BAB XIV

3409 Words
Setelah kejadian itu, hubungan antara Alexa, Leo dan Felix merenggang. Felix sendiri pun telah bergabung bersama Vani dan dengan William tentunya. Banyak dari para murid academy, terutama murid siswi yang notabenya adalah haters dari Alexa disana mendukung hubungan Felix yang memilih bergabung dengan Vani dan William. Namun banyak juga yang menyayangkan akan hal itu dan selalu membujuk Felix dan Vani untuk kembali seperti dulu bersama Alexa dan Leo. Sedangkan Alexa dan Leo sendiri pun hanya masuk selama 1 hari saja setelah itu dan pergi menghilang entah kemana membuat banyak dari para murid ataupun guru yang menanyakan keberadaan Alexa dan Leo pada Vani dan Felix. Hal itupun berlangsung sampai 1 minggu dan sama sekali tak ada kabar dari mereka berdua. Tapi mereka sendiri pun tak tau dan tak peduli akan hal itu. Berbeda dengan William yang semakin gencar ingin menjalankan aksinya yang mungkin akan segera terjadi karna waktu yang sangat tepat seperti ini. Kali ini Felix, Vani, dan William sendiri sedang berada di taman academy sehabis joging bersama. Berhubung hari ini adalah akhir pekan membuat mereka memiliki waktu yang senggang dari pelajaran yang lebih didominasikan dengan pelajaran fisik dengan selingan akademik untuk melatih kekuatan fisik mereka saat berperang nanti. "FELIX! VANI!" Panggil seseorang dari arah kanan mereka membuat mereka menengok kearah sumber suara itu yang ternyata adalah Mr. Delius. "Ya Mr." Ucap keduanya serempak. "Apakah sudah ada kabar dari Alexa dan Leo?" Tanya Mr. Delius pada keduanya yang membuat keduanya mendengus kesal. "Kenapa Mr selalu menanyakan hal itu pada kami sih!?" Tanya Vani jengkel. "Bukannya kalian itu sahabatnya?" Tanya Mr. Delius bingung. "Dulu!" Ucap Felix dan Vani serempak. "Kenapa? Apa kalian ada masalah sampai-sampai seperti ini?" Tanya Mr. Delius seraya duduk disamping mereka. "Eh..em. Guys, kurasa aku harus ke toilet sekarang." Ucap William tiba-tiba dan segera meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban yang hanya diliat ketiga orang itu dengan tampang 'aneh'. "Ekhem! Jawab pertanyaan saya." Ucap Mr. Delius menyadarkan mereka. "Huft! Ceritanya panjang Mr!" Ucap Felix sambil menghempaskan tubuhnya diatas rerumputan. "Intinya mereka meminta kita menjauhi William. Kata mereka William berbahaya lah, salah satu dari mereka lah, atau ada niat buruk sama kita. Padahal mereka tidak punya bukti dan mengenal William dengan baik." Ucap Vani sambil mendengus kesal mengingat pertengkarannya dengan Alexa dan Leo waktu lalu. "Mereka? Apa maksud dari kata itu?" Tanya Mr. Delius saat menyadari ada sesuatu yang ganjal disini. "I don't know. Intinya mereka selalu bilang kalau mereka selalu melakukan yang terbaik untuk melindungi kita dari mereka. Dan juga bilang kalau William lah dalang dari semua ini." Ucap Felix santai. "Pasti ada alasan mereka mengatakan hal itu pada kalian." Ucap Mr. Delius. "Ya. Dan alasannya adalah mereka iri melihat kita yang lebih memilih bersama William yang notabenya teman baru kita." Jawab Vani asal. "Kalian tau? Itu bisa dibilang alasan yang kurang kuat untuk itu. Dan juga jangan mengambil keputusan kalau kalian belum mengetahui kebenarannya. Dan, mungkin saja mereka benar akan hal itu. Tapi kita tidak tau tentang itu selama kita belum mengetahui ataupun mencari tahunya sendiri." Ucap Mr. Delius memcoba menasehati mereka. "Jadi Mr juga sama dengan mereka!?" Ucap Vani tak percaya. "Bukannya saya sama ataupun sepemikiran dengan mereka. Tapi kalian bayangin saja. Apakah orang seperti mereka berdua yang notabenya memiliki sifat yang dingin pada orang tak dikenalinya tetapi memiliki sisi lembut dan hangat pada orang yang disayangi mereka dengan cara mereka sendiri melakukan hal serendah itu?" Tanya Mr. Delius pada mereka. "Bisa jadi!" Ucap Felix malas. "Kalian tau sesuatu atau tidak?" Tanya Mr. Delius pada mereka. "Apa mr?" Tanya Felix merasa tertarik dan bangkit dari tidurnya. "Hubungan sebuah persahabatan itu tak'kan lengkap dan berdiri dengan kokoh tanpa adanya sebuah kepercayaan satu sama lain. Jika kalian lebih mementingkan ego kalian dan mengabaikan kata hati kalian, maka kalian sendiri yang akan menyesal karena ulah kalian sendiri." Ucap Mr. Delius sambil berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya yang kotor untuk membersihkannya dari terkena debu ditanah. "Jadi maksud Anda kita yang salah begitu!?" Tanya Vani tak terima. Duaarrr... Baru saja Mr. Delius akan menjawab pertnyaan dari Vani, terdengar suara ledakan dari arah depan yang memotong percakapan mereka. "Kita lanjutkan ini nanti." Ucap Mr. Delius seraya pergi dari sana menuju kearah sember ledakan itu. Begitu juga dengan Felix dan Vani. "Hahaha.. Halo semuanya!" Ucap Seorang lelaki bertopeng dengan jubah hitamnya dan pasukannya dibelakang yang mungkin sekitar 100 orang. "Siapa Anda!?" Tanya Mrs. Lili dengan tegas pada sosok lelaki bertopeng itu. "Oh..oh..oh.. Mrs. Lili. Santailah sedikit." Ucap lelaki bertopeng itu dengan nada mengejeknya dan mengode pasukannya yang diangguki 2 orang dari mereka yang langsung menghilang. "Apa maumu kemari hah!?" Tanya Mr. Delius. "Aku? Hanya ingin membawa teman-temanku saja dari sini." Ucap lelaki itu sambil tertawa sinis. "Apa maksudmu!?" Tanya Mr. Albert dengan nada dinginnya. Tiba-tiba saja, setelah Mr. Albert berucap. Muncul dua orang dari pasukannya tadi dengan membopong 2 orang yang sangat mereka kenal dalam keadaan yang sedang tidak sadarkan diri. "Felix!! Vani!!? KEMBALIKAN MURID-MURIDKU SIALAN!" Bentak Mrs. Lili tak terima. "SIAPA KAU SEBENARANYA!?" Tanya Mr. Delius dengan jengkelnya pada lelaki itu. "Aku? Hahaha..." bukannya menjawab, lelaki itu malah tertawa dengan jahatnya membuat mereka jengkel. "JAWAB AKU!!" Bentak Mr. Delius lagi. "Wow..wow..wow. Santailah sedikit Mr. Delius." Ucap lelaki itu dengan kekehannya. "Ekhem!" Dehem Mrs. Lili membuat lelaki itu menatap Mrs. Lili yang sedang menatapnya dengan tatapan intimidasi. "Okok. Aku akan memperkenalkan diriku disini. Aku adalah William Anseliro Dark'es, anak tunggal dari Ronald Erios Dark'es. Atau raja kegelapan didunia ini. Yang tak lain tak bukan aku adalah putra mahkota dari kerajaan Darkness." Ucap lelaki itu sambil memegang topengnya. Setelah itu ia membuka topengnya dan membuat semua orang yang melihatnya kaget dan tak percaya dengan siapa sebenarnya orang itu. "Atau lebih dikenalnya dengan William Ethorios Oliver." Ucap lelaki itu yang ternyata adalah William sambil memberikan smrik jahatnya kepada mereka yang masih mematung ditempat dengan wajah kaget mereka masing-masing. *** Flashback on. Felix dan Vani juga ikut berlari tepat dibelakang Mr. Delius menuju ke asal suara ledakan itu. Saat sampai disana, terlihat tempat itu sudah ramai dipenuhi oleh seluruh warga academy dan juga pasukan dari pihak musuh. "Siapa Anda!?" Terdengar suara Mrs. Lili yang menanyakan pertanyaan itu dengan tegas pada sosok lelaki bertopeng yang kelihatannya adalah pemimpin mereka. "Oh..oh..oh.. Mrs. Lili. Santailah sedikit." Ucap lelaki bertopeng itu dengan nada mengejeknya pada Mrs. Lili. "Siapa lagi sih mereka!?" Tanya Vani pada kakaknya. "Kakak juga gak tau." Ucap Felix sambil mengangkat bahunya. Saat ini mereka berada agak jauh dari lokasi untuk melihat keseluruhan perdebatan mereka. Menurut mereka, tempat mereka berdiri sekarang adalah tempat teraman dari pada berada disana. "Apa maumu kemari hah!?" Terdengar suara Mr. Delius yang menanyakan sebuah pertanyaan lagi pada sosok itu. "Aku? Hanya ingin membawa teman-temanku saja dari sini." Ucap lelaki itu sambil tertawa sinis. "Teman? Siapa? Apakah Alexa sama Leo lagi yang jadi penghianat disini?" Tanya Vani pada dirinya sendiri dengan nada sinisnya. Tentu saja pertanyaan itu tak ditanggapi oleh Felix yang sedang berpikir. Belum sempat Vani akan mengeluarkan berbagai kata hujatannya untuk Alexa dan Leo lagi, sudah muncul 2 sosok berjubah hitam didepan mereka yang langsung melemparkan mereka sebuah mantra yang membuat mereka tak sadarkan diri. Flashback off "Kaget heh!?" Tanya William pada mereka semua. "Aku akan pergi tanpa bermain dengan kalian dulu. Hari ini aku sedang malas untuk mengotori tanganku hanya untuk membunuh kalian semua. Hahaha." Ucap William disertai tawa jahatnya. "Dan satu lagi! Kalau kalian ingin menyelamatkan mereka berdua atau apalah itu. Serahkan dia padaku! Kau tau apa maksudku bukan!? Atau setidaknya serahkan siswi yang bernama Alexa Angeline Witz padaku!" Ucap William dengan mata elangnya pada mereka semua yang hanya bisa diam ditempat. "Kalau begitu aku pergi dulu ya Mrs. Lili ku tercinta... bye fans!" Ucap William sebelum menghilang dibawa kabut hitam. Begitu pula dengan para pasukannya. *** "Sampai kapan kalian akan disini?" Tanya Tere pada kedua remaja yang ada dihadapannya. Yang tak lain tak bukan adalah Alexa dan Leo. Mungkin kalian bertanya, kenapa mereka bisa berada disini? Em.. Flashback on. "Kita tak bisa hanya berdiam diri dan memperingati kedua orang keras kepala itu disini kak! Kita harus berbuat sesuatu!" Ucap Alexa pada Leo yang berada didepannya. "Mau bagaimana lagi, dek? Kakak juga bingung harus berbuat apa." Ucap Leo yang sama frustasinya dengan Alexa. "Sebenarnya kalian sedang memikirkan apa?" Tanya Sean yang baru saja datang dari ruang kerjanya bersama istrinya. Saat ini mereka berdua sedang berada di Sky Kingdom. Mereka berdua memutuskan kesini untuk menenangkan pikiran mereka juga menghindari Vani dan Felix untuk memberikan mereka berdua waktu. "Ceritanya panjang kek." Ucap Leo lesu. "Huh! Ceritakan saja. Siapa tau kakek sama nenek bisa bantu. Mumpung kakek lagi kosong." Ucap Sean sambil duduk didepan cucu-cucunya. Alexa dan Leo pun menjelaskan secara detail asal muasal kejadian ini dimulai. Mulai dari Farel dan Kevin yang berkhianat. Konflik yang terjadi antar mereka dan Vani. Datangnya musuh baru yang hendak mencelakai mereka. Sampai konflik mereka dengan Vani dan Felix yang tidak percaya dengan peringatan mereka dan malah menuduh balik mereka. "Oh.. begitu." Ucap Sean sambil mengangguk-angguk mengerti. "Jadi apa yang harus kita lakukan kek?" Tanya Alexa pada kakeknya. "Em... sebaiknya kalian menginap dulu disini hari ini. Kalian pasti lelah. Terutama kamu Lex! Istirahatkanlah badan kalian. Besok baru akan kakek dan nenek beritahu solusinya." Ucap Scarla pada kedua cucunya. "Hah! Baiklah nek." Ucap mereka serempak dan pergi menuju kamar mereka masing-masing. *** Pagihari kembali tiba pada wilayah Sky Kingdom. Alexa dan Leo segera menuju keruang makan setelah dipanggil oleh nenek mereka tadi untuk sarapan bersama. Suasana diruang makan terasa hening. Sampai saatnya mereka semua selesai dengan makanan mereka masing-masing, barulah salah satu dari mereka membuka suara. "Ekhem.. apakah kakek atau nenek ada saran untuk kita berdua?" Tanya Leo yang membuka suaranya diluan. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan dari cucunya itupun Raja Sean dan Ratu Scarla hanya bisa saling memandang dan menghela nafas mereka bersamaan. "Sebenarnya kakek dan nenek punya satu solusi. Tapi masalahnya kita berdua tidak yakin ini akan berhasil." Ucap Ratu Scarla dengan sendu. "Katakan saja nek, kek." Ucap Alexa. "Kalian sudah cukup kami latih disini selama lebih dari sebulan. Kalian juga sudah mulai menguasai sihir kalian dan juga sihir-sihir dari Sky Kingdom ini. Cuma masalahnya ilmu sihir dimensi imortal kalian masih kurang kalian pelajari." Ucap Raja Sean mulai serius. "Terus?" Tanya Leo. "Jadi kami memikirkan sesuatu agar kalian bisa menguasai sihir dimensi imortal untuk melawan mereka sebagai perbekalan. Dan caranya itu kalian harus minta bantuan dari para troll untuk membantu kalian mempelajarinya." Lanjut Raja Sean. "Kenapa kami meminta kalian untuk meminta bantuan dari para troll? Itu karna para troll adalah mahkluk mitos yang konon katanya sudah berada di dimensi imortal dari awalnya dimensi ini dibentuk. Mereka juga katanya menguasai semua sihir yang ada di dimensi imortal yang berkembang dari masa ke masa." Sambung Ratu Scarla. "Masalahnya?" Tanya Alexa sambil mengangkat sebelah alisnya. "Masalahnya itu, keberadaan para troll masih belum diketahui. Dan ada juga yang mengatakan kalau mereka telah lama punah. Tetapi itu tidak dapat dipercayakan karena keberadaan para troll terakhir kali diketahui saat academy kalian diserang. Entah mereka datang dari mana." Ucap Raja Sean menutup penjelasannya. "Ohh.." ucap Alexa dan Leo santai membuat Raja dan Ratu Skylar itu bingung. "Kalian gak bingung gitu?" Tanya Ratu Scarla pada cucunya. Kedua cucunya itu pun hanya mengangkat bahu mereka acuh sebagai jawabannya. "Terus?" Tanya Leo lagi. "Ya kalian cari mereka lah!" Ucap Raja dan Ratu Skylar serempak karena kesal dengan tingkah kedua cucu esnya itu. "Ya udah." Respon Alexa dengan cuek. "Hah! Kalian lagi  eror ya hari ini!? Mahkluk mitos seperti begitu yang kebaradaannya masih tidak diketahui berada dimana atau hidup tidaknya mereka itu yang kalian perlukan bantuan mereka untuk perbekalan kalian nanti dan kalian masih menanggapinya dengan bersantai-santai disini seperti ini tanpa berusaha untuk mencarinya? Astagaa.. dosa apa saya di masa lalu sampai-sampai memiliki 2 cucu yang sifatnya setara dengan balok es di kutub utara." Ucap Ratu Scarla pelan dibagian kalimat terakhirnya. Tetapi hal tdrsebut tak luput sedikitpun dari pendengaran Alexa dan Leo yang masih setia duduk ditempat duduk mereka. "Kita gak usah repot-repot cari mereka kok nek! Kan kita teman mereka. Jadi gampang ketemunya." Ucap Leo dengan santai. Ucapan Leo tersebutpun sontak membuat mereka kaget dan menatap kedua cucunya dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana bisa?" Tanya Raja Sean masih tak percaya. "Oh, itu. Aku tak sengaja menemukan tempat tinggal mereka wakti kita bertengkar. Kau tau bukan karena apa kita bertengkar, 'nenek'." Ucap Alexa dengan penekanan pada kata 'nenek' membuat orang yang dimaksud hanya bisa meringis saat mendengarnya. "Setelah itu aku mengajak kak Leo untuk kesana dan juga aku yang membawa mereka untuk membantu academy paca terjadinya penyerangan." Lanjut Alexa yang dimengerti oleh mereka. "Oh, begitu. Kenapa kau tak ajak teman-temanmu sekalian?" Tanya Raja Sean pada Alexa. "Karena mereka melarangnya dan hanya mengizini 1 orang lagi untuk mengetahui ataupun mendatangi tempat itu. Kalau kau bertanya kenapa aku memberitahu kalian, jawabannya adalah karena aku mempercayai kalian. Tetapi aku tetap tidak akan memberitahu tempat tinggal mereka sebelum mereka mengizininya. Lagi pula ada atau tidaknya keberadaan mereka sudah cukup bukan untuk kalian ketahui saat ini." Ucap Alexa panjang lebar. "Oh.. ya sudah kalau begitu. Kalau itu sih terserah dengan keputusan kamu dan juga Leo." Ucap Ratu Scarla yang disetujui Raja Sean. "Jadi, kapan kalian akan memutuskan untuk pergi kesana?" Tanya Raja Sean setelah keadaan hening beberapa saat. "Mungkin besok. Aku masih ingin tidur di kasurku." Ucap Leo sambil merengangkan badannya. "Me too." Setuju Alexa sambil menganggukan badannya. "Ya sudah kalau begitu. Lebih baik kalian tidur sana." Ucap Ratu Scarla pada kedua cucunya. "Hm! Good night Grandma and Grandpa." Ucap mereka serempak dan mencium pipi keduanya. "Good night too kids!" Balas mereka serempak sambil tersenyum kearah cucu mereka yang mulai berjalan menuju kamar mereka masing-masing. Flashback off *** "Mau sampai kapan kalian disini?" Tanya Tere pada kedua remaja yang sedang berlatih beladiri didepannya. Yang tak lain tak bukan adalah Alexa dan Leo yang sudah menghilang selama 1 minggu dari academy. "Sampai kabar itu datang." Jawab Leo yang tidak menghentikan latihannya. Begitu juga dengan Alexa. "Kalau kabar yang kalian maksud itu telah datang bagaimana?" Tanya Roll yang tiba-tiba datang bersama para troll lainnya. Mendengar sesuatu yang menarik perhatian mereka, Alexa dan Leo pun memutuskan untuk menghentikan latihan mereka dan memandang kearah troll yang lainnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan juga keringat yang bercucuran memenuhi badan mereka. "Apa maksudmu?" Tanya Alexa pada Roll. Mendengar pertanyaan itupun Roll hanya melirik kearah Tere dan menghela nafasnya dengan kasar merasa menyesal karna tidak mempercayai Alexa dan Leo yang sudah berkata jujur pada mereka. Ya, Alexa dan Leo memang sudah memberitahu semuanya secara terperinci dengan sedetail-detailnya masalah mereka tanpa satupun yang terlewatkan. Tapi cerita mereka sendiri pun masih diragukan oleh para troll yang menyangka kalau perkataan mereka hanya sekedar bohongan belaka saja untuk meminta ilmu sihir mereka. Jelas saja Alexa dan Leo membantah akan hal tersebut dengan keras dan tegas. Dan mereka juga berkata kalau terserah pada mereka mau ambil keputusan seperti apa. Apa mengusir mereka dari sana dan memilih membuat mereka tidak bisa bertemu dengan mereka lagi. Atau membantu mereka untuk melawan pihak Darkness. Sebenarnya para troll sendiri pun tak ingin mempercayai akan hal itu. Karena moto mereka sendiri adalah 'Teman baru yang baik dan selalu memperlakukanmu istimewa, belum tentu ia juga akan selalu membantu ataupun mendukungmu tanpa memanfaatkanmu sedikitpun.' Begitulah. Apa lagi mereka masih belum mengetahui sifat ataupun hal lain dari diri mereka dengan sepenuhnya karena sifat mereka yang sangat tertutup pada orang asing. Termasuk pada teman atau sahabatnya sendiri. Tetapi karena semua kebaikan dan kasih sayang yang sudah diberikan oleh Alexa dan Leo dari awal pertama mereka berjumpa, dan juga kesungguhan mereka untuk melindungi para troll dan semua orang yang disayanginya dari bahaya membuat hati mereka sedikit terenyuh, mereka pun memutuskan untuk mengajarkan mereka beberapa ilmu dasar dari dimensi imortal pada masa awal dibentuknya dimensi ini saja. Tetapi hak itu tentunya membuat Alexa dan Leo berterima kasih sebesar-besarnya pada para troll dan berjanji untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan menggunakannya demi kebaikan. "Maafkan kami karna tidak percaya pada kalian kamarin." Ucap Tony dengan menyesal dan diikuti gumaman menyesal dari para troll lainnya. Alexa dan Leo yang mendengar nada penyesalan itupun segara duduk untuk mengurangi tinggi badan mereka dengan para troll yang hanya sebatas paha mereka. "Tak apa. Toh, kejadian itu sudah berlalu juga kok." Ucap Leo sambil tersenyum lembut. Begitu juga dengan Alexa. "Terima kasih Alexa dan Leo. Maafkan kami yang sudah tidak percaya dengan kalian, padahal kami tau kalian itu orang yang baik." Ucap Roll dengan nada sendunya. "Tak apa. Sudahlah. Tapi ngomong-ngomong kabar apa tadi yang kalian maksud?" Tanya Alexa mengalihkan pembicaraan. Mendengar hal itu, para troll pun kembalk menghelakan nafasnya dengan tipis dan menatap Alexa dan Leo dengan tatapan sendu dan menyesal pada diri mereka masing-masing. "Felix dan Vani, sahabat kalian. Diculik oleh orang yang sudah kalian beritahu ke kita kalau ia adalah salah satu dari mereka." Ucap Windy dengan nada menyesalnya. "Kami baru mengetahuinya dari mulut burung hantu pembawa berita tadi." Lanjut Tony. "Dan yang terakhir dan lebih parahnya lagi. Orang yang kalian maksud itu adalah putra mahkota kekerajaan Darkness. Atau yang tak lain tak bukan adalah anak dari Ronald Erios Dark'es. William Anseliro Dark'es." Ucap Roll menutupinya. Jujur, Alexa dan Leo yang mendengar hal tersebut pun merasa sangat terkejut. Tetapi kemudian mereka tersenyum dengan tipis membuat yang lainnya bingung. "Sudah kami duga hal ini akan terjadi." Ucap Alexa sendu. "Dan yang tidak kami perkirakaan adalah ternyata putra mahkota sendirilah yang langsung turun tangan. Bukan mata-mata dari pihak mereka." Ucap Leo menimpali. "Jadi, apa rencana kalian?" Tanya Tere pada keduanya. Yang ditanya pun hanya tersenyum tipis menjawabnya dan segera berdiri dari duduk mereka dan pergi menuju rumah pohon yang mereka buat untuk tempat tinggal mereka selama berada disana. *** Sedangkan disebuah istana yang bernuansa gelap dan menyeramkan, juga dengan halaman sekitarnya yang gersang dan mati, terlihatlah 2 orang yang sedang disekap di salah satu ruangan yang ada disana, yang tak lain tak bukan adalah ruang bawah tanah dari kerajaan tersebut. Kedua orang tersebut sendiri pun masih tak menunjukan tanda-tanda kesadaran mereka. Tapi jika dilihat dari dekat, salah satu dari mereka sudah mulai menunjukan pergerakan-pergerakan kecil tanda ia akan segera sadar. Dan benar saja, tak beberapa lama pun ia sudah sadar dari pingsannya sambil memegang kepalanya yang berdenyut pusing. "Ukh! Dimana ini?" Tanyanya bingung sambil mengumpulkan kesadarannya dan segera melihat kearah sekitarnya. "Penjara bawah tanah?" Gumamnya pada dirinya sendiri. Setelah itupun ia mencoba untuk mengingat-ingat tentang kejadiam sebelum ia yang pingsan bersama adiknya karna sebuah mantra sebelum semuanya gelap. "Vani!" Gumam orang itu tiba-tiba saat mengingat tentang keberadaan adiknya. Orang tersebut pun yang tak lain tak bukan adalah Felix sendiri. "Dimana Vani? VANI!! VANII!!!" Diteriaklah nama adiknya itu karna tak menemukan kehadirannya didalam selnya. Tetapi setelah ia melihat secara lebih teliti lagi, ia melihat sosok yang dicarinya masih taksadarkan diri dari pingsannya dalam sel yang bertepatan didepannya. "Van! Dek! Ayo bangunlah!" Ucap Felix mencoba membangunkan adiknya itu. Sampai setelah beberapa lama, usahanya pun berhasil. Terlihat Vani yang mulai bangun dan menunjukan pergerakan kecil dibadannya saat dirinya telah tersadar. Tak beberapa lama pun Vani segera duduk sambil memegang kepalanya yang masih berdenyut nyeri. "Dek! Kamu gakpapa kan!?" Tanya Felix khawatir pada adiknya. "Hmm... iya kak. Ngomong-ngomong kita ada dimana sekarang?" Tanya Vani sambil menurunkan tengannya yang tadi memegang kepalanya saat kepalanya sudah mulai enakan. "Penjara bawah tanah." Ucap Felix dengan lesu dan membuat Vani kaget setengah mati. "WHAT!?" Pekik Vani dengan kaget. *** "WHAT!!?" Pekik Vani kaget sampai tak sadar kalau suara yang ia keluarkan terbilang cukup keras. "Sst.. Suaramu itu loh dek!" Peringat Felix sambil meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya dan berdesis tanda menyuruhnya untuk diam. Sedangkan orang yang diminta pun hanya meringis sebentar saat dirasa suaranya yang ia keluarkan cukup besar sampai menggema di ruangan itu. "Tapi, siapa yang melakukan ini?" Tanya Vani setelahnya. Felix yang mendengarnya pun mengangkat kedua bahunya tanda tak tau. "Kakak juga tidak tau. Tapi yang pastinya itu, pelakunya adalah sosok bertopeng yang waktu itu datang menyerang academy sebelum kita pingsan." Jawab Felix sambil memasang wajah berpikirnya. "Hah!? Ja..jadi, ma..maksud dia dengan ka..kata 'teman' i..itu kita kah?" Tanya Vani dengan wajah terkejutnya. Tap.. Tap.. Tap.. Mendengar suara langkah dari arah pintu besar diujung sana, mereka pun langsung membungkam mulut mereka secara otomatis sambil memandang pintu itu dengan wajah penasaran mereka. Krieekkk... Melihat sebuah sosok bertopeng yang diyakini mereka adalah sosok lelaki itupun Felix dengan segera menanyakan siapa dirinya. "Who are you!?" Tanya Felix dengan nada dingin dan sikap waspadanya. "Santailah sedikit....." ucap lelaki bertopeng itu sambil memegang topengnya dan melepaskannya membuat mereka terkejut saat melihat siapa sosok lelaki itu yang sebenarnya. "Teman." Lanjut sosok itu sambil menekan kata terakhirnya disertai seringaian jahatnya. "Wi..wil..iam" Gumam keduanya secara bersamaan secara tidak sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD