Anton menoleh ke arah orang yang memanggilnya, ternyata itu adalah teman Monica. Dia sempat canggung karena harus melihat teman Monica yang bekerja di tempat yang sama dengan Sonia.
“Eh, Rubi, selamat pagi,” sapa Anton berlagak tidak terjadi apa-apa.
“Pak Anton, ada hubungan apa dengan Sonia?” tanya Rubi dengan tatapan penuh tanda tanya.
Anton terlihat gelagapan dia mencoba untuk tenang dengan pertanyaan Rubi, jangan sampai dia terlihat panik dan ada main dengan Sonia di depan Rubi.
“Perusahaanku dengan perusahaan tempat kamu bekerja akan ada kerja sama, bosmu mengutus Sonia untuk menemuiku membahas itu, seharusnya kamu sudah tahu,” ucap Anton.
“Oh jadi seperti itu, tapi sepertinya ini masih pagi, Anda bertemu dimana dengan Sonia?” tanya Rubi lagi.
“Aku memang janjian dengannya berangkat kerja bersama. Ini adalah hubungan bisnis,” jawab Anton.
Rubi percaya saja dengan ucapan Anton, karena hari sudah siang dia harus segera masuk kantor. Anton bernafas lega karena Rubi tidak memberinya banyak pertanyaan. Dia segera menuju kantornya dan menelepon istrinya.
***
“Sayangku, aku sudah sampai kantor, nanti kamu mau dibawaain apa saat pulang kerja?” tanya Anton.
“Bawakan martabak kesukaanku saja,” jawab Monica.
“Baik-baik di rumah ya, aku kerja dulu,” ucap Anton.
Anton menutup teleponnya, dia segera memulai pekerjaannya. dibantu dengan asisten dan juga sekretarisnya pekerjaannya menjadi cepat selesai. Anton meregangkan tubuhnya lalu mengecek ponselnya, Sonia sudah menelponnya lebih dari sekali. Dia segera menelpon balik Sonia.
“Ada apa, Sonia?” tanya Anton.
“Kenapa tidak segera menjawab teleponku?” ucap Sonia manja.
“Aku sedang sibuk, Sonia,” jawab Anton.
“Kamu itu bos dan punya anak buah, kenapa bukan mereka saja yang bekerja?” tanya Sonia.
“Kalau semuanya mereka yang mengerjakan, aku akan mudah ditipu oleh mereka,” jawab Anton.
Sonia ini berbeda sekali dengan Monica, istri sah Anton itu sangat mahir dalam berbisnis, memang semuanya pegawai yang mengerjakan tapi setiap akhir pekan dia akan pergi ke perusahaan untuk memeriksa pekerjaan para karyawannya.
Perusahaan menjadi besar karena modal dan juga ide perusahaan adalah milik Monica. Anton hanya menjalankan saja, Sedangkan Sonia mengira bahwa perusahaan adalah milik Anton makanya dia begitu gatal menggoda iman Anton.
“Siapa yang berani menipumu? Kamu tinggal menggunakan uangmu untuk menuntut mereka!” tegas Sonia ingin menghasut Anton.
“Tidak semudah itu, sudah dulu ya, Monica sedang menelponku,” balas Anton.
Anton menutup telepon dari Sonia, dia menghembuskan nafasnya, dia menggelengkan kepalanya membayangkan kedua wanita yang kini ada di sisinya. Satu lagi seorang wanita yang menerima dirinya apa adanya, membuatnya menikmati kekayaan yang saat ini. Sedangkan Sonia mampu memuaskan hasratnya, dia begitu lihai di ranjang tapi hanya mencintainya karena terlihat mempunyai uang.
***
“Sial, aku harus menyingkirkan wanita itu dari hidup Anton,” ucap Sonia dalam hati.
“Sonia, persiapkan pekerjaanmu, hari ini kita akan membicarakan pekerjaan lagi dengan Pak Anton, sekalian buka bersama,” pinta Bos Sonia.
Sonia langsung bahagia, dia bisa bertemu Anton sekali lagi. Awal mula mereka bertemu memang dari pembahasan kerja sama perusahaan Anton dan perusahaan tempat dia bekerja. Sonia awalnya kaget karena melihat Anton yang sudah lama di kenalnya ini kini menjadi bos besar, tapi sayang dia sudah mempunyai istri, seandainya dulu dia bersabar sedikit saja mungkin posisi istri bos sudah menjadi miliknya. Sejak saat itu mereka menjadi sering berkomunikasi dan bertemu.
“Aku harus berdandan yang cantik, untuk menggoda Anton,” gumamnya.
***
Sore hari di tempat yang sudah ditentukan. Mereka bertemu membahas kerja sama lagi, sekaligus buka bersama. Selesai mengobrol masalah pekerjaan mereka mengobrol ringan saja, tentang apa yang sedang viral akhir-akhir ini.
“Pak Anton, jalan rumah kita searah, apa boleh pulang kerja bersama?” tanya Sonia.
“Boleh,” jawab Anton singkat.
Sonia berada satu mobil bersama Anton. Seperti biasa dia meluncurkan aksinya menggoda Anton. Seperti seekor kucing yang diberikan ikan Asin, Anton segera menghentikan mobilnya dan menyambar tubuh Sonia yang sexy dan mencumbunya mesra.
“Lakukan nanti di rumah saja, aku tinggal sendiri,” bisik Sonia.
“Kamu sudah menggodaku jadi kamu harus memuaskan aku,” balas Anton yang sudah tidak tahan lagi.
Sonia hanya mengangguk saja, lalu mereka sudah sampai di rumah Sonia, Anton yang sudah dipenuhi birahi itu langsung melampiaskan kepada Sonia. Mereka sangat mesra dan melakukan adegan panjang yang menyenangkan dengan panas. Sonia yang memegang kendali, sedangkan Anton hanya menikmatinya saja.
Erangan demi erangan kenikmatan keluar dari mulut mereka sahut sahutan. Hingga tibalah puncak kenikmatan mereka meledak.
“Sepertinya kamu sangat menikmati permainan ini, Anton,” ucap Sonia sembari mengelus perut bagus Anton.
“Apa istrimu juga bisa memuaskanmu seperti aku?” tanya Sonia dengan sorot mata mengejek.
Anton terlihat tidak senang Sonia membandingkan diri dengan Monica, mereka dua pribadi yang berbeda. Anton tidak akan melepaskan Monica apapun yang terjadi, Sonia hanya wanita yang ingin dia mainkan saja.
“Sonia, kamu jangan melewati batasmu!” tega Anton.
“Kenapa raut wajahmu berubah ketika aku menyebut istrimu, apa kamu tidak puas dengan pelayanan istrimu?” tanya Sonia yang kepedean.
Plak! Anton menampar Sonia yang sudah melewati batasnya, dia sangat emosi karena Sonia berani memandang rendah Monica, dia tentu saja juga bisa memuaskannya di tempat tidur. Tapi Sonia lebih lihai, Anton tidak akan memaafkan Sonia jika sampai terulang lagi dia berani membandingkan dirinya dengan Monica sang istri sah.
“Anton!” teriak Sonia sembari memegang pipinya yang sakit.
“Sudah kubilang jangan sampai melewati batasmu. Monica adalah istri sahku!” tegas Anton lalu pergi meninggalkan Sonia.
“Anton … Anton …,” teriak Sonia seraya mengejarnya.
Tapi Anton tidak peduli dia sudah terlanjur marah. Dia mengemudikan mobilnya cepat meninggalkan rumah Sonia.
“Memangnya kenapa dia adalah istri sahmu, aku adalah orang yang mengenalmu lebih dulu,” ucap Sonia.
“Aku akan membuat kamu bertekut lutut padaku lagi,” gumam Sonia.
***
Anton sudah sampai rumah, dia melihat Monica tertidur di sofa ruang tamu menunggunya pulang. Dia mengelus rambut Monica dan mengecup keningnya. Dialah wanita yang paling dia cintai dan tidak ingin kehilangannya.
“Monica, apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap mempertahankanmu,” gumam Anton. “Maafkan aku telah mengkhianatimu,” imbuhnya sembari mengelus rambut wanita yang dicintainya itu dengan tatapan lembut.
“Kamu sudah pulang, mas?” ucap Monica sambil mengucek matanya.
“Aku sudah pulang, maafkan aku yang banyak pekerjaan bulan ini, hingga membuatmu harus menungguku pulang seperti ini,” jawab Anton.
Monica mengangguk, lalu mengajak Anton ke ruang makan. Dia sudah menyediakan makanan untuknya. Anton juga sengaja tidak makan besar saat buka bersama dengan klien tadi. Jadi bisa merasakan enaknya masakan istri di rumah.
“Masakan istriku memang tiada duanya,” ucap Anton memuji Monica.
“Mas, bisa saja. Oh iya mas, kenapa tubuhmu bisa banyak keringat, seperti habis olah raga berat?” tanya Monica.
“Memangnya tadi teman bisnis mengajakmu ke tempat gym, atau ke lapangan golf?” imbuh Monica.