6. Kulkas Berjalan

1047 Words
"Cieeeeeeee mbak nyisain nasi buat siapa tuh?"  Setelah Bapaknya Abi benar-benar menghilang di tikungan balapan. Eh kok kebalapan. Maksudnya ditikungan mantan. Eh aduh bahas opo tho sebenernya dia ini.  Pokoknya setelah bapaknya Abi ke toilet. Wes gitu pokoknya. Abi terus-terusan membahas nasi yang nempel di sudut bibirnya. Dijadikan bahan olok-olokkan. Farissa memasukkan potongan kentang kedalam mulutnya kesal. Huuuhhh pokoknya sebel sama bapaknya Abi. Kenapa coba nasi satu pake dibahas. Kan yang malu disini dia.  Mana Abi ketawanya nggak selesai-selesai. Bikin heboh satu kantin aja Mas Abi ini. "Mbak Icha mukanya merah banget. Malu ya mbaaaak." "Merah apanya mas Abi. Mukanya mbak ini bukan tomat jadi ya ndak merah tho. Udah makanannya diabisin tinggal sesuap lagi." "Aihh ada yang malu. Abi baru tau kalo cewek malu pipinya berubah jadi warna merah. Kayak tomat lho mbak. Lucu."  "Mas Abi."  Teguran Farissa membuat Abi cengengesan lalu melanjutkan makannya lagi tapi masih diselingi tawa. Farissa menggelengkan kepapalanya. Ternyata Abi kok ya jahil juga anaknya. Tuh kan masih senyam senyum sambil ngelirik.  "Mbak Icha udah punya pacar ya?"  Pertanyaan Abi sukses membuat pipi Farissa tambah memerah. Pertanyaan yang cukup sensitif.  Kalau boleh meminta. Dia tidak ingin punya pacar. Lebih baik langsung dihalalkan saja.  Karena pacaran setelah menikah itu sangat indah. Mana ada yang berani nggerebek suami istri mesra mesraan. Kalo udah halal mau ngapain aja udah jadi pahala. Baru saja Farissa akan menggeleng. Suara bapaknya Abi membuatnya menahan napas.  "Siapa yang udah punya pacar?"  Farissa memalingkan wajahnya kearah lain. Zina mata zina mata. Itu yang dia rapalkan di dalam hati.  Dengan wajah super dinginnya itu saja. Dia sudah klepek klepek amburadul tidak berdaya. Apalagi kalau ditambah senyum di bibirnya itu ya. Pasti tambah manis.  Eh mikir apa aku ini. Mana bisa bapaknya Abi senyum. Orang tiap hari sakit gigi. Makanya mau narik bibir buat senyum ndak bisa. Pikir Farissa. "Tadi Abi tanya mbak Icha udah punya pacar atau belum. Eh tau tau Ayah nyambung. Nggak dijawab deh sama mbak Icha."  Suara kursi ditarik membuat Farissa semakin menunduk. Antara malu dan masih sedikit ngambek sama bapaknya Abi.  Aduhh ini kenapa dia pake acara ngambek sama bapaknya Abi. Kayaknya mau ngambek sampe jumpalitan sambil kayang-kayang juga bapaknya Abi nggak peduli. "Owh." "Ih Ayah udah tanya jawabannya cuman owh." "Lha terus opo Le?"  Heran. Farissa mengernyitkan dahinya. Coba gitu ya kalo bercanda sama anaknya muka sangarnya di ilangin dikit. Lha itu masih aja nggak ada senyumnya. Gemes jadinya kan Farissa. Pengen narik bibirnya bapaknya Abi biar senyum. Biar dikit juga tidak apa-apa.  Huuhh struk lama-lama Farissa kalau membahas bapaknya Abi. Oh iya kira-kira namanya siapa ya. Mau tanya kok ya malu Farissanya. "Yang panjang dikit dong Yah. Abi kan ceritanya udah semangat." "Ooooooooowwhhhhhh."  Mendengar itu Farissa cekikikan sendiri. Tapi berhenti saat dilirik bapaknya Abi. Dia langsung menunduk.  "Lucuuuuu banget suara ketawanya mbak Icha. Abi suka dengernya. Merduuuu."  "Mas Abi ya. Jangan godain mbak terus." Farissa mengacak rambut Abi yang langsung tertawa bahagia. Sedangkan... di kursi tepat di seberang kursi Farissa. Ada seorang laki-laki yang kehilangan separuh jiwanya. Digondol maling.  Maling hati masudnya ecieeeeeeeee. "Astaghfirullah." Farissa dan Abi yang sedang asik bercanda sampai terdiam dan saling pandang melihat bapaknya Abi mengusap-usap wajahnya.  "Ayah kenapa?" "Hah? Eh nggak. Ayah nggak papa. Ekhem.."  Farissa pura-pura mengaduk es tehnya saat pandangannya bertemu dengan bapaknya Abi.  Hmm kok ada yang aneh ya sama bapaknya Abi? Mukanya itu lhooooo. Muerah banget. Emang panas ya? Perasaan cuacanya lagi sejuk begini. Ditambah pendingin ruangan. "Saya nggak suka kamu tertawa sampai sebegitunya. Nggak pantas perempuan muslimah tertawa sampai seperti itu." Farissa langsung mendongak. Bertepatan dengan itu bapaknya Abi memalingkan wajahnya. Keseeeel aku kan ndak ketawa lebar lebar. Kok ya diprotes. Emang aku harus jadi kayak dia apa ndak bisa senyum. Dasaar kulkas berjalan. *** "Lho kita mau kemana Pak?"  Farissa menegakkan tubuhnya untuk melihat bapaknya Abi yang menyetir. Sedangkan dia dan Abi duduk di kursi belakang.  "Kerumah saya." "Kok kerumah bapak?" "Ya terserah saya. Saya yang nyetir."  Tuh kan tuh kan. Kalo ditanya jawabannya tidak pernah betul.  "Saya turun di halte aja deh Pak."  Farissa mengusap kepala Abi yang tertidur di pundaknya. Di perjalanan tadi Abi mengeluh ngantuk. Akhirnya Farissa menyediakan bahunya untuk menjadi tempat bersandar Abi.  "Ngapain?" "Pertanyaan bapak. Ya nunggu bis Pak. Buat pulang." Alis Satria terangkat lalu dia melihat Farissa melalui kaca spion yang berada di tengah.  "Saya antar." "Males. Nanti keluar dari mobil saya langsung jadi es batu. Lha wong bapak dinginnya naudzubillah. Kulkas aja kalah sama bapak." "Masa?"  "Aduuuhh masa bapak ndak sadar?"  "Nggak tuh." Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Farissa mengulangi itu untuk meredakan erosinya. Lama-lama dia getok itu kepalanya biar semaput sekalian. "Saya bawa Abi masuk kedalam. Setelah itu saya antar."  Satria menggendong Abi di punggungnya dibantu Farissa. Kasihan kalau dibangunin. Udah pules banget soalnya. "Kamu dibelakang."  "Hah?"  Baru saja Farissa ingin duduk di depan. Tapi bapaknya Abi udah protes aja. "Bapak jadi kayak supir saya dong." Farissa memajukkan bibirnya.  "Saya lebih rela dikira seorang supir daripada dikira sedang bermesraan dengan perempuan yang bukan mahram saya." Dan wajah Farissa berubah menjadi merah padam. Kok perasaannya langsung menghangat ya?  Semoga bapaknya Abi benar-benar laki-laki yang menjadi imamnya kelak.  "Naik." "Eh iya iya. Bawel."  "Apa?" Bapaknya Abi mengernyitkan alisnya tidak suka. "Ndak pak itu mobil bapak bagus." "Owh."  Nyebeeeliiinnnnn kenapa harus ada orang sedingin kulkas dimuka bumi ini. "Pak."  Ditengah perjalanan. Farissa mencolek bahu Satria yang fokus ke jalan. Sama sekali tidak mengeluarkan suara sekedar basi-basi. "Jangan colek colek saya!" "Eh maap pak kelepasan."  Farissa memarahi jarinya sendiri membuat Satria melongo tidak percaya. Aneh! "Hmm itu. Bapak ndak ada niatan mencari pendamping lagi? Kalau ada saya siap mendampingi bapak lho. Sampai maut-" CKITTTTTTTT Mobil yang direm mendadak membuat kepala Farissa menyembul di tengah-tengah jok di depan. Dimana Satria diam terpaku. "Ihh bapaaaak nyebelin. Untung kepala saya ndak kejedot. Kalo saya lupa ingetan. Bapak saya lupain lho. Ndak mau kan." Farissa membekap mulutnya sendiri. Kok ya dia jadi manja gini sama bapaknya Abi. "Bawel." "Emang udah dari sononya Pak."  Satria melirik lalu kembali melajukan mobilnya. "Saya nggak suka perempuan bawel." "Nyebelin... semua aja bapak nggak suka. Saya emang ndak sempurna pak. Lha wong-" "Siapa bilang saya nggak suka?" Ocehan Farissa langsung berhenti. Dia menatap bapaknya Abi yang menggaruk temgkuknya. "Jadi bapak suka saya?"  Bapaknya Abi tersenyum tipis. "Nggak juga."  Arghhhhhh nggetok kepala calon suami sampe modyar boleh nggak sih!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD