Author’s POV. Dinda dan pria tampan itu menikmati hidangan yang sudah mereka pesan. Obrolan-obrolan kecil masih terus bergulir dari mulu mereka. Membahas tentang masa lalu dan juga tentang keceriaan saat mereka masih sekolah menengah atas. Kenangan-kenangan masa indah saat mereka masih bersekolah, satu per satu muncu dalam percakapan mereka. “Eh, ingat enggak, dulu waktu pelajaran olah raga. Kamu tuh sering pingsan!” Dinda meletakkan sendok yang dia pegang.kemudian tangannya meraih gelas, dan mulai meneguk minumannya beberapa kali. Setelah minuman itu dia telan dengan sempurna. Barulah dia menanggapi ucapan dari temannya itu—Pras. “Eh, itu bukan sering. Kadang-kadang!” Dinda tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Pras. Pasalnya, dia memang tidak sesering itu pingsan. Tapi,

