Bertemu Denganmu (Lagi)

1799 Words
"Kamu nggak harus pergi untuk menjauhi ku. Biarkan saja aku yang pergi, dan bahagia lah." ••• 12 tahun kemudian.. Jakarta, Indonesia 14.35 PM. "Mamaaa!!" Seorang gadis remaja sekitar delapan belas tahunan dengan wajah facebaby hampir menubruk Wanita yang ia panggil Mama nya itu dengan raut wajah sukacita. Bahkan, Ia tidak perduli dengan koper-koper nya yang ia letakkan asal didekat kursi umum tunggu tempat nya semula. Beberapa orang menatap kearah mereka dengan bingung, lalu tersenyum. Wajar saja ada kejadian seperti itu disini, dimana seseorang yang memendam rindu bertemu dengan orang yang dirindukan nya selama beberapa waktu yang cukup lama. Wanita yang merasa tidak asing dengan panggilan itu merentangkan tangan nya, lalu membalas pelukan puteri nya tercinta. Sungguh, dia sangat merindukan gadis nya itu. Sudah 12 tahun, Wanita itu melepaskan puteri nya yang sengaja menekuni pendidikan nya di luar negeri. Sebuah Negera yang sudah cukup dikenal oleh dunia, negara yang terkenal sebagai Negara paling romantis didunia. Prancis. "Sayang? Kamu cantik banget!!" Seru Desi, Wanita yang merupakan Mama gadis itu dengan ekspresi heboh. "Mama ih, apaan sih? Bukan nya Rea udah sering hubungin Mama terus ngasih Foto Rea pas Mama kangen?" Ucap Gadis itu malu. Rea, Gadis cantik yang 12 tahun lalu pernah menjelma sebagai Gadis mungil yang cengeng ketika Sang Papa, Daniel meninggalkan nya. Superhero nya itu memilih pergi setelah melakukan Operasi pengangkatan Kanker Otak yang divonis dokter tanpa pernah Rea tahu. Maklum saja, saat itu Rea tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia tahu, Daniel sudah pergi. Tidak ada lagi Daniel di hidup nya. "Gimana kabar Om Radit?" Tanya Desi. Radit adalah Kakak Desi yang memilih menetap di Prancis, Kepada kakaknya itu lah Desi menitipkan Rea. Radit memiliki seorang Anak laki-laki seumuran dengan Rea. Rea sendiri sudah akrab dengan anak dari Om nya itu. Raffa, Anak Radit itu sempat meminta untuk mengantarkan Rea sampai ke Indonesia sekaligus mengunjungi Desi. Namun Radit tidak mengizinkan nya, dengan alasan tidak ingin merepotkan Desi yang berstatus 'Single Parent' itu. "Baik, Ma. Mama tau nggak Raffa? Buset, dia makin cakep aja loh! Kayak bule." Celoteh Rea heboh. "Dih, bukan nya Raffa emang cakep ya?" "Masa, sih? Padahal dulu nya gendut gitu." "Ngegemesin tau!" Dan Siang menjelang sore itu, menjadi waktu terpanjang bagi sepasang anak-Ibu tersebut. Mereka tidak berhenti bercerita bahkan saat diperjalanan menuju rumah sekalipun. Rea bercerita tentang negara tempat tinggal nya, dengan semangat pasti nya. Desi tak jarang terkekeh saat mendengarkan cerita Rea yang konyol, saat Raffa membuat Rea menangis dengan keusilan nya. Desi cukup bersyukur, Radit telah merawat dan menjaga Rea hingga sebesar ini. Memberi nya kasih sayang sebagai pengganti seorang Ayah, yang sempat Rea tidak dapatkan karena Daniel meninggalkan nya. Seenggak nya, sekarang Rea bisa ngelupain Papa nya. pikiran Desi menerawang jauh. ••• "Ih, keadaan sini nggak berubah ya! Gila.." Gumam Rea dengan mata berbinar, lalu berjalan santai meneruskan langkah nya yang sempat terhenti. "Kang Asep masih ada nggak, ya? Kangen banget sama cilok nya." Kembali Rea terkekeh, membayangkan sesuatu. "Kang, Beli Cilok nya ya!" "Siap, neng Rea! Mau beli berapa?" "Dua ribu, tapi pake sambel ya! Yang banyaaaak." "Iya, bentar." Rea tersenyum sendiri mengingat kejadian masa lampau nya, penuh kehangatan dan kenyamanan. "Kang!! Kok pedes banget sih!" "Ya iyalah. Kan pake sambel?" "IH! Kang Asep jahat banget! Masa ngasih Rea sambel yang pedes! Huwaaa.." "Eh? Tadi kata nya kan pake sambel?" "Maksud Rea kan sambel yang nggak pedes!" "Hah? Itu saos atuh, neng. SAOS!!" Brak! Lamunan Rea buyar seketika, setelah bahu nya tidak sengaja bertabrakan dengan bahu lebar yang berjalan berlawanan arah. Rea terhuyung, keseimbangan nya luruh. Di waktu seperti ini, Rea malah memikirkan seorang laki-laki ganteng yang akan menangkap pinggang nya dan menahan nya supaya tidak jatuh seperti di Novel yang sering ia baca. Namun sial nya, Rea sadar bahwa ini bukan lah film atau dunia fantasi seperti yang ada dipikiran nya. Tepat setelah p****t nya mendarat di aspal keras itu, Rea setengah memekik menahan bobot badan nya dengan kedua telapak tangan yang menyentuh aspal. Namun tetap saja p****t nya sukses mendarat di Aspal dengan sempurna, mengundang tawa dari beberapa pejalan kaki yang numpang lewat. Mata Rea memanas, dengan ada sesak. Rea yang sekarang tidak jauh berbeda dengan Rea yang dulu, Rea si gadis kecil yang cengeng. Terbukti dengan sebutir air bening yang menumpuk di ekor mata gadis itu. Rea mendongak, untuk menatap siapa yang telah berani membuat nya jatuh. Nafas nya memburu, bersiap untuk menyemprot laki-laki berkaca mata hitam itu dengan kata-kata pedas nya. Diem aja gak ngebantuin lagi! Laki-laki disini kayak gini semua yah?! Geram Rea kesal. Rea berdiri setelah membersihkan Rok nya yang terkena debu, lalu menatap sangar lelaki didepan nya. Laki-laki didepan nya masih diam saja, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kamu nggak punya mata ya?!" Sentak Rea, setelah pejalan kaki yang tadi mentertawakan nya itu mulai fokus dengan aktivitas nya masing-masing. Laki-laki didepan nya itu masih tidak bergerak, kecuali bibir nya yang kemudian tertarik keatas membentuk sebuah senyuman tipis. Senyuman itu kan? Rea sedikit terkejut. Perempuan itu seperti tidak asing lagi dengan senyuman itu. "Gue punya mata, kok." "Ya udah! Kamu kalo jalan--" "Tapi Gue buta." Tiga kata yang keluar dari laki-laki itu membuat kalimat Rea terhenti. Rea menatap Laki-laki didepan nya dengan tatapan tidak percaya, dengan mata menyipit. "Hh? Apa tadi?" Laki-laki itu tersenyum, "Gue-Buta." "B-buta?" Nafas Rea tercekat. "ASTAGFIRULLAH! NYEBUT, MAS! NYEBUT! Ati-ati kalo ngomong, Buta beneran baru tau rasa loh!" Kedua alis tebal Laki-laki itu menaut, "Apaan, sih?" Baru saja laki-laki yang mengaku Buta itu menggerakkan kaki nya maju selangkah, Rea langsung menahan lengan laki-laki itu cepat hingga membuat laki-laki itu tidak mempunyai pilihan lain selain menghentikan langkah nya. Pipi Rea memanas, ketika pandangan nya turun kearah tangan nya yang sedang menahan lengan Laki-laki ini. "Eh? Maaf," "Apa sih? Lo mau kenalan sama Gue? Nama Gue Kasa, tinggal di kompleks ini nomor 30 Blok A. Udah kan?" Ceracau nya. Lagi-lagi, perkataan Laki-laki yang mengaku bernama Kasa itu membuat Rea merasa jengkel. Pertanyaan yang terdengar sok itu membuat Rea tidak yakin kalau Kasa benar-benar buta. Tapi tunggu? Kasa? Gue pernah kenal dia ya? Pikir Rea. Rea menggelengkan kepala nya, mengusir pikiran macam-macam yang sempat singgah di otak nya. Mana mungkin dia pernah mengenal laki-laki se-menyebalkan ini. Lagipula, kalau ia pernah mengenal nya.. Mungkin laki-laki bernama Kasa ini sudah mengaku pernah mengenal nya sejak tadi. Tetapi melihat Respon Kasa yang biasa-biasa saja, Rea yakin kalau dia tidak mengenal Kasa sebelum nya. Eh? Apa tadi dia bilang? Kompleks ini nomor 30 Blok A? Blok nya samaan dong ya? Berarti kita tetanggaan? Batin Rea. "Ya Allah, Dunia sempit banget." Gumam Rea tanpa sadar. "Hah? Apa?" Tanya Kasa pura-pura tidak mendengar. Tentu saja hanya pura-pura. Dia gumam apa teriak sih? Pikir Kasa jengah. Indra pendengar an nya yang tajam sejak kecil tampak nya tidak membawa perubahan dimasa remaja nya. Bahkan Kasa bisa mendengar dengan jelas sesuatu hal yang tidak wajar, seperti suara detak jantung seseorang atau suara deruan nafas. "Ini berapa?" dengan bodoh nya, Rea menunjukkan dua jari nya kearah wajah Kasa. Kasa tersenyum tipis, "Ya Allah, segitu nya?" "Kamu nggak buta kan?" "Lo kok ngeyel, sih? Yang ngerasain Buta siapa?" "Lepas kacamata nya!" "Gak!" "Tuh kan, kamu nggak Buta!" "Ya udah terserah lo mau ngomong apa. Gue mau pergi," Namun dengan gerakan cepat, Tangan Rea berhasil menarik kacamata hitam yang Kasa kenakan dari belakang setelah laki-laki itu memutar tubuh nya. Kasa menghentikan langkah nya, kaget akan serangan tiba-tiba Rea. Laki-laki itu diam tidak menggerakan badan nya, kecuali mulai menundukan kepala nya kebawah tanpa mencoba untuk meraih kacamata nya kembali. Dada Rea berdetak kencang, dengan pandangan sulit diartikan. Kenapa Kasa diam saja? Apa dia marah? Rea menelan susah payah saliva nya, lalu menatap intens Kasa yang kemudian mendongak kan kepala nya tanpa membalikkan badan. "Gue pergi dulu, lo boleh ambil kacamata nya." tanpa menoleh kearah Rea atau menunggu jawaban Rea, Kasa mengeluarkan sebuah tongkat kecil dari saku celana nya jeans hitam nya lalu memanjangkan tongkat nya dan berjalan santai tanpa pernah menoleh kebelakang meninggalkan Rea yang masih tercengang dengan kacamata ditangan nya. Kali ini, Rea yakin kalau Kasa вenar-вenar buta setelah melihat Kasa mengenakan tongkat nya. "Dia.. Buta beneran?" desis nya tidak percaya. ••• "Mama udah makan belum?" tanya Rea sepulang nya dari jalan-jalan memutari kompleks yang mempertemukan nya dengan Kasa itu. Mengingat pertemuan nya dengan laki-laki buta menyebalkan itu, Rea menjadi geram sendiri. Kesan nya yang sok itu membuat Rea muak setiap mengingat wajah laki-laki itu. Tetapi harus Rea akui bahwa Kasa sangat tampan, dengan postur tubuh yang lumayan pula. Eh? Mata Rea membulat. Kenapa tiba-tiba memuji Kasa? Rea menepis pikiran konyol yang berbutar di kepala nya itu dengan satu gerakan gelengan kepala. Walau ia hanya memuji Kasa dalam hati, tetap saja rasa nya Rea tidak nyaman walau pujian itu diucapkan sendiri oleh mulut nya. "Eh? Kenapa melamun?" Desi yang baru saja beres-beres dan mengikat rambut nya keatas, mengernyitkan dahi melihat gelagat Rea. "Hah? Kenapa?" Rea cepat-cepat mengeluarkan sesuatu dari kantung pelastik hitam di tangan nya, alibi untuk menghindari tatapan Desi. "Wah wah, Kamu ke semsem sama Cowok sini ya!" Deg Ampun, Mak! Rea membulatkan mata selebar nya. "A-paan, sih? Mama ngaco, deh. Kenapa juga aku suka sama cowok sini, kalo Cowok di Prancis lebih top markotop!" Elak Rea. "Heleh, ngeles aja kayak bajaj." "Mama mau nggak? Rea baru beli, nih." sengaja mengalihkan topik, ternyata usaha nya itu berhasil karena Desi menatap seplastik Cilok yang disodorkan Rea penuh minat. Desi meraih sebungkus plastik, membawa nya ke pangkuan nya dan duduk nyaman di atas Sofa putih dengan kaki bersilang keatas Sofa pula. "Mama duduk nya nggak elite banget, ih." Komentar Rea risih. "Ye.. Biarin lah. Rumah Mama ini," "Nyebelin, dasar." "Ih, kayak punya nya Kang Asep. Kamu beli dia dia, ya?" Tanya Desi seraya menatap Rea yang langsung membuka ikatan plastik yang masih mengepulkan asap itu. "Iya! Rea kangen banget sama Cilok nya kang Asap." Jawab Rea semangat seraya mengangkat tinggi-tinggi satu tusuk cilok yang dipenuhi oleh saus merah. "Rasa nya tetep sama, ya." Rea mengerlingkan mata. "Cuman, yang ini nggak sepedes cilok yang pernah kamu pesen dulu ya?" "Itu Saos atuh, neng. SAOS!!" Rea menatap malas Desi yang langsung menyemburkan tawa nya, "Ih, Mama nyebelin." "Hahaha!" Rea memasukkan sebuah cilok kecil ke mulut nya, memakan nya bulat-bulat karena kesal. Tiba-tiba saja, pikiran nya mengarah ke Kasa. Laki-laki Buta itu.. Benar-benar membuat nya semakin penasaran. "Ma?" panggil Rea ragu kepada Desi yang memasukkan dua buah cilok sekaligus ke mulut nya. Desi berdehem untuk menjawab, merasa sayang untuk sekedar menjawab panggilan Rea yang Desi sudah tebak pasti bukan hal penting. "Mama tau nggak, Cowok buta yang nama nya Kasa?" Desi menyemburkan sisa cilok di mulut nya, menatap Rea dengan ekspresi kaget. Tidak jauh berbeda dengan Rea yang lebih terkejut daripada Desi, bahkan Rea sampai mengelus d**a karena kaget. Saat itu juga, Desi membelalakan mata nya dengan tatapan terarah ke Rea. "Kasa?!" #tebece
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD