Deva masih berdiri di tempatnya. Laki-laki dengan celana bahan warna hitam serta hem yang di singsingkan lengannya sebatas siku itu tampak kepergian istrinya dengan laki-laki lain dengan hati yang sesak. Sungguh, laki-laki itu tak paham dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa terbit rasa cemburu padahal dia tidak merasa sayang dan bahkan cinta kepada istrinya sendiri. Saat ini dia merasa bahwa cintanya hanya untuk Silvia. Si kembang kampus yang berprestasi yang selalu membuat bangga banyak dosen. Deva membuang nafas kasar, berusaha untuk membuang rasa tak nyaman itu. Namun nyatanya, itu tak mengubah apapun. Rasanya dia ingin berlari dan mendorong Deo agar tidak dekat-dekat dengan istrinya. 'Rasa apa ini? Tidak mungkin aku menyukai mbak-mbak yang ndeso itu kan? Dia sama sekali bukan tipek

