Arnav bisa merasakan betapa hangat sekaligus dinginnya kulit porselen yang baru saja dia sentuh tatkala dia mengusapnya. Gerakannya memang pelan namun tentu saja Arnav memberikan tekanan yang sedikit lebih intens pada beberapa bagian yang bisa dia raih dengan tangannya. Sepasang mata menatapnya, sang istri telah di buai dan tenggelam dalam hasrat keinginan, tangan yang membalas sentuhannya diam tanpa ada niatan untuk menghentikan. Mulutnya bergetar, terlihat ingin memohon seperti bagaimana tubuhnya tersentak setiap kali Arnav memasukan jarinya ke dalam diri dan menariknya keluar berulang-ulang dengan sangat perlahan. “Arnav….” Raellyn berusaha semaksimal mungkin membuat setiap nada yang keluar dari bibirnya jelas terdengar seperti sebuah peringatan. Tapi tidak butuh waktu lama sampai sua

