*** "Mbak Flora." Mendengar namanya dipanggil, Flora yang semula sibuk dengan pikirannya sendiri, menoleh. Tidak lagi di ruang operasi, saat ini dia sudah menunggu di luar atas perintah dokter yang menangani Asta di dalam sana. Tidak sehancur tadi, perasaan Flora perlahan membaik. Masih kaget dan tidak menyangka, hal tersebut juga menyelimuti hatinya karena kembalinya detak jantung Asta yang sempat hilang selama beberapa menit, merupakan sebuah anugerah yang tidak terduga. Ini seperti mimpi, tapi Flora mensyukurinya karena meskipun sudah menjadi mantan, Flora tidak siap jika harus kehilangan Asta untuk selama-lamanya. "Iya? Kenapa?" tanya Flora. Terlalu fokus pada kondisi Asta juga kesedihannya beberapa waktu lalu, dia tidak memperhatikan orang-orang di sekitar Mauren, sehingga kini

