Ada seseorang yang berniat mempermainkanku, batin Xynerva.
Seorang wanita berdiri tidak jauh dari posisi Xynerva berdiri. Wanita berambut hijau itu sedang merapalkan mantra. Tubuhnya tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Tiba-tiba sebuah cahaya putih menarik Xynerva ke dalamnya. Xynerva berusaha untuk menolak, tapi tidak bisa. Cahaya putih itu mempengaruhi pikiran Xynerva.
Di dalam sebuah ruangan kamar terlihat seorang laki-laki sedang melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya. Pria itu melihat jam di atas meja kecil menunjukkan pukul lima. Menoleh ke samping, seorang wanita sedang tertidur pulas.
Siapa pria itu? batin Xynerva dengan raut wajah bingung.
"Wanita itu mengapa sedikit mirip denganku?" ucap Xynerva setelah mengamati wanita itu beberapa saat.
"Apa itu aku? Tapi tidak mungkin. Aku kurang suka piama warna merah."
Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai dia memakai kemeja putih dengan jas hitam di luarnya dan tak lupa memakai dasi berjalan masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi buku-buku.
Pria yang tidak dikenal itu terlihat sedang membuka sebuah buku yang cukup tebal. Dia menyenderkan punggung di kursi empuknya.
Tidak lama kemudian laki-laki itu berjalan masuk ke dalam ruangan kamar. Wanita cantik bermata coklat yang tidur tadi kini berdiri menatap pemandangan di luar jendela, pakaian tidur juga telah diganti dengan gaun merah selutut. Tanpa menyapa, tangan pria itu melingkar di perutnya membuat si wanita refleks membalik tubuhnya.
"Balin, kau membuatku kaget!" seru wanita itu dengan gembungan di pipinya.
Pria yang dipanggil Balin itu terkekeh pelan karena respon berlebihan wanita yang berdiri di sampingnya tersebut.
Xynerva bisa melihat cuaca sedang hujan di luar melalui jendela. Matahari sedang bersembunyi di balik awan kelabu. Kedamaian dan ketenangan yang dirasakan saat ini. Tanpa disadari dia ikut tertawa karena adegan lucu yang terjadi di hadapannya tersebut.
"Balin, kau tidak boleh memelukku secara tiba-tiba. Kalau aku tiba-tiba melompat dari jendela karena kaget bagaimana?" omel wanita yang mirip Xynerva itu.
"Tunggu sebentar, Balin? Bukankah itu nama papa?" ujar Xynerva pelan.
Xynerva pernah mendengar mama dan neneknya membicarakan soal papa. Iya, gadis itu ingat nama papanya itu Balin.
Xynerva berjalan lebih dekat ke arah dua orang itu. Dia melihat cincin permata hijau yang melekat di jari pria itu. Cincin itu hanya ada satu di dunia. "Kalau Dia adalah papa. Berarti wanita itu adalah mama. Ini sepertinya di awal pernikahan orang tuaku."
"Papa tenyata lebih tampan dari foto yang aku lihat di album," ujar Xynerva tersenyum.
Selama ini gadis itu belum pernah melihat sosok papanya secara langsung. Kata Zeline, mamanya papanya tersebut menghilang saat Xynerva masih berada di dalam kandungannya.
"Aku akan melihat dengan baik."
Balin berdiri tepat di samping Zeline ikut memandang ke arah luar jendela. Balin merangkul istrinya mesra.
"Kamu mau ke sana?" tanya Balin sembari menunjuk taman. Zeline mengangguk mengiyakan pertanyaan pria itu.
"Aku bosan terus-terusan berada di dalam kamar seperti burung dalam sangkar," jawab Zeline melirik Balin yang berada disampingnya. Terlihat Balin sedang merenung.
"Papa dulu ternyata sibuk juga sampai mama bilang seperti itu," simpul Xynerva.
"Maaf, ya, aku beberapa hari terakhir ini sibuk dengan urusan kantor. Jadi, aku jarang nemenin kamu sekaligus calon anak kita," balas Balin dengan raut wajah menyesal.
Pria itu berjongkok, tangannya terulur mengelus perut sang istri yang masih rata. Kandungan Zeline masih dua minggu. Wanita itu tersenyum. "Calon anak kita bilang, papa pengen makan buah mangga," ucap Zeline meniru suara anak kecil.
Tawa Xynerva pun pecah. "Ya ampun, wajar saja aku sampai sekarang paling suka dengan buah mangga. Ternyata aku suka sejak masih dalam kandungan mama."
"Anak kita pengen makan buah mangga ya? Nanti papa belikan dulu ya?" ucap Balin.
"Iya, papa."
"Andai saja aku bisa sentuh papa secara langsung. Aku ingin sekali memeluknya," ujar Xynerva dengan penuh harap.
Tidak lama kemudian Balin datang dengan membawa dua kantong besar berisi buah mangga. Dengan sabar Balin mengupas dan menyuapi Zeline.
"Bagaimana? Apa rasanya manis?" tanya Balin dengan senyuman di wajahnya.
"Rasanya manis, Balin," jawab Zeline.
Di tempat yang sama, Fahar sedang berdebat dengan wanita berambut hijau.
"Kau harus kembalikan Natasha seperti semula!" pinta Fahar serius.
"Tidak, bukankah kau juga lihat gadis yang kau sukai itu sedang tersenyum bahagia berada di alam mimpinya?" tanya wanita yang memiliki nama Ghea itu seraya menunjuk dengan telunjuk tangannya Xynerva yang tengah tersenyum bahagia.
Wajah Natasha terlihat sangat bahagia. Apa mungkin yang dia mimpikan adalah hal yang paling ingin dilihatnya, pikir Fahar.
"Dan ini adalah keberuntungan terbesar gadis itu bisa terus berada di alam mimpi. Melihat semua hal yang dinginkan ada di dalam mimpi, dan hidup tanpa kekhawatiran."
"Tapi hidup yang lebih indah itu, kehidupan yang nyata bukanlah alam mimpi yang kau katakan itu. Semua yang ada di alam mimpi tidaklah nyata, semuanya palsu!" tegas Fahar.
"Untuk apa hidup di dunia nyata, tapi semuanya tidaklah seindah di dunia mimpi?" ucap Ghea.
"Jangan khawatir aku akan membuatmu juga bermimpi dengan indah, kau akan sangat menyukainya!" seru Ghea memberikan penawaran pada Fahar.
Tanpa menunggu waktu lama. Ghea berusaha menguasai pikiran pria itu.
"Tidak, tidak boleh! Aku tidak boleh terpengaruh!" ujar Fahar berulang kali.
"Izinkan aku membuatmu bahagia, Fahar! Kau akan hidup dalam kesenangan yang tidak akan kau dapatkan dalam kehidupan nyata." Ghea berusaha mempengaruhi Fahar supaya terpengaruh dan tidak menghalanginya.
Hingga akhirnya Fahar terpengaruh terbawa ke alam mimpi.
Setiap maid yang dilewati membungkuk hormat, tersenyum kecil. Melihat sang pemimpin dan pasangan yang sangat romantis. Baru pertama kali ini seorang Fahar bisa tersenyum dengan lepas.
"Kau membuatku malu, Fahar!" teriak Xynerva memberontak memukul lengan Fahar sekeras-kerasnya, namun sama sekali tidak berpengaruh. Gadis itu seperti sedang memukuli sebuah boneka.
"Tidak usah, malu Natasha." Fahar tersenyum lembut melihat Natasha yang terus memberontak di dalam pelukan eratnya.
"Hei jangan panggil aku sayang dan turunkan aku," dengus Natasha.
"Tidak mau," celetuk Fahar.
"Turunkan."
"Tidak mau," balas Fahar.
"Hah, aku ini berat biarkan aku jalan sendiri," pinta Natasha memelas.
"Aku merasa seperti membawa bulu ayam saja kau sangat ringan."
"Ya, sudah kalau kau tak mau, aku malas berdebat denganmu," jawab Natasha cemberut, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kau sungguh lucu sayang," jawab Fahar terkekeh.
Natasha terdiam mengarahkan pandangannya ke arah lain, yang jelas tidak menatap wajah Fahar yang sangat dekat dengannya.
"Oh, ayolah berikan aku senyumanmu bukan wajah cemberut itu." Fahar mengeluh.
"Kau terlihat sangat jelek seperti itu, ha ha ha," sambung Fahar tertawa.
"Kau yang jelek bukan aku," balas Natasha lalu mengerutkan bibirnya lagi.
"Aku tau agar kau tak mengerucutkan bibirmu lagi.. mencium bibirmu," jawab Fahar, lalu mengedipkan sebelah matanya jahil.
"No I do not!" pekik Natasha memberontak di pelukan Fahar.
"Cium aja tuh tembok jangan cium aku." Natasha menutup bibirnya dengan salah satu tanganya yang satunya berpegangan di leher Fahar.
"Jika kau tak mau ayo tersenyumlah."
"Nih aku udah senyum lihat!" ketus Natasha tersenyum paksa.
"Oh.. itu bukan senyum tulus itu senyum terpaksa aku tak mau menerimanya," sambung Fahar.
"I'll still kiss you," bisik Fahar tepat di telinga kiri Natasha.
Bulu kuduk Natasha merinding. Fahar tersenyum penuh kemenangan. Walau gadis itu masih kesal akhirnya dia mengatakannya.
"Baiklah, aku akan memberikanmu senyum tulus dan jangan menciumku," ucap Natasha dengan nada penekanan pada akhir kalimatnya.
"I will definitely kiss you," ujar Fahar tertawa puas meniru cara Natasha berbicara pada dua kata terakhir.