BAB VII

2308 Words
"Jadi kapan kita akan kembali?" Tanya Leo saat selesai makan malam. "Sekarang?" Tawar Alexa sambil menaikan sebelah alisnya dan di angguki oleh Leo. "Baiklah, kalau begitu akan ku antarkan kalian sampai ke depan." Ucap Ratu Scarla sambil berdiri diikuti oleh kedua cucunya itu. Mereka pun berjalan sampai didepan gerbang. Tapi tiba tiba Alexa berbalik menatap neneknya membuat mereka bingung. "Ada apa sayang?" Tanya Ratu Scarla kepada Alexa. "Tak apa nek, aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Ucap Alexa sambil menatap Ratu Scarla. "Baiklah. Tanyakanlah." Ucapnya sambil tersenyum lembut kepada Alexa. "Umm... aku ingin bertanya di mana kakek berada?" Ucap Alexa pelan dan mirip seperti gumaman tetapi masi dapat didengar oleh mereka. Ratu Scarla yang mendengarnya pun tersentak kaget tetapi kemudian ia menetralkan kekagetannya dan tersenyum kepada mereka berdua. "Suatu saat kalian akan mengetahuinya. Dan satu lagi, ia selalu berada didekat kalian saat didimensi tengah." Jawab Ratu Scarla sambil tersenyum. Kedua cucunya pun merasa penasaran tetapi mereka juga sama sama mengerti kalau neneknua masih belum ingin mencertikannya. Akhirnya mereka bersua mengangguk setuju dan berpamitan kepada nenek mereka. "Ya sudah kalau begitu. Kami permisi dulu nek." Pamit Leo mawakili adiknya. Alexa pun hanya tersenyum tipis sebagai tanda berpamitannya dan di angguki oleh Ratu Scarla. Kemudian mereka berbalik membelakangi Ratu Scarla dan mengeluarkan sayap mereka. "Balapan?" Tawar Alexa kepada Leo yang di setujuinya. "Ayo! Siapa takut." Terima Leo. Merekapun menghitung mundur secara bersamaan dan terbang dengan cepat. Bahkan jika dilihat dari jauh mereka seperti dua bintang yang jatuh dari langit. Ratu scarla yang melihat kelakuan merekapun hanya tersenyum kecil dan bergumam. "Sepertinya mereka merindukanmu Sean. Kembali lah." Gumam Ratu Scarla yang bahkan tidak didengari oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Alexa dan Leo terbang dengan sangat cepat. Bahkan mereka terlihat seperti bintang yang jatuh dari langit. Bahkan banyak warga academy yang menyaksikan itu mengucapkan permohonannya afar tercapai sambil melihat kedua bintang jatuh itu. Buuffftttthh  Terdengar suara benturan yang cukup besar yang berasal dari luar halaman academy dan membuat tanah menjadi berguncang kecil akibat benturan dari tida benda itu secara bersamaan sehingga membuat warga academy sedikit panik dan berlarian kesana kemari. "Gempa!! Gempa!!" Teriak semua warga academy di ruang makan karena memang jadwalnya untuk makan malam saat ini. "Harap tenang semua, ini hanya goncangan kecil. Tidak akan terjadi apa apa." Ucap Mrs. Lili tegas dan mengeluarkan sedikit auranya membuat semua murid academy terdiam. "Sekarang duduk di tempat kalian masing masing. Lanjutkan makan kalian yang tertunda!" Lanjut Mrs. Lili dengan menatap tajam semuanya dan langsung di angguki patuh oleh semuanya. Drap.. drap.. drap.. drap.. "Aku yang diluan!" "Aku!" "Aku yang di luan sampai!" "Sudah ku bilang aku yang diluan!" "Aku!" Terdengar suara pertengkaran antara laki laki dan perempuan dan juga derap langkah keduanya menuju ke ruang makan membuat semuanya bingung. Termasuk para guru yang sedang duduk di dekat panggung untuk makan malam. Mereka pun secara serentak melihat ke arah pintu dengan penasaran. "Sepertinya aku mengenali suara itu." Gumam Felix yang di dengar oleh semua yang duduk di meja itu bersamanya. "Siapa?" Tanya mereka serempak. "Coba kalian dengar deh baik baik." Ucap Felix lagi sambil menajamkan indra pendengarannya. "Ini kan...." perkataan Vani terpotong saat sumber suara itu memasuki ruang makan sambil lanjut bertengkar. "Aku yang menang!" Ucap Leo. "Sudah ku bilang aku yang diluan!" Bantah Lexa tak terima. "Aku!" Ucap Leo tak mau kalah. "Lexa/Leo!" Ucap warga academy bersamaan saat mengetahui sumber suara itu. "Apa!?" Ucap mereka serempak sambil menatap sekitar dengan tatapan yang tajam membuat mereka bergidik ngeri dan menunduk takut. "A..ah.. t.. tidak kok. Si..lahkan La.. lanjut kan." Ucap Vani terbata bata karna tatapan keduanya itu. Dan pintarnya lagi mereka melanjutkan pertikaian itu sambil duduk di kursi tempat mereka biasa duduk. "Aku!" "Sudah ku bilang aku!" "Sudah terima saja kekalahanmu kak." "Tidak! Aku yang menang!" "Aku!" "STOP!!!" Ucap Mr. Delius dan Mrs. Lili bersamaan membuat mereka bungkam dan menatap kedua guru itu yang menatap mereka tajam. "Sebenarnya apa yang kalian ributkan?" Tanya Mrs. Lili dengan tatapan yang menyelidik. "Tadi kita balapan..." perkataan Leo terpotong akibat ucapan yang keluar dengan tiba-tiba dari Alexa. "Trus aku yang menang." Potong Alexa cepat. "Aku yang menang!" Bantah Leo tak terima. "Aku!" Ucap Lexa tak mau kalah. "STOP!! Kalian ini kenapa sih! Sebenarnya kalian balapan apa!?" Tanya Mr. Delius yang kesal. "Terbang." Jawab mereka bersamaan kemudian saling melempar tatapan membunuh satu sama lain. "Jadi kalian yang menyebabkan gempa kecil itu?" Tanya Felix ikut nimbrung. "Ya." Ucap mereka tanpa melepas tatapan saling membunuhnya. Tiba-tiba...... "Aww.. sakit Mr. Kenapa Anda menarik telingaku!" Tanya Alexa meringis pelan saat telinganya di tarik oleh Mr. Delius. "Aw Mrs.. sakit!" Ucap Leo lagi saat telinganya juga di tarik oleh Mrs. Lili. "Kalian ini sudah membuat warga academy panik tahu!?" Ucap Mrs. Lili dan Mr. Delius secara kompak. "Ciee... kompakan." Balas Leo dan Lexa bersamaan membuat yang lain menahan tawanya dan juga ada yang terkekeh geli mekihat kelakuan mereka berdua. "Apa?!" Ucap Mrs. Lili dan Mr. Delius dengan melotot ke arah mereka dan mengencangkan jeweran mereka. "A..aw! Sakit Mr!" Ucap Alexa sambil meringis kesakitan saat jewerannya pada telinganya terasa semakin keras. "Sakit Mrs!! Aww!!" Ringis Leo pelan saat dilakukan hal yang sama oleh Mrs. Lili. "Aw.. Mr tau sesuatu gak?" Tanya Alexa membuat yang lain penasaran termasuk Mr. Delius yang ditanya begitu. Ya! Mrs. juga tau sesuatu gak?" Tanya Leo juga saat di telepati oleh Alexa untuk mengerjai mereka. "Apa itu?" Jawab mereka kompak karna penasaran. "Ciee.. kompak lagi." Jawab Alexa dan Leo lagi membuat mereka tambah mengeraskan jewerannya. "kasih tau makanya!" Ucap Mrs. Lili tak sabaran. "A.. aw! Tunggu sebentar Mrs! Ish.. sakit ini! Bagaimana mau dikasih taunya?" Tanya Leo pura pura ngambek sama Mrs. Lili. "Betul tuh Mr. And Mrs!" Jawab Alexa setuju. "Nanti kalian kabur lagi!" Ucap Mr. Delius sambil menatap mereka berdua. "Ish! Gak bakal kok! Ini juga mau dikasih sebuah rahasia yang penting malah di tolak. Ya sudah!" Pancing Alexa membuat mereka melepaskan jeweran mereka bersamaan. "Apa itu?!" Tanya Mrs. Lili penasaran membuat Leo dan Alexa saling pandang. Kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka ke dua itu menjadi pandangan serius membuat kedua garu itu memandang mereka dengan serius juga dan membuat seluruh ruang makan menjadi tegang. "Rahasianya itu adalah..." gantung Leo membuat mereka makin penasaran dan membuat suasana makin tegang. "Apa itu?! Jangan menjeda-jedanya seperti itu!" Ujar Mr. Delius makin penasaran dengan mereka. "Kalian itu.." Lanjut Alexa sambil menggantungkan pertanyaannya lagi dan raut wajahnya menjadi lebih serus. Begitu pula dengan Leo membuat mereka semakin penasaran. "Kita kenap!?" Tanya Mrs. Lili tambah penasaran. "Nenek/Kakek sihir. Kabuurrrr!" Ucap mereka secara bersamaan kemudian lari membuat kedua irang itu melongo tak percaya dan murid dan guru lain tertawa terbahak-bahak. "AWAS YA KALIAANNNNN!!!" Ucap mereka kompak. "IYAAA PASANGAN KOMPAKK!!!" Teriak mereka saat belum jauh dari ruang makan dan mendengar teriakan kedua gurunya itu membuat suara tawa semakin terdengar keras dari dalam ruang makan. "LEOO/LEXAAA!!" Teriak Mrs. Lili dan Mr. Delius bersamaan. "IYA NENEK/KAKEK SIHIR!" Balas mereka sambil berlari membuat Mrs. Lili dan Mr. Delius berteriak frustasi dan yang lain tertawa terbahak-bahak. Bahkan ada yang sampai jatuh ke lantai dan berguling, ada juga yang sampai memukul-mukul meja saking lucunya kejadian tadi. "Argh!! Awas kalian!" Gumam Mrs. Lili dan Mr. Delius pelan sambil mengacak ngacak rambut mereka frustasi dan meninggalkan ruang makan. Sementara itu di halaman belakang terlihat dua orang laki laki dan perempuan sedang ber'high five' ria sambil tertawa terbahak bahak. "Hahaha... kakak lihat muka mereka tidak tadi? Hahaha... itu sangat lucu!" Ucap Alexa ada sela tawanya. "Hahaha... kamu bener dek. Wajah mereka yang terkejut tadi lebih terlihat seperti ayam sakit! hahahaha." Setuju Leo. Mereka pun terus tertawa sampai-sampai mereka tidak menyadari akan suatu hal. Tiba-tiba...  Leo tentu saja langsung terkejut di tempat mereka masing-masing. "O...ow! Kita sepertinya tertangkap." Ucap Leo sambil menatap Alexa dengan khawatir Alexa yang mendengar itu pun mengangguk mengiyakan dan berucap. "Menghindar atau pasrah?" Tanyanya kepada Leo yang terlihat sedang gelisah pada tempatnya. Terdengar suara derap langkah semakin mendekat. "Lari?" Tanyanya yang langsung di angguki setuju oleh Alexa setelah mengerti akan kode yang diberikannya. "DIMANA KALIAN!!!?" Teriak mereka lagi membuat kami menutup kedua telinga kami secara bersamaan. "In here!!" Teriak Alexa dengan Leo secara bersamaan sambil melambaikan tangan mereka ke arah mereka yang mulai terlihat. Mr. Delius yang pertama kali melihat lambaian mereka pun segera mengajak Mrs. Lili untuk mendekati mereka. Terlihat mereka yang sudah mulai mendekati Alexa dan Leo dengan muka sangarnya. "Mau kemana lagi kalian hah!?" Tanya Mr. Delius sambil berjaga-jaga agar mereka tidak kembali kabur lagi. "Main petak umpet." Jawab kami kompak membuat mereka bingung. "Maksud kalian?" Tanya Mrs. Lili bingung. "Ck! Kita ingin bermain petak umpet bersama Nek, nenek sama kakek ya yang jaga sekarang." Jawab Leo membuat keduanya semakin kesal kepada mereka. "Ya! Mulai dari hitungan ketiga ok!? 1... 