Air Mata Nur

1042 Words
"Itu istrimu? Hahaha … ya Allah. Dari mana kamu dapat pemain lenong begitu?" ucap Awan tidak sopan dan diiringi dengan tawa. Mereka berdua sedang duduk di atas karpet bludru warna hitam dengan corak bulu ayam besar di ruang keluarga. Jari-jari mereka sedang asyik menari di atas stick PS 5 yang baru dibeli Deva beberapa hari yang lalu. Ketika dua orang dewasa yang sama-sama sukses ketika bertemu mereka akan ngapain? Terus-menerus ngomongin bisnis? Tentu saja tidak. Terkadang mereka juga harus merefresh otak dengan cara sederhana seperti ini. "Diam! Nggak usah ketawa terus-terusan," jawabnya sambil terus mantengin layar besar yang ada di hadapannya. Kesal sekaligus malu yang dia rasakan saat ini. "Oke, oke. Tapi serius. Kamu dapat dai dari mana? Kok bisa? Kita semua tahu kalau kamu perfeksionis banget orangnya." "Ibu yang minta. Aku nggak bisa menolak permintaan ibu." "Permisi, Mas. Masnya pada haus? Saya bikinkan jus buah naga yang seger." Saat mereka sedang asyik ngobrol, Nur datang masih dengan muka cemongnya. Tangannya pemegang nampan yang berisi 2 gelas jus buah naga kesukaan suaminya. Tentu saja Nurlaila sudah mencari tahu dulu apa makanan makanan dan minuman kesukaan suaminya dan apa makanan yang tidak disukainya kepada sang pawang. Siapa lagi kalau bukan Bu Nurul. Nur meletakkan nampan tersebut di atas meja yang berada di belakang mereka. "Hai mbak. Terimakasih ya? Pasti sueger ini. Seperti yang buat." Awan menaik turunkan alisnya dengan lancang. Bukan bermaksud untuk genit sebenarnya, tetapi memang seperti itu tabiat awan. Laki-laki itu memang agak gesrek dari sananya. Brak! Stik PS yang ada di tangan Deva dibanting dengan keras ke lantai begitu saja. Bukan, bukan karena laki-laki itu cemburu, tetapi karena dia tidak suka Nur selalu muncul di hadapannya dan di hadapan sahabatnya. Karena dia akan diledek habis-habisan. Awan dan Nur sama-sama berjingkat kaget. Nur, perempuan yang jarang mendapatkan perlakuan kasar dari orang lain itu langsung mengelus dadanya. Dia tidak tahu apa salahnya, tetapi diam dulu adalah jalan ninjanya. "Ikut saya ke kamar!" perintahnya tegas. Matanya menatap tajam perempuan yang benar-benar membuat dia eneg saat memandang. Rasanya dia ingin berteriak kencang saat ini. Dia ingin mengusir Nur dari rumahnya. Bukan pernikahan seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin menikah dengan perempuan yang dia cintai. Ketika dia memandang, akan muncul getar-getar halus di hatinya, ketika dia memandang, maka akan menyejukkan matanya. Bukan pemandangan yang membuat dia sakit mata seperti ini. "Baik, Dik." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Nur. Perempuan itu menoleh ke arah awan, kemudian tersenyum sopan. Glek. Oe. Ini aneh, kenapa ada desir halus di hati awan ketika melihat perempuan itu tersenyum tulus dengan sorot mata jujur di hadapannya. Dia tidak pernah melihat senyum setulus itu, dia tidak pernah melihat mata sebening itu, dan dia tidak pernah melihat pandangan semenenangkan itu. Nur Laila pergi meninggalkan Awan, tetapi sisa senyumnya masih terkenang di ingatan laki-laki itu. Setelah sampai di kamar, Nur langsung duduk di sofa, tepatnya di samping Deva. Wajah laki-laki yang saat itu sedang memakai memakai kemeja ketat itu terlihat merah padam. Dia terlihat sangat marah tapi menahan. Namun, Nur tidak tahu sama sekali apa masalahnya? "Ada pa tho Dik? Dek Deva lagi marah? Saya salah apa?" tanyanya lembut. Dia menunduk. Sebenarnya bukan semata-mata karena takut, tetapi karena dia ingin menghormati suaminya. Deva langsung berdiri begitu saja, berjalan menghampiri tempat tidur lalu menunjuk kotak make up itu dengan tegas. Wajahnya masih terlihat merah padam. "Mbak apain kotak perhiasan itu? Kenapa sekarang acak-acakan ndak karuan? Mbak apakan?" Deva membentak istrinya keras. Bibirnya bergetar karena menahan rasa marah. Entah kenapa dia sampai semarah itu hanya karena kotak perhiasan? "Em … Yo aku pakai mekap tho, Dik. Itu buat aku toh? Maaf tadi belum sempat berterima kasih. Terima kasih ya sudah membelikan alat mekap sebagus itu. Iya aku memang belum pandai dan mekapku memang belum sempurna, tapi aku akan terus belajar kok dik. Tenang saja, nanti pasti aku akan belajar mekap yang lebih baik lagi." Deva melongo. Kemudian menendang tempat tidur yang ada dihadapannya dengan keras. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan kelakuan istri yang tidak diinginkannya. Bagaimana bisa dia kepedean bahwa dirinya sedang membelikan alat make up itu untuknya? Nur Laila sedikit berjingkat kemudian memejamkan mata. Laki-laki dia tidak tahu kenapa suaminya bisa semarah itu. "Mbak tahu Saya membelikan alat make up ini untuk siapa? Untuk Silvia, Mbak. Nggak mungkin alat make-up sebagus ini untuk Mbak Nur. Mbak tahu berapa harga harga alat make up ini?" Nur menggeleng dengan d**a sesak.Ternyata alat mekap itu bukan untuk dirinya? Ternyata semua itu untuk kekasihnya? Dia tahu kalau dirinya tidak diinginkan. Namun, kenapa masih sakit ketika dia tahu bahwa dirinya menjadi nomor dua? Nomor dua? Ah … sepertinya itu terlalu bagus. Bukan nomor dua, tetapi tidak masuk hitungan. "Tujuh juta. Harga make up ini 7 juta sebagai permintaan maaf kepada Silvia karena aku sudah menikah sama orang lain. Sekarang alat make-up ini sudah acak-acakan mbak? Seharusnya mbak mikir kalau aku tidak mungkin membelikan alat sebagus ini karena memang enggak cocok. Di make-up setebal apapun, nggak akan pernah tampak cantik dimataku dan dimata siapapun. Oh ya, satu lagi. Kalau ada teman-temanku datang, sembunyi jangan pernah menampakan hidung. Apalagi mengaku sebagai istri. Aku malu." Deva merendahkan suaranya di akhir kalimat. Laki-laki itu tampak membuang nafasnya dengan kasar, kemudian segera pergi meninggalkan kamar dan meninggalkan Nur yang saat itu meneteskan air mata. Sakit, nelangsa, perih, kecewa, semuanya campur aduk menjadi satu. Kali ini dia bertanya, apa salahnya hingga Dia memiliki suami yang tidak menghargainya kayaknya sama sekali? Setelah dia yakin suaminya telah pergi, perempuan itu menunduk dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi tinggal di rumah ini dan mendapatkan perlakuan yang tidak baik setiap harinya? Dia istrinya dan istri sah nya. Bagaimana bisa dia tidak boleh muncul di hadapan teman-temannya? Bagaimana bisa dia sebagai istri sah dibentak-bentak ketika memakai barang pembelian suaminya? Dia yang berhak atas hadiah itu karena dia adalah istri sah-nya. Nur Laila terisak. Air mata itu bukan hanya membasahi pipinya, tapi juga membasahi tepian jilbab ungu muda yang dia kenakan. Tubuhnya tergoncang karena isakan yang keras. 'Pak, bolehkah aku menyerah? Ternyata berbakti sama suami yang tidak mencintai kita itu seberat ini. Bolehkah aku menyerah, Pak? Nur sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap Deva yang tidak pernah menganggap Nur ada, Pak.' Hatinya terus berbicara seiring isak tangis yang semakin lama semakin mengeras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD