Bab 8

1240 Words
Langkah kakinya tampak terburu-buru dan terkadang terlihat sedikit berlari-lari kecil. Ia adalah Zein Dahendra, seorang CEO perusahaan besar yang sedang menuju ruangan bersalin rumah sakit elit Ibu Kota, guna melihat istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. "Bapak Zein, mari ikut saya sebentar." Seorang perawat menyuruh Zein untuk masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan. "Silahkan duduk, Pak," ucap perempuan berjas putih yang tak lain adalah dokter yang menangani istrinya selama hamil. Zain segera duduk dan melihat serius kepada sang dokter. "Maaf, ada apa ya dokter memanggil saya ke sini?" Dokter menarik napas dalam sejenak sembari melihat secarik kertas yang ada ditangannya. Tak lama, pandangannya kembali tertuju kepada Zein. "Pak, dengan berat hati saya harus katakan, jika kondisi ibu Farah saat ini tidak baik-baik saja. Tekanan darahnya sangat tinggi sekali. Resiko melahirkan normal sangat besar sekali, begitu juga dengan operasi sesar. Ditambah dengan posisi ari-ari bayi yang berada pada pintu rahim. Besar kemungkinan Ibu Farah akan mengalami pendarahan hebat. Atau yang biasa disebut dengan. istilah medisnya, pre-eklampsia." "Apa?!" Seketika Zein menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia langsung terduduk lesu dengan perasaan yang berkecamuk. Rasa bahagia yang semula sudah melayang tinggi bersama harapan menyambut buah hati yang telah dinanti selama ini, seketika kembali menukik tajam dan jatuh hancur dalam sekejap. "Saya harus mengatakan ini kepada bapak. Sebab saya ingin bapak bersiap, untuk kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi." Zein menutup kedua matanya. Bersamaan dengan itu, setitik air bening tampak jatuh dan membasahi wajah tampannya. Ia begitu terpukul setelah mendengar kenyataan tentang keadaan istrinya, Farah. Seharusnya sebentar lagi mereka bisa berbahagia dengan kehadiran buah hati, nyatanya kini Zein berada di ambang kecemasan yang begitu hebat. Yang sewaktu-waktu bisa menjadi kenyataan dan meluluh lantakkan seluruh hidupnya. "Farah ...." Zein kembali menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit. Mendongakkan sedikit kepalanya seraya menutup mata. Ia berharap, bahkan sangat berharap. Ada keajaiban yang bisa menyelamatkan anaknya dan terutama istrinya. Namun doa hanyalah sebuah ikhtiar manusia kepada Tuhan, bentuk dari sebuah permohonan. Dan yang namanya meminta, terkadang diberi namun terkadang juga bisa ditolak. Begitu juga dengan doa seorang Zein Dahendra. Berharap Farah istrinya bisa bertahan setelah anak mereka lahir, nyatanya perempuan muda itu hanya mampu bertahan selama dua hari saja. Dan seiring waktu, tubuh wanita cantik itu semakin lama semakin melemah. "Jangan tinggalkan aku ...." Zein menangis di sisi Farah. Ia menggenggam erat tangan dingin sang istri pada ruangan ICU. "Maaf, sudah membuatmu sedih, Mas ... Aku titip anak kita." Suara Farah bergetar hebat dan terdengar sangat parau. Wajahnya pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal. Sehebat apapun. dokter yang Zain hadirkan, tak bisa membuat Farah bertahan dan hidup lebih lama di sisinya. Tuhan Maha Menentukan Segalanya. "No, jangan berbicara seperti itu, Farah. Jangan tinggalkan putri kita. Dia membutuhkanmu. Kau harus bertahan demi dia, Farah. Aku tidak bisa membesarkannya seorang diri. Aku mohon." Farah tersenyum pelan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Farah menggerakkan tangannya ke arah wajah Zein dan mengelusnya perlahan. "Aku mencintaimu. Terima kasih ... untuk selama ini." Air mata Zein tak terperikan lagi sudah sebanyak apa tumpah ruah di wajahnya. Dan tak terbayangkan oleh Zein, jika kalimat itu ternyata adalah yang terakhir istrinya ucapkan, sebelum kemudian mata wanita muda itu tertutup dan tangannya jatuh menggantung di hadapan mata Zein. "Farah ... Farah ...! Farah jangan tinggalkan aku. Farah ...!" teriakan Zein memecah keheningan ruangan ICU tersebut. Ia memeluk erat tubuh kaku sang istri dan menciuminya berkali-kali. Zein meringis dan histeris. Ia dekap Farah dan menangis terisak di depan raga tak berjiwa sang istri. Dunianya hancur dalam sekejap. Ia bahkan tidak tahu harus melanjutkan hidup seperti apa setelah Farah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Namun, tentu saja Zein masih