BAB 26: DASAR MESUMM!!

1270 Words
Maria masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tangannya meremas kuat-kuat gumpalan kain "aset berharga" bermotif macan itu, dengan wajah yang terasa lebih panas daripada kompor yang sedang menyala di dapur. Suara gemericik air dari dalam sana seolah mengejeknya, mengingatkannya bahwa privasinya baru saja dijebol oleh seorang pria yang kini berlagak tak berdosa. "Sialan kau, Michael Thorne!" desis Maria pelan, giginya bergeletuk. Ia segera berlari ke kamar tidurnya, melempar pakaian dalam itu ke dalam lemari dengan gerakan secepat kilat, lalu mengunci pintunya rapat-rapat seolah Michael bisa menembus dinding. Setelah memastikan napasnya kembali teratur dan rona merah di wajahnya sedikit menyurut, Maria kembali ke dapur. ​Ia mencoba menyibukkan diri dengan mengelap meja makan dan merapikan sisa bumbu kari yang masih tercecer di dekat kompor. Ia berpura-pura sangat sibuk, berharap aktivitas itu bisa membungkam bayangan Michael yang tersenyum "manis" saat mengomentari motif pakaian dalamnya tadi. ​Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. ​Maria tidak menoleh. Ia mendadak sangat tertarik pada noda kecil di atas wastafel yang ia gosok berkali-kali. Namun, aroma sabun mandi yang segar dan uap hangat yang dibawa Michael segera menyerbu dapur kecilnya. Michael melangkah mendekat, rambut hitamnya basah dan sedikit berantakan, serta kemeja hitamnya yang kini tidak dikancingkan sepenuhnya—memperlihatkan sedikit d**a bidangnya yang masih lembap. ​"Aku pulang ya," gumam Michael, berdiri di samping Maria. Walaupun berjarak beberapa meter, kehadiran dan aromanya, tetap terasa sangat dominan di ruangan sempit itu. ​"Aku sedang tidak ingin berbicara dengan orang m***m," sahut Maria tanpa sadar. Nadanya ketus, namun suaranya yang sedikit bergetar justru mengkhianati pertahanannya. ​Michael terkekeh rendah, suara tawa yang sengau namun terdengar sangat seksi di telinga Maria. "Aku tidak melihatnya, Maria. Lagipula salah sendiri kau menaruh 'benda' mencolok itu tepat di balik pintu." ​Maria akhirnya menoleh, niatnya ingin memberikan tatapan maut yang bisa membuat Michael menciut, namun ia justru tertegun. Di bawah lampu dapur yang terang, wajah Michael tampak luar biasa pucat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh senyum tipisnya. Michael terlihat seperti lilin yang hampir habis terbakar; bersinar namun rapuh. ​"Oke, istirahatlah. Kau masih pucat," perintah Maria, kali ini suaranya melunak tanpa ia sadari. ​Michael menurut tanpa bantahan. Ia berbalik menuju pintu keluar, namun tepat sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti dan bergumam pelan, cukup keras untuk didengar telinga Maria yang mendadak tajam. ​"Memangnya tidak kebesaran, ya, 36B?" ​Maria membeku di tempatnya berdiri. Serbet di tangannya nyaris terlepas ke lantai. Otaknya butuh beberapa detik untuk memproses angka yang baru saja meluncur dari bibir pria itu. 36B. Itu angka yang akurat. Terlalu akurat. "MICHAEL!!! KAU LIHAT, KAN?!!!" teriak Maria dengan suara yang melengking hingga ke langit-langit, wajahnya kini bukan lagi merah karena malu, tapi sudah mencapai taraf merah padam karena amarah yang meledak. Ia berbalik dengan gerakan kilat, siap melempar apa pun yang ada di dekatnya ke arah pria kurang ajar itu. Namun, yang ia dapati hanyalah pintu apartemennya yang baru saja tertutup dengan suara klik yang halus. Michael sudah menghilang, melarikan diri ke unit nomor tiga miliknya dengan kecepatan yang luar biasa untuk seseorang yang katanya sedang "pusing". "Kau benar-benar penjahat kelamin, Michael Thorne! Aku akan membunuhmu besok! Lihat saja!" Maria menghentakkan kakinya ke lantai, berteriak pada pintu yang membisu. Seluruh sirkuit kewarasannya benar-benar kacau malam itu. Bagaimana bisa pria itu melihat sedetail itu dalam hitungan detik? DASAR m***m!! ........................... Keesokan paginya, London masih diselimuti mendung tipis. Maria keluar dari apartemennya dengan raut wajah yang sengaja dibuat sekeras batu. Ia sudah menyiapkan mental untuk mengabaikan Michael sepenuhnya hari ini. Benar saja, tepat di samping koridor, Michael sudah berdiri bersandar di dinding. Pria itu tampak jauh lebih segar dibanding semalam, mengenakan turtleneck hitam dan mantel gelap yang membuatnya terlihat seperti model majalah kelas atas yang sedang tersesat di apartemen sederhana. Maria melengos. Ia tidak menyapa, bahkan tidak melirik. Ia berjalan lurus menuju tangga dengan langkah-langkah yang dihentakkan, memberikan aura "jangan-dekati-aku" yang sangat kental. "Selamat pagi, Maria," suara bariton Michael yang rendah menyapa indra pendengaran Maria, tenang seolah ia tidak baru saja melecehkan harga diri Maria semalam. Maria terus melangkah tanpa menjawab. "Wajahmu terlihat sangat tegang pagi ini. Apa motif macan semalam terbawa sampai ke mimpi?" goda Michael, kini sudah menyamai langkah Maria yang cepat. Maria berhenti mendadak, menoleh dengan tatapan yang ingin menusuk jantung Michael. "Gunakan mulutmu untuk hal lain yang berguna, Michael. Jangan pernah bicara denganku lagi." "Baiklah, maaf, maaf, aku akan berhenti. Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu ke perpustakaan," ujar Michael sambil menunjukkan kunci mobil di jemarinya. "Tidak perlu. Aku bisa naik halte. Kakiku masih berfungsi dengan baik," sahut Maria ketus, lalu kembali berbalik untuk pergi. Namun, baru dua langkah Maria bergerak, sebuah tangan besar yang hangat menangkap pergelangan tangannya. Sentakan itu tidak kasar, namun sangat tegas, memaksa Maria untuk kembali berputar menghadap d**a bidang pria itu. "Lepaskan, Michael!" Maria mencoba menarik tangannya, namun genggaman Michael justru mengerat, mengunci Maria dalam gravitasinya. "Sayangnya aku tidak suka penolakan, Maria," bisik Michael. Ia mendekatkan wajahnya, menatap mata Maria dengan intensitas yang membuat napas wanita itu mendadak tercekik. "Kau terlihat pucat, sekarang. Dan aku tidak akan membiarkanmu berdesakan di halte dalam kondisi seperti itu. Ikut aku, atau aku harus menggendongmu sampai ke tempat parkir? Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Maria menatap mata cokelat gelap itu. Ada kekhawatiran yang tulus di balik dominasinya yang menyebalkan. Perlahan, perlawanan Maria meluruh. Ia mendengus kesal, namun akhirnya membiarkan Michael menuntunnya menuju tangga, tanpa melepaskan pegangan di pergelangan tangannya. Perjalanan menuju perpustakaan The Blackwood Library diiringi keheningan yang sarat akan tensi. Michael mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama musik jazz lembut. Begitu sedan hitam itu berhenti tepat di depan gedung perpustakaan, Maria segera bersiap untuk keluar. Ia tidak ingin berlama-lama di dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma cedarwood Michael yang memabukkan itu. "Maria, tunggu sejenak," cegat Michael sebelum Maria sempat membuka pintu. Maria menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Apalagi? Mau membahas ukuran pakaian dalamku lagi? Kau ingin sekali aku tampar, ya, Michael?" Michael tersenyum tipis—kali ini senyum yang tulus, bukan seringai nakal. "Nanti malam, bersiaplah. Aku akan menjemputmu jam tujuh." "Ke mana?" "Makan malam di luar. Anggap saja sebagai penebusan dosa atas... pengamatanku yang terlalu teliti semalam," ujar Michael dengan nada yang sedikit menggoda di bagian akhir. "Aku yang traktir. Jangan membantah." Maria hendak mengeluarkan seribu satu alasan untuk menolak, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan saat Michael tiba-tiba menjulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan tidak terduga, Michael mengelus puncak kepala Maria, merapikan beberapa helai rambut yang berantakan dengan jemarinya yang panjang. Sentuhan itu terasa begitu hangat, begitu protektif, hingga membuat jantung Maria melakukan salto di dalam dadanya. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang ditenangkan, sekaligus seperti seorang wanita yang sedang dipuja. "Bekerjalah dengan baik hari ini. Jangan terlalu banyak melamunkan aku," bisik Michael parau, suaranya kini terdengar sangat rendah dan menggairahkan. Maria tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia hanya bisa mengerjapkan mata beberapa kali, menatap Michael yang kini menatapnya dengan pandangan yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, Maria segera keluar dari mobil dengan langkah yang goyah, wajahnya kembali memanas bukan karena marah, tapi karena debaran jantung yang tak terkendali. Di balik kemudi, Michael menatap punggung Maria yang menjauh dengan tatapan yang perlahan meredup. Ia menghela napas panjang, lalu menyentuh pelipisnya yang mulai kembali berdenyut sakit. "Aku benar-benar sudah gila," bisiknya pada diri sendiri. Ia tahu, lagi-lagi ia telah melewati batas kewajaran hubungan mereka yang seharusnya, antara korban dan pelaku. Ia tahu ia sedang menggali kuburannya sendiri dengan semakin mencintai wanita itu, namun untuk saat ini, Michael memilih untuk buta pada ancaman apa pun yang kian mendekat. .......................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD