Deo, Bu Ita dan Nur akhirnya memilih untuk duduk lesehan mengitari satu meja yang ada di rumah makan tersebut. Rumah makan yang yang sebagian besar dinding dan furniture lainnya terbuat dari kayu itu tampak begitu klasik. Suasana Jawanya dapat banget. Apalagi ditambah dengan lagu-lagu Jawa yang mengalun lembut, membuat suasana menjadi semakin syahdu. "Nduk, kalau boleh tahu di mana kamu bertemu sama anak ibu. Ibu benar-benar tidak menyangka kalau ternyata kamulah wanita yang selama ini menjadi jawaban dari doa-doa ibu di setiap malam. Semoga kamu benar-benar menjadi jodoh dunia akhirat Deo ya?" Bu Ita tersenyum sambil menatap Nurlaila yang saat itu tengah menikmati teh hangatnya. Sungguh, hari ini dia benar-benar bahagia. Selama ini dia ingin Deo cepat menikah dan beliau ingin Deo bisa

