Bertemu Kembali

1397 Words
Arga tak pernah tidak merasa takjub melihat kepiawaian sahabatnya melobi salah satu klien besar beberapa menit lalu. Kesedihan akibat perceraian dan perpisahan, sama sekali tidak terlihat saat Ryan melobi partner bisnisnya. Arga akui, Ryan memang sangat profesional mengelola emosinya. “Kamu hebat, Ryan. Tak perlu berpikir dua kali, calon klien kita langsung setuju untuk bekerja sama. Di dalam dunia bisnis, kamu cukup disegani. Alangkah bagusnya jika kamu memiliki seorang pendamping yang bisa memupus kesedihan di hati kamu. Apa kamu mau aku carikan jodoh?” Ryan membelalakkan matanya. “Jangan macam-macam, ya! Aku tak ingin memikirkan itu. Aku tak mau jodoh lain selain Zaya. Saat ini aku hanya ingin bekerja sekeras-kerasnya. Jaga-jaga aja kalau aku mati kelelahan! Jika itu terjadi, segera jalankan surat wasiatku dan berikan pada Zaya kalau sudah ketemu!” Ryan tidak bicara omong kosong di sini. Ia merasa hidupnya tiada lagi berguna. Kebahagiaannya sirna bersamaan dengan perginya sang mantan istri. Saat ini, ia hanya meneruskan hidup. Tak ada lagi semangat dan keceriaan dalam hatinya. Tinggal menunggu waktu di mana ia akan pergi. Entah hari ini atau esok. Ia pasti akan pergi jika ia terlalu lelah. “Hush! Ngomong apa, sih? Kamu masih muda. Jangan mikirin mati! Cari istri lagi, punya anak, besarin, baru mati!” sembur Arga kesal. Semudah itu bicara soal kematian, padahal masa depan indah bisa mudah dicapai oleh sahabatnya tersebut. Ryan masih sangat muda, kaya raya, dan tampan. Sangat kecil baginya untuk mendapatkan wanita mana pun yang dia inginkan. Arga tak akan membiarkan Ryan hancur karena rasa penyesalan terhadap Zaya yang mana tahu sudah menikah lagi dan hidup bahagia sekarang. Ryan tertawa pelan, menekan rasa sedih di hatinya. “Astaga, bawelnya!” “Habisnya, kamu suka asal bicara, sih?” omel Arga tak suka mendengar sahabatnya bicara sembarangan. Bukan tanpa alasan Arga mengomeli sang sahabat karena ia melihat kecenderungan Ryan mengarah ke sana. Sahabatnya itu selalu terlihat tertekan dan terkadang ia ngeri membayangkan pria itu berbuat nekat karena kekosongan jiwa yang dialaminya. “Pulanglah! Aku masih mau di sini,” ujar Ryan kembali menyeruput Espresso-nya. “Kamu mau ngapain?” Arga bertanya dengan nada serius. “Mending pulang aja, deh. Aku antar kamu pulang sekarang.” Ryan menggelengkan kepalanya. Ia lalu meminta sahabatnya meninggalkannya di kafe itu. “Aku masih mau di sini. Kamu pulang duluan aja.” “Terus mobilnya?” Tawa Ryan terdengar sangat renyah, tapi tidak demikian yang dirasakan Arga. Laki-laki yang mengenakan jas berwarna hitam itu tahu kalau tawa sahabatnya itu berhias luka. Arga kembali melanjutkan perkataannya. “Aku serius. Kalau aku pulang, kamu gimana pulangnya?” “Heh, masa CEO pulang nggak pakai mobil? Ya, kamu yang naik taksi. Aku naik mobilku sendiri.” Ryan menjelaskan sambil menahan tawanya melihat reaksi Arga yang terlihat sewot karenanya. “Aiiissh, sial! Kalau tau kayak gini, mending kita bawa dua mobil. Aku tak menyangka kalau kamu masih mau bertahan di sini.” Arga tak bisa tidak menggerutu kesal. Ryan menepuk pundak sang sahabat. “Udah, jangan ngomel lagi! Pulang sana! Aku masih mau nongkrong di sini. Sudah lama aku tidak duduk-duduk di kafe sendirian.” “Jujur saja, sebenarnya aku agak-agak takut meninggalkan kamu sendirian. Aku takut kamu bunuh diri,” ceplos Arga gamblang. Tepukan pelan pun melayang di pundak Arga. Sambil mencebik, Ryan mengomeli sahabatnya. “Sialan, mana mungkin aku bunuh diri!” “Eh, kenapa tidak? Kalau kamu terus-terusan menyalahkan diri, lama-lama—” Ryan kali ini menepuk keras punggung Arga, membuat pria tampan itu memekik kesakitan. “Awww, sakit, Ryan!” “Biarin! Kamu, kok, nyumpahin aku bunuh diri, sih?” sembur Ryan. Walaupun ada terbesit keinginan ke arah sana, tapi niatnya ingin menemukan Zaya begitu besar. Ia tak mau mati sebelum bertemu dengan mantan istrinya itu. “Aku hanya khawatir.” Arga menggosok-gosok punggungnya yang dipukul Ryan tadi. “Kalau kamu masih mau nongkrong di sini, biar aku temenin.” Ryan mengibaskan tangannya di depan wajah Arga. “Aku mau sendiri dulu. Pulanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa! Aku akan pulang ke apartemen setelah aku puas menyendiri di sini.” Arga menghela napas panjang. Hatinya gelisah dan khawatir, tapi ia juga tak bisa membantah sahabatnya. “Ya, udah, kabari aku kalau kamu sudah sampai apartemen!” “Astaga, iya,” seru Ryan lagi. Terkadang ia kesal dengan perhatian berlebihan sahabatnya itu yang ia nilai terlalu protektif padanya. Walaupun tak dapat ditampik, ia juga senang karena setelah ditinggal orang tuanya, satu-satunya orang yang paling dekat dengannya hanyalah sahabatnya tersebut. Selepas Arga pergi meninggalkannya sendirian di kafe, Ryan pun kembali larut dalam kesendirian. Kesedihan di dalam hatinya sungguh menggerogoti jiwanya, terlebih ketika ia melihat pasangan muda-mudi di dalam kafe tersebut juga yang sedang berlalu lalang di luar kafe. Mereka terlihat begitu romantis dan mesra, membuat hatinya teriris-iris. Bagaimana tidak, kalau ia tidak melakukan kesalahan fatal dan melakukan kebodohan dengan mengejar w************n hingga tega melepaskan wanita baik-baik dan suci seperti Zaya, tentu ia akan sama seperti mereka, berbahagia bersama pasangan masing-masing. Di akhir pekan bisa jalan-jalan ke kafe, ke mall, dan ke mana saja untuk bersenang-senang. Tapi apa yang ia lakukan malah kebodohan. Hatinya sungguh sedih ketika membayangkan tidak sempat mengajak Zaya sekedar duduk di kafe menikmati sore, bersantai ria berdua, bermesraan juga menceritakan permasalahan yang ada di kantor yang terkadang membuatnya penat, serta menjadikan Zaya sebagai sahabat juga partner hidup hingga ia tua. “Maafkan aku, Zaya!” rintih Ryan dalam hati. “Aku bahkan tidak sempat membahagiakan kamu. Yang aku lakukan hanyalah menjadikan kamu alat untuk menghilangkan rasa galauku karena Lena. Maafkan aku! Aku memang laki-laki jahat yang bersembunyi di balik sifat dan tutur kata lembut. Kamu pasti begitu membenciku, kan? Namun, aku harap kebencianmu itu membuatmu selalu teringat padaku.” Lagi dan lagi, Ryan menyesali perbuatannya, menyalahkan dan mengutuk dirinya yang telah tega menyakiti hati wanita sebaik Zaya. Harusnya ia meratukan istrinya, membuat wanita-wanita yang ada di sekitarnya iri karena perlakuan manisnya pada istrinya tersebut. Tapi apa yang ia berikan pada Zaya malah sebuah luka. Dua tahun membina rumah tangga bersama wanita itu, tak sedikit pun ia pernah memberikan hadiah. Tak sedikit pun Ryan menghargai jerih payahnya sebagai seorang istri yang merawat rumahnya hingga begitu rapi juga melayaninya sepenuh hati dari mulai urusan pakaian, makanan sampai urusan ranjang. “Apa aku masih bisa merasakan kebahagiaan seperti kalian?” gumam Ryan menatap pilu beberapa pasangan mesra di sekitarnya. Betapa irinya Ryan melihat beberapa pasangan mesra yang melintas di depan matanya. Begitu cintanya saat mereka bertatapan dan bertukar pandang. Itu semakin memberikan luka yang mendalam di hatinya sampai akhirnya mata pria itu tertuju pada punggung sepasang suami istri yang saling menggandeng pinggang masing-masing dan itu membuatnya mengalihkan pandangan dari beberapa pasangan yang ada di depannya. Entah kenapa ia benar-benar iri melihat pasangan tersebut. Tanpa sadar, Ryan terus memperhatikan punggung tiga orang yang ada di ujung sana. Sampai akhirnya Ryan menyadari kalau punggung itu seperti punggung orang yang ia kenal. “Siapa dia? Apa aku kenal wanita itu? Kenapa punggung itu tidak asing bagiku dan rambut itu—” Semua khayalan pria itu sirna tak berbekas ketika ia melihat dari samping siapa yang sedang ia pandangi. Hatinya begitu berdebar diiringi perasaan yang luar biasa senang ketika ia melihat wanita yang sudah lama ia tunggu ada di depan mata. “Itu Zaya ... itu benar-benar Zaya.” Tanpa sadar kaki Ryan pun mulai melangkah. Namun, langkah kakinya harus berhenti ketika ia melihat Zaya tersenyum lebar pada seorang pria yang menggandeng pinggangnya. Hatinya terasa tercubit melihat senyum itu dilontarkan begitu indahnya pada laki-laki lain. Ryan membeku antara ingin mendekati Zaya atau mengintip dari kejauhan. Hatinya bertanya-tanya. Siapa lelaki yang sedang menggandeng pinggang Zaya? Kakinya sontak berbalik arah, wajahnya pun berpaling. Ia tidak sanggup melihat kenyataan di depan mata. Pria itu memutuskan ingin pergi dari sana membawa luka dan rasa hancur di hatinya. Namun, kerinduan yang begitu besar di hatinya, membuat kakinya berhenti melangkah. Alih-alih meninggalkan mall dan kafe tempat ia berada tadi, Ryan malah berlari dengan cepat menuju ke toko es krim. Untungnya, ia mendapatkan kesempatan. Dari kejauhan, Ryan melihat pria itu meninggalkan Zaya sendirian di toko es krim. Dengan nekat, Ryan menghambur masuk ke toko es krim dan menyapa wanita yang sudah menghantui pikirannya kurang lebih dua tahun, yaitu wanita yang membuat hari-harinya menderita, tapi juga pernah memberikan kebahagiaan yang luar biasa selama kurang lebih dua tahun meski ia menyadarinya setelah wanita itu lepas dari genggaman. “Zaya ... kamu benar-benar Zaya yang aku kenal, kan?” Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD