Alohaaa...
kisanak, judulnya agak bikin pikiran melayang ya..
but..isinya nggak gitu kok..hehehe
salam..
===================================================
Setelah memesan beberapa kue lagi untuk dibawa pulang, mereka menuju toko bahan kue. Biru belum pernah ke toko bahan kue, dan tidak pernah kepikiran tentang hal seperti itu.
Makanya, begitu masuk ke dalam toko, Biru kagum sampe melongo, dia tidak pernah tau ada toko yang khusus menjual bahan-bahan untuk membuat kue, mulai mentega, keju, coklat beraneka rasa dan warna, meses warna-warni, pewarna makanan dibotol kecil-kecil, “ lucu “, batinnya. Ada juga s**u, macam-macam tepung. Bahkan dia juga membaca nama bahan kue yang dia tidak pernah tau sebelumnya, begitu juga dengan kegunaannnya. Yang semuanya dikemas mulai dari kemasan kecil sampe besar. Ada juga cetakan kue, macam-macam bentuknya.
Dibacanya catatan dari tante Amelia, setelah itu dia berkeliling menyusuri lorong-lorong. Tapi sampe lebih dari lima belas menit, dia belum dapat bahan apapun yang ada dicatatan. Biru kebingungan, akhirnya berhenti di dekat rak s**u bubuk, Alaska yang disebelahnya melihatnya dengan tatapan bertanya.
“Ini nyarinya dimana ya? bingung” sambil menggaruk rambutnya. Seketika Alaska terbahak geli, dirangkulnya bahu gadis itu, kemudian diambilnya catatan ditangannya.
“Kenapa nggak tanya sama pegawainya sih? kirain tadi ngerti, waktu jalan ke rak-rak itu” lanjut Alaska sambil tersenyum.
“ Kirain juga gampang, tinggal liat catatan “ sungut Biru, bibirnya cemberut.
Digenggamnya tangan gadis itu, lalu berjalan kearah salah seorang pegawai toko yang berdiri di dekat rak keju. Kemudian menyerahkan catatannya. Minta tolong untuk disiapkan seperti yang ada dicatatan mereka. Sambil menunggu, mereka berkeliling sampai naik ke lantai dua, yang ternyata khusus tempat macam-macam cetakan kue.
Keranjang yang dipegang Alaska sudah terisi dua botol selai matcha. Dia berdiri disamping Biru, dari tadi dia mengamati Biru dari samping, gadis itu sedang membaca keterangan yang ada dibotol selai coklat. Keningnya berkerut, beberapa helai rambut keluar dari ikatannya, dipipinya ada jerawat kecil kemerahan, bibirnya berwarna pink basah.
Ingatannya kembali melayang saat dikedai es cream tadi, kulit putih mulus yang tertutup kain berenda mengintip dari balik baju. Pandangannya langsung mengarah kearah d**a Biru. Rasanya pas digenggaman tangannya. Matanya kembali melihat bibir basah itu, membayangkan rasanya, kelembutannya. Tenggorakannya menjadi kering, susah menelan ludah. Kepalanya langsung pusing. Huffttt....Cepat-cepat dialihkannya matanya.
Setelah semua belanjaan lengkap, sesuai dengan catatan, mereka berjalan keluar. Beriringan mereka melewati pintu. Didepan pintu tiba-tiba ada yang menyapa. Seorang laki-laki dan perempuan setengah baya.
“Hei ..laut Biru” ucapnya.
“lho kak Marshal khan? kenapa ada disini?” balas Biru tersenyum.
“Iya, ini ngantar mama belanja, kamu sama siapa?
“ Kenalin ini kak Alaska” menunjuk Alaska yang berdiri agak dibelakangnya.
“ Marshal “
“ Alaska”
“ Ini si Laut Biru, temen Diana waktu SMP khan? tanya mamanya Marshal.
“Iya tante, apa khabar?” lalu mencium tangan.
“Kenapa nggak pernah main ke rumah? Tambah cantik aja ya, shal?” lalu menoleh ke arah Marshal yang tersenyum, matanya menatap Biru.
“ Iya, nanti main kesana tante, asal nggak ngrepotin. Diana nggak ikut? Tanya Biru menoleh ke arah Marshal.
“ Dia tadi jalan sama temennya, lagian mana mau dia ke tempat beginian” jawab Marshal tersenyum. Diperhatikannya gadis didepannya, “ tambah cantik aja”. Biru adalah teman adiknya saat mereka masih di SMP. Marshal kenal Biru karena mereka sering mengerjakan tugas kelompok bersama. Waktu itu dia masih awal-awal kuliah. Kemudian setelah lulus SMP, mereka pisah sekolahnya, sejak saat itu dia tidak pernah dengar kabar gadis ini lagi.
Alaska memperhatikan laki-laki yang sedang ngobrol dengan Biru. Ada rasa cemburu ketika memperhatikan cara Marshal memandang Biru. Sepertinya dia mempunyai perasaan kepada gadis itu. Sedangkan Biru sepertinya tidak menyadarinya , tapi tetap saja dia tidak suka ada laki-laki yang tertarik kepada gadis tengilnya. “bagus... mengakulah kalau suka” batinnya mengejek.
“ Bikin repot apanya, tante malah senang. Apalagi Marshal “ matanya melirik ke anaknya yang menatap Biru yang tersenyum malu.
“Yaudah kak, salam sama Diana ya, tante saya duluan”.
“Tante tunggu ya, kasih khabar kalau kerumah, biar dijemput Marshal” Biru hanya mengangguk. “Eh..tante minta nomer HP kamu dong “ setelah saling tukar nomer HP, kemudian berpamitan.
Kemudian mereka berjalan kearah mobil, Alaska membuka pintu untuk Biru. Lalu berputar kesisi lain, setelah meletakkan tas belanjaan dikursi belakang. Dilihatnya Biru sedang memperhatikan Hpnya, tubuhnya mendekat, ditariknya seatbelt, saat itu tubuh mereka hanya dipisahkan tangan Biru yang memegang HP didepan d**a.
Biru menahan nafas, dadanya berdebar, mulutnya melongo. Dia tidah berani menggerakkan badannya, “kalau bergerak dikit aja, pasti tubuhku ternoda ini” batinnya.
Dan Alaska sepertinya sengaja berlama-lama memasang seatbelt, setelah itu ditatapnya mata Biru dengan tajam, mulutnya tersenyum samar. Di usapnya titik keringat dikening gadis itu, dan sengaja dilakukannya agak lama. Mata gadis itu berkedip, tiba-tiba “auwww” teriaknya sambil mengusap keningnya, yang baru saja disentil Alaska.
Alaska tergelak, saat tubuhnya kembali mendekat dan tangannya terulur seketika Biru menjauh, tubuhnya menempel ke pintu, tangannya terentang ke depan siap menahan kalau Alaska mendekat lagi.
“Mau apa?jangan modus ya!” serunya.
“ Aku nggak suka modus, sukanya menikah sama kamu” disingkirkannya helain rambut yang berjuntai dikening gadis itu, lalu mengusap kening Biru.
Biru semakin mengkerut ke arah pintu, hatinya berlarian bahkan dia takut kalau sampai meloncat keluar. “Hati ..awas! cepat call 911”.
“ Tapi aku nggak suka menikah” sahutnya pelan,
“Ya kita lihat aja, kalau aku berhasil melewati tantangan itu, nggak ada alasan lagi. Kita akan menikah” sahutnya sambil menjalankan mobil.
“ Ada apa sih, kok buru-buru pingin nikah?” ujar Biru. “Gimana kalau kita dekat dulu, biar tau masing-masing, apa ya namanya? Ah ya..saling mengenal” ujarnya.
“ Saling mengenal ketika sudah menikah malah lebih enak” jawab Alaska kalem.
“Apanya yang enak? Gumam Biru mencibir.
Tante Amelia duduk di meja makan, Kilau disebelahnya. Keduanya sedang melamun. Kilau memutar-mutar gelasnya susunya, tante Amelia mengaduk kopi tanpa berniat meminumnya. Ya mereka sedang memikirkan tantangan makan sambal dari Biru. Keduanya adalah tim sukses Alaska, misinya Memenangkan tantangan itu. Alaska adalah harga mati. Karena mereka menginginkan dua orang itu jadian. Apalagi berlanjut sampai pernikahan.
“ ahh...Kilau udah dapat ide!” serunya sambil bertepuk tangan.
“ Gimana-gimana, coba jelaskan”, sahut tante amelia, kursinya digeser supaya mereka lebih dekat.
“ Jadi nanti tante bikin dua sambal, satu pedas sekali dan yang satu tidak pedas sama sekali. Nanti kita keluarkan yang pedas dulu, supaya dicicipi si Moo, biar dia percaya kalau itu pedas, sementara itu sambal nggak pedas kita sembunyikan dibawah meja di dekat kursi kak Alaska” jelasnya.
“Terus cara menukar sambalnya gimana?
“ Iya ya..gimana caranya? Kilau tangannya menggaruk hidungnya, bingung. Tapi tiba-tiba dia menjerit kesenengan “ ahh..gampang itu!”, Nanti kalau si Moo sudah mencicipi sambal yang pedas, tante langsung menukar sama yang nggak pedas, Kilau bagian mengalihkan perhatian Si Moo, beres deh tante” ujarnya seneng.
“ Wahh..pinter kamu “ sambil bertepuk tangan, “sekarang tante suruh si bibik supaya bikin yang tidak pedas” lalu berjalan ke dapur.
Setelah urusan sambal beres, mereka kembali duduk ngobrol, menunggu Biru dan Alaska. Beberapa saat kemudian si bibik datang membawa mangkok kecil sambal. Lalu Kilau meletakkan disalah satu laci.
“Nanti jangan lupa tante duduk dekat kak Alaska, sekalian memberi kode supaya duduk dikursi yang ini ya” tunjuknya kursi sebelah, dijawab anggukan.
Biru memandang keluar jendela, diluar mendung jadi suasananya agak sejuk. Mukanya ditekuk, dia marah dan galau sama makhluk songong disebelahnya, “kenapa ngotot sekali pingin nikah sih, kenapa mesti sekarang? Nunggu lulus kuliah khan bisa “ gerutunya dalam hati.
“Ada yang mau dibeli lagi nggak?” tanya Alaska.
“ Iya, Ada” jawabnya ketus, tangannya mencari Hp didalam tas, dilihatnya siapa yang menelpon.
“Hallo...iya, ini siapa? jawabnya. “ Kak Marshal? Ada apa kak?
. . . . . . .
“ Belum kak, ini masih dijalan”.
. . . . . . .
“ Boleh kok, main aja”.
Alaska menyetir mobil dengan perasaan marah, apalagi Biru menjawab sambil tertawa-tawa gembira. Dia tidak suka kalau ada yang mengusik miliknya. Ya sepertinya dia mulai diserang rasa cemburu “ Apa? Coba Ulangi? Mengakulah” batinnya kesal sekali.
. . . . . .
“ Masih tinggal ditempat yang lama, belum pindah, he he he.
. . . . . . . .
“ Nggak ganggu kok, iya kak , sama-sama” jawabnya menutup telpon.
Lalu menoleh ke samping, keningnya berkerut melihat Alaska, sepertinya dia lagi marah, sampe tangannya mencengkeram setir mobil erat sekali. “Kenapa lagi makhluk songong ini?”. Tapi dia tidak peduli.
“ Mampir dulu ke minimarket, depan itu” tunjuknya ketika tidak sengaja, matanya melihat Minimarket disebelah kiri jalan. Tanpa berkata apapun, Alaska menghentikan mobilnya, setelah itu mereka masuk. Alaska tetap diam, hanya mengikutinya, dengan menenteng keranjang. Setelah selesai membeli handbody lotion dan dua pack panties. Mereka langsung pulang, dengan situasi seperti tadi, alaska yang menjadi pendiam.
Mukanya masih memerah, teringat waktu membeli panties. Sebelum memutuskan untuk membeli, dia harus bolak-bolak ke rak itu. Karena malu gimana cara mengambilnya belum lagi dia harus memilih ukurannya. Alaska terus menempel disampingnya. Akhirnya dia minta tolong Alaska mengambilkan yogurt yang ada dirak minuman disebelah pintu. Lalu cepat-cepat memilih. Tapi saat membayar, kasir mengeluarkan belanjaan untuk dihitung. Alhasil panties itu bertumpuk pas didepan Alaska. Biru hanya bisa diam menahan malu dengan muka merah. Ini semua gara-gara dia lupa membawa panties.
Diliriknya Alaska, Raut mukanya masih marah tapi wajahnya sudah tidak setegang tadi. Sedang Biru masih malu karena masalah panties tadi. Jadi mereka hanya diam selama perjalanan. Hujan mulai turun, matanya memperhatikan air yang mengalir dikaca.
Ketika berhenti dilampu merah, Alaska menoleh, matanya menelusuri tubuh gadis itu. Bergerak dari mulai d**a, berhenti lama. Rupanya kancing dibagian itu terlepas satu. Jadi seperti mengulang kejadian dikedai es cream, namun sekarang dia bisa melihat keseluruhan isi dibalik baju warna putih itu. Dengan bra berenda warna coklat muda yang menutupi gundukan putih mulus itu. Ada yang bergejolak dalam dirinya, hatinya berdebar. Dia tidah pernah seperti ini, bahkan sebelum ini dia sering bertemu dengan banyak perempuan memakai baju yang lebih terbuka. Bawahan rok yang lebih pendek, tapi dia tidak merasakan apapun, bahkan cenderung biasa aja.
Alaska menjalankan mobilnya kembali, ketika lampu berganti hijau. Dia menghela nafas panjang, untuk meredakan debaran jantungnya. Kemudian tangannya bergerak mengusap kepala gadis disamping.
Biru menoleh kaget, dilihatnya Alaska masih tetap melihat ke depan. Tanpa sekalipun menoleh ke arahnya. Bibirnya mencebik melihat itu. “ Hati..ternyata kita di PHP si makhluk songong ini, sabar ya”.
“ Tadi kenapa Marshal telpon? Tiba-tiba Alaska bertanya.
“ Mau main ke rumah”.
“Kapan?”.
“Katanya minggu depan, kenapa sih? tanyanya heran.
“Kalau telpon lagi, bilang sibuk. Jangan ijinkan kalau main ke rumah”. Ujar Alaska sambil menoleh ke arah Biru.
“Ha..kenapa?, orang Cuma main aja. Kak Marshal itu, kakaknya Diana temanku SMP, masa nggak boleh sih” gerutunya panjang lebar.
“Nggak boleh! ketemu cowok lain, apalagi aku tidak ada. Boleh ketemu kalau sama aku” sahutnya kalem.
“ishh...ini apalagi sih? kenapa berteman sama cowok dilarang?” Hatinya kesal bukan main. “Bikin gara-gara aja si songong ini “.
“Ya karena kita khan mau menikah”.
“ Kata siapa!? Aku belum mau menikah sekarang!” teriaknya tertahan, mukanya merah menahan amarah. Dengan bibir cemberut, dia memalingkan mukanya ke samping. Melihat pemandangan diluar jendela, rasanya lebih adem, timbang melototi makhluk disebelah kanannya. Ditambah hujan semakin deras. Jalanan macet, diliriknya jam dipergelangan tangan kirinya, Dua sebelas lebih sepuluh.
Tangannya dilipat didada, mengusir hawa dingin. Alaska yang dari tadi memperhatikannya, tersenyum samar. Tapi ketika Biru melipat tangannya, jantungnya kembali berdebar. Karena Baju gadis itu menjadi terangkat ke atas dan bagian d**a terbuka semakin lebar. Dari samping semakin terlihat jelas bentuk dadanya yang membusung. Mungil, dengan kulit putih bersih. Dan terlihat samar bentuk ujungnya.
Akhirnya Alaska menyerah, dia tidak lagi memalingkan wajahnya. Matanya menikmati semua yang bisa dilihatnya. Tangannya rasanya kepingin terulur untuk menyentuh dan meremasnya. Walaupun dia tidak pernah bergaul bebas, tapi dia pernah juga melihat film dewasa. Jadi sekarang kepalanya dipenuhi bayangan Biru tanpa memakai sehelai bajupun. Tangannya meremas kuat setir mobil. Matanya terpejam beberapa saat. Hatinya berdebar tak karuan, nafasnya naik turun tertahan.
Tin..tin..
Alaska tersentak, rupanya mobilnya terlalu pelan. Cepat-cepat diinjaknya gas mobil. Diliriknya Biru masih seperti semula.
“Pokoknya! kalau tidak bisa melewati tantangan sambal pedas, itu artinya gagal. Dan itu berarti tidak ada acara tunangan apalagi pernikahan” tiba-tiba Biru nyerocos, mukanya merah menahan marah.
“ Masih nggak percaya?” Jawabnya. “Tidak ada kata kalah dan kita pasti menikah. Ini tidak ada peraturan harus berapa kali makan khan? sekali makan kalau bisa lewat, berarti menang”. Alaska menoleh, dipandangnya gadis itu menunggu jawaban.
“ Harus habis dong? Mana bisa cuma sekali suap aja, itu curang namanya”.
“ Tapi kemarin tidak ada aturan harus habis” sahut Alaska.
“ Iya..mulai sekarang ada” jawabnya ketus.
“ Baiklah” sahut Alaska pasrah, daripada makin panjang. Kalau dia keberatan akhirnya akan semakin banyak aturan tambahan yang memberatkan dirinya. Dia tahu Biru akan mencoba menggagalkan acara tantangan sambal pedas ini.
“Kenapa sih harus sekarang, habis lulus kuliah khan bisa. Cuma mundur beberapa tahun aja. Nggak lagi MBA khan?” cibirnya.
“ MBA? Apa itu? Alisnya bertaut, kebingungan.
“ Iya ..Married by Accident, maksudnya kecelakaan”, tangannya bergerak membentuk perut yang hamil.
Alaska tergelak mendengar itu, lucu sekali. Tangannya menggenggam jemari gadis itu, diremasnya pelan. “ Nggak kebalik tuh? Masa aku yang MBA sih?”.
“ Ya siapa tahu, makanya kebelet nikah aja”mengangkat bahu.
“Kalau nunggu kuliah itu lama, sayang. Yang penting kita terikat pernikahan dulu. Karena aku juga nggak bisa sering pulang. Nah kalau pacaran dulu, pas aku nggak disini, terus kamu diambil sama orang gimana?” Jelasnya.
“Nah itu maksudnya, kalau menikah pun, aku nggak bisa langsung ikut pindah ke sana, kuliahku gimana? kita ketemu mungkin setahun cuma dua atau tiga kali aja. Kalau kepingin ketemu cuma bisa telpon atau video call. Mana enak berjauhan gitu”.
“ Kalau kangen khan kamu bisa ke sana. Atau pas libur kuliah,kamu ngunjungi aku” senyumnya lebar.
“ Siapa yang kangen? udahlah pacaran dulu aja” putusnya.
“Aku. Kamu tau nggak, ketemu sebentar itu justru bikin tambah kangen lho. Makanya aku tiap hari pingin ketemu kamu”. Jarak hanya memisahkan dua raga kita, tapi jarak tidak memisahkan rasa kita”.
“ Jangan modus “ balasnya, mendengar kalimat itu bibirnya mencebik.
“Aku tidak suka membuang waktuku untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Juga menunggu sesuatu yang tidak pasti. Apalagi kalau hasil akhirnya sama. Kayak kita, buat apa menunggu dua atau tiga tahun, atau saling mengenal dulu, toh akhirnya kita menikah juga. Sekarang atau tidak sama sekali” jelasnya.
“ Wah..berarti tidak aja, kita tidak jadi menikah..yeay!” teriaknya.
Yang dibalas dengan pandangan tajam oleh Alaska. Biru langsung terdiam, tubuhnya kembali merapat ke pintu, mukanya ditekuk marah.
“ Dasar jomblo tua” .
“ Bagaimana punya rasa, kalau tidak saling kenal, apabisa cocok?” Ucapnya pelan.
“ Kita bukan dua orang yang sama-sama baik, suatu saat kita juga bisa marah dan bertengkar. Tidak ada pasangan yang benar-benar cocok, yang ada adalah bagaimana kita bisa saling menerima ketidak cocokan itu. Saling melengkapi kekurangan masing-masing”.
“Kita lihat aja nanti, pokoknya gagal tantangan, gagal juga tunangan“ ujarnya tersenyum riang, karena dia yakin si songong ini tidak akan menang.
“Pokoknya kalau si marshal itu main ke rumah, jangan ijinkan” menirukan ucapan Biru tadi. “ Aku tidak suka, dan jangan pernah telpon Marshal. Kalau dia telpon jangan diangkat”. Dipandangnya Biru dengan tajam.
“ Kenapa sih? Cuma main kok “ sahutnya ketus,
“ Apalagi sampai pergi keluar berdua”.
“Cuma jalan aja, paling nonton, Kak jagad pasti mengijinkan. Itu juga pasti sama Diana dan Si anak cebong. Eee..ini kenapa berhenti?!” kebingungan.
“ Apalagi nonton, itu nggak akan pernah terjadi! Kamu lihat aja,” sahutnya dengan nada dingin. Alaska tidak menjawab pertanyaan Biru. Setelah mematikan mesin mobil. Dia memutar tubuhnya menghadap Biru, sedang gadis itu masih melihat keluar.
“ee..itu Minyak Zaitun sama Dinosaurus udah datang!”, Biru memekik gembira, tangannya menunjuk mobil yang ada digarasi.
“ Laut Biru, kamu mengerti khan?” ucap Alaska menyakinkan diri sendiri, bahwa Biru memahami apa yang mereka bicarakan. Dan patuh pada larangannya tadi.
“ cckk....iya..iya dengar dan mengerti! Egois sama posesif memang beda tipis” sahutnya ketus.
“ Sekarang, rapikan kancing bajumu,”, ujar Alaska kalem.
“Haa...maksudnya?” gelagapan, kepalanya langsung menunduk, memeriksa kancing bajunya. Matanya terbelalak, bajunya terbuka, karena kancingnya terlepas di bagian d**a.
“ Jangan liat ke sini! ahh..aku ternoda lagi!” teriaknya. Matanya memandang Alaska dengan raut muka marah. Tangannya sibuk memegang bajunya. Matanya berkaca-kaca, rasanya antara malu, marah bercampur jadi satu.
Alaska jadi kasihan melihatnya, tubuhnya mendekat, jemarinya mengusap kepalanya dengan lembut. Biru hanya bisa menunduk, tidak mau memandangnya. didekapnya muka Biru dengan kedua tangannya.
“ Aku juga nggak sengaja lihat. Sekarang rapikan terus masuk dan ganti baju. Temanmu sudah datang semua. Jangan sampai mereka melihat itu”.
Biru melengos, turun dari mobil tanpa menunggu Alaska lagi. Berjalan masuk rumah dengan kepala menunduk. Di dalam sudah disambut duo jomblo yang lagi nyemil segala makanan dimeja makan.
“ Yang mulia! Kami sudah menunggu lama lho, dari mana sih? tanya Rayyan.
“ Iya ..kami lapar dan haus” sambung Dinosaurus.
“Haa...ee kisanak, kenapa toples ini kosong semua? kemana isinya?” seru Kilau, tangannya bergerak menjewer telinga Dinosaurus.
Biru hanya diam, ditariknya kursi disebelah Rayyan. Tangannya ikut mencicipi kue dipiring. Tiga dayang hanya saling pandang bertanya. Kilau mengangkat bahu tanda tidak tahu. Dinosaurus menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Tiba-tiba Alaska masuk, tangannya menenteng tas belanjaan. Matanya memandang Biru sekilas. Karena Duo jomblo kaleng sudah mengangkat tangan dan menyapanya.
“Kalian sudah lama? Tanya Alaska, sambil berjalan ke meja dapur menaruh tas belanja.
“Baru aja, belum minum. Kilau nggak mau bikin kak?” Adu Rayyan.
Bughh...
“eee...enak aja, ini gelas siapa?” tangannya mengangkat gelas kosong depan Rayya. Yang dibalas cengiran lebar.
‘Laut Biru, kenapa masih disini? Cepat ganti baju!” ucap Alaska, ketika dilihatnya gadis itu masih duduk disebelah rayyan. Matanya memandang Biru dengan raut marah. Ya memang dia marah, karena Biru masih belum ganti baju. Apalagi duduk disebelah Rayyan yang bisa saja melihat pemandangan seperti yang dilihatnya tadi. Karena hanya dia yang berhak melihat itu. Seluruh diri gadis itu adalah hak miliknya.
Mendengar kalimat Alaska, para dayang jomblo kebingungan. “Kenapa harus ganti baju? Memang habis ngapain?” pikir mereka saling pandang.