punya alasan untuk tetap bertahan dan bernapas. Putrinya. Bayi mungil yang baru saja dilahirkan oleh istrinya itu, kini menjadi penyemangat hidupnya. Jika ia terus larut dalam kesedihan, bagaimana ia bisa merawat buah cintanya bersama Farah? "Aku berjanji, Farah, aku akan merawat putri kita sebaik mungkin. Akan ku pastikan jika ia tidak akan kekurangan apapun. Kau jangan khawatir, ia akan tumbuh menjadi wanita yang cantik dan hebat seperti ibunya." Zein mengecup lama batu nisan bertuliskan nama Farah Sukmawati. Tiba-tiba, suara dering ponsel Zein mengalihkan atensi pria dewasa itu. Ia segera merogoh saku celananya dan melihat kepada layar benda pipih tersebut. "Halo, iya ... ada apa?" tanya Zein. "Maaf Pak, apa bapak bisa ke rumah sakit sebentar?" "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanpa pikir panjang, Zein langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit. Setelah mendapat kabar tentang keadaan putrinya, tanpa pikir panjang, CEO kaya raya itu segera meninggalkan makam dan menuju keruangan NICU sang anak. "Ada apa dengan wajah putri saya?" tanya Zein yang terkejut melihat pipi anaknya merah-merah seperti terbakar. "Kata dokter kemungkinan besar putri Bapak alergi terhadap s**u formula." "Jadi ... bagaimana solusinya? Apa tidak ada cara untuk menangani masalah ini?" "Kita akan coba beri ia s**u formula yang terbuat dari soya atau sari kacang kedelai. Semoga saja hasilnya baik." Zein meraup kasar wajahnya. Ia mulai bingung melihat kondisi putrinya. "Bagaimana jika hasilnya tetap sama?" tanya Zein untuk kemungkinan terburuk. Ia ingin tahu saran tim medis agar ia bisa bersiap-siap sedini mungkin. "Jika s**u tersebut tetap menunjukkan respon yang sama, maka kita terpaksa memberinya ASI dari pendonor ASI, Pak." "Maksudnya, putri saya akan diberi air s**u dari perempuan lain, begitu?" tanya Zein dengan raut wajah serius. "Benar Pak. Atau jika bapak tidak mau memakai ASI donor, mungkin bapak bisa mencari ibu s**u untuk putri bapak." "Ibu s**u?" "Iya Pak, wanita yang baru melahirkan yang mau berbagi ASI dengan putri Bapak. Jadi nanti dia akan menyusui putri bapak secara langsung. Hal itu juga jauh lebih menjaga kualitas ASI ketimbang mengambil ASI donor yang sudah dikemas," jelas perawat rumah sakit tersebut. Ibu s**u? Di mana aku bisa menemukannya? Setelah mencium putrinya, Zein pun kembali keluar dari ruangan NICU. Ia mulai melangkah dengan pikiran yang terus melalang buana, memikirkan tentang siapa yang bisa menjadi Ibu s**u putrinya. Jika s**u formula jenis soya juga tidak diterima oleh tubuh putrinya, maka Zein harus mencari secepatnya wanita yang baru melahirkan dan bersedia untuk mendonorkan ASInya secara langsung kepada anaknya. "Hah, di mana aku bisa menemukan Ibu s**u untuk anakku?" Zein menjatuhkan kepalanya di atas kemudi mobilnya. Ia benar-benar kalut saat ini. Pikirannya kacau. Belum selesai ia berduka atas kematian Farah, masalah lain justru datang dengan begitu mendesak. Ponsel Zein berbunyi. Segera ia angkat panggilan masuk itu dengan posisi kepala yang masih menempel pada setir mobil. "Zein, aku turut berduka cita," ucap suara seorang perempuan dari dalam telepon. "Terima kasih, Ra." "Semoga kamu kuat ya, Zein." "Aku pasti kuat, Ra. Hanya saja ...." Kata-kata Zein menggantung begitu saja. "Hanya saja apa, Zein? Apa kamu sedang ada masalah lain?" tanya si penelepon. Zein menarik napas dalam. "Putriku, Ra. Dia harus mendapatkan Ibu s**u. Semua jenis s**u formula tidak ada yang cocok dengannya. Aku bingung sekali." Kini posisi kepala pria dewasa itu sudah bersandar pada jok kursi mobil dengan sedikit mendongak ke atas. "Ibu s**u?" "Iya Ra. Wanita menyusui atau yang baru melahirkan, dan mau mendonorkan ASInya kepada putriku," jelas Zein. "Hmm ... eh, aku tahu. Aku punya teman yang kebetulan memang sedang menyusui." Zein langsung duduk dengan tegak setelah mendengar pengakuan teman wanitanya itu. "Kau serius?" tanya Zein cepat. Seperti ada secercah harapan setelah ia mendengar ucapan temannya itu. Wajah Zein berubah drastis, dari yang tadinya murung dan seperti orang tidak bersemangat, kini terlihat lebih berseri dan tampak bahagia. "Yah ... tapi aku tidak yakin apakah dia mau mendonorkan ASInya pada bayimu atau tidak." "Di mana aku bisa menemuinya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD