Dahi Aleya mengernyit heran. Dalam keadaan fisiknya yang sedikit kurang fit itu, ia berusaha untuk mencerna maksud dari ucapan Zein. "Maaf Pak, apa Bapak tidak salah bicara?" tanya Aleya heran. "Tidak, apa perlu aku ulangi lagi?" Zein terus berlalu masuk ke dalam kamar Aleya dan mengatur suhu ruang menjadi lebih dingin. Entah apa tujuannya. Aleya mendengus kesal. Walau pun ia sedang tidak enak badan, tapi ia masih cukup waras dalam menanggapi situasi. "Pak, kita ini bukan suami istri, ba—bagaimana mungkin kita tidur dalam satu kamar? Terus seranjang, ini tidak wajar Pak!" Aleya masih menolak seraya menggelengkan kepalanya. Zein meletakkan piring berisi nasi milik Aleya dengan cara sedikit dibanting. "Oh, jadi menurutmu, membiarkan Anet menangis lama seperti tadi adalah hal yang wajar?"

