Aku dimana? Tempat apa ini sebenarnya? Ini... ini sangat indah. Batin Leo sambil melihat tempat sekitar yang menurutnya terasa sangat asing di mayanya.
Dengan langkah pelan, ia segera berjalan ke arah tepi danau yang ada di sana dan kemudian ia mengambil tempat duduk pada pinggir danau sambil mencelupkan kakiku ke dalam air.
"Leo"
"Siapa disana!?" Ucapnya dengan spontan saat mendengar sebuah suara yang memanggil namanya.
Tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang sangat terang sampai mengharuskan Leo untuk menutup matanya dengan tangan yang menjadi penghalang dari silaunya cahaya itu.
"Halo Leo" sapa seseorang setelah cahaya utu redup. Bukan bukan! Bukan seseorang. Tapi 3 orang. Dan mereka mirip denganku? Batinnya bingung.
"Siapa Anda?" Tanya Leo sambil berdiri dari dudukku.
"Oh.. Calm down brother. Jangan khawatir. Kita adalah wujud kekuatanmu." Ucap salah satu pemuda yang mirip dengan Leo itu.
"Okok. Perkenalkan lah diri kalian. Aku yakin kalian sudah mengenal namaku, jadi tak perlu repot repot aku memperkenalkan diri bukan?" Tanyanya yang membuat mereka mengagguk membenarkannya.
"Ok. Perkenalkan, namaku Tristan. Aku wujud dari Power pengendali darah yang kau punya" ucap salah satu pemuda yang pakaiannya serba hitam. Dari atas sampai bawah.
Dan kemudian di lanjutkan lagi oleh pemuda di sebelahnya yang benar benar mirip dengan Leo. Kali ini warna rambutnya sama dengan yang dia miliki. Hanya saja matanya berwarna senada dengan rambutnya membuat yang lain dapat membedakan kami. Bukan maksud untuk menyebut jika Tristan dan pemuda yang satunya lagi tak mirip dengannya, hanya saja warna rambut mereka yang mencolok itulah yang membuat mereka terlihat berbeda.
"Aku Geo, wujud mejnakkan hewan yang kau miliki." Ucap pemuda yang di maksud Leo sebelumnya sambil tersenyum.
"Dan terakhir, aku adalah Alvi. Sisi lain darimu yang berada di dalam tubuhmu. Lebih tepatnya sosok malaikat yang berada di dalam tubuhmu." Ucap pemuda terakhir yang membuat Leo mengernyitkan dahi tanda ia sedang kebingungan dengan ucapan Alvi barusan.
"Maksudmu?" Tanya Leo bingung.
"Aku adalah dirimu yang lain Leo. Kau memiliki ras malaikat. Adikmu juga memilikinya. Tetapi ia memiliki ras dewi yang juga tersembunyi di dalam dirinya." Sontak pernyataannya itu membuat Leo tersentak terkejut.
Ternyata adikku setengah manusia, penyihir, malaikat, dan dewi? Wow. Batin Leo kaget.
"Leo."
Tiba tiba muncul sebuah cahaya yang sangat terang dari arah kanan kami membuatku harus menutup mataku.
"S..siapa di sana?" Ucap Leo dengan gugup(?)
"Aku adalah raja Henry. Raja dari Kerajaan Light." Apa katanya? Raja Henry?
"B...bu..kannya R.. raja Henry i.. itu Raja pertama kerajaan Light ya?" Tanya Leo dengan tergagap-gagap. Pasalnya sekarang yang memimpin kerajaan Light adalah keturunan raja Henry yang ke 100. Bagaimana tidak terkejut saat seorang raja pertama kerajaan tempatmu berada yang sebenarnya sudah tiada berada di depanmu sekarang.
"Tenanglah. Kau sekarang berada di ruang antar dimensi. Adikmu lah yang membawamu ke sini untuk membukakan segelmu. Dan dia berhasil." Ucap raja Henry yang sontak membuat Leo kembali terkejut karenanya.
"A..apa?" Tanya Leo tak percaya dengan apa yang di lakukan Alexa.
"Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu Leo?" Tanya raja Henry dengan nada yang agak memelas(?)
"E.. eh..? Bantuanku?" Tanya Leo gugup sekaligus bingung sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya. Kumohon, jagalah Alexa dari pihak Darkness. Karna ia adalah sosok terpilih yang selama ini kita tunggu untuk memusnahkan semua kegelapan yang ada di bumi ini. Dan satu lagi. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini. Karna diantara kalian berempat ada mata mata dari pihak Darkness. Jadi berhati hatilah." Ucapnya sambil tersenyum tulus kepada Leo.
`"Baiklah yang mulia" ucap Leo sambil sedikit membungkukkan badannya tanda hormat setelah mendengar ucapannya.
`Setelah itu tiba-tiba sebuah cahaya terang menyelimuti tubuhku sehingga menghalangi indra penglihatanku. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Raha Henry yang melambaikan tangannya sambil berucap 'Berhati-hatilah'. Dan setelah itu semuanya gelap.
***
Di sebuah kastil besar yang sangat menyeramkan, terlihat 2 orang pemuda yang memakai jubah hitam sehingga menutup muka mereka.
Mereka berjalan masuk ke dalam sambil menunduk, hingga sampai di depan raja mereka segera berlutut dihadapannya dan melaporkan info mingguan selama ia memata matai academy.
"Apakah kalian telah mengetahui siapa itu 'sang terpilih'?" Tanya raja Ronald kepada dua pemuda di bawahnya itu sambil memainkan gelas anggur yang dipegangnya.
Ya, mereka adalah mata mata dari pihak Darkness yang menyamar menjadi murid di Dimension academy.
"Belum yang mulia. Ia masih menyembunyikan dirinya dari kami." Jawab salah satu dari mereka dengan tubuh agak bergetar karna aura yang di keluarkan oleh sang raja.
Prank...
Terdengar suara bantingan kaca dari gelas yang dibanting oleh raja Roland.
"Cepat kembali dan cari keberadaannya dimanapun ia berada! Aku yakin ia sudah berada di academy sampah itu! Cepat cari dia sampai ketemu!" Ucap raja Ronald menggelegar di ruangan itu membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding takut dengan suaranya yang menyeramkan itu. Termasuk kedua pemuda yang sedang berlutut dihadapannya.
"Baik yang mulia" ucap mereka kompak sebelum pergi dari sana.
"Aku akan menemukanmu!" Ucap raja Ronald dengan tangan yang mengepal erat dan wajah yang memerah memahan amarah.
***
Sementara itu di ruang rawat Alexa sudah terlihat ramai oleh kedatangan Vani, Felix, Farel, dan Kevin yang sedang menunggu kakak beradik itu bangun.
"Ugh! Mereka lama sekali sih bangunnya! Ini juga Leo. Bukannya menjaga Alexa, dia malah tidur bersama Alexa!" Gerutu Vani yang sudah kesal dengan kakak beradik itu membuat yang lain terkekeh akan sifatnya.
"Sudahlah, nanti juga mereka bangun kok sbentar lagi" ucap Felix menenangkan adiknya itu.
Tak lama setelah ia selesai berbicara, Leo bangun dari tidurnya karna mendengar suara berisik dari sekitarnya.
"Akhirnya bangun juga si raja tidur ini." cibir Vani yang sudah sangat sebal dengan mereka.
"Diamlah!" Ucap Leo ketus dan bergarak ingin bangun dari tidurnya.
Tetapi hal itu membuat tidur Alexa terusik sehingga membuat ia menggeliat di dalam tidurnya dan memeluk erat Leo membuatnya tak bisa bergerak lagi.
"Huft! Lexa, Lexa." Ucap Leo ambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya itu.
Yang lain pun hanya terkekeh melihat sikap manja Alexa saat bersama kakaknya itu. Walaupun ia dalam kondisi tidak sadar.
"Dek, bangun yuk! Dah sore." Ucap Leo sambil menggoyang goyangkan badan adiknya itu.
"Engh.." erang Alexa dan langsung bangun dari tidurnya dan melangkah ke kamar mandi dengan setengah sadar. Hal itu sontak membuat yang lain terkekeh geli melihat sifat lain dari Alexa yang jarang di lihat.
Setelah beberapa saat di kamar mandi, Alexa segera keluar dengan muka yang lebih segar dengan rambut yabg di cepol asal asalan membuat kesan manis di dirinya.
Manis.. Batin Felix sambil menatap Alexa agak lama sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya.
"Iya, aku tau adikku manis kok. Saking manisnya ia melebihi manis madu." Ucap Leo saat melihat Felix memperhatikan Alexa terus menerus.
Sontak hal itu membuat yang lain ikut menggoda Felix.
"Ciee... kakak suka Alexa ya?" Goda Vani pada kakaknya itu.
"Aduh. Ada yang Fall In Love. Nih. Iya gak Vin?" Ucap Farel ikut menggoda Felix.
"Benar banget, Rel. Sepertinya dah ada yang jatuh cinta ya kan?" Kali ini Kevin menggoda Alexa. Ia ingin melihat wajah blushing Alexa itu seperti apa.
"Kalian lagi godain aku?" Tanya Alexa datar sambil duduk di pinggir ranjangnya.
"Iyalah Alexa Angeline Witz." Ucap mereka serempak. Kecuali Felix yang sedang menahan malu tentunya.
"Oh." Ucap Alexa ber'oh' ria sambil menganggukan kepalanya kecil setelah tau kalau dirinya lagi di goda.
Hal itu sontak membuat mereka kesal dengan reaksi yang ditunjukan Alexa itu.
"WTF!!" Ucap mereka serempak dengan kesal yang hanya di tanggapi Alexa dengan mengangkat kedua bahunya acuh membuat mereka bertambah kesal dibuatnya.
Bahkan setelah tau ia sedang di goda pun ia tetap saja bersikap santai. Batin Felix sambil melihat Alexa yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil menatap mereka datar.
***
Sekarang mereka sedang berada di ruang makan untuk makan siang. Tadi pagi Alexa sudah di perbolehkan oleh Mrs. Riana untuk kembali ke asrama dengan catatan tidak boleh terlalu kecapekan karna ia masih dalam tahap penyembuhan.
Alexa yang mendengarnya pun hanya mengangguk setuju saja. Ia akan menuruti apapun persyaratannya agar ia bisa keluar dari rumah sakit ini yang menurutnya sangat membosankan.
"Eh.. btw minggu depan akan di adakan acara ulang tahun academy kan?" Tanya Vani memecahkan keheningan yang mereka ciptakan.
"Iya. Katanya sih para murid boleh tampil apa saja sih untuk hiburan. Kalian mau tampil apa?" Tanya Kevin ikut meramaikan suasana.
"Hm.. kayaknya kita ngeband saja deh. Bagaimana? Setuju?" Saran Farel kepada yang lain dan di angguki oleh semuanya. Kecuali Alexa.
"Kalau kau mau apa Lex? Tidak mau ikut kita ngeband ya?" Tanya Felix bingung dengan sosok gadis yang mulai menarik perhatiannya itu.
Alexa yang ditanya pun hanya menggeleng kepalanya singkat membuat teman temannya bingung dengan sikapnya.
"Kenapa dek? Kamu gak mau tampil ya?" Tanya Leo yang bingung dengan adiknya itu.
"Mau kok" ucap Alexa singkat.
"Terus kamu mau tampil apa nanti dong kalau gak ngeband sama kita?" Kali ini Vani yang menannyakannya.
"Kalian liat saja nanti." Ucap Alexa dengan senyum tipis yang terkesan misterius dimata mereka.
***
Sekarang mereka sedang berada di ruang osis buat mendaftar untuk tampil di acar ulang tahun academy nanti.
"Atas nama siapa dan mau tampil apa?" Tanya Theodore Oliver. Ketua osis di Dimension Academy.
"Kami berlima ingin tampil sebagai band nanti." Ucap Vani mewakili yang lain.
"Oke. Kalau gadis ini?" Tanya Theo sambil menunjuk Alexa yang ada di belakang Leo dkk.
"Alexa Angeline Witz. Kasih saja di akhir acara sebagai penutupan." Ucap Alexa datar dan kemudian berlalu dari sana setelah mengucapkan itu.
"Ow.. oke" ucap Theo canggung kemudian ia menulis nama Alexa di bagian penutup acara.
"Oke. Kalau begitu kami dari pihak osis mengucapkan terima kasih atas partisipasi kalian dalam mengikuti kegiatan ini." Ucap Theo sambil tersenyum manis kepada Leo dkk yang di balas oleh senyum tipis lainnya.
"Sama sama, kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Vani mewakili mereka lagi sebelum keluar dari ruang osis itu.
***
Malam pun telah tiba, sekarang adalah waktunya mereka makan malam di ruang makan. Kali ini mereka makan di ruang makan, bukan di kamar asrama Alexa.
Mereka makan dengan diselingi canda dan tawa sertal lelucon receh dari Vani, kavin, dan sekali kali Farel ikut nimbrung. Hanya Alexa, Leo, dan Felix saja lah yang makan dalam diam.
Sampai saat di tengah tengah canda tawa mereka, Alexa menghentikan makannya dan menatap mereka tajam. Sontak itu membuat mereka yang sedang tertawa berhenti karna di tatap tajam dan dingin oleh Alexa.
"Apa yang sudah ku bilang setiap kita sarapan Vani?" Tanya Alexa kepada Vani dan membuat Vani menelean silivanya susah.
"J..jangan ber..bicara s.. saat makan" ucap Vani menunduk menyadari kesalahannya.
"Bagus. Lanjutkan lah makanmu. Selesai makan barulah kau bicara sepuasmu agar kau tak tersedak makanan yang kau makan saat tertawa nanti. Begitu juga dengan Kevin dan Farel!" Ucap Alexa sambil menatap mereka dengan tajam membuat mereka menganggukan kepala mereka cepat dan memakan makanannya dengan cepat agar terhindar dari tatapan tajam Alexa.
"Pelan saja. Nanti kalian akan terse.."
Uhuk.. uhuk...
"Dak." Belum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya, mereka sudah diluan tersedak. Sontak saja hal itu membuat Alexa, Leo, dan Felix memberikan mereka air.
"Makanya! Disaat makan jangan terlalu terburu-buru, dan jangan juga berbicara saat sedang makan! Nanti kalian tersedak! Kalau misalnya tidak ada air gimana!? Sudah. Cepat habiskan makanan kalian sebelum waktunya habis! Dan ingat, makan dengan tenang!" Omel Alexa seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya, dan bodohnya lagi mereka bertiga mengangguk polos setelah mendengar omelan Alexa dan melanjutkan makan mereka sesuai perkataan Alexa tadi.
Setelah selesai makan, keadaan kembali hening. Sampai akhirnya Felix membuka suara diluan.
"Ekhem.. Btw, nanti kau akan tampilkan apa nanti untuk acara ultah sekolah?" Tanya Felix penasaran.
"Nanti kalian juga akan tahu. Aku diluan. Night Prince." Pamit Alexa kepada yang lain dan juga Leo, dan berakhir dengan kecupan manis dipipinya Leo.
"Night too Princess" balas Leo sambil mengecup balik pipi Alexa dan melihat punggung kecil Alexa yang mulai menjauh.
Sontak para murid lain yang melihat interaksi adik dan kakak itu heboh sendiri karna sikap manis mereka membuat keadaan kantin menjadi riuh.
Tetapi sebelum Alexa benar benar keluar, ia sempat menyuruh yang lain diam sehingga membuat ruang makan yang tadinya ribut menjadi hening seketika karna merasakan aura mengintimidasi dari Alexa.
"Diam!" Ucap Alexa sambil menatap seluruh penjuru kantin yang riuh akibat ulahnya sendiri. Saat ia sudah merasa kalau keadaan ruang makan kembali tenang, ia segera meninggalkan ruang makan itu.
Alexa terus saja berjalan. Di lihat dari arah jalannya, ia bukan menuju ke asrama. Melainkan menuju ke rooftop. Entahlah apa yang membuat ia kesana di tengah dinginnya malam hari ini.
***
Di luar kantin..
Terlihat Alexa yang sedang berjalan menelusuri lorong-lorong yang sepi disekolah ini. Tenang. Itulah yang seharusnya ia rasakan sekarang. Tetapi tidak kali ini. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mendesaknya untuk keluar dari punggungnya dan rasanya itu sangat menyesakkan Alexa. Semakin ia menahannya, semakin sesak dirasakannya.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rooftop untuk menghilangkan rasa sesak ini. Sesampainya di sana, Alexa dengan segera mengunci pintu rooftop dan berdiri di depan pagar pembatas kemudian membuka jaket yang ia kenakan sekarang.
Tiba-tiba munculah sayap yang sangat indah dan besar keluar dari punggungku sehingga membuat sebagian baju bagian belakangnya sobek dengan lebar.
Ternyata ini yang dari tadi membuatku sesak. Untung saja aku menahannya sehingga membuatku tidak menjadi pusat perhatian lagi. Batin Alexa sambil lihat sayapnya dari samping.
Sayap yang keluar dari tubuhnya ini mirip seperti sayap milik Forencia. Ia ingat jika Angel pernah mengatakan jika sayap yang ada pada punggung mereka adalah sayap yang dimiliki oleh Alexa juga. Jia di hitung, berarti sayap yang dimilikinya itu berjumlah 4.
Alexa pun mencoba mengepakkan sayapnya dengan pelan sehingga membuat tubuhnya terangkat melayang sedikit dari tempatnya berpijak. Tetapi kemudian ia terjatuh lagi sehingga membuatnya sedikit mengeluarkan ringisan kecil.
"Ternyata berlatih mengepakkan sayap tidak semudah yang ku kira." Gerutunya pelan sambil mencuba bangkit dari jatuhnya.
Ia pun kempali mencobanya lagi dan kembali terjatuh seperti percobaan pertamanya.
"Sial. Ini membuatku frustasi." Ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya kesal.
Dengan kesal, ia kembali bangun dari jatuhnya kembali dan mencoba untuk fokus sepenuhnya agar ia berhasil. Ia bertekad jika ia haru bisa melakukannya dalam percobaan ini. Ya, Harus!
"Sedikit lagi.. Ayo Lex! Kau pasti bisa!" Gumamnya memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Perlahan, ia mulai mengepakkan sayapnya lagi dengan pelan sambil memejamkan matanya. Saat di rasakannya jika kakinya sudah tidak menyentuh tanah lagi, Alexa semakin memejamkan matanya dengan rapat sambil terus mengepakkan sayapnya agar ia tetap melayang di udara.
Saat dirasanya jika ia telah melayang cukup lama, di bukalah matanya secara perlahan. "A..Aku ber..hasil?" Tanyanya tak percaya saat ia melihat ke arah depan yang sebelumnya ada pagar pembatas rooftop yang menjadi penghalangnya, kini berganti dengan pemandangan langit malam yang cerah dan juga hutan yang jauh terbentang didepannya.
"Aku berhasil? Yeeay!" Pekiknya senang sambil mengepalkan tangannya dengan kuat dan berjerit dengan suara yang kecil agar ia tak ketahuan.
"Aku ingin tahu seberapa jauh aku terbang." Gumamnya lagi setelah sadar jika ia belum melihat ke arah bawahnya.
"KYAA!!" Jeritnya kaget sambil jatuh dari ketinggian saat dilihatnya bangunan academy yang sudah terlihat sangat kecil dari tempatnya berada membuatnya berteriak kaget sehingga memechkan fokusnya.
"Fokus Lex! Fokus!" Pintanya kepada dirinya sendiri dengan panik sambil mencoba untuk fokus kembali agar ia tidak jatuh dengan keras membentur bangunan academy dibawahnya.
Tepat pada jarak 2 meter sebelum ia menyentuh atap rooftop, akhirnya ia bisa kembali mengepakkan sayapnya sehinggah membuatnya selamat untuk kali ini.
"Fyuhh... Selamat." Ucapnya dengan lega sambil menyeka keringat pada dahinya dan tersenyum lega.
"Mungkin sebaiknya aku mengelilingi academy ini dengan sayap baruku dulu. Sealigus sebagai latihan kecil untuk sayapku." Gumam Alexa sambil tersenyum sebelum ia mulai mengepakkan sayapnya kembali dn membawa tubuhnya untuk mengelilingi hampir seluruh wilayah academy dengan sayapnya.
Setelah puas dengan kegiatannya sebelumnya, iapun kembali ke atap rooftop dan memutuskan untuk kembali memasukkan sayapnya dan segera pergi ke kamar asrama untuk beristirahat.
Baru saja ia akan memakai jaketnya, tiba-tiba ia kembali merasakan sesak pada punggungnya seperti ingin sesuatu keluar lagi. Ukh! Ini pasti sayapku yang lain. Batinnya kesal. Dan benar saja. Yang keluar kali ini adalah sayap kalelawar milik Sera.
Alexa pun mencoba untuk mengepakannya dan mencoba terbang di atas hutan belakang sekolah. Setelah lama berkeliling, ia segera kembali ke rooftop sekolah dan menggantinya dengan sayap yang lain. Kali ini sayap Demon dari Lora lah yang keluar.
Alexa pun mencoba terbang mengelilingi academy yang sepi. Sesekali ia menggunakan kekuatan invisible miliknya saat melintasi murid lain yang masih berkliaran di sekitar academy. Setelah puas dengan berkeliling, ia pun kembali ke rooftop dan menggantinya dengan sayap yang lain.
Dan sekarang giliran sayap dari Frenssca lah yang keluar. Kali ini Alexa hanya menggunakan untuk mengelilingi gedung asrama saja kemudian kembali ke rooftop dan menggantinya dengan sayap yang lain.
Pasti sayap milik Angel batinnya dengan yakin, karena hanya sayap itulah yang belum keluar. And ya.., sesuai dengan tebakan Alexa sendiri, sayap Angel lah yang paling terakhir keluar.
Kau sangat cerdas Lexa puji Angel dalam pikiran Alexa.
Tentu saja aku tidak bodoh! Hanya tersisa sayap milikmu lah yang belum ku kenakan. Pastilah aku mengetahuinya! Balas Alexa dengan kesal.
Heh! Jangan menyebutku bodoh dasar bodoh! Protesnya tak terima saat di bilang bodoh oleh Alexa.
Alexa yang mendengar protesan Angel memilih untuk tidak mengubrisnyadan segera mengepakkan sayapnya ke atas awan. Tanpa ia sadari dirinya telah berada sangat jauh dari kawasan academy. Hal itu tetu saja membuat Alexa bingung harus bagaimana.
Alexapun memutuskan untuk tetap naik ke atas dan melihat lihat keadaan bawah dari sini. Tanpa ia sadari, ia telah berada di sebuah istana yang amat megah dan indah.
"Selamat datang cucuku" ucap seorang wanita tua di depan istana itu menyambut kedatangan Alexa dengan senyum yang tepampang manis pada wajahnya yang justru membuat Alexa mengernyitkan dahinya bingung akan maksud dari wanita tua di hadapannya ini.
Apa maksudnya? Dan siapa cucunya? Batin Alexa bingung.