"Aku akan pergi, tapi tidak ketika hatimu gelisah karenaku."
***
Zee berlari, melihat itu kaki Joo seolah ada yang menggerakkan untuk mengejarnya. Fatih yang akan memencet tombol hijau tidak jadi karena melihat seorang laki-laki mengejar Zee, Fatih memicingkan mata. "Siapa itu?" Kini ia mengikuti pria tersebut di belakang Zee.
Gadis itu memasuki kawasan di mana pria tidak boleh masuk, hingga Joo terpaku melihat sosok Zee dan bayangannya menghilang di dalam sana.
"Antum siapa?" Fatih sudah berada di belakang Joo.
Joo berbalik, membuat Fatih seperti mengingat sesuatu.
"Antum ...." Tangan Fatih terangkat dengan mata terpejam. "Oh ya. Antum teman sekolah Zee."
"Benar."
"Kenapa mengikutinya?" Fatih memperlihatkan wajah tak sukanya.
"Oh, maaf saya hanya memastikan bahwa dia adalah teman saya."
"Oya?" Fatih tidak percaya dengan ucapan Joo, karena sebelumnya ia melihat Joo keluar dari bilik di parkiran, remaja itu pasti sudah lama ada di sana. "Di pondok itu ada aturan, tidak boleh ada interaksi akhwat dan ikhwan tanpa keperluan syari."
"Oh benar. Maaf, saya santri baru di sini jadi belum begitu mengerti tentang aturan itu. saya permisi." Joo meninggalkan Fatih. Fatih mengangguk masih dengan ekspresi curiga pada Joo. Setelah memunggungi Fatih, Joo mengepalkan tangan menahan marah pada pria yang ia ketahui sebagai suami Zee.
"Heh, Khi. Kok masih di sini?" Ghazali mendekati Fatih ketika melihatnya.
"Iya. Zee berlari ke dalam. Bisakah istri antum memanggilkannya?" Fatih mengacak rambut belakang kasar.
"Oya. Sebentar." Ghazali mengeluarkan benda pipih dari kantongnya.
"Hallo, ya Sayang. Tolong panggilkan istri Gus Fatih."
"Lho, ada apa, Bang?" sahut sang istri di ujung telepon.
"Ya sudah panggilkan saja. Urgent."
"Oya, baik. Sebentar."
Telepon terputus.
"Bukannya sekarang sudah waktunya cek-in. Kenapa belum pergi?" Ghazali penasaran, wajah Fatih terlihat khawatir.
"Ah, bagaimana ana menjelaskan, Khi. Gadis itu benar-benar labil. Baru melihat nama Syifa di layar ponsel saja dia langsung kabur tanpa tabayyun."
Ghazali tersenyum.
"Kok malah tersenyum?" Fatih heran melihat sahabatnya, orang sedang susah malah disenyumi.
"Apa antum takut Zee cemburu, marah dan benci pada antum?"
"Ha?"
"Iya, apa semua itu jadi masalah buat antum? Bukannya saat kita chat antum bilang perasaannya tidak penting.
"Argh. Ng-nggak juga sih. Tapi ana kepikiran saja. Dia itu labil, dan rawan kesambet. Kan ana sudah cerita ke antum? Iya 'kan?" Fatih merasa bingung dengan jawabannya. Apa ia mulai memiliki perasan pada gadis itu? Atau hanya kasihan?
Ghazali tersenyum meledek.
"Ah, terserah lah apa yang antum pikirkan. Yang jelas saat ana pergi, gadis itu emosinya stabil. Lagipula dia adalah tanggung jawab ana."
"Ya, ya, ya. Tapi luar biasa, gadis itu bisa mencairkan hati pangerannya yang beku hanya dalam hitungan hari."
"Ayolah, ini bukan lelucon."
.
.
"Ustazah, lihat Mbak Zee?" tanya istri Ghazali pada ustazah yang sebelumnya ia kenalkan pada Zee. Mereka menggeleng.
Seorang santri mendekat. "Afwan ustazah, maksudnya santri baru yang tadi ustazah bawa masuk dan mengenakan jaket hoodie?"
"Iya, anti melihatnya?"
"Oh. Tadi ana lihat dia lari dari arah luar lalu masuk ke toilet di sebelah sana." Santri itu menunjuk sebuah toilet dengan beberapa santri mengantri di depannya.
"Sudah lebih lima belas menit dia gak keluar ustazah. Ana aja yang sedang mules terpaksa ke toilet belakang. Gak tau itu Mbak-mbak lain kok betah nungguin."
"Oh begitu. Syukran ya."
"Na'am Ustazah." Santri itu mengangguk.
Istri Ghazali berjalan cepat ke arah toilet yang dimaksud.
"Apa istri Gus Fatih sakit perut? Kenapa selama itu di dalam toilet."
Wanita itu mengetuk pintu toilet pelan.
"Hallo, Mbak Zee di dalam? Em suaminya menunggu di depan." Dalam pikiran istri Ghazali pasti Zee langsung keluar karena mendengar kalimat "ditunggu suami". Karena tidak mungkin pria yang memiliki pengetahuan luas seperti Fatih memilih istri yang tak mengerti.
Tidak ada jawaban, bahkan saat wanita itu mengatakan hal yang sama.
"Hallo, Mbak Zee. Lama banget di toiletnya? Kasian yang lain juga mau pakai." Istri Ghazali mulai lelah, ada sedikit perasaan kesal.
Tidak ada jawaban.
"Ya, sudah. Mbak-mbak silakan pakai yang di belakang saja ya,"
"Tapi toiletnya masih direnovasi ustzh." Seorang santri menjawab.
"Kalau begitu silakan juga pakai toilet di samping rumah saya dulu."
Zee mendengar percakapan mereka, tapi hatinya terlalu sakit. Bagaimana bisa Fatih membuatnya bahagia lalu menjatuhkannya lagi ke lembah penderitaan yang sangat dalam, ah bahasa apa ini?
"Harusnya aku tak menciumnya!" Zee mengusap bibirnya kasar di sela tangis. "Ini sangat memalukan. Aku terlalu percaya diri. Hiks. Aku benci Gus Fatih. Benci. Benci sekali! Arh!" Zee menghentak-hentakkan kakinya.
Masih menangis, ia melihat pada arloji, sebentar lagi magrib.
"Zee, keluarlah! Antum tidak boleh lama-lama dalam toilet. Tempat ini rawan gangguan jin." Suara seorang laki-laki mengetuk pintu.
"Gus?" Zee melihat pada jamnya lagi. "Bagaimana dengan pesawatnya? Apa dia tidak jadi pergi?"
"Sudah, bocah kecil. Ini memalukan. Kenapa ana harus ada di asrama wanita hanya karena memanggil seseorang dalam toilet?"
Beberapa santri wanita melihat Fatih dengan kagum, menundukkan pandang setelahnya pun akan tetap membuat mereka kepikiran, fisik Fatih nyaris sempurna. Dan lagi jarang sekali mereka melihat pria ada di asramanya, bahkan hampir tidak pernah.
Dengan berat Zee membuka pintu. Melihat pintu terbuka, Fatih segera meraih tangan Zee keluar dari zona akhwat.
"Ehem. Cie ...." Terdengar beberapa akhwat yang usil melontarkan godaan pada pasangan itu.
Zee masih diam, pasrah mengikuti ke mana langkah Fatih membawa. Ingin sekali ia melepaskan tangan suaminya dan menamparnya, tapi Zee tau itu akan membuat Fatih malu.
Sampai di tempat yang sudah sepi, Zee menarik tangannya.
"Sudah Gus. Pergi saja sana. Kenapa balik lagi?" Zee mengucap kesal.
"Kalau ana pergi. Pasti anti tidak akan keluar dari toilet itu, bahkan hingga semester depan."
"Hemh, itu sangat berlebihan." Zee menyilangkan dua tangannya di d**a.
"Kenapa antum lari?"
"Kenapa? Ya, ya, karena aku sakit perut? Makanya yang kutuju toilet!"
Secara teori Zee tidak berbohong karena saat ia cemas dan takut perutnya mendadak menjadi mulas, barangkali karena sugesti otaknya terlalu kuat.
Fatih menaikkan sebelah bibirnya.
"Sakit perut apa sakit hati?"
"Sudahlah aku sedang malas bercanda. Sebaiknya Gus pergi sebelum ketinggalan pesawat." Zee berbalik melangkah dan akan pergi, tapi dengan cepat tangan Fatih meraih tangannya. Zee melepasnya dengan kasar.
"Ck. Wajah antum jelek sekali saat marah."
"Siapa yang marah. Aku bilang aku sakit perut?"
"Apa sakit perut membuat anti menangis sampai mata bengkak begitu?"
"Ih, ngeselin banget sih." Zee melotot.
"Haha. Sudah. Antum tidak cocok jadi gadis cengeng."
"Tapi Gus keterlaluan, bagaimana bisa berhubungan dengan wanita lain di depan istri?"
Fatih terkekeh. "Dari mana anti tau ana berhubungan dengan wanita lain?"
"Lha tadi itu kan nomer Syifa Gus. Aku gak buta."
"Jadi maksud anti, karena Syifa menelpon kami selama ini berhubungan?"
"Iya, apalagi."
"Ck. Jika saja antum gadis dewasa yang tidak baperan dan labil, pasti ana akan sangat marah. Sama saja antum menuduh ana bermaksiat. Saat belum beristri saja kami haram berhubungan, bagaimana saat ana sudah menikah dengan wanita lain?" Fatih berusaha sabar menghadapi Zee.
"Apa?" Zee melongo. Kenapa setiap kali ia dibuat tak berkutik oleh Fatih. Padahal sebelumnya dia adalah gadis tengil yang satu pun lawan bicaranya tak pernah menang.
"Sudah ayok kita ke dalam." Tanpa canggung Fatih merangkul Zee masuk ke pekarangan rumah Ghazali.
"Apa Gus tidak jadi ke Malaysia?"
"Iya, itu gara-gara bocah baperan seperti antum?"
"Oh." Zee melihat pada Fatih. Entah mengapa ia pasrah begitu saja, di pelukan pria itu hatinya terasa hangat.
Pertengkaran rupanya membuat perasaan canggung hilang antara keduanya. Fatih tersenyum melihat pada Zee yang melihatnya dengan tak percaya.
Meski bagaimana ini adalah cara Fatih membuat Zee tenang sebelum meninggalkannya.
Beberapa ikhwan yang tengah bersiap ke mushola berjalan, satu di antara mereka adalah Joo. Lagi-lagi pria itu harus menahan sakit melihat pemandangan di depannya.
***
Di bandara, Syifa terlihat gelisah bersama dua sepupunya.
"Bagaimana, Kang?" Syifa melihat dengan cemas kepada Jalal, seorang Kang santri sekaligus sepupunya.
Jalal menggeleng, Syifa mendesah panjang dibuatnya.
"Apa Gus akan ingkar janji? Tapi dia bukan tipe pria seperti itu," ucapnya lemas.
Kecewa tentu saja, harapannya sungguh besar. Move on tidak semudah yang orang nasehatkan padanya.
"Janji apa?" Sahla menyahut. Wanita berfaras ayu adik Jalal itu adalah sahabat sekaligus keluarga yang selalu mendukung Syifa.
"Ah, soal itu tidak penting." Syifa tersenyum miris. "Yang penting seharusnya dia ada di sini sekarang."
"Apa yang kamu harapkan Fa? Dia sudah menjadi suami orang." Jalal tidak menyukai sikap Syifa yang terlalu gigih.
"Iya, tapi seharusnya aku yang menjadi istrinya. Ini sangat aneh, tiba-tiba tanpa alasan jelas dia memilih wanita lain. Jadi hal yang wajar saat aku merasa dirugikan memintanya untuk tetap menikahiku." Syifa menatap tajam ke depan.
"Inilah yang namanya ujian, barangkali Allah ingin melihat seberapa besar cintaku pada gus dan seberapa besar perjuanganku."
"Kamu minta gus menjadikanmu istri kedua?" Sahla melebarkan mata.
Syifa mengangguk.
"Lalu?" Jalal penasaran.
"Untuk sekarang tentu saja dia menolak." Syifa nampak kecewa.
"Ya Allah, Syifa ... tentu saja dia menolak. Fatih itu pria yang peka. Lihat siapa istrinya! Seorang bocah. Bayangkan jika perasaan bocah yang belum juga mengerti syariat poligami langsung dihempas dengan pernikahan suami yang baru menikahinya."
Sahla geleng-geleng. "Jangan bilang kamu minta pakde bude yang bicara.
Syifa mengangguk.
"Iya, habisnya ana kelewat sakit La. Kamu saja yang gak ngerti posisiku."
BERSAMBUNG