Yuda seolah telah melupakan kejadian siang kemarin yang dia alami. Dia tampak antusias membuka pintu rumah itu. Fika berdiri mematung, sekelebat ingatan masa lalunya bermunculan di hadapannya. Tentang Usman yang sering kali menggodanya ketika sedang merajuk, saat ayahnya membuatkan ketapel agar dia memilikinya seperti teman yang lain, tentang tawa lepas saat dia memenangkan lomba menari antar desa. Yuda menepuk lembut pundak istrinya, mengajak untuk masuk ke dalam rumah. Semuanya masih sama bagi Fika. Hanya saja tawa bahagia masa kecilnya itu tidak akan lagi ada.
“Mas udah pilih kamar untuk kita. Ayo.” Satu tangan Yuda menarik koper dan satu tangannya lagi untuk menggandeng tangan Fika, membawanya menaiki anak tangga menuju lantai dua.
“Bagaimana?” Mereka berdiri di depan pintu bercat cokelat tua.
“Ini memang kamarku dulu, Mas.”
“Pertama kali memasuki lantai dua Mas begitu yakin jika ruangan ini adalah kamarmu. Ternyata benar.”
“Heem.”
Yuda membuka pintu dan mengajak Fika untuk masuk ke kamar. Aroma lavender langsung tercium, aroma yang sama dengan saat pertama kali mereka memasuki rumah. Aroma kesukaan Fika yang sejak dua tahun lalu menjadi kesukaan Yuda juga. Fika segera merebahkan tubuh di atas ranjang membiarkan Yuda yang masih bergeming menatap isi kamar. Membentangkan kedua tangannya, seolah sayanp burung yang dikepakkan sejajar. Dia menoleh senang di samping kanannya, Yuda merebahkan tubuh lelahnya lebih tinggi dari Fika. “Kamu benar, Mas. enggak ada yang perlu dicemaskan. Aku kembali bisa merasakan tidur di kamar sendiri.” Yuda merengkuh tubuh Fika, memintanya untuk ikut tenggelam dalam buaian mimpi.
LANGKAHNYA begitu berat menuruni anak tangga. Baru saja beberapa menit dia beristirahat suara ketukan pintu membuatnya untuk segara terjaga. Seorang pria paruh baya berpenampilan dengan kopiah dan sarung. Tidak lupa brewok yang menghiasi wajahnya. Fika tampak ragu membalas senyum pria yang seusia dengan ayahnya.
“Saya Pak Darman, Mbak. Yang minggu lalu dihubungi ibu untuk bantu carikan tukang bangunan.” Fika mengangguk, mempersilakan Darman untuk masuk. Dia membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar agar terlihat oleh orang yang lewat jika rumahnya sedang kedatangan tamu.
“Terima kasih Bapak sudah mau membantu.” Ucapan Fika mengembalikan fokus Darman yang sejak pertama memasuki rumah terlihat menatap waswas.
“Itu bukan apa, selama dua lima belas tahun terakhir saya yang menggantikan mendiang bapak saya menjaga rumah Pak Usman. Beliau orang yang sangat baik hati.”
Fika membenarkan. Kakeknya adalah pria baik hati tanpa memandang status, hal itu tersimpan apik di dalam memorinya. “Sepertinya Mbak Fika sudah lupa siapa saya makanya tadi kaget waktu buka pintu.” Darman mengusap-ucap brewoknya yang agak panjang, dikucir dengan karet gelang—karet yang biasa untuk mengikat kertas, contohnya. “Pak Guru ada, Mbak?” tanya Darman hati-hati.
“Dia sedang istirahat, Pak. Adakah keperluan yang hendak disampaikan? Akan saya bangunkan.”
“Anu ... anu, saya cuma mau menyampaikan untuk Mbak Fika dan Pak Guru semoga betah tinggal di sini. Jika ada apa-apa kalian bisa hubungi saya saja, bagaimanapun saya adalah kepercayaan orang tua Mbak untuk menjaga rumah ini.” Selama berucap, mata sipitnya itu tidak hentinya menelisik setiap sudut rumah, seolah ada sesuatu yang sedang menganggunya.
“Semoga, Pak. Ada lagi yang mau disampaikan, Pak?” Darman meneguk kasar salivanya. Pertanyaan dari Fika seakan adalah ketidaknyamanan akan kehadirannya. walau sebenarnya Fika sendiri terlihat tenang tidak merasa keberatan dengan kedatangan tamu menjelang sore harinya.
“Tidak ada, Mbak. Kalau begitu saya pamit pulang.” Darman segera ngacir bahkan terdengar suara pintu gerbang yang seolah terbanting keras. Wanita itu menggeleng, menyayangkan sikap kekanak-kanakan Darman. Baru saja Fika hendak berdiri untuk menutup pintu rumahnya, pintu tersebut sudah tertutup dengan sendirinya. Perasaan wanita itu tidak karuan karena kejadian tiba-tiba tersebut. tidak mungkin sebab angin, sedangkan dia saja tidak merasakan agin kencang mengenai dirinya. Ditambah suhu ruangan yang berubah drastis. Fika merasakan panas, bahkan peluhnya bercucuran padahal pendingin ruangan masih nyala.
“Siapa?” Fika memberanikan diri untuk bertanya dalam ketakutan yang dia rasakan. Sunyi. Bau anyir mendadak menyeruak memaksa masuk menerobos ke dalam indra penciumannya. Dia merasa heran dengan bau itu, seperti darah.
“Mas ....” Wanita berkerudung pasmina simpel itu memanggil suaminya dengan suara seperti suara bisikan. Entah ke mana perginya teriakan yang akan dia suarakan. Setetes darah kental jatuh mengenai keningnya yang mengalir ke pipinya. Fika menjerit mendadak lemas saat tangan yang dia gunakan untuk mengelap wajahnya itu dilumuri darah. Bukan hanya sekali, tetesan darah itu hampir beberapa kali jatuh mengenai wajahnya. Sekarang wajah Fika berlumuran darah. Takut-takut dia mendongak ke atas untuk melihat siapa yang telah sengaja menakutinya dengan darah. Nihil ... tidak ada yang menyebabkan darah itu bisa jatuh.
“Mas ....” Kini suaranya bahkan tidak terdengar sama sekali, peluhnya bercucuran membasahi tubuhnya. Panggilan itu hanya berasal dari dalam hatinya. Kakinya bahkan begitu berat untuk digerakkan. “Mas, tolong,” monolognya dalam hati. Seakan belum cukup hanya dengan anyir dan darah, sekarang tiba-tiba saja lampu menjadi hidup-mati dengan cepat. Keadaan makin membuat Fika ketakutan. Dia berusaha mengerakkan kakinya dan berteriak agar Yuda dapat mendengar suaranya. Namun, karena bau anyir dari darah yang makin memaksa menerobos masuk ke dalam lubang hidungnya itu Fika menjadi mual, pusing. Pandangannya makin menggelap.
PINTU kamar yang terbuka dan ketiadaan Fika di sampingnya membuat Yuda berpikiran jika saat ini istrinya itu sedang berada di dapur. Membuat masakan untuk santap mereka berdua. Dia yang rindu untuk jahil segera bangun dan santai menuruni anak tangga. Langkahnya langsung tertuju ke dapur yang berada tepat di belakang tangga. Tidak ada Fika membuat Yuda cemas. Dalam kepanikan mencari keberadaan istrinya, ekor matanya melihat tubuh kaku istrinya tergeletak begitu di atas lantai yang dingin.
“Sayang ... kamu kenapa? Bangunlah.” Yuda memangku kepala Fika di pahanya. Dia menepuk-nepuk pelan pipi istrinya begantian, tetapi tidak ada reaksi apa pun. Tanpa berpikir lama, Yuda menggendong istrinya dan membawanya ke dalam kamar.
Dia mendekatkan lubang kecil botol minyak angin di dekat lubang hifung Fika, agar dia dapat merasakan aromanya dan segera sadar. Beberapa tetes minyak angin juga dia oleskan di pelipis dan kening Fika, tangan dingin Fika pun tak luput dari minyak angin. “Bangunlah Fika, jangan buat Mas cemas.” Terlihat kernyitan di kening istrinya, perlahan kelopak matanya membuka. Fika beringsut menjauh dari Yuda yang menatapnya khawatir. “Kamu kenapa? Ini, Mas.”
“Mas Yuda ...,” cicitnya. Bibirnya tampak pucat, Yuda segera memeluknya. “Aku kenapa?”
“Kamu pingsan. Ingat?” Fika terdiam, menatap lekat manik mata berwarna hitam milik Yuda. Warna mata yang berhasil membuat Fika terpesona dan jatuh cinta. Kembali teringat dengan apa yang terjadi, Fika memeluk Yuda. Namun, baru saja Yuda hendak membalas pelukan istrinya dengan memberikan kekuatan lewat usapan lembut di punggungnya, Fika melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Yuda untuk menjauh.
“Aku ngantuk, pergilah.” Fika menarik selimutnya dan tidur dengan membelakangi Yuda, membuat pria itu kebingungan.