Senyum di wajah Rahmi membeku. Pertanyaan tetangganya itu memang menohok, menusuk tepat di ulu hatinya. Itu adalah pertanyaan yang selama ini ia hindari, sebuah cermin yang memantulkan kenyataan pahit yang ingin ia lupakan. Pertanyaan itu, sebenarnya Rahmi juga tahu suatu saat pasti akan terdengar. Entah dari mulut siapa, tapi harusnya ia sudah siap menghadapinya. Namun, setelah mendengarnya, hatinya kembali mencelos. Tiba-tiba, ia merasa kembali menjadi Rahmi yang dulu, wanita yang tak berdaya dan terombang-ambing oleh takdir. Teringat bagaimana kesakitan yang diterimanya, perlakuan mantan suami dan keluarganya. Air matanya terasa panas di pelupuk mata. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, Rahmi menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam erat uang hasil penjualannya, sebuah pengingat

