Bagian Dua

1128 Words
*** Satu bulan kemudian .... Flora menatap nanar wajah berantakannya di pantulan cermin. Tidak berdiri tegap, dia mendaratkan telapak tangan kirinya di meja rias, karena memang untuk sekadar berdiri, tubuhnya terasa tidak sanggup. Pagi ini sudah tidak terhitung berapa kali Flora memuntahkan isi perut. Bukan karena demam atau penyakit lain, apa yang terjadi padanya disebabkan oleh sebuah janin yang tiba-tiba bersemayam di dalam rahimnya. Flora positif hamil. Usai terlibat cinta satu malam bersama pria asing yang dia temui di salah satu bar besar di kota Paris, Flora harus menelan pil pahit setelah testpack yang dia pakai untuk mengetes, menunjukan dua garis merah yang begitu jelas. Sedih, bingung, bahkan hancur, ketiga perasaan tersebut kini bersemayam di dalam benaknya karena selain nasib anak yang dia kandung, Flora juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi kedua orang tuanya nanti. "Harus bilang apa aku ke Mama sama Papa?" tanya Flora, sambil terus menahan sakit di kepalanya, karena memang bukan hanya perut, kehamilan yang dia alami mengganggu pula kesehatan kepalanya. "Soal kejadian sebulan lalu aja aku enggak cerita, apa kabar yang ini? Mereka pasti marah besar kalau tahu aku hamil di luar nikah. Terlebih orang yang ngehamilin aku sekarang bahkan enggak tahu di mana." "Ck!" Flora menunduk dengan peluh yang membasahi kedua alisnya. Jika tahu semua akan seperti ini, satu bulan lalu—setelah tidur bersama pria bernama Altariga, Flora tidak akan melarikan diri begitu saja. "Kalau aja waktu itu aku enggak kabur, aku mungkin tahu ke mana harus minta pertanggungjawaban," ucap Flora. "Cowok itu. Dia ayah dari bayi yang aku kandung, dan dia harus tanggung jawab." Untuk beberapa saat Flora merenung, hingga rasa mual yang kembali datang membuat dia mau tidak mau memuntahkan lagi isi perutnya. Hampir setengah hari, Flora terus bergelut dengan perasaan tidak nyaman pada tubuhnya. Siang menjelang, dia mulai bangkit untuk kemudian membersihkan badan. "Aku harus datang ke bar itu terus tanya soal Altariga," ucap Flora, yang kembali berdiri di depan cermin. "Sengaja atau enggak sengaja, dia harus tanggung jawab karena dia yang udah bikin aku kaya gini." Tidak hanya berkata, Flora bersiap-siap. Sekitar pukul dua siang, dia meninggalkan apartemen dengan penampilan yang sedikit rapi. Memoles tipis wajahnya dengan makeup, bibir pucat Flora tidak bisa disembunyikan karena memang jika tidak terdesak, tubuhnya sudah sangat ingin direbahkan. Tidak ada kendaraan pribadi, Flora menggunakan taksi untuk pergi menuju bar. Sampai dalam empat puluh menit, dia harus menelan kekecewaan karena tempat yang dia kunjungi masih tutup. Flora memang bodoh. Seharusnya seterdesak apa pun dirinya, akal sehat masih dipakai untuk menduga-duga kapan sebuah bar akan mulai beroperasi. "Kepalaku pusing banget, Ya Tuhan," desah Flora, yang kini duduk di sebuah bangku di dekat bar. "Perutku juga enggak enak. Mual." Masih cukup sore, Flora seharusnya kembali ke apartemen kemudian membali malam harinya. Namun, karena terlalu lemas dan malas, dia memilih untuk menunggu hingga setelah hampir satu jam duduk di sebuah bangku, sebuah panggilan terdengar. "Flora? Kamu ngapain di sini?" Flora menoleh, kemudian sambil mengerutkan kening, dia memandang pria tidak asing yang berdiri tak jauh darinya. "Nero?" tanya Flora. "Kamu sendiri ngapain di sini?" Bukan orang asing, Nero adalah teman satu angkatan Flora di universitas tempatnya berkuliah. Sama-sama berasal dari Indonesia, Flora dan Nero cukup akrab meskipun berbeda jurusan. "Aku lagi jalan-jalan di sekitaran sini, cuman enggak sengaja lihat kamu. Jadi nyamperin," ucap Nero. "Ngapain diam di depan bar? Nungguin buka? Kalau iya, masih lama kali. Nanti malam baru buka." "Enggak kok, bukan," ucap Flora. "Aku juga sama kaya kamu, lagi istirahat." "Serius?" tanya Nero. "Muka kamu kok pucat gitu? Kaya lagi sakit." Flora tersenyum tipis. Tidak mau kehamilannya diketahui siapa pun, dia berusaha terlihat baik-baik saja meskipun kini kepalanya terasa begitu berat. "Aku baik-baik aja kok," ucap Flora. "Cuman lagi agak enggak enak badan aja. Kamu lagi jalan-jalan, kan? Gih lanjutin." "Ngusir?" "Ya enggak, cuman—" Flora sigap menutup mulut setelah rasa mual tiba-tiba melanda perutnya. Mengedarkan pandangan untuk mencari toilet, dia merutuk dalam hati setelah apa yang dicari tidak kunjung ditemukan. "Ra, you okay?" Flora tidak menjawab, sementara mual di perutnya semakin menggila. Tidak terus duduk, pada akhirnya dia beranjak kemudian berlari menuju tempat sampah yang tertangkap oleh indra penglihatannya. Melupakan kehadiran Nero, Flora memuntahkan isi perutnya di sana. Tidak peduli pada orang-orang yang melayangkan tatapan aneh, dia terus muntah hingga setelah perutnya terasa lega, Flora dibuat kaget setelah sosok Nero berdiri tidak jauh darinya. "Kamu hamil ya?" tanya pria itu tiba-tiba—membuat Flora membulatkan mata. "H—hamil apa?" tanya Flora. "Jangan sembarangan deh kamu. Pacar aja enggak punya, masa hamil?" "Terus kalau bukan hamil, kamu kenapa?" tanya Nero. "Feelingku kuat ke situ lho, dan kalau emang iya, kamu lebih baik jujur. Siapa tahu aku bisa bantu." Flora diam, sementara pikirannya dihampiri dilema. Selama mengenal Nero, kesannya pada pria itu cukup baik. Namun, bercerita semuanya pada pria itu masih ragu-ragu dia lakukan. "Ra?" "Iya, Ro, aku hamil," ucap Flora pada akhirnya—membuat Nero membulatkan mata dengan raut wajah kaget. "Dan aku ke sini buat cari tahu cowok yang udah hamilin aku, karena kebetulan sebulan lalu aku tidur sama cowok yang enggak dikenal." "Kamu ONS sama cowok asing?" tanya Nero—masih dengan raut wajah kaget. "Iya," ucap Flora. "Aku tahu namanya, karena sempat lihat kartu nama dia. Cuman aku enggak tahu dia tinggal di mana karena waktu itu aku pergi. Jadi ya sekarang aku bingung." "Siapa emang namanya?" tanya Nero penasaran. "Altariga," ucap Flora, sambil mengingat lagi momen di mana dirinya menemukan kartu nama pria yang sudah menidurinya itu. "Kalau enggak salah, namanya Altariga Zion Sanjaya." Tidak merespon, Nero justru diam dengan raut wajah yang nampak kaget. Selama beberapa saat, dia dan Flora saling diam, sampai akhirnya Flora bertanya penasaran. "Kok diam?" "Yang ngehamilin kamu, serius Altariga Zion Sanjaya, Ra?" "Iya, Ro, dan sekarang aku mau minta pertanggungjawaban ke dia," ucap Flora. "Kenapa? Kamu kenal?" Nero mengangguk, dan hal tersebut membuat Flora terkejut. "Iya kenal. Dia cucunya bos Papaku di Indonesia," ucap Nero—membuat Flora menatapnya lekat. "Sebulan lalu Altariga emang kabur ke sini karena enggak mau dijodohin. Aku bahkan yang bocorin keberadaan dia dan bikin dia pulang dari sana." "Terus sekarang dia di mana?" tanya Flora. "Kamu bisa kasih aku nomor hp atau alamatnya, kan? Aku mau minta tanggung jawab." "Bisa," ucap Nero. "Tapi aku enggak yakin kamu bakalan dapat pertanggungjawaban dari dia." "Kenapa?" tanya Flora. "Dia udah tidurin aku terus bikin aku hamil. Jadi—" "Altariga udah nikah, Ra," potong Nero—membuat Flora seketika diam. "Tepat seminggu lalu, dia akhirnya nikahin cewek yang dijodohin sama Opanya dan ya ... sekarang mereka lagi di US buat bulan madu. Jadi aku ragu dia mau tanggung jawab ke kamu." "Ro, kamu serius?" tanya Flora, dengan debaran jantung yang tidak menentu. Namun, alih-alih mendapat jawaban, dia justru diberi pertanyaan, "Menurut kamu masalah serius kaya gini, mungkin enggak aku bercanda, Ra?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD