BAB 39: Titik Balik Perasaan

1588 Words
Malam di London turun dengan sisa-sisa kelembapan pasca hujan yang tak juga kunjung kering. Koridor lantai dua apartemen itu kini kembali sunyi, namun kesunyiannya terasa jauh lebih pekat, seolah-olah duka sedang merangkak di sepanjang dindingnya. Michael Elias Thorne menginjakkan kaki di undakan tangga teratas dengan raga yang seolah-olah hanya disatukan oleh sisa-sisa ego yang nyaris habis. Langkahnya menyeret, tangannya mencengkeram dinding koridor untuk menjaga agar dunianya yang miring tidak benar-benar terbalik. Kemeja hitamnya kusut, bercak darah kering menghiasi punggung tangannya—jejak dari selang infus yang ia cabut paksa di rumah sakit tadi. Wajahnya yang sepucat pualam tampak semakin mengerikan dengan memar keunguan di rahang kiri dan sudut bibir yang pecah akibat tinju Nathaniel. Michael merasa seperti nisan berjalan, membawa bebannya sendiri menuju liang lahat yang ia sebut sebagai rumah. Michael akhirnya sampai di depan pintu Unit Nomor Tiga. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, ia merogoh saku mantelnya, mencari kunci. Namun, koordinasi tubuhnya seolah-olah telah mengkhianatinya. Kunci itu terjatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan logam yang memilukan. Klang! Michael mengumpat lirih, suaranya pecah. Ia membungkuk, mencoba memungutnya, namun jemarinya hanya mengais lantai tanpa hasil. Dunianya berputar hebat. Ia jatuh bertumpu pada satu lutut, napasnya tersengal-sengal, sementara pelipisnya berdenyut seolah ingin meledak. Di saat itulah, pintu Unit Nomor Empat di seberangnya terbuka perlahan. Maria Vance Christie berdiri di sana. "Michael..." bisik Maria, suaranya sarat akan luka. "Pergi. Jangan katakan apapun. Jangan pedulikan aku!" bentak Michael tiba-tiba, suaranya menggelegar namun bergetar hebat. Ia mendongak, matanya merah karena emosi yang meluap. "Itu yang aku tidak inginkan Maria. Tatapanmu itu... Jangan menatapku dengan tatapan kasihan itu! Aku tidak butuh!" "Aku bukan mengasihanimu, Mike! Aku mengkhawatirkanmu!" Maria maju, tidak memedulikan gertakan Michael. "Pergi, Maria! Lihat dengan matamu, betapa menyedihkannya aku!" Michael berteriak, air mata keputusasaan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia memukul lantai koridor dengan kepalan tangan yang lemah. "Aku bahkan tidak bisa membuka pintu rumahku sendiri! Apa ini yang begitu ingin kau saksikan, dari dekat?!" Ledakan emosi itu meruntuhkan segalanya. Maria tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berlutut di depan Michael, mengabaikan setiap kata kasar pria itu, dan langsung memeluk leher Michael dengan erat. "Cukup, Michael... Cukup," bisik Maria di sela tangisnya. Michael terdiam. Tubuhnya yang tadi tegang karena amarah mendadak lemas di dalam dekapan Maria. Ia menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Maria tidak menunggu izin. Ia membungkuk, memungut kunci Michael, namun alih-alih membuka pintu Unit Nomor Tiga, Maria justru meraih lengan Michael dan menyampirkannya ke bahunya. "Apa yang kau lakukan..." Michael mencoba protes, namun kekuatannya sudah benar-benar nol. Ia hanya bisa pasrah saat Maria menuntunnya masuk, bukan ke dalam apartemennya yang dingin, melainkan ke dalam Unit Nomor Empat yang hangat. Ruangan itu masih berbau vanila yang selama hampir dua tahun ini menjadi rumah kedua bagi Michael. Maria mendudukkan Michael di sofa ruang tengah, lalu ia ikut duduk di sampingnya. Perlahan, Maria menarik kepala Michael dengan lembut agar bersandar di pangkuannya. Awalnya Michael menegang, namun saat jemari Maria mulai menyisir rambutnya dengan gerakan ritmis yang menenangkan, ia akhirnya mulai memejamkan mata. Napasnya mulai terdengar teratur, meski sesekali ia masih sedikit merintih dalam tidurnya akibat nyeri di kepalanya. Malam itu, di atas sofa itu, Michael menyerah. Rasa sakit di kepalanya seolah sedang melakukan gencatan senjata sementara, meninggalkannya dalam kondisi lemas yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Michael tertidur di pangkuan Maria. Bukan tidur karena pingsan atau pengaruh obat, melainkan tidur karena rasa aman yang selama ini diam-diam ia mimpikan. ................... Fajar mulai menyelinap dari sela gorden, menyinari kamar Maria dengan warna jingga kebiruan yang lembut. Michael terbangun dengan napas yang lebih ringan. Rasa sakit di kepalanya seolah memberikan jeda singkat, membuatnya merasa lebih "segar" dari biasanya. Namun, saat matanya menangkap interior yang asing—ruang tengah Maria—rasa mual akibat penyesalan langsung menyerang dadanya. Apa yang kulakukan semalam? batinnya tajam. Ia merasa telanjang. Ia telah menunjukkan sisi paling menjijikkan dari penyakitnya pada Maria. Ia telah membiarkan dirinya dituntun seperti orang cacat. Michael bangkit dengan cepat, menyambar jaketnya yang tergeletak di kursi. Ia harus pergi. Ia harus kembali ke Unit Nomor Tiga, sebelum Maria bangun dan melihatnya sebagai beban. Baru saja Michael hendak bangkit dan melangkah menuju pintu, sepasang lengan hangat melingkar kuat di pinggangnya dari belakang. Maria memeluknya, menyandarkan pipinya di punggung Michael yang bidang namun kaku. "Kau mau kabur lagi?" bisik Maria parau karena baru bangun tidur. Michael mematung. "Lepas, Maria. Aku tidak seharusnya ada di sini. Semalam... itu hanya kesalahan." "Bagi kau mungkin kesalahan, tapi bagiku itu adalah saat kau paling jujur," Maria tidak melepaskannya. Ia justru mengeratkan pelukannya. Maria kemudian melepaskan pelukannya, berputar ke depan Michael, dan menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya. Matanya yang sembab menatap Michael dengan penuh kerinduan. Maria berjinjit, mencoba mendaratkan kecupan di bibir Michael untuk menghapus segala kepahitan semalam. Namun, Michael dengan cepat memalingkan wajahnya. Kecupan itu hanya mendarat di pipinya yang kasar. Ia menepis tangan Maria dari wajahnya dengan gerakan yang kaku. "Jangan lakukan ini, Maria," desis Michael menatap mata Maria yang mulai digenangi air mata, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Maria. "Aku ini pria sekarat. Kau hanya akan mendapatkan luka jika terus bermain api denganku." “Kalau begitu biarkan aku terbakar, Mike. Aku mohon jangan pungkiri lagi. Kau juga merasakan itu, kan?” tanyanya lagi. Kini isakan mulai keluar dari mulut Maria. “Jantungmu juga berdetak lebih cepat jika berada di dekatku, kan? Kau juga bahagia bersamaku, kan?” “Berhenti mengatakan sesuatu yang manis-manis,” sambar Michael geram dengan suara serak terbata. Kesedihan berat membayang di sepasang matanya. “Mike.. Sebelum bertemu denganmu.. Aku sudah mengalami begitu banyak kehilangan. Waktu itu aku hancur. Lelah dengan semua rasa kehilangan yang terus aku rasakan. Bahkan, aku sempat terpikirkan untuk bunuh diri, saat akhirnya kau menyelamatkanku.” Maria mengelap hidungnya yang sudah berair, sementara Michael hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. “Tapi kemudian kau datang. Kau mungkin tidak tahu, tapi saat itu, kaulah yang menjadi sumber kekuatanku untuk hidup. Kau banyak memberi semangat dan kebahagiaan untukku. Memang benar aku sempat takut untuk kehilangan lagi, tapi aku sudah bertekad Mike, aku tidak akan ragu lagi.” lanjut Maria lagi. Michael menatapnya tanpa berkedip. “Perasaanmu itu pasti akan segera berubah,” ujar Michael gemetar. “Memangnya kau bisa melihat masa depan?” tanya Maria sambil tersenyum, membuat mata Michael melebar. “Jadi, kenapa kita tidak jalani dulu?” tambahnya dengan suara lirih. Namun sarat dengan pengertian. Michael mulai menitikkan air mata. Banyak yang ingin disampaikan, tetapi Michael tidak berhasil menemukan kata yang sanggup mewakilkan. Akhirnya dia memilih bungkam. Gantinya, dia menatap Maria dengan keseluruhan kata yang tidak terucap itu. Jalan panjang yang telah ditempuhnya sampai saat ini. Keputusasaan yang dia tutupi dari mata semua orang. Kesepian yang kerap menaklukan tanpa belas kasihan. Membuat Michael ingin sekali merengkuh gadis di depannya ini, yang terus berusaha menggoyahkannya. Tapi... Semua dosa masa lalunya, dan sel-sel kanker yang menggerogoti seolah menjadi kesadaran terakhirnya. Setitik air matanya kembali menetes. Maria maju, menyeka air mata itu dengan jemarinya dan memegang lembut pipinya. Michael kini tidak menghindar. “Waktuku tidak banyak,” gumam Michael akhirnya dengan bibir bergetar, membuat Maria tersenyum lagi. “Jadi, ayo kita gunakan waktu itu sebaik-baiknya,” jawab Maria membuat setitik lagi air mata jatuh dari mata Michael. “Kalau waktumu memang tidak banyak, ayo kita buat kenangan sebanyak-banyaknya dalam waktu itu.” Maria mengelus rambut Michael. “Walau kenyataannya aku berharap bisa selamanya bersamamu.” Michael menatap Maria dalam-dalam, mencari kebenaran dalam matanya. "Aku mungkin hanya akan menyakitimu. Dan jika kau melakukan ini karena kasihan, aku mungkin tidak akan melepaskanmu ketika nanti kau ingin pergi." Maria menatap mata cokelat gelap Michael yang penuh air mata dan memantulkan cahaya temaram lampu ruangan. "Kalau begitu jangan lepaskan... Biarkan aku yang di sisimu sekuat yang aku bisa. Jangan dorong aku pergi. Karena aku yakin, aku tidak akan pergi." Ketika ia lihat Michael menunduk dengan mata bergetar, Maria langsung menarik tengkuk Michael lagi dalam gerakan cepat, berusaha membungkam bibir pria itu dengan ciuman yang sarat akan kerinduan. Michael tersentak, namun dengan semua kalimat manis Maria yang mulai meracuni otaknya, hanya butuh satu detik bagi insting lelakinya untuk mengambil alih. Ia membalas ciuman itu, menyesap setiap inci bibir Maria seolah ia sedang mencuri oksigen untuk bertahan hidup. Ciuman ini terasa seperti sebuah doa—sebuah permohonan ampun sekaligus pernyataan kepemilikan. Maria menyalurkan seluruh kerinduan yang ia miliki, tangannya merayap masuk ke sela-sela rambut Michael, menariknya agar tidak pernah ada jarak di antara mereka. Dengan satu gerakan yang masih terasa kuat, Michael mengangkat tubuh Maria, membawanya kembali menuju sofa yang luas itu. Gairah yang membara di antara mereka kali ini terasa lebih "dalam". Ini bukan lagi tentang pelampiasan nafsu semata, melainkan tentang keinginan putus asa untuk saling memiliki secara utuh sebelum waktu benar-benar habis. Dalam remang cahaya lampu kota yang menyelinap dari celah gorden, Michael menatap Maria dengan tatapan yang begitu memuja. "Kau tahu... aku belum pernah membiarkan siapa pun melihatku sehancur ini," bisiknya di depan bibir Maria. "Aku tidak melihat kehancuran, Michael," sahut Maria, jemarinya mengusap rahang tegas pria itu yang kini melunak. "Aku hanya melihat pria yang kucintai." Michael tertegun. Kata "cinta" itu akhirnya keluar, menggantung di udara seperti melodi yang indah sekaligus menyakitkan. Michael tidak membalas dengan kata-kata yang sama, namun ia menjawabnya dengan tindakan. Michael mencium Maria kembali—sebuah ciuman yang lebih dalam, lebih menggairahkan, seolah ia ingin menyatukan seluruh sel tubuhnya dengan wanita itu agar ia bisa membawa memori ini hingga ke liang lahat. Pagi itu, hanya ada kejujuran yang menyelimuti apartemen nomor empat itu. ....................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD