PROLOG

631 Words
*** Sorot mata pria itu berkilat-kilat marah menatap kobaran api yang sejak sejam lalu tak berhenti berkobar setelah membakar hidup-hidup tubuh saudaranya. Kebencian penuh dendam terpancar di kedua bola mata hitamnya yang  berwarna pekat. Kobaran api yang menyala-nyala terpantul di kedua bola matanya. Air mata mengalir dari kedua sudut mata pria bernama Liam Wagner. Kedua matanya memicing tajam menatap para manusia yang tertawa dan berteriak penuh kemenangan karena berhasil membakar hidup-hidup sosok pria  bernama Anthony Wagner - kaum vampire yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya - yang disebut sebagai monster oleh para manusia. "Akhirnya monster ini mati ditangan kita!" Teriak seorang pria tambun yang ternyata adalah kepala desa didesa itu. Liam Wagner menggeram dan mengepalkan tengannya tanpa melepaskan tatapannya dari kumpulan manusia itu. "Akan kutuntut pembalasan untukmu, adikku!" Ucapan Liam terdengar seperti sumpah ditengah pekatnya malam. Awan mendung menghiasi langit malam itu bersamaan dengan terdengarnya petir yang menggelegar diangkasa. "Kalian boleh tertawa hari ini, tapi  besok kalian akan menangis , mengemis, dan bersujud di depan kakiku." Liam mengangkat tangan kanannya yang mengepal dan mengeluarkan kuku - kuku runcing berwarna hitam. "Aku sendiri yang akan menghabisi kalian sampai tak ada satu pun dari keturunan kalian yang tersisa, Pembunuh!" Sumpahnya lagi untuk kedua kalinya. Didetik Liam menyeruakan sumpah keduanya, suara petir kembali terdengar seolah menjadi saksi akan sumpah vampire berdarah murni itu. Disaat yang sama, tubuh Anthony yang terbakar berubah menjadi serpihan yang kemudian menghilang keatas langit karena dihempas angin. Kematian Anthony menjadi awal dari perperangan antara kaum vampire dengan manusia. *** Suara Jeritan menyayat hati terdengar di mana-mana. Para penduduk desa berlarian kesana kemari tanpa sempat membawa satu harta benda pun. Mereka mengabaikan ternak mereka dan hanya sibuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka. "TOLONGGGGGG!!!!!" "Jangan bunuh kami, Tuan!" "Kami menyesal telah membunuh adik tuan!!!" Beberapa penduduk desa berteriak memohon ampun penuh penyesalan. Berharap suara tangis dan permohonan ingin bertahan hidup mereka dapat menggugah hati vampir di hadapan mereka. Mereka semua menyesali diri yang sangat mudah terhasut oleh peramal dan kepala desa mereka. Tapi yang namanya penyesalan selalu datang terlambat. Suami istri yang mereka bunuh hari ini menjadi puncak musnahnya manusia di desa itu. Liam menyeringai mendengar permohonan dan air mata buaya kaum yang tega membunuh adik dan wanita yang merupakan kaum mereka sendiri. Dikerahkannya kekuatannya dengan kemarahan yang amat sangat. Dilemparkannya para manusia itu ke sembarang arah sampai akhirnya mereka menghantam tembok dan terkulai lemas. Ingin hidup tapi tidak punya energi, ingin mati, tapi belum juga mati. Langkah kaki Liam semakin mendekat, diraihnya tubuh seorang pria yang sudah sekarat dan mulai menghisap jiwanya. Disisi lain, Seorang wanita sibuk mencari papan, kayu, dan segala jenis benda yang ada di sekeliling mereka untuk menutupi putri kecilnya yang sedang bersembunyi di bawah bangunan yang telah rubuh. Ia menggunakan sepotong papan untuk menutupi tubuh gadis kecil yang sedang berjongkok ketakutan. "Ibu, aku takut.." isaknya. Ibunya memberi isyarat pada putrinya untuk diam. Lalu dengan setengah berbisik, ia berkata. "Jangan bersuara, anakku. Apapun yang terjadi, tahan isakanmu. Tetaplah hidup." "Ibu mau kemana?" Tanya gadis itu. "Bersembunyilah disini bersamaku." pintanya dengan mata sembab. "Disini terlalu sempit untuk ibu. Ibu akan bersembunyi di tempat lain. Yang penting sekarang adalah keselamatanmu. Ingat, Jangan pernah keluar dari sini." perintah wanita itu sebelum akhirnya ia berlari sejauh mungkin jauh dari tempat persembunyian putrinya. Tak lama setelah ia meninggalkan tempat persembunyian puttinya, Liam yang baru selesai menghisap jiwa manusia yang baru di bunuhnya, menyadari keberadaan wanita itu. Segera saja, dikibaskannya tangan kirinya ke udara dan dalam sekejap wanita itu pun terlempar menabrak tembok. Tidak, ibuuuuuu!!!! Gadis kecil bernama Pamela itu menjerit dalam hati. Ia tidak bisa menahan diri saat ia melihat ibunya dibunuh seorang vampir di depan matanya sendiri. Dibekapnya mulutnya kuat kuat dengan sepasang tangan mungilnya. Dan air matanya berderai seiring dengan Liam yang berhasil menghisap jiwa kehidupan ibunya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD