Ela duduk di sebuah kursi dalam kamarnya sembari mengayunkan putra kecilnya yang sudah terlelap sejak semenit yang lalu. Ia tersenyum menatap wajah menggemaskan itu, tapi tanpa sadar air matanya justru menetes begitu saja saat teringat bahwa putranya itu belum mendengar suara ayahnya sendiri sejak tiga minggu kelahirannya ke dunia. “Aku pasti sangat cengeng sampai menangisi hal sepele seperti ini.” Ujarnya sambil terkekeh kecil, tapi tetap saja air matanya malah semakin mengalir seenaknya. “Ayahmu pasti sangat ingin melihatmu, hanya saja dia sibuk, Joe.” Kekehnya sambil menyebutkan nama kecil yang sudah ia sematkan untuk anaknya. Ia tidak suka menunggu terus-menerus untuk sebuah nama, hingga ia memberikan panggilan Joe untuk anaknya. Ela menganggukkan kepalanya, “Ya, aku harap seperti i

