"Minumlah." Zera mengusap rambut Thiera lembut. Ia menyodorkan cangkir yang telah diisi teh hangat. Kini mereka tengah duduk di ruang tengah vila Zera. "I am sorry." Suara baritone itu berucap penuh penyesalan. "Sampai kapan kamu terus mencemburui sahabatku, Zera?" Thiera menatap penuh kesedihan. "Sampai kamu berhenti membelanya." Lelaki itu menjawab dingin. Meletakan cangkir tehnya tak berselera. "Dia tidak seperti yang kamu tuduh, berhenti mencemburuinya." Thiera menatap tajam. "Apa alasan kamu selalu berusaha keras memberikan pembelaan?" Zera merasa kekasihnya itu selalu melindungi Jurgen. Thiera terdiam. Lelah rasanya terus berdebat. "Tidak ada alasan. Dia akan tetap jadi sahabatku. Dan kau lihat, dia tidak sendiri. Dia punya seseorang." "Kamu pikir aku bodoh? Hanya dalam waktu

