Malam telah jatuh sepenuhnya di atas London, membawa serta kabut tipis yang menusuk hingga ke tulang. Maria berjalan cepat menaiki tangga gedung apartemennya yang tua, merapatkan jaket hitamnya yang masih terasa lembap oleh sisa hujan. Pikirannya masih kacau; bayangan pria asing yang menciumnya secara brutal di atap perpustakaan pagi tadi terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Saat kakinya menapak di koridor lantai dua, Maria tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada pintu kayu bernomor 3.
Apartemen Nomor 3 adalah legenda bisu di gedung ini. Pintu itu telah dikunci mati selama tiga tahun terakhir karena rumor buruk yang beredar di antara para penghuni—cerita tentang kematian tragis penghuni sebelumnya yang membuat unit itu dianggap terkutuk.
Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada secercah cahaya remang-remang yang memancar dari celah bawah pintu itu, memotong kegelapan koridor yang biasanya suram.
Maria tertegun. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ada penyewa baru? Mengapa Paman pemilik gedung tidak memberi tahu?
Ia melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Saat jaraknya hanya tinggal satu meter dari pintu itu, ia mendengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang: bunyi gemerisik samar dan gesekan pelan benda berat yang diseret di atas lantai kayu.
Sret... sret...
Pikiran Maria, yang terlalu banyak dijejali buku-buku fiksi dan thriller, segera memvisualisasikan adegan mengerikan. Ia membayangkan sesosok penjahat berdarah dingin yang sedang menyeret mayat penuh darah di dalam sana. Rasa takut menyergapnya, membuat tubuhnya menggigil kaku di tempatnya berdiri.
Namun, rasa penasaran yang selama ini menjadi kelemahannya justru mengalahkan insting bertahan hidupnya.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Maria beringsut mendekat. Ia menyingkirkan rambut cokelatnya yang berantakan, lalu menempelkan telinga kanannya ke daun pintu Nomor 3.
Seketika, gemerisik itu berhenti. Hening total.
Maria membeku. Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada suara seretan tadi. Jantungnya memompa darah begitu kencang hingga telinganya hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum hebat. Ia baru saja berniat untuk menarik diri dan lari ke kamarnya, saat tiba-tiba...
Klek!
Kenop pintu Nomor 3 berputar dengan sangat cepat. Maria tersentak, mencoba melompat mundur, namun gerakannya terlalu lambat. Tubuhnya limbung ke depan tepat saat pintu itu terbuka lebar.
Sesosok pria berdiri di ambang pintu. Sosoknya tinggi jangkung, wajahnya gelap karena terhalang cahaya remang-remang dari dalam ruangan. Kontak mata terjadi selama sepersekian detik—sebuah kilatan kesadaran yang menyakitkan.
Laki-laki itu, dengan gerakan refleks yang kasar, langsung membanting pintu itu keras-keras tepat di depan wajah Maria.
BRAAAKKKK!!!
Guncangan dari pintu yang dibanting itu terasa hingga ke ubin yang dipijak Maria. Pintu kayu berat itu hampir saja menghantam hidungnya jika ia tidak cepat-cepat melompat mundur.
"Aah!" Maria berteriak, terkejut bukan main. Tas jinjing besarnya terlepas dari genggaman, jatuh berdentum di atas lantai koridor.
Maria terpaku, napasnya memburu karena marah dan takut yang bercampur aduk. Siapa orang kasar itu? Beraninya dia melakukan itu pada tetangga sendiri! Dengan tangan gemetar, Maria membungkuk mengambil kunci dan tasnya. Amarahnya kini membakar habis rasa takutnya. Ia harus memberi pelajaran pada manusia tidak sopan ini.
Maria melangkah maju, lalu menggedor pintu Nomor 3 dengan kepalan tangannya. "Hei! Apa-apaan kau?! Buka pintunya!" teriaknya dengan suara yang bergetar penuh emosi.
Hening. Tak ada jawaban.
"Aku tahu kau melihatku! Apa-apaan kau membanting pintu di depan wajah orang lain, hah?! Apa kau tidak punya sopan santun?!" Maria kembali berteriak, kali ini lebih lantang.
Beberapa detik kemudian, pintu Nomor 3 kembali terbuka. Kali ini perlahan dan hati-hati. Michael Elias Thorne berdiri di sana. Kali ini, cahaya lampu koridor menerangi wajahnya dengan jelas. Michael terlihat lelah, rambut hitamnya berantakan, dan wajahnya pucat pasi seolah ia baru saja melihat hantu.
Maria mematung. Otaknya seakan berjalan lebih lambat saat memproses wajah di hadapannya. Mata cokelat yang dalam itu... bibir yang beberapa jam lalu membungkamnya dengan kasar itu...
"KAU?!!!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi hingga bergema di seluruh koridor. "PENGUNTIT!!! Kenapa kau bisa ada di sini?!"
"Aku?! Penguntit, katamu?!" Michael membalas dengan nada jengkel yang sama tingginya.
Sebelum perdebatan berlanjut, sebuah langkah kaki heboh terdengar dari dalam apartemen. Nathaniel Alexander menyeruak keluar dengan penampilan yang membuat Maria terbelalak.
Nathaniel, tidak memakai baju—menyingkap d*da bidangnya yang berotot—hanya sebuah handuk yang melilit pinggangnya, dan sebuah tongkat bisbol di tangan kirinya.
"Mana penguntitnya?! Mana?!" Nathaniel menengok kanan dan kiri dengan ekspresi panik yang konyol.
Menyadari hanya ada Michael dan seorang wanita yang tampak sangat marah di sana, Nathaniel menoleh pada Michael dengan bingung. "Mungkinkah... kau yang dia maksud penguntitnya?"
"Aku?" Michael menunjuk dadanya sendiri, menatap Maria dengan tatapan tak percaya.
Maria bangkit berdiri sepenuhnya, wajahnya memerah padam. Ia menunjuk lurus ke hidung Michael. "Apa ada orang lain lagi di sini selain dirimu?! Tentu saja kau! Kau mengikutiku ke sini, kan?! Setelah memberiku ciuman menjijikkan di atap tadi pagi, sekarang kau menyewa apartemen di depanku?! Kau benar-benar gila!"
"Sabar, Nona. Apa pun yang terjadi, kita bisa membicarakannya baik-baik," Nathaniel mencoba menengahi, namun Maria justru menatap d**a telanjang Nathaniel dengan tatapan jijik dan memilih mengabaikannya.
"Jangan ikut campur!" semprot Maria pada Nathaniel, lalu kembali menatap Michael dengan tajam. "Katakan! Sedang apa kau di sini?!"
Michael mendesah lelah, menyandarkan bahunya di kusen pintu dengan gaya bosan yang dibuat-buat. "Apakah kau sedang mabuk? Kau menyebut 'gila' pada orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu? Dan untuk pengetahuanmu, aku berada di apartemenku sendiri. Apa urusanmu?"
Maria mendengus sinis, tawanya terdengar sumbang. "Apartemenmu sendiri?! Kebetulan macam apa itu? Jangan pikir aku sebodoh itu!"
Dengan gerakan gusar, Maria merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel merah muda, dan mulai mencari nomor telepon Paman pemilik gedung dengan jemari yang gemetar karena marah.
"Lihat saja, aku akan membuktikan kalau kalian berbohong, dan tepat saat itu juga aku akan menelepon polisi!" ancam Maria lantang saat nada sambung telepon terdengar.
Michael hanya melipat tangan, menunggu dengan tenang sementara Maria berbicara di telepon. Wajah Maria yang awalnya penuh kemenangan perlahan berubah. Matanya membelalak lebar, bibirnya mengatup rapat, dan kepalanya tertunduk saat mendengar penjelasan dari seberang telepon.
"Oh... begitu ya, Paman... Baiklah. Terima kasih." Maria menutup sambungan telepon dengan wajah yang masih memerah, namun kali ini karena amarah yang tertahan, bukan lagi karena malu.
Ia melirik Michael dan Nathaniel bergantian. Nathaniel, yang merasa canggung, tanpa sadar merangkul bahu Michael untuk mencari perlindungan dari tatapan tajam Maria.
"Jadi kau benar-benar tinggal di sini?" tanya Maria dingin, suaranya bergetar karena emosi. "Apartemen Nomor 4 adalah milikku. Seharusnya kau memberi tahu sejak awal kalau kau penyewa baru, agar tidak ada drama seperti ini!"
Michael menggerutu jengkel. "Aku sudah bilang tadi, tapi kau terlalu sibuk menjerit dan menuduhku yang bukan-bukan. Kau yang tidak mau mendengar!"
Maria mendesis gemas. "Hah? Apa katamu?! Apa kau lupa apa yang kau lakukan pagi tadi di atap?"
Maria menatap lurus ke arah Michael, lalu beralih ke Nathaniel yang masih bertelanjang d*
ada di samping Michael. Sebuah ide untuk membalas dendam muncul di kepala Maria. Jika mereka ingin bermain-main, Maria akan memberikan serangan balik.
"Apa pacarmu ini tahu, tadi kau menciumku dengan paksa di atap?" Maria bertanya dengan suara yang sengaja dipermanis namun tajam.
Nathaniel tersentak, matanya hampir keluar dari kelopaknya.
"Apa?! Pacar?!"
Maria menatap Nathaniel dengan tatapan simpati yang dibuat-buat. "Maaf ya, kalau kau tersinggung. Tapi teman laki-lakimu ini punya kebiasaan buruk mencium wanita asing di tempat umum."
Michael tertegun, lalu tiba-tiba ia tertawa pendek—tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Maria. Michael justru sengaja merangkul bahu Nathaniel lebih erat, menarik seniornya itu mendekat.
"Yah, rahasia sudah terbongkar, sayang," ujar Michael pada Nathaniel dengan nada menggoda yang sangat menjijikkan, membuat Nathaniel membeku seperti boneka kayu. Michael kemudian menatap Maria dengan seringai kemenangan. "Bagaimana? Kami serasi, kan? Hari ini tepat satu tahun kami bersama."
Maria mendengus keras, rasa jijik terpancar jelas dari wajahnya. "Menjijikkan!"
Tanpa membuang waktu lagi, Maria menyambar tasnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menuju pintu nomor 4 dengan langkah yang menghentak-hentak marah di lorong koridor. Ia membanting pintunya sendiri dengan suara yang tak kalah keras dari bantingan pintu Michael tadi.
BRAAAKKKK!!!
Keheningan kembali menyelimuti koridor, menyisakan Michael yang akhirnya melepaskan rangkulannya dan tertawa puas sampai memegangi perutnya.
"b******n KAU, MICHAEL!" Nathaniel berteriak histeris, mendorong Michael masuk ke dalam apartemen dan membanting pintu Nomor 3. "Apa yang baru saja kau katakan?! Pasangan?! Satu tahun?! Kau sudah mencoreng nama baikku di depan tetangga cantikmu!"
Michael masih tertawa sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Kenapa, Kak? Kita memang serasi, kan? Kau lihat wajahnya tadi? Dia sangat terganggu!"
"Hentikan kalimat konyolmu itu sebelum aku menendang wajahmu!" Nathaniel memaki sambil mengambil handuknya yang hampir melorot. "Dan apa-apaan dengan tuduhan ciuman itu? Kau benar-benar menciumnya di atap tadi?! Michael, apa kau gila? Apa kau bahkan mengenalnya?!"
Michael menghentikan tawanya. Ia menatap langit-langit apartemen dengan tatapan yang tiba-tiba berubah kosong. "Aku harus menghentikannya, Kak. Dia terus meronta ingin melompat. Hanya itu satu-satunya cara agar dia diam."
Nathaniel terdiam, menatap Michael dengan rasa penasaran yang besar.
"Jadi, siapa sebenarnya gadis itu? Dan kenapa... kenapa ekspresimu terlihat begitu terguncang saat melihatnya tadi?"
Michael tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan aroma Maria yang tadi sempat singgah di indranya kembali menghantui pikirannya. Takdir baru saja mengunci mereka dalam satu lantai yang sama, dan Michael tahu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
..................................