Bukan tanpa alasan Azel yang biasanya memilih diam tiba – tiba menjadi sedikit lebih galak. Suasana hatinya memburuk karena kakaknya yang over protektif dan berlebihan. Bagaimana tidak, Azel dan Arga tidak ada hubungan khusus dan kakaknya bersikap seakan Arga dan dirinya sudah resmi pacaran.
Azel hanyalah remaja biasa yang ingin memiliki hubungan khusus dengan lelaki. Arga adalah cowok yang membuat jantungnya berdebar tak jelas, bukankah itu yang dinamakan cinta? Azel baru sekali ini merasakan perasaan seperti itu.
Berdiri di depan Sherly yang naik pitam, sebenarnya nyali Azel seketika menciut. Menyesal mengapa tadi membalas ucapan Sherly. Sekarang ia harus merasakan batunya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, meskipun nyali sudah menciut setelah Sherly perlahan berdiri di hadapannya. Azel bertekad akan melawan Sherly. Gadis itu sudah membuatnya merasa terinjak sejak pertama kali masuk kelas ini.
“Apa lu liat – liat,” hardik Sherly sambil maju selangkah membuat Azel goyah.
Pada awalnya Azel tak mau mundur karena ia sadar begitu satu kakinya melangkah mundur, artinya ia siap dirisak oleh Sherly. Namun untuk bertahan, Azel merasa goyah. Ia menjadi kebingungan sendiri.
Oh Tuhan, Azel berharap ada orang lain yang akan membantunya menyelesaikan masalah. Tapi kenyataannya bahkan Archie dan Quindy memilih diam. Sementara Arga yang diharapkan bisa membantunya justru tidak tahu dimana batang hidungnya sekarang.
Archie yang galak kepada Arga, entah mengapa kepada Sherly cowok itu memilih diam. Padahal ia sempat berpikir kalau Archie bukan cowok lemah seperti kelihatannya, tetapi sepertinya ia salah menilai orang.
“Lu jangan cari masalah sama gue kecuali lu ingin hidup lu di sekolah ini menyedihkan.” Sherly menunjuk – nunjuk pundak Azel hingga gadis itu akhirnya terpaksa melangkah mundur untuk menyeimbangkan badannya.
Azel akhirnya memilih keluar dari kelas sambil berusaha tidak meneteskan air mata. Sementara di telinganya masih mendengar suara tertawa anak – anak sekelas. Oh, ini lebih buruk daripada hanya bertengkar dengan Yudistira.
Dimana keberanian yang sempat keluar dari dirinya tadi? Seharusnya ia diam meskipun kakinya sudah terluka oleh kenakalan Sherly, bukan sok berani seperti ultraman yang kehilangan kekuatan karena waktu.
Azel berhenti di balkon lantai dua, berdiri di depan pagar setinggi pundaknya. Akhirnya mengeluarkan tangis setelah ditahan beberapa lama.
“Kenapa hari ini aku sial sekali,” gumam Azel sambil menahan isak.
Tangis yang pelan perlahan mengeras hingga suaranya bersaing dengan suara gemerisik daun yang tertiup angin.
Tanpa disadari Azel, ada seorang cowok yang duduk di samping daun pintu. Bersandar di tembok dengan mata terpejam erat. Perlahan matanya terbuka karena suara yang mengganggu tidurnya.
“Lu bisa diam nggak. Berisik!” keluhnya membuat Azel memutar badan dengan cepat hingga hampir terjatuh.
“Arga!” seru Azel terkejut.
Ia tak menyangka Arga berada di balkon lantai dua di jam pelajaran. Tapi ia lebih tak menyangka lagi kalau ia sendiri juga keluar saat jam mata pelajaran.
Azel bukan tipe murid yang berani meninggalkan tugasnya atau yang berani keluar kelas pada jam pelajaran. Tapi hari ini adalah hari yang istimewa karena bertengkar dengan Yudistira dan dijegal Sherly pula.
“Maaf,” cicitnya, tak ingin merusak suasana lagi.
Azel sadar bahwa ia berbeda dengan Sherly dan Arga yang berani menunjukkan jati diri mereka di sekolah. Sherly begitu cantik dan percaya diri, disukai murid – murid terutama kakak kelas cowok.
Sementara Arga, meskipun tampak cuek tapi sebenarnya ia tak kalah populer. Hanya Arga yang berani tidur di kelas bahkan meninggalkan kelas kalau ia tak mau mengikuti pelajaran.
Sementara dirinya, tak lain dan tak bukan hanyalah seorang murid cewek yang biasa sekali. Yang mengikuti semua peraturan sekolah, kecuali hari ini.
“Kamu boleh disini, tapi jangan menangis. Suaramu tidak enak,” ucap Arga begitu terus terang.
Tapi anehnya, Azel tidak marah meskipun ucapan Arga cukup kasar. Perubahan sebutan dari lu ke kamu juga membuat hatinya bahagia.
“Iya,” ucap Azel dengan wajah bersemu merah.
“Apa kamu tetap berdiri disitu?” tanya Arga dengan muka datar.
“Ya?” Azel tak mengerti dengan pertanyaan Arga.
“Berdiri saja disitu sampai kamu ketahuan,” ucapan Arga membuat Azel paham.
Ia berada di depan pintu dimana jika ada seorang guru kebetulan melintas, maka sudah pasti ia ketahuan lalu dihukum. Lebih buruk lagi, gara – gara ia ketahuan secara otomatis Arga juga ikut ketahuan.
Azel memandang ke dua sisi pintu, kanan dan kiri. Arga berada di sisi kiri pintu, duduk dengan satu kaki ditekuk dan kaki lainnya lurus. Dengan cepat Azel setengah berlari ke sisi kanan pintu. Duduk dengan dua kaki ditekuk lalu menunduk sambil mengembuskan napas berat.
“Apa kakimu tidak apa – apa?” Pertanyaan Arga membuat Azel terkejut, tak menyangka kalau Arga mengkhawatirkannya.
“Luka di kakimu mungkin akan membekas selamanya,” lanjutnya.
Azel memandang dengkul kanannya yang ditutup perban. Tadi ia jatuh dengan keras. Ada sesuatu di atas dengkulnya dan hal itulah yang membuat kakinya terluka hingga berdarah. Ini tidak akan terjadi jika saja tidak ada rautan pensil di lantai saat ia terjatuh tadi.
“Tidak apa – apa,” lirihnya.
Arga memandang Azel beberapa lama, dengan alis sedikit bertaut. Memperhatikan wajah Azel yang sebenarnya imut, padahal tanpa riasan.
Bukan rahasia lagi kalau cewek – cewek SMA di sekolah ini memakai riasan tipis bahkan ada yang cukup tebal hingga membuat Arga jijik melihatnya. Termasuk Sherly dan dua dayangnya yang sudah seperti sebuah tim topeng monyet.
“Archie sudah mendapatkan hasil lembar questioner di kelas kita,” kata Arga.
“Oh ya.” Tapi mengingat nama Archie tidak membuat hatinya senang.
Masih teringat jelas bagaimana Archie memilih diam saat Sherly membuatnya terlihat sangat konyol di kelas. Andai saja ia tidak melihat Archie yang memiliki keberanian kepada Arga, semuanya akan lain.
Tapi setelah tahu cowok itu bisa tegas kepada Arga, mengapa dia diam saat melihat sahabatnya dipermalukan di kelas.
Lagi – lagi Azel hanya bisa mengembuskan napas berat, masih tidak tahu mengapa Archie bersikap seperti itu?
Cuaca Jakarta cukup panas tapi entah mengapa bagi Azel cuaca hari ini begitu segar. Arga yang tampak begitu cuek dan tidak tertarik dengan cewek, ternyata baik kepadanya.
Hati Azel berbunga – bunga karena Arga bukan tipe cowok yang bisa dekat dengan cewek. Ia pernah melihat Arga menolak dengan tegas cewek – cewek yang mendekatinya, padahal mereka tergolong cewek yang cantik termasuk Sherly.
“Kenapa kamu melihatku?” tanya Arga membuat mata Azel melebar lalu membuang mukanya yang terasa panas.
“Tidak apa – apa,” katanya.
Arga kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidur. Sementara itu Azel memilih memandang dedaunan dari pohon pinus yang tinggi dan berjajar. Sesekali mencuri pandang kepada Arga, menikmati wajah tampan yang selalu membuat hatinya berbunga - bunga, apalagi karena sikap baiknya tadi dan sekarang.
Azel menepuk kedua pipinya, berusaha untuk tidak larut dan terbang tinggi karena ia takut jika suatu saat ia jatuh dengan cara yang sangat sakit.
Tiba – tiba Arga bangkit, menepuk pantatnya yang kotor karena lantai yang didudukinya.
Azel ikut berdiri lalu mengikuti langkah Arga menuju kelas mereka.
Kelas masih ramai karena belum ada guru yang datang. Keduanya berdiri di dekat pintu, memandang ke teman – teman yang sibuk dengan kegiatan mereka masing – masing. Beberapa diantaranya memperhatikan kedatangan Azel dan Arga.
“Kamu cepat ke tempatmu,” kata Arga kepada Azel.
Azel menuruti Arga, berjalan di depan cowok itu sambil memandang Sherly yang tampak tidak suka dengannya namun tidak bisa semena – mena karena Arga ada di belakangnya.
Semua anak di kelas ini bahkan mungkin di kelas sebelah tahu kalau Sherly menyukai Arga tetapi Arga menolaknya. Hal itu membuatnya memiliki perasaan bangga karena Arga justru mau dekat dengannya.
Namun ketika melihat Archie, Azel menjadi sangat kesal. Kepada Quindy ia memakluminya karena tidak melakukan apapun mungkin karena takut, tapi Archie persoalan lain.
“Kamu baik – baik saja?” tanya Archie, tetapi alih – alih menjawab, Azel memilih membuang muka.