Sebuah Penjelasan

1061 Words
"Om?" Aldrick menghentikan langkahnya sebelum keluar dari rumah sederhana itu dan menghadap ke gadis itu. Keningnya mengkerut menunggu Hallen berbicara. "Thankyou," lanjutnya dengan mengulas senyuman dibibirnya. Tentunya membuat Aldrick ikut tersenyum disana, hatinya merasa hangat saat melihat senyuman gadis itu. "Sama-sama, sorry kalau tadi saya bilang kalau kamu kekasih saya. Saya hanya ingin membantumu," jelas pria itu. Hallen menganggukkan kepalanya paham. "Hallen paham, sekali lagi terimakasih." Pria itu tersenyum tipis, kemudian mengajak rambut Hallen. "Kunci pintunya, supaya tidak ada orang asing masuk." "Baik Om." "Saya duluan," kata Aldrick sebelum melangkah pergi dari hadapan Hallen. Senyuman Hallen memudar begitu saja, menatap punggung Aldrick yang semakin menghilang. "Om itu sangat baik, aku berhutang budi sama dia," gumam Hallen, tidak lama kemudian dia memasuki rumahnya sendiri. Gadis itu terus mengingat jelas ketika pria itu mengobati pipinya. Sangat perhatian. Bagaimana bisa dirinya jahat sama Om baik itu. Dia menghempaskan tubuhnya di kasur, sesekali memegang pipinya. "Apa Om tadi menyukaiku?" pikirnya sambil menatap langit-langin kamar yang bercat pink. Sedetik pula dirinya menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan pikiran konyolnya. "Mana mungkin om itu menyukaiku?" Sedangkan dilain sisi Aldrick yang masih di perjalanan masih terngiang-ngiang kejadian tadi dengan Ayah kandung Hallen. Itu yang membuat dirinya merasa penasaran. Tanpa basa-basi dia mengambil ponselnya dan segera untuk menelpon Petir. "Peter?" 'Iya Bos? Sudah dapat alamatnya?' Aldrick menghembuskan napasnya disana. "Saya baru saja ke rumah Hallen." 'Baguslah Bos, jadi tugas saya sudah selesai kan?' "Belum, tadi ada laki-laki tua yang berada di rumah Hallen. Dia Ayah Hallen, saya ingin mencari tau keberadaan Ayah Hallen untuk saat ini." 'Bukannya Bos hanya ingin tau tentang Hallen saja?' "Ya, tapi aku penasaran dengan Ayah Hallen untuk saat ini." 'Baiklah Bos, saya akan mencari tau secepatnya.' "Baik, terimakasih Peter," ucapnya sebelum memutuskan panggilan disana. Tidak lama kemudian, Aldrick sampai di kediamannya yaitu apartemen yang sering dipakai untuk beristirahat. Dia bergegas untuk masuk ke dalam gedung apartemennya dan memasuki lift untuk menuju ke lantai atas. Cling! Tiba-tiba saja ponsel berbunyi disana. Sebuah notifikasi dari Hallen membuat Aldrick tersenyum kecil dan segera membalasnya. Sebelum kembali dari rumah Hallen tadi sebenarnya dia sempat bertukar nomor dengan gadis itu. Ternyata gadis tersebut langsung bertanya dirinya sudah sampai atau belum dan berterimakasih atas kejadian tadi. Pria itu langsung segera membalas pesannya, kemudian keluar dari lift untuk menuju ke dalam apartemennya sendiri. Jas yang dipakai dibuka, dasi yang dikendurkan supaya tidak terasa sesak di lehernya. Lampu yang terlihat gelap langsung dihidupkan kembali, lalu dia menghempaskan tubuhnya dikasur empuknya. Sangat lelah, ini yang dirasakan oleh pria tersebut. Matanya dipejamkan. "Aku sangat lelah, padahal cuma mengikuti gadis itu saja. Tapi seperti mengejar kuda yang sedang berlari," gumamnya. Drtt ... Drtt... Suara deringan ponsel terdengar di telinganya. Segera dia mengambil ponsel di saku celananya. Dilayar tersebut terpapar nama Hallen disana, keningnya sempat mengerut, kenapa gadis itu berani untuk menelponnya? Pria itu langsung mengangkat telepon dari Hallen. "Iya, Hallen? Ada apa?" 'Om? Besok Hallen antarin makanan ke sana ya. Om kerja di mana? Atau ke rumah Om?' Perkataan Hallen membuat Aldrick semakin bingung. "Kamu tidak bercanda kan?" Pria itu langsung beranjak dari tidurnya. Jujur saja dia sangat shock mendengar ucapan gadis ini barusan. 'Iya! Dikira Hallen bercanda begitu heum?' "Yasudah, kamu ke cafe saya saja." 'Okey, tapi tidak apa-apa kan kalau Hallen bawa makanan dari luar?' "Tentu boleh, besok saya sharelock cafe saya." 'Baik Om!' Aldrick tersenyum kecil. "Kita bertemu besok, selamat istirahat." 'Terimakasih Om, saya matiin dulu telponnya,' kata Hallen sebelum menutup telponnya. *** Pagi harinya, Hallen menyiapkan makanan yang dimasak sendiri untuk Aldrick. Ayam suwir yang bertabur bumbu khas ibunya itu membuat aromanya semakin wangi ditambah sayur-sayuran dan juga nasi untuk melengkapi hidangan yang sudah disiapkan di kotak makan. "Sudah selesai, tinggal siap-siap," kata Hallen. Dia langsung memasukkan kotak nasinya ke tas, kemudian beranjak dari dapur untuk bersiap-siap pergi ke cafe yang dimaksud Aldrick. Tidak lama, dia sudah siap dengan memakai jeans selutut dan juga kaos yang terbalut dengan kemeja pendek berwarna hijau. Di perjalanan ke busway, tiba-tiba saja ada seorang yang menabrak gadis itu. Sehingga membuat gadis itu terjatuh. "Mas, bisa hati-hati tidak!" kata Hallen dengan nada kesal, untungnya saja makanan yang terbungkus dengan tas itu tidak berceceran kemana-mana. "Sorry, sorry. Sini biar saya bantu." Pria itu mengulurkan tangannya di hadapan gadis itu. Tanpa melihat wajah pria tersebut dia langsung menerima ukurannya dan berdiri pelan. "Lain kali hati-hati kalau jalan," gerutunya. "Iya, maaf." Sebentar, suaranya seperti? Hallen langsung medongakkan kepalanya, matanya membulat hebat ketika mendapati mantan kekasihnya di hadapan dia. "G--gabriel?" Ternyata pria itu shock juga melihat Hallen disini. "Hallen?" Hallen mengalihkan pandangannya. "Maaf, saya tidak sengaja tadi," ucap gadis itu. Dia segera berlalu di hadapannya. Gabriel terdiam sejenak, dia terus berpikir kalau gadis itu masih mengingat kejadian dulu. "Hallen, tunggu!" teriak Gabriel, dia tidak membiarkan gadis itu pergi. Dia harus menjelaskan apa yang terjadi. Hallen merasa sesak, kenapa dirinya bertemu dengan pria yang sudah mengkhianatinya. Kenapa dunia sempit? Apa dirinya tidak pantas untuk bahagia? Gabriel menyeka tangan Hallen, sehingga membuat Hallen menghentikan langkahnya. "Lepasin Gabriel!" Gadis itu langsung menepis tangan Gabriel. Dan untungnya Gabriel segera melepaskannya. "Hallen, please. Dengarkan penjelasanku dulu." "Penjelasan apa lagi hah! Bukannya semuanya sudah jelas!" Gabriel menghela napasnya pelan, sekilas ia menggelengkan kepalanya pelan. "Ada yang mau aku bicarakan, kamu hanya salah paham Hallen." "Salah paham kamu bilang?" Hallen memincingkan matanya, sedetik pula dirinya tertawa miris mendengar pernyataan dari Gabriel. Dia melihat kesana-kemari supaya tidak meneteskan air matanya untuk pria di hadapannya ini. "Iya." "Aku bukan perempuan bodoh, Biel. Aku melihat kamu dengan mata kepalaku sendiri bersama.perempyan lain!" Wajahnya kini memerah. Tangannya di remas. "Apa itu namanya salah paham? Kalian bergandengan tangan, saling tertawa, bahkan kamu mencium kening dia?" Air mata Hallen itu menetes, Gabriel terdiam sejenak menatap gadis itu menangis. Hatinya merasa sesak saat ini. "Hallen?" Baru saja Gabriel ingin memegang tangan gadis itu. Namun ditepis olehnya. "Nggak usah pegang-pegang!" bentak Hallen. Pria tersebut langsung terdiam, menatap Hallen. "Dengarkan aku dulu, aku masih mencintaimu Hallen. Aku hanya menemani perempuan itu. M--memang dia menyukaiku, maka dari itu aku memberi kesempatan untuk jalan bersama dengan dia. Dan itu pertemuan terakhirku dengan dia." "Kenapa tidak dari dulu? Kenapa kamu memilih perempuan itu hah!" Dia terisak pelan sembari menatap Gabriel sendu. Sesekali menggelengkan kepalanya. "Kenapa hah?" "Kenapa tidak menjelaskan dari awal?" "Beri aku waktu!" "Stop! Semua sudah berakhir, Biel. Kita sudah selesai, aku tidak mau kembali lagi. Jangan ikuti aku lagi, inget itu!" tegasnya, kemudian dia berlari dari hadapan Gabriel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD