12- LIONTIN BERMATA RUBY

1077 Words
*** Seisi sekolah puteri Rosewood menganggap Bryan adalah kepala sekolah yang baru. Madam Johanna memberikan kamar terbesar di asrama tersebut untuk ditempati Bryan dan menganggap dirinya sebagai wakil kepala sekolah. Hipnotis Bryan memang perlu diacungkan jempol, sehingga Pamela tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti alur yang diciptakan kakaknya. Para siswi lain beberapa kali menjerit tertahan setiap kali Bryan melewati kelas mereka dan sampai mengerubungi Pamela hanya untuk sekedar meminta restu agar bisa mendekati kakaknya, dan seperti biasa Pamela pun menjawab "Tidak tahu." Namun Marie, salah satu dari teman barunya menyeletuk. "Kau tidak mau tahu siapa calon pasangan kakakmu? Kau adiknya, kau punya hak untuk memilih calon kakak ipar." Dan sekali lagi Pamela hanya mengedikkan bahu dan tersenyum sebagai jawaban. Ia memang benar-benar tidak tahu, tidak tahu apakah ia masih memiliki hak seperti itu, dan tidak tahu mengapa hatinya sedikit berdenyut hanya karena para gadis di sekolah ini mengidolakan kakaknya. Tidak terasa sebulan telah berlalu di Rosewood, Danish. Pamela menjalani hari-harinya dengan amat sangat baik. Ia bergaul dengan anak seumurannya dan tertawa riang melebihi riangnya saat ia masih berada di kastil. Bryan beberapa kali melhatnya tertawa dari balik jendela lantai tiga sekolah saat ia dan para gadis lain berjalan-jalan di lapangan, dan setelah melihatnya pria itu diam-diam tersenyum lega. Sore hari yang damai di akhir pekan, ketika teman-teman sekamar Pamela kecuali Kate, sudah pulang ke rumah masing-masing menemui keluarga mereka. Kate tidak berada di kamar dan hanya berjalan-jalan ke danau belakang sekolah untuk melukis, sehingga Pamela memutuskan untuk membaca buku cerita di dalam kamar untuk membunuh waktu. Akan tetapi angin sore itu entah mengapa terasa begitu kencang. Jendela kamar Pamela terbuka, dan gadis itu bangkit dari duduknya untuk menutup kembali jendela. Dan saat itulah ia mendapati kakaknya sedang duduk di sebuah bangku tepat di bawah pohon Ek depan sekolah, menatap langit mendung yang sebentar lagi akan turun hujan. Entah mengapa, Pamela penasaran dengan apa bagusnya langit mendung yang ditatap kakaknya. Ia memangu dagu dan menatap sang kakak dari jendela. Semakin ia menatap kakaknya, ia seperti terhisap kedalam sebuah lubang yang dalam. Saat itulah secara tiba-tiba Bryan mendongak ke atas dan tatapan mereka bertemu. Seketika saja Pamela merasa ada yang aneh dengan hatinya. Ia merasa hatinya belum siap bertemu pandang dengan Bryan. Ia buru-buru menarik gorden dan menutup jendela, dan bersandar di dinding. Hatinya berdegup kencang, namun Pamela menepis perasaan asing itu dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya membaca buku. *** Perpustakaan Rosewood adalah perpustakaan terbesar kedua yang pernah Pamela lihat seumur hidupnya setelah perpustakaan pribadi di kastil keluarga Steinhard. Begitu memasuki perpustakaan pada hari menjelang petang setelah kelas usai, Pamela merasa bagaikan mendapat harta karun. Ia mendapati perpustakaan dalam kondisi lumayan sepi – terdiri dari beberapa orang saja- dan semua buku yang ia cari tersedia dengan sangat lengkap. Ia mengambil satu persatu buku dari masing-masing rak, dan setelah buku yang ia ambil sudah mencapai sepuluh buah buku, ia mendekati meja yang berada di sud ut ruangan dan duduk di sana. Tak lama kemudian, tanpa ia sangka-sangka, seseorang duduk tepat di depannya, membuat Pamela mendongak dan mendapati Bryan duduk di hadapannya dengan ekspresi yang biasa , tanpa ekspresi. "Kenapa kakak duduk di sini?" Pamela bertanya dengan nada terkejut sampai ia mendapat perhatian khusus dari wanita paruh baya penjaga perpustakaan yang mengisyaratkannya untuk diam. Ia kemudian memelankan suaranya, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mengulang pertanyaannya dengan setengah berbisik, "kenapa kakak duduk di sini?" "Tidak bolehkah?" Suara Bryan menggema di dalam kepalanya. Pamela memandang kakaknya dengan mata tak berkedip. Ia yakin sekali kalau kakaknya tadi sama sekali tidak menggerakkan bibirnya, tapi mengapa suaranya bisa berkeliaran di dalam kepalanya? Dan beberapa detik kemudian Pamela tersadar bahwa Bryan adalah vampire. Ia hampir melupakan kenyataan ini semenjak ia tinggal di dunia manusia dan Bryan mampu hidup seperti manusia pada umumnya. "Tentu saja tidak boleh," jawab Pamela dalam hati, namun anehnya Bryan hanya bergeming. "Kau hanya bisa mendengarku, Pamela. Kau tidak bisa mengajakku bicara dalam hati." Bryan seolah bisa menebak jalan pikiran Pamela. "Tentu saja tidak boleh. Semua orang mengira kakak adalah kepala sekolah. Apa kata anak-anak lain jika melihat kita duduk bersama?" Jawab Pamela. Kali ini ia bicara secara langsung. "Semenjak kau mengetahui siapa dirimu, kau jadi banyak mengkhawatirkan segala sesuatu." Bryan berkomentar. "Kakak pikir siapa yang membuatku khawatir? Tindakan kakak sulit ditebak dan membuatku was-was setiap hari!" Pamela menjawab dengan mengebu-ngebu dan lupa mengontrol suaranya sehingga penjaga perpustakaan kembali melayangkan tatapan membunuh dan mengeluarkan suara "Sssttt!" yang terdengar menyeramkan. Pamela menghela nafas, ia kemudian mendapat ide yang bagus untuk berkomunikasi dengan Bryan tanpa harus di maki penjaga perpustakaan. Diambilnya secarik kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Aku sedang berpikir kapan mereka akan lupa dengan ingatan pemberian kakak. "Itu bukan hal besar. Mereka hanya akan mengingat siapa aku selama aku ada di sekeliling mereka." "Tapi ada yang lebih penting ." Pamela menulis di atas kertas dan menunjukkannya pada Bryan, Apa itu? "Kau senang berada di sini?" Tentu saja. "Dibandingkan saat berada di kastil?" Saat bersama kalian aku tidak merasa senang, aku bahagia. "Kalau begitu mau pulang denganku?" Kakak mau pulang? "Ada yang menyerang pulau kita. Aku harus memastikan bahwa yang lain baik-baik saja, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu di sini." Kalau begitu kakak pulang saja. Tolong pastikan yang lain dalam keadaan selamat. "Kau yakin tidak mau pulang bersamaku?" Aku baik-baik saja di sini. Aku sudah terbiasa, tapi masih banyak yang harus kupelajari di sini. Bryan menghela nafas dan menggumam, "Keras kepala." Ini watak dasar manusia. Kakak lupa aku manusia? Pamela menunjukkan tulisan di atas kertas. "Kalau begitu aku akan pulang. Tapi kemarikan tanganmu." Pamela mengulurkan tangannya di atas meja. Bryan menjentikkan jari dan sebuah kalung liontin bermata ruby muncul di tangannya, lalu memberikannya kepada Pamela. "Jangan pernah lepaskan kalung ini apapun yang terjadi. Ini akan menjagamu selama aku tidak ada." Pamela menatap kalung tersebut dengan senyum merekah. Ia sangat menyukai kalung itu hanya dengan sekali lihat. Terima kasih. Akan kupakai selalu. Melihat Pamela sudah memakai kalung tersebut, Bryan pun tersenyum lega dan beringsut pergi dari sana. Akan tetapi Pamela menatap punggungnya dengan perasaan yang tidak nyaman, seolah mempunyai firasat bahwa bisa saja ia tidak akan bertemu Bryan lagi, sehingga entah ada keberanian dari mana, ia tiba memanggil nama kakaknya. "Kakak..." Pamela berkata dengan amat sangat pelan, namun Bryan yang memiliki pendengaran yang sangat tajam langsung berpaling menatap Pamela, membuat gadis itu kikuk dan tidak tahu harus berkata apa. "Hati-hati," ucapnya pada akhirnya, padahal sesungguhnya bukan itu yang ingin ia katakan. Bryan hanya membalas dengan anggukan singkat, tersenyum, sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa menoleh sedikitpun. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD