan pedamping nona?" Tannyanya kepada Alexa.
"Bagaimana caranya?" Tanya Alexa bingung.
"Biar kami saa yang lakukan." Ucap sang kyubi dan kemudian maju bersama yang lain untuk membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi Alexa.
"Tunggu!" Ucap Alexa tiba-tiba saat mereka akan melakukan sesuatu yang tidak diketahui Alexa. Yang ku tahu hanya mereka sedang menandaiku sebagai pemilik mereka. Batinnya berucap.
"Ada apa lagi nona?" Tanya sang naga kepada Alexa.
"Aku belum menhetahui nama kalian." Ucap Alexa pelan.
Mendengar hal itu, mereka pun hanya tersenyum dan mengenalkan diri mereka masing-masing yang dimulai dari sang griffin.
"Nama saya Gio. Anda bisa memanggil saya dengan itu." Ucap Gio sang griffin dengan senyumnya.
"Saya Winky. Senang bisa melihat Anda." Ucap sang peri yang bernama Winky.
"Nama saya Floren. Anda bisa memanggik saya, Flo." Ucap sang Unicorn yang bernama Foren.
"Saya Dragon. Anda bisa memangilku dengan sebutan itu." Ucap sang naga bernama Dragon sambil tersenyum hormat.
"Aku Erick. Senang bisa menemukan Anda, nona." Ucap sang pegasus yang bernama Erick.
"Namaku Kyuto. Anda bisa memanggilku dengan Kyuu." Ucap Kyubi laki-laki yang bernama Kyuto.
"Dan aku adalah Olix. Terserah Anda jika ingin memanggilku dengan apa saja." Ucap sang Pheonix sebagai penutupan.
"Baiklah. Kalian sudah tau namaku bukan?" Tanya Alexa memastikan.
"Sudah nona." Ucap mereka serentak lagi.
"Stop calling me like that. I don't like that." Ucap Alexa dengan malas yang dibalas dengan kekehan mereka.
"Ok, Lex. Kalau begitu mari kita mulai." Ucap Kyuto memberi aba-aba.
Tak lama sebuah cahaya warna-warni membentuk pelangi pun mencul dengan terangnya sehingga Alexa harus menutup matanya. Tak hanya sampai disitu, di sekitar cahaya pelang itupun terdapat serbuk-serbuk perak yang mengerlap mengelilinginya. Saking terangnya cahaya itu bersinar, bahkan terangnya itu sampai dapat dilihat di Dimension Academy dan juga para warga kota yang sontak menarik perhatian semuanya.
"Apa itu?" Tanya Mr. Delius bingung.
Kali ini semua para warga academy pun sudah berkumpul didepan halaman academy setelah berlarian saat melihat cahaya itu. Tak hanya para warga academy, seluruh para petinggi, pendiri, pemimpin masing-masing klan, dan juga para guru inti yang sedang rapat tadipun langsung keluar saat merasakan aura positif yang sangat kuat dari arah luar academy.
"Arahnya dari hutan terlarang?" Ucap Salah satu siswa dengan penuh tanda tanya.
Yang lain juga menyadari akan hal itu, tetapi mereka memutuskan untuk diam sambil menikmati pemandangan indah yang dihasilkan oleh cahaya itu.
'Apakah itu kamu, dek?' Batin Leo sambil tetap memandang auh cahaya itu dari rooftop sekolah.
Kembali lagi ketempat Alexa, setelah cahaya itu meredup. Munculah tanda seperti tato yang memenuhi wajah dibagian kanan dekat matanya dan juga di pergelangan lengannya. Juga penampilannya sedikit berubah dengan rambut yang lebih panjang sampai atas bokong, dan juga pasa rambutnya terdapat berbagai surai warna yang berbeda-beda. Yaitu warna dari masing-masing kekuatannya yang membuat rambutnya kelihatan lebih indah. Jangan lupakan matanya yang juga berubah yang semula berwarna coklat menjadi warna biru laut yang sangat menenangkan.
Tak lama setelah ia membuka mata, Alexa langsung ambruk tak sadarkan diri karena energi yang dikeluarkannya sangat besar untuk hal itu.
"Istirahatlah sebentar, nona." Ucap semuanya yang masih bisa didengar Alexa sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
***
Tak terasa hari dimana Raja Ronald mengibarkan bendera perang telah tiba. Lebih tepatnya ini adalah hari saat dimana mereka menentukan yang mana yang akan menang, dan yang mana yang akan kalah. Atau bisa kita bilang dengan, peperangan akan dimulai.
Kali ini para warga dimensi imortal yang ikut berperang, ataupun dengan para warga yang diluar dimensi yang datang kemari untuk turut ikut serta sudah terkumpul semuanya di Dimension Academy.
Terlihat mereka semua sedang menyiapkan senjata dan alat-alat yang diperlukan untuk peperangan nantin malam. Terlihat dengan sangat jelas jika ada sebuah ketakutan dan keraguan dimata mereka semua. Tetapi dengan pikiran positif mereka menepis keraguan dan ketakutan itu demi keseimbangan antar dimensi ini.
Lain halnya dengan yang lain. Leo, Vani, dan Felix kali ini malah sedang asik duduk ditaman belakang dan menghirup udara senja sebanyak-banyaknya.
"Aku takut." Cicit Vani yang dapat didengar oleh mereka.
"Jangan takut. Ada kakak yang akan selalu menjagamu nanti." Ucap Felix menenangkan.
Leo yang melihat interaksi mereka pun hanya tersenyum miris mengingat kini ia kembali sendiri tanpa Alexa disampingnya.
'Kamu dimana dek?' Batin Leo sambil menatap awan dengan sendu.
"Aku disini kak." Ucap seseorang yang sontak membuat ketiga orang yang sedang sibuk melamun itu langsung memusatkan perhatian mereka ke arah sumber suara.
"Alexa!?" Tanya Leo yang langsung berdiri dan berlari mendekati sosok berjubah emas yang menutupi badannya dan hanya menyisahkan hidung dan mulutnya yang dapat dilihat.
"Stop." Ucapnya pelan.
Leo yang mendengar nada bicara Alexa yang lainpun segera berhenti dan menatap sosok yang ia yakini sebagai adiknya itu dengan tatapan sendunya.
"Kenapa? Kamu Alexa kan!?" Tanya Leo lagi.
Sedangkan Vani dan Felix hanya melihat adegan itu tanpa bisa berbuat apapun. Mereka yakin kalau kedua bersaudara itu akan segera menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Iya kak. Ini aku." Ucap Alexa dengan senyum tipisnya.
Mendengar hal itu, Leo berjalan dengan pelan mendekati sosok itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"Kamu kenapa pergi gak bilang-bilang? Kenapa kamu bisa muncul dengan seperti ini secara mendadak!? Kenapa baru hari ini kamu menampakkan diri kamu!? Kamu dari mana saja selama ini hah!? Kakak takut kamu kenapa-napa." Ucap Leo sambil menangis dibahu Alexa.
Alexa pun juga merasa sedih, tetapi itu ditahannya. Ia hanya menepuk-nepuk punggung Leo sampai ia tenang. Saat dirasanya Leo sudah mulai tenang, Alexa pun melepaskan pelukan mereka dan memanggil Vani dan Felix untuk mendekat.
"Vani! Felix! Kemarilah!" Panggilnya kepada kedua sahabatnya itu.
Merekapun segera menghampiri Alexa dan memeluknya dengan erat sampai Alexa sendiri yang harus melepaskannya.
"Sudahlah. Jangan seperti ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk sekarang." Ucap Alexa agar mereka semua bisa tenang.
"Kamu mau kemana lagi!? Jangan kemana-mana lagi dek! Kamu tetap disini sama kakak!" Ucap Leo dengan tegas tanda ia tak mau dibantah.
Alexa yang mendengar hal itupun hanya menghela nafasnya dan berbalik kemudian berjalan beberapa langkaha dari mereka.
Baru saja Leo ingin mengucapkan sesuatu lagi, Alexa lebih dulu memotongnya dan membuat mereka semua diam sambil mendengarkannya.
"Aku pergi hanya sebentar. Itu juga tak kulakukan selamanya. Aku tahu kalau Ayah dan Bunda tidak mau menyiksaku seperti selama ini yang mereka lakukan. Tetapi mereka dikutuk untuk slalu menyiksaku disaat mereka melihatku." Ucap Alexa dengan pelan.
"Bukannya aku tak mau kembali menderita hanya karena kutukan yang konyol itu! Bukan! Aku memilih jalan ini karena permintaan nenek waktu itu." Lanjutnta lagi.
"Nenek? Siapa sebenarnya nenek kalian!?" Tanya Vani bingung.
"Nanti, saat dimana peperangan telah usai, maka semua rahasia akan terbongkar." Ucap Alexa sambik tersenyum misterius dan berbalik menatap mereka.
"Aku akan pergi. Jangan lupa memberitahu mereka kalau aku akan datang. Bukan dalam wujud Alexa. Tapi dalam wujud 'sang terpilih'." Ucap Alexa sambil tersenyum saat melihat kedua sahabatnya itu diam mematung. Sedangkan kakaknya juga hanya bisa diam menyaksikan itu.
Dan entah angin dari mana saat Alexa selesai mengucapkan itu, tudung yang ia kenakan terlepas tertiup angin kencang dengan kelopak-kelopak bunga mawar emas yang mengelilingi Alexa sebelum kembali terbawa arus tertiupnya angin.
Vani dan Felix kembli terkejut saat melihat tampilan Alexa yang berbeda. Tak hanya mereka berdua, Leo pun juga sama terkejutnya dan hanya bisa menutupinya dengan diam mematung ditempat.
"Aku pergi." Ucap Alexa sambil tersenyum lembut sebelum ia berubah menjadi kelopak-kelopak mawar emas dan tertiup angin di langit senja itu.
Leo, Vani, dan Felix pun hanya bisa memandang kelopak mawar emas yang tertiup angin itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan dengan batin yang masing-masing mendoakan keselamatan Alexa dengan serempak.
'Semoga kau baik-baik saja disana.' Batin mereka serempak tanpa disadari oleh mereka sendiri.
***
Malam telah tiba, seluruh warga dimensi imortal yang ikut berperang, baik dalan segi penyerangan, pertahanan, maupun pengobatan, telah bersiap dengan pakaian sirah mereka.
Sekarang mereka sedang menuju ke hutan selatan. Atau biasa dikenal dengan Hutan Terlarang. Kenapa hutan selatan dibilang dengan hutan terlarang? Karna hutan itu adalah saksi bisu dimana peperangan sebelumnya terjadi dan memakan hampir seluruh warga dimensi imortal yang saat itu ikut berperang. Dan katanya, banyak yang bilang jika hutan itu angker dan juga banyak arwah gentayangan dari para pahlawan yang sudah wafat karena peperangan itu. Hutan itu jugalah yang menjadi pembatas antara daerah Darkness dan daerah mereka. Sudah banyak korban yang termakan akibat monster yang memangsa Apa lagi dengan hawa mencekam dan suara burung hantu dan hewan malam lainnya yang memenuhi hutan itu membuatnga kelihatan sangat menyeramkan. Makanya para warga imortal memilih untuk menjauh dari hutan itu demi keselamatan mereka.
OK, sekarang kembali ke cerita.
Kali ini, seluruh warga imortal telah sampai disebuah padang rumput yang sangat kuas dan indah. Tapi sayang, keindahan itu harus berakhir saat peperangan akan dimulai nanti.
Mereka pun hanya diam dan memutuskan untuk menunggu mush mereka datang yang mereka yakin sudah tak lama lagi.
Dan benar saja, baru saja mereka memikirkan itu, Raja Ronald telah datang bersama dengan pasukannya dan jangan lupakan anaknya, William yang berada disamping kanannya itu.
"Lama tak jumpa, Raja Sean." Ucap Raja Ronald sambil mengeluarkan smriknya.
Raja Sean yang mendengar sapaan itupun hanya berdecak kesal sebagai balasannya.
"Bagaimana kabarmu? Apakah kau sedang bahagia bersama cucu-cucumu itu? Ups! Aku lupa kalau cucu perempuan kesayanganmu telah mati karena disiksa oleh orang tuanya sendiri bukan!? Hahaha.. sungguh ironi bukan!?" Ucap Raja Ronald dengan nada mengejeknya.
Sontak apa yang dikatakan Raja Ronald membuat mereka kaget. Tetapi mereka harus menutup mulut mereka kembali saat merasakan aura yang semakin mencekam dan juga tempat dan saat yang tidak tepat.
"Kau..." ucap Raja Sean dengan geram.
"Sudahlah! Dari pada aku membuka kartumu, mending kamu serahkan dia kepadaku. Adil bukan!?" Lanjut Raja Ronald lagi dengan seringaiannya.
"Kami saja masih belum tau dimana dan siapa dia itu." Celutuk salah satu siswi disana membuat mereka mengalihkan perhatian mereka kearahnya dan langsung menatapnya dengan tajam yang membuatnya bungkam seketika.
"Masih menyembunyikannya eh!?" Ucap Raja Ronald masih dengan seringaiannya dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi hendak untuk membunug Ratu Scarla yang masih menatap tajam siswi itu.
Trangg...
Mendengar suara pedang yang saling bertabrakan, perhatian mereka kembali teralihkan kearah Raja Ronald dan terkejut saaj mengetahui niat dari Raja Ronald yang untungnya digagalkan oleh sosok berjubah emas itu.
"Siapa kau!?" Tanya Raja Ronald kepadanya.
"Turunkan pedangmu dulu baru akan ku beritahu siapa aku." Ucapnya dengan tajam.
Karena penasaran dengan sosok wanita berjubah emas ini, Raja Ronald pun langsung menurunkan pedangnya. Kenapa ia bisa tau kalau sosok itu adalah wanita? Karena itu sudah sangat terlihat dari postur tubuhnya dan juga suaranya.
Saat dirasanya ia sudah dalam posisi aman, ia pun segera mundyr beberapa langkah dan memegang tudungnya.
"Aku Alexa. 'Sang terpilih' yang kalian cari selama ini." Ucapnya saat membuka tudungnya yang sontak membuat mereka semua terkejut.
***
"ALEXA!?" Pekik para warga academy dengan kaget saat mengenali sosok tersebut.
"Kau..." belum sempat Alexa mengeluarkan perkataannya, ia sudah melihat gerak-gerik orang tuanya yang melangkah kearahnya dengan marah.
"§leěpertàriœs..." Alexapun dengan segera melemparkan mantra agar mereka tertidur sebentar dan membangunkan mereka saat semua ini suda berakhir.
'Floo... Er.. datang dan bawalah mereka. Dan Winky, ikut dan jaga mereka berdua agar tetap aman' Batin Alexa sambil memanggil hewan pendampingnya.
Tak butuh waktu lama, mereka telah datang dan pergi membawa kedua orang tua mereka di punggung mereka membuat para warga imortal kaget dan menyuruh kedua hewan itu untuk kembali.
"Ck! Kalian diamlah!!" Ucap Alexa dengan jengkel karena teriakan-teriakan mereka itu sangat berisik.
Mendengar nada bicara Alexa yang sudah kesal, merekapun kembali diam dan fokus dengan situasi sekarang.
"Wow! Aku gak nyangka kalau kamu adalah yang kucari selama ini, manis." Ucap William sambil mendekati Alexa dengan senyum genitnya.
"Menjijikan." Ucap Alexa sambil menyerang William diluan.
Melihat Alexa yang sudah memulainya, para warga imortal yang lain pun langsung ikut menyerang. Tak butuh waktu lama, peperangan pun dimulai.
Alexa yang sekarang berhadapan melawan William, Leo membantu untuk mengamankan Alexa dari para penganggu yang mendekat, Raja Sean melawan Raja Ronald, Ratu Scarla melawan para pengganggu yang mendekati suaminya. Felix dan Vani yang bekerja sama melawan semua monster yang datang entah dari mana. Dan jangan lupakan Mr. Delius dan Mrs. Lili yang melawan dengan tangan kanan Raja Ronald dan juga panglima perangnya.
"Ayolah, hon. Jangan seperti ini. Kau membuatku terluka tau!" Ucap William dengan muka menjijikannya.
"Bahkan aku berharap kau mati. Bukan terluka." Jawab Alexa dengan datar dan langsung menyerang William kembali.
Disisi lain, Raja Sean dan Raja Ronald sedang sibuk sendiri dengan dunia mereka.
"Jujur. Aku kecewa denganmu Ron." Ucap Raja Sean sambil menangkis serangan-serangan yang diberikan Raja Ronald padanya.
"Akulah yang harusnya kecewa kepadamu, brengsek!" Ucap Raja Ronald dengan garang.
"Aku telah melakukan apa kepadamu sampai kau seperti ini heh!? Bahkan aku sudah mempercayaimu untuk menjaga adikku untuk kau jaga. Tapi apa!? Kau malah membunuhnya saat anak kalian berusia 10 tahun!!!" Bentak Raja Sean dengan marah.
Yah, dahulu Ronald Erios Drak'es bukanlah seperti ini. Tetapi Ronad Areos Troser. Seorang Raja yang menguasai dimensi imortal dibagian selatan. Semulanya ada 2 kerajaan yang menangani dimensi ini. Atau lebih tepatnya 3. Yaitu kerajaan Troser yang berada dibagian selatan. Kemudian kerajaan Larios yang berada di daerah barat. Dan yang terakhir adalah kerajaan Sky yang berada di atas langit. Dikarenakan pewaris keranaan Larios hanya Ratu Scarla seorang dan telah menikah dengan putra mahkota kerajaan Sky. Kedua kerajaan itu memilih untuk menyatukan kerajaan mereka dan memutuskan untuk menetap di kerajaan Sky. Awalnya tak terjadi apa-apa diantara hubungan mereka. Malahan mereka sangat bahagia. Apa lagi semenjak menikahnya Raja Ronald dengan adik dari Raja Sean yang bernama Ana membuat hidup mereka kembali bahagia dan juga dengan kelahiran dari anak Raja Ronald saat anak Raja Sean yang tak lain adalah Arnold sudah beranjak dewasa dan menikah itu kembali membuat mereka bahagia dengan tangis dan tawa dari William.
Tetapi pada suatu hari, Ana ditemukan oleh Raja Ronald dalam keadaan tak bernyawa di kerajaan Skylar dengan jantung yang sudah terlepas dari tubuhnya dan juga darah yang terus mengalir dan membasahi baju yang ia kenakan itu membuat Raja Ronald marah dan menuduh Raja Sean tidak bisa menjaga istrinya dengan baik dan malah membunuhnya dan beralasan berpura-pura tidak tahu.
Semenjak saat itu hubungan mereka merenggang. Dan itu semakin diperparah saat Raja Ronald mengetahui kalau Raja Sean sendirilah yang membunuh adiknya. Begitu pula dengan sebaliknya. Hal itu membuat Raja Ronald marah besar dan memutuskan untuk menjadi salah satu dari pihak kegelapan dengan cara melakukan ritual terlarang. Sebagai gantinya, wilayahnya beserta warga yang tingga di wilayahnya turut menjadi pihak kegelapan.
Jujur, Raja Sean sangat kecewa dengan Raja Ronald. Tetapi hal itu ditutupinya dan tetap melanjutkan hidupnya seperti biasa dan melupakan kejadian yang lalu.
Dan disinilah mereka sekarang. Kembali dipertemukan saat terakhir kali kejadian itu terjadi. Karena semenjak Raja Ronald bergabung dengan pihak kegelapan, ia hanya menyuruh prajuritnya untuk menyerang dengan sementara ia tidur sebentar untuk menyempurnakan ritualnya dan terbangun saat dirasanya 'sang terpilih' telah datang ke dimensi imortal.
Bodohnya, ia tidak tahu kalau dia itu cucu dari Raja Ronald dan juga anak dari Arnold. Ia malah sempat berpikir kalau dia itu adalah lelaki yang merupakan salah satu guru atau staf di Dimension Academy. Tetapi ternyata dugaannya salah. Sangat salah besar.
Srettt..
"Kau lengah. Dan juga kau salah. Bahkan aku tak tega membunuh adik kesayanganku tanpa alasan sedikutun! Bahkan yang ku tahu itu adalah kau yang membunuhnya! Bukan aku!" Ucap Raja Sean sambil memberikan serangan yang membabi-buta kepada Taja Ronald.
Raja Ronald pun berusaha menangkis serangan yang diterimanya. Tetapi itu semuanya sulit. Apa lagi saat mejadian masa lalu yang membuatnya seperti ini terulang-ulang bagai kaset rusak dikepalanya. Ditambah lagi dengan kenangan diantara mereka bertiga sebelum kejadian itu terjadi.
"Aku tidak pernah salah dan tidak akan pernah!" Ucap Raja Ronald dengan keras kepala dan mencoba untuk membalas serangan-serangan dari Raja Sean.
Disisi lain. Alexa sudah mulai bosan dengan lawan yang terus menggoda dan menyerangnya ini, sangat menguras energi dan emosinya menurutnya.
"Apakah hanya segini kemampuanmu heh!? Apakah orang tuamu tak pernah mengajarimu untuk berperang heh!? Oh astaga.. aku baru ingat kalau kau kan dibuang dengan orang tuamu. Bahkan ibumu yang murahan itu yang menyiksamu sendiri dengan tangan kotornya." Ucap William meremehkan.
Mendengar hal itu, emosi Alexa terpancing sudah. Ia sudah muak dengan semuanya! Cukup sudah bermain-mainnya! Langsung saja ia menyerang William dengan lebih serius sehingga membuat William terpojok dengan pedang yang sudah terlempar jauh darinya.
"Cukup sudah main-mainnya! Kini saatnya kau mengucapkan selamat tinggal." Ucap Alexa sambil menyeringai kejam.
"Aku tidak akan menyerah!!" Ucap William kekeh dengan pendiriannya.
"Menyerahlah atau kau akan mati!" Ucap Alexa yang mulai marah lagi.
"Tidak. Akan!" Ucap William dengan penuh menekanan.
Crassh...
"ARGGHHH!!!"
"WILLIAM!!"
Ctass.. Bruk..
Terdengar suara pekikan William dan juga Raja Ronald sebelum ajal menjemputnya. Ya, Alexa langsung saja menamcapkan pedangnya tepat dijantung William. Dan juga Raja Sean langsung menebas kepala Raja Ronald yang langsung saja mati ditempat.
"A..ayah." Ucap William dengan lirih saat melihat ayahnya telah pergi diluan.
"K..kau.." Belum sempat William melanjutkan perkataannya, ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Alexa yang mendengar itupun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat dan bangun untuk menghancurkan sisa-sisa pasukan yang dibawa Raja Ronald yang masih bertahan itu.
Ia memutuskan untuk memakai sayapnya dan berdiri. Sudah cukup sudah baginya untuk ini. Ia memilih untuk mengakhiri semuanya. Kali ini ia telah berada langit sambil menatap sekitarnya. Ia benar-benar tak tega dengan semua ini. Dengan perlahan ia menarih dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian ia memanggil seluruh hewan pendampingnya yang langsung membuatnya menjadi pusat perhatian.
Dengan perlahan Alexa melihat kearah Leo dan tersenyum tipis dan bergumam sesuatu yang hanya dimengerti oleh Leo. Tetapi dengan segera Leo berteriak histeris dan menyuruh Alexa untuk tidak melakukannya. Ia tahu kalau resiko yang akan diterima adiknya itu sangat besar saat melakukan itu.
'TIDAK ALEXA!! JANGAN!!" Teriak Leo histeris dan mengeluarkan sayapnya.
Baru saja ia akan terbang, sudah ada penghalang kuat yang menahan dan melindunginya. Ralat! Lebih tepatnya menahan dan melindungi seluruh warga dimensi imortal itu.
Jujur saja mereka semua tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Alexa hingga membuat Leo menjerit histeris seperti ini. Mereka semua sendiripun belum pernah melihat Leo seperti ini. Bahkan nenek dan kakeknya sekalipun.
Dengan perlahan, Raja Sean dan Ratu Scarla mendekat dan memeluk Leo untuk menyuruhnya tenang. Sontak saja hal itu menjadi pusat perhatian yang lain.Tetapi itu hanya sebentar saat sebuah cahaya warna-warni yang sangat terang mengelilingi satu titik yang mengeluarkan cahaya emas yang lebih terang dengan serbuk-serbuk emas disekitarnya.
Para warga imortal pun dengan terpaksa menutup mata mereka agar tidak rusak akibat cahaya itu. Saat cahaya itu meredup, terlihatlah sosok yang sangat cantik sedang terbang dilangit dengan sayap pelangi dan baju gaun tanpa lengan warna biru di bagian atasnya dan warna pelangi dari pinggang hingga ujung gaun itu. Hels biru dari Crystal dan juga mahkota ratu yabg sangat indah dikepalanya. Dan kaos tangan putih batas siku membuat ia terlihat seperti ratu yang memukau dan memikat yang lainnya.
"Sekarang." Gumamnya sambil menggembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menatap kakaknya sebentar yang sedang menggeleng tanda tak setuju tetapi hanya dibalasnya dengan senyum.
Kemudian Alexa kembali menatap seluruh hewan pendampingnya yang juga =sedang menatapnya.
"Tolong jaga mereka selama hal itu terjadi padaku." Ucap Alexa yang langsung dipatuhi yang lainnya.
"Baik nona." Ucap mereka serempak.
Mendengar jawaban dari mereka, Alexa pun dengan mantap menatap ke arah pasukan kegelapan yang tersisa mencoba untuk melarikan diri. Kemudian ia menatap kearah langit dengan mantap dan menggumamkan mantra yang sangat penjang keliatannya.
Setelah itu ia mengangkat tengannya keatas dan berseru.
"DENGAN INI! AKU, ALEXA ANGELINE WITZ SKYLAR AKAN MEMUSNAKAN SELURUH KEJAHATAN DAN MENEGAKAN CAHAYA KEBAIKAN DIATASNYA!" Seru Alexa dan kemudian cahaya sangat terang mengemenuhi seluruh area dimensi imortal beserta pekikan histeris dari Leo mengiringinya.
"ALEXAAA!!!!"
***