2... 3.." Tepat di saat Alexa menyelesaikan hitunganna mereka pun segera pergi menghilang menggunakan teleportasi dan bersembunyi di balik dinding sekolah yang menghubungkan dengan koridor asrama. "AWAS YA KALIAANNNN!!!!" Teriak Mr. Delius dan Mrs. Lili murka. Alexa dan Leo yang mendengarnya pun hanya terkikik geli dan segera menggunakan kekuatan Invisible saat mereka mulai melewati kedua saudara itu dengan tampang garangnya. Setelah mereka sudah terlihat jauh, kedua saudara itu pun dengan segera kembali menampakan diri lagi dambil menghela nafas lega. "Huft! Selamat." Ucap mereka bersamaan sambil mengelus dada mereka masing-masing. "Kalau begitu ayo kembali kekamar. Aku capek ngerjain mereka dan masih ingin tidur karena latihan tadi." Ajak Alexa kepada kakaknya itu. "Huft! Kau benar. Aku juga capek. Kalau begitu ayo kembali ke asrama." Ucap Leo setuju. Duuaaarrrr Baru saja kita ingin melangkah, terdengar suara ledakan dari arah taman belakang. "Apa lagi ini!!" Teriak mereka merasa frustasi dengan semua ini. *** Duuaaarrrr Terdengar suara ledakan dari arah belakang membuat semua panik. Mr. Delius yang sudah kembali bersama Mrs. Lili pun menenangan mereka dan segera meminta mereka untuk berkumpul didalam barier pelindung yang akan dibuat oleh semua guru yang dituruti oleh semuanya. Hampir semua orang berada di dalam barier pelindung itu. Kecuali para guru sebagian yang ikut untuk mengecek keadaan, para senior yang berada di tingkat 4, dan juga Leo dan Lexa yang tengah menahan kesal karena ledakan itu. Sementara itu di tempat Alexa dan Leo, terlihat keduanya yang sedang frustasi karena ledakan yang mengganggu ketenangan mereka sehingga mereka keluar menuju sumber ledakan itu dengan tiga sudut siku siku yang berada pada ujung dahi mereka berdua. Saat mereka keluar, terlihatlah salah satu tangan kanan Raja Ronald yang lain yang menjadi sumber ledakan itu. "Oh.. rupanya dua anak kucing kecil yang datang ya. Halao gadis manis, siapa namamu sayang." Tanya pria itu genit sambil mengerlingkan mata genitnya ke arah Alexa yang di sambut oleh tatapan dinginnya. Tak beberapa lama kemudian, sebagian guru termasuk Mrs. Lili dan Mr. Delius dan juga para murid senior pun telah sampai disana dan memandang sosok pria itu terkejut. "Halo Mrs. Lili. Lama tak jumpa! Merindukanku?" Tanyanya sambil tersenyum genit kepada Mrs. Lili. "Ada apa kau datang kesini Arlen?" Tanya Mrs. Lili dengan tegas tak peduli dengan pertanyaan pria yang bernama Arlen tadi. "Ouh... pelan pelan Mrs. Kau tau? Kau semakin terlihat sexy jika sedang marah seperti itu sayang." Ucapnya sembil memberikan wink kepada Mrs. Lili yang memandangnya jijik. Tiba-tiba Alexa bersuara. "Arlen sayaannngggg~" panggil Alexa dengan senyuman manis membuat yang lain tak percaya akan perbuatannya. Kecuali Leo yang tentu saja tau apa yang sudah di rencanakan oleh adiknya itu karena ia juga ikut terlibat dalam rencana licik yang telah dibut adik kecilnya itu. Dengan mata berbinar, Arlen membalikkan badannya ke arah Alexa yang sedang tersenyum manis kepadanya. "Ada apa sayang?" Ucapnya dengan genit sembil mendekati Alexa. "Kamu tau sesuatu tidak?" Tanya Alexa manja sambil bergelayut manja di lengan milik Arlen sehingga membuatnya semakin tersenyum lebar akibat sikap gadis iru padanya. "Tau apa sayang?" Tanyanya dengan menatap Alexa dengan lapar. Yang lain hanya menyaksikan semua kejadian itu dengan perasaan tidak percaya akan apa yang dilakukan oleh Alexa. Begitupun mereka yang berada di dalam barier pelindung yang melihat semua kejadian itu di layar hologram besar. "Apa yang dia lakukan?" Tanya seorang siswi. "Aku tak tau. Yang pasti akan ada sebuah pertunjukan seru saat ini." Jawab Vani santai sambil memakan pop corn yang entah sejak kapan berada di tangannya. Yang lain pun hanya menyaksikannya dalam diam karena tak ingin melewati sedetikpun kejadian disana. Sedangkan keadaan disana masih hening sampai Alexa membuka suaranya. "Kamu mau tau kalau kamu itu..." jawab Alexa gantung sambil membuat pola abstrak di dada Arlen membuat pria itu semakin menatap Alexa dengan lapar. "Aku kenapa sayang? Aku sangat tampan dan sexy? Atau apa?" Tanyanya percaya diri membuat yang lain ingin muntah mendengarnya. Termasuk Alexa yang sedang berusaha mati-matian untuk menahan rasa mual dan jijiknya demi melaancarkan rencananya bersama kakaknya ini. "Bukan sayang... tapi kamu itu sangat....." jawabnya lagi sambil mengangkat kepalanya yang sebelumnya bersandar di bagu Arlen dan juga tangannya yang tadi berada di dada Arlen sambil menatapnya. "Menyebalkan." Lanjut Alexa sambil menusuk tangannya tepat kearah jantung Arlen sehingga menembus kebelakang dan meremasnya sehingga hancur seketika. Mereka semua yang meluhat hal itu pun memekik kaget menahan ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Alexa. "Itu akibatnya jika kau telah mengganggu ketenanganku dan kakakku!" Ucapnya sambil melempar tubuh kaku Arlen yang mulai lenyap menjadi debu yang ditiup angin. "Kerja bagus honey!" Ucap Leo sambil menepuk kepala Alexa pelan. Yang lain pun hanya terdiam dan terkejut di tempat sambil melihat mereka. Bahkan Mrs. Lili dan Mr. Delius yang melihatnya pun hanya bisa diam dengan dengan keadaan meata yang melotot tak percaya akan kelakuan kedua kakak beradik itu. Bagaimana mungkin melakukan hal sesadis itu dibilang 'kerja bagus'!!!? Batin mereka berteriak. Leo yang tak sengaja mengaktifkan kekuatan minreadernya pun menjawab. "Tentu saja! Siapa suruh membuat kita tidak bisa beristirahat saat kita sedang lelah dan malah mengganggu kita? Come on girl. We need a sleep now." Ucap Leo yang dibalas anggukan oleh Alexa dan kemudian mereka menghilang dengan kekuatan teleportasi mereka masing masing. Aku harus berpikir 2x lagi untuk mengganggu mereka. Kira kira begitu batin mereka menatap kedua saudara itu yang telah menghilang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD