Tertangkap Basah

1210 Words
Pagi ini Azel mendapat hadiah yang luar biasa dari Yudistira. Muka sewot saat mengantarnya ke sekolah. Tidak ada pembicaraan apapun sealam perjalanan ke sekolah. Membuat Azel sesekali memandang kakaknya yang tampak sibuk dengan kemudinya. Azel tahu apa yang membuat kakaknya marah karena Yudistira selalu seperti itu setiap kali Azel kedatangan teman lelaki. Arga bukan teman pertamanya yang datang, bahkan meskipun karena tugas kelompok tapi tetap saja tidak ada alasan apapun bagi teman cowoknya diperbolehkan main dengan tangan terbuka. “Bahkan sama Archie juga begitu,” gumam Azel sambil membuang muka keluar jendela. Kepada Archie, Yudistira melonggarkan peraturan. Azel tahu karena bagi Yudistira Archie bukanlah lelaki sejati. Lagipula Archie masih seorang tetangga dan maminya adalah teman arisan tante mereka. “Turunin aku di depan gerbang aja, Kak,” kata Azel sambil menunjuk pintu gerbang. Karena Yudistira, mereka membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Yudistira kesiangan mengantarnya dan mereka harus mengantri cukup panjang jika harus turun tepat di depan pintu lobi sekolah. “Aku ada perlu dengan kepala sekolah. Kamu turun di tempat biasanya,” ujar Yudistira. Azalea mengerutkan kening, ingin sekali meledak tapi ia takut kalau kakaknya semakin marah. Azel belum pernah sekesal ini kepada kakaknya, tapi untuk berkata dengan lantang pun Azel belum punya nyali sebesar itu. Yang bisa dilakukan Azel hanyalah mengembuskan napas berat ke udara sambil berharap cepat sampai lobi dan segera menjauh dari kakaknya yang sedang tidak asyik. Begitu tiba di lobi, tak lama setelah turun ternyata Yudistira berjalan di belakangnya. Mengikuti langkahnya hingga naik tangga. Beberapa gadis di sekolahnya tampak terpesona dengan kehadiran Yudistira. Dalam hati Azel mencibir mereka yang tidak tahu betapa tidak menyenangkan punya saudara yang over protektif sepertinya. Ruang kepala sekolah ada di lantai dasar dekat dengan tangga, sementara kelasnya ada di lantai dua. Azelia terus berjalan dengan kikuk dan tidak berani menoleh karena ia tak ingin siapapun di sekolah ini tahu kalau ia adalah adik dari Yudistira, cowok yang sangat berprestasi yang sampai sekarang masih di elu – elukan oleh kepala sekolah dan beberapa guru. “Zel, bagikan lembar questioner ini.” Tiba – tiba Arga menghadang jalannya. Membuat Azel terkejut lalu spontan melihat ke belakang. Azel tak mau kakaknya semakin keras gara – gara Arga menghentikan langkahnya.  Jadi dia segera berlari sambil menarik tangan Arga, menjauh dari Yudistira meskipun ia sendiri tak yakin apakah kakaknya masih di belakangnya atau sudah berada di ruang kepala sekolah. “Apa yang kamu lakukan?” sergah Arga sambil menarik tangannya dari genggaman Azel. Azel mengajak Arga masuk ke kelas 10 C, kelas yang paling dekat dengan tangga padahal mereka adalah anak 10A. Menyadari keteledorannya, Azel berdehem lalu memandang lembar questioner. Memandang ke kelas yang sudah hampir lengkap, Azel meminta Arga untuk mulai membagikan questioner. “Kamu yang ngomong ya?” pinta Azel, karena ia tidak cukup percaya diri untuk berbicara di depan kelas. “Kenapa bukan kamu?” tanya Arga, sambil mengembuskan napas berat. Azel kembali memandang ke sekeliling kelas lalu meringis sambil menggelengkan kepala. Berharap kalau Arga paham apa maksudnya. Arga memandang jam dinding yang ada di belakang kelas, sepuluh menit lagi pelajaran akan dimulai. Jadi dia tidak membuang waktu. Menggedor papan tulis lalu berbicara di depan anak – anak yang perhatiannya tertuju pada mereka berdua. “Kami dari kelas 10 A, mendapat tugas membuat penelitian. Kalian pasti tahu tugas itu. Kami hanya ingin kalian mengisi lembar questioner ini dengan cepat. Saya tunggu lima menit setelah lembar questioner dibagikan,” ujar Arga, tanpa salam dan tanpa basa basi. Sebagian murid lelaki mengeluh, tapi kebanyakan murid perempuan terpesona dengan ketampanan Arga. Tidak ada satu pun murid sekolah ini yang tidak tahu siapa Arga. Satu – satunya murid yang berani menyetir mobilnya sendiri. Anak dari seorang pengusaha kaya raya dan cukup disegani. Arga meminta Azel untuk mulai membagikan lembar questionernya. Gadis yang merasa tak nyaman dengan situasi ini pun segera membagi lembar questioner tersebut. Semua berlangsung singkat dan semua lembar questioner kembali ke tangan Azel lima menit kemudian, sesuai dengan permintaan Arga. Keluar dari kelas 10 C, Arga mengajak Azel untuk masuk ke kelas 10 B meskipun sebenarnya  bel sudah berbunyi. Anak – anak 10 C masih mengisi lembar questioner saat guru pelajaran masuk kelas. Arga segera memberitahu guru tersebut serta meminta waktu lima menit untuk menyelesaikan pekerjaannya. “OK, thanks guys,” kata Arga setelah Azel menerima semua lembar questioner yang telah diisi oleh seluruh murid kelas 10 B. Setelah mengucapkan terimakasih kepada sang guru, Azel dan Arga masuk ke kelas mereka. Azel berjalan di belakang Arga, sambil berusaha untuk tidak tersenyum karena paginya yang buruk seketika membaik karena Arga. Masuk ke kelas, kedatangan Azel dan Arga menjadi pusat perhatian Sherly. Saat Azel berlari sambil menggenggam tangan Arga, kebetulan Sherly dan dua temannya berada di depan kelas. Melihat bagaimana Arga bersedia berlari bersama gadis yang ia anggap cupu itu. Hati Sherly panas karena sikap Arga kepada Azel tidak seburuk kepadanya. Bahkan Arga bersedia belajar kelompok dengan mereka setelah menolak ajakannya untuk menjadi satu kelompok. Arga berjalan melewati Sherly begitu saja, lalu melempar tas di atas meja dan duduk sambil menyandarkan punggungnya. Sementara saat Azel hendak melewatinya, dengan sengaja ia menjulurkan kaki hingga akhirnya Azel jatuh setelah kakinya tersandung kaki Sherly. Secara spontan ia menggenggam erat kertas – kertas yang ada di gendongannya agar tidak terjatuh. Hal itu membuat satu lututnya mendarat ke lantai dengan sangat keras. Suasana berubah menjadi begitu ramai karena kejadian itu. Sherly dan Sebagian murid menertawakan Azel, sementara Arga yang baru saja memutar badan segera membantu Azel berdiri. “Kamu tidak apa – apa?” tanya Arga kepada Azel. Azel tidak sedang baik – baik saja, tapi ia berusaha untuk segera berdiri. Namun hal itu sangat sulit karena lututnya terasa perih. Jatuhnya begitu keras hingga lututnya berdarah, hanya saja Azel berusaha untuk mengenyahkan perasaan itu karena tak ingin jadi bahan tertawaan lebih lama. Archie dan Quindy baru saja masuk kelas saat Azel berdiri dibantu Arga. Terkejut dengan keadaan Azel dan belum tahu apa yang sedang terjadi, membuat keduanya segera berlari mendekatinya. “Kamu kenapa, Zel?” tanya Archie sambil melihat kondisi Azel. “Aku tidak apa – apa. Ini lembar questionernya, tinggal kelas kita yang belum ngisi,” kata Azel sambil menyerahkan tumpukan kertas yang agak lecek karena digenggam erat. “Kamu harus ke UKS. Aku akan mengantarmu,” kata Arga tanpa menunggu jawaban, ia merangkul bahu Azel dan mengajaknya ke UKS. Seketika jantung Azel berdegup sangat kencang. Bukan karena kakinya yang terluka dan sakit tapi karena Arga yang terlalu dekat dengannya. Bahkan aroma parfum cowok itu tercium olehnya. Wajahnya jadi merah padam, badannya jadi panas dingin. Dengan kaki sedikit pincang, Azel menuruni anak tangga dibantu Arga yang masih merangkul pundaknya, memapahnya dengan hati – hati. UKS ada di belakang gedung, memiliki tempat sendiri seperti layaknya sebuah klinik lengkap dengan beberapa ranjang yang digunakan para murid yang sedang sakit. Juga ada dokter serta perawat yang siap mengobati murid – murid yang sedang sakit. Dulu Azel tidak suka dengan letak UKS yang terlalu jauh dari gedung sekolah, tapi sekarang Azel bersyukur karena UKS berada di belakang gedung sekolah sehingga ia bisa berlama – lama dengan Arga. “Azel,” seru Yudistira, membuat jantung Azel seakan berhenti berdegup. Dengan tubuh sekaku mayat, Azel memutar badan secara perlahan. Sang kakak yang kini berdiri di depan ruang kepala sekolah, memandangnya seperti hendak menelannya hidup – hidup.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD