3. Calon Anak

1422 Words
Siapa yang tidak ketakutan saat dilamar didalam supermarket oleh seorang kasir yang konon katanya cantik itu. Bukannya tersanjung atau merasa dicintai. Bapak satu anak ini malah merinding hebat sekujur tubuh.  Dia juga tidak percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama. Lha wong dia sama almarhummah istrinya perlu waktu bertahun-tahun untuk naik ke pelaminan.  Sampai sekarang juga bapak satu anak yang katanya duda paling hot sekomplek itu belum ingin kembali mencoba dekat dengan perempuan. Dirinya hanya perlu fokus membesarkan dan mendidik putranya Abi.  "Wah... wah... lagi cuci mobil ya Pak Satria? Pagi-pagi gini udah rajin banget maen basah-basahan. Kedinginan lho nanti Pak hihihi." Sapa tetangga sebelah yang memang kerap menongkrongi pagar rumah Satria saat di pagi hari. "Iya Bu. Nggak enak kalo mobilnya kotor."  "Bapak ih bikin gemes. Heran saya tuh sama Bapak. Makan apa kali mukanya bisa enak dipandang gitu hihi." Goda si tetangga. Tidak ketinggalan cengingisan di belakangnya. Si tetangga sebelah bergelayut di pagar. Mencondongkan kedua buah kelapanya. Berharap duda kompor alias hot yang sedang mencuci mobil langsung menerkamnya. Kenyataanya. Boro-boro nerkam. Ngelirik balon ulang tahun si tetangga aja tidak minat. Terimakasih banyak kalau kata Satria.  "Biㅡ" Belum selesai Satria membalas si tetangga berambut pirang dan dengan pakaian ketat berwarna kuning membungkus tubuhnya. Bukannya seksi malah seperti jagung baru panen. Abi memanggil Satria.  Alhamdulillah, terhindar dari bule gang senggol.  "Yah, Abi keluar dulu. Assalamu'alaikum."  Abi menyambar tangan Satria tapi langsung dia lepaskan.  "Tangan Ayah banyak busanya nggak jadi cium tangan. Yaudah Abi pergi. Assalamu'alaikum." Abi mengangkat tangannya keatas sok gaul. Seperti gaya perpisahan anak gaul jaman sekarang. Satria terbengong melihat kelakuan putra satu-satunya itu. Terlebih ketika putranya kembali berjalan mundur sambil cengengesan. "Eh tadi kan Abi udah salam ya? Abi cabut deh salam barusan mubadzir."  "Emang ada gitu salam pake acara dicabut-cabut. Rumput yang bergoyang kali ah." Sembur Satria. Tawa Abi menyembur. Pandangannya teralih ke jagung baru panen yang masih setia nggelendotin pager. Abi mendekati Satria. Lalu membisikkan sesuatu yang pastinya membuat Satria tertawa nyaring. "Yah kok ada buceri?"  "Maksudnya?" Tanya balik Satria. "Bule ngecat sendiri Yah." Yahhh... si Abi suka jujur kalo ngomong. Nyontek siapa kelakuan si Abi. Nggak mungkin kan ketularan anehnya kasir cantik supermarket? Satria kembali dilanda merinding hebat. Tidak akan dia kembali ke supermaket yang berisi satu makhluk aneh yang baru pertama kali singgah di hidupnya. "Bapak!" "Aaahhhh!!!!!" Kaget. Satria mengarahkan selang air yang mengalir ke arah wajah si tetangga yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. Sontak seluruh tubuh si tetangga basah.  "Maaf saya nggak sengaja." Satria merasa bersalah.  "Ah nggak papa Pak. Cuma basah sedikit." Sedikit gundulmu! Itu beha kamu sampe nyeplak gitu. Astagfirullah. Mengusap wajahnya kasar. Satria berlari terbirit-b***t masuk kedalam rumah dan mengunci pintu supaya aman. Soalnya ada kemungkinan si tetangga masuk kedalam rumahnya. Kalau diperkaos kan bisa jadi masalah. Jadi orang ganteng memang susah.  #SaveOrangGantengLagiGalau *** "Mbaakkkkkk!!!"  "Abiiiiiiii!!!!"  Keduanya sudah seperti sedang berada dalam sebuah adegan film India. Dimana anak dan ibu kembali dipertemukan setelah bertahun-tahun lamanya. Harus siap-siap tisu buat ngelap iler. Syafira berdiri kebingungan saat ada remaja laki-laki memeluk putrinya. Kalau pacar Farissa. Ih tidak percaya dia. Pelukannya beda. Ini lebih ke anak yang meluk ibunya.  "Mbak apa kabar? Abi kangen banget ama Mbak."  Farissa merasa terharu. Ternyata ada juga yang bilang kangen. Biasanya yang bilang kangen Mama sama Papa. Paling mentok Mbak Maita yang sekarang gembul itu. "Mbak juga kangen ih sama Abi. Udah berapa lama ya kita nggak ketemu?" Tanya Farissa. "Semaleman mbak."  Ya ampun... ya ampun... Syafira menutup kipasnya lalu menepuk bahu Farissa dengan kipas. Alay sekali ternyata kedua orang dihadapanya ini. "Ini kenapa Mama kaya liat adegan Rangga ama Cinta sih. Atau mimi peri sama Sehun."  Bibir Farissa melengkung kebawah. Tetapi karena dia sedang bahagia bertemu calon anak. Akhirnya Farissa tersenyum lebar merangkul pundak Abi.  "Kenalin Ma dia Abi."  "Iya udah tau. Tadi kamu teriaknya udah kenceng. Untung nggak ada satpol PP lewat. Kalo nggak kamu nggak disini. Tapi diangkut sama mereka." Semprot Syafira. Syafira lalu beralih ke Abi.  "Aduhh ini yang namanya Abi? Semaleman Mbak Icha ini nyeritain kamu. Oalah pantes seneng. Wong anaknya ngguanteng gini. Kelas berapa le?" Syafira merangkul Abi yang terlihat malu-malu sekaligus senang. Sudah lama dia tidak dipeluk sosok seorang ibu.  "Abi kelas sembilan Tante." Jawab Abi masih dalam mode malu-malunya. "Nggak usah Tante. Mama aja. Anggap Mama sendiri ya le cah bagus."  Abi mengangguk mulai nyaman dengan rangkulan Mama Syafira. Sambil sesekali melirik Farissa yang cemberut merasa terabaikan. "Ih mana cocok dipanggil Mama. Cocoknya dipanggil Eyang uti." Gerutu Farissa.  Abi terkekeh melihat bibir Farissa sudah maju beberapa senti. "Enak aja. Nak Abi Mama masih muda kan ya?"  Abi mengangguk membuat Syafira tersenyum puas. "Boong dosa lho Bi."  Abi kembali terkekeh. Tidak dipungkiri dia bahagia berada ditengah-tengah Mbak Icha dan Mama Syafira. Dia jadi merasa memiliki keluarga yang hangat. Padahal baru semalam mereka bertemu. Dan langsung menjadi lengket dan seakrab ini.  Terkadang takdir memang selucu ini. *** "Assalamu'alaikum... Abi dimana? Kok belum pulang?" Satria mengecek jam tangannya. Sudah cukup sore. Satria jadi tidak tenang berada di kantor. "Mbak curang. Tadi Abi kan lagi angkat telepon. Jangan dihajar terus dong Mbak. K.O ni punya Abi."  Kening Satria mengerut dalam mendengar ocehan Abi. Bahkan salamnya saja tidak dijawab. Dan malah sibuk membahas tentang... entah apa yang dibahas dengan mbak. Eh siapa Mbak? "Kalah tetep kalah. Sini coret mukanya." "Ahh nggak asik. Muka Abi udah penuh." "Muka Mbak kan juga udah penuh." Eh kok kayak kenal suaranya? Langsung bikin mual, pusing, lemah, letih, lesu. "Bi kamu dimana? Jangan bikin Ayah khawatir." Satria memijat keningnya pusing. Mondar mandir di halaman rumah persis seperti setrikaan laundry.  Khawatir kalau kalau Abi macam-macam. Walau shalat Abi rajin. Tetap saja Abi remaja yang rasa keingintahuannya tinggi. Apalagi dia tadi sedang berbicara dengan perempuan. Waduhhh tambah pusing kepalanya.  "Eh maaf Yah Abi lupa kalo Ayah telpon. Abis seru nih main sama Mbak Icha. Muka Abi dicoret-coret terus." Celoteh Abi.  "Mbak Icha siapa sih Bi? Temen sekolah atau temen les kamu?"  "Oh iya Abi lupa ngenalin. Ini Mbak Icha yang semalem nganterin Abi balik latihan futsal." Lha benar kan. Pantas saja Satria langsung terkena indikasi aneh saat mendengar suara gadis aneh itu. Lagian kenapa juga Abi pake lengket banget sama Icha Icha itu. Satrianya yang tertekan disini. Satria akhirnya menyambar kunci mobilnya.  "Alamat rumahnya dimana Ayah jemput." *** Yang pertama kali dia lihat setelah pintu terbuka adalah. Si gadis aneh yang memakai mukena berwarna putih bersih. Habis shalat maghrib sepertinya. Karena jarak rumah yang lumayan memakan waktu. Jadilah Satria baru datang sepuluh menit setelah adzan maghrib berkumandang. Ditambah dia yang singgah ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. "Bapak?" Farissa hampir terjengkang melihat batang hidung Satria tepat didepannya.  Tapi Satria menahan tangan Farissa agar tidak jatuh. Mereka bertatapan sebentar. Tapi...GUBRAK "Auhhh kok tangan aku dilepasin sih Pak. Nggak jadi romantisan deh." Farissa mengusap pantatnya yang baru saja mencium lantai. "Kita bukan mukhrim."  Farissa manyun melihat Satria yang sepertinya tidak ada inisiatif membantunya dari keterjengkangan ini. Dan dia harus bangun sendiri.  "Kamu umpetin Abi saya?" Tanya Satria. Yah songong. Kalau begini lenyap sudah rasa kagum Farissa ke Satria. Dikira sopan, cerdas, nggak nyinyir. Eh taunya parah banget. Ngomongnya nyelekit nggak pake saringan. Lha emang enak dituduh-tuduh. Wong anaknya sendiri yang pengen ikut.  Nah kan jadi erosi! "Abinya bapak ada didalem. Nggak saya umpetin. Dari tadi udah saya suruh pulang. Tapi bocahnya yang nggak mau."  Setelah mengucapkan itu. Farissa berbalik masuk kedalam rumahnya. Bodo amat sama Satria baja hitam jadi pajangan di depan pintu. Au ah gelap. "Saya nggak disuruh masuk?" Tanya Satria.  Farissa berbalik malas. "Masuk ya masuk aja Pak. Lagian pintunya masih kebuka lebar. Saya panggilin Abi silahkan tunggu di ruang tamu."  Farissa naik ke lantai atas. Meninggalkan Satria yang sibuk dengan handphonenya. Keluar lagi dengan membawa Abi. Membuat Satria langsung menghampiri putranya yang seperti enggan untuk pulang. "Ayah." Abi menjabat tangan Satria dan menciumnya. Lalu mereka berangkulan seperti teletubies. "Kenapa nggak kabarin Ayah?"  "Ayah kan sibuk. Abi takut ganggu." "Makanya anaknya lebih suka main sama aku. Lha wong Ayahnya aja sibuk kerja. Nggak peduli sama anaknya. Siapa yang betah dirumah sendirian." Bisik Farissa dengan suara kecil. "Saya kerja buat Abi. Abi hanya punya saya."  Eh eh... kok berubah mellow gini raut wajahnya. Farissa meneguk ludahnya. Menatap Satria yang menepuk bahu Abi. Udah terlanjur nyemplung en kesel gimana ini. Abis si Bapak resek banget. Kalo nggak resek bakalan aku seret ke KUA. Sepeninggal mereka berdua Farissa dirundung rasa bersalah. Akibat mulut nyablak nya sih jadi gini kan.  Besok deh dia akan minta maaf. Dan memperbaiki hubungannya dengan Bapak ganteng. Siapa tau kan masih bisa diselamatkan sampai ke pelaminan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD