Chapter 8

1016 Words
Keesokan paginya, matahari telah terbit cahayanya menghias di atas kepala mereka menyelinap melalui celah-celah jendela. Perlahan Angel membuka matanya kemudian dia melihat ke arah meja, dia terheran melihat orang yang ada di sana. “Kenapa kamu masih di sini, bagaimana dengan pekerjaan kamu?” tanya Angel kepada Lilac sambil mengerutkan keningnya. Lilac berbalik dan melihat ke arah gadis yang mengeluarkan suara itu. “Aku pikir hari ini aku akan bekerja untuk mengurusmu. Dan untuk urusan perusahaan sudah aku serahkan semua kepada Marcel untuk meng-handle semuanya. Aku akan tetap di sini untuk menjaga kamu. Apa pun yang terjadi tolong segera beritahu aku ya,” ucap Lilac sambil tersenyum ke arah Angel. Angel benar-benar merasa tersesat dalam pikirannya, bukankah Lilac adalah orang yang sangat dingin dan tidak peduli kepada orang lain dan mengapa sekarang pria itu rela meninggalkan pekerjaannya demi dirinya. “Bagaimana jika para staf di perusahaan mengetahui bahwa aku tinggal bersama dengan Ketua yang selalu mereka takuti itu?” Pikiran Angel semakin berkecamuk memikirkan bagaimana jadinya jika teman-teman di perusahaan tempatnya bekerja menyadari akan hal itu. Angel masih melamunkan tentang kejadian ini, sedangkan Lilac sudah turun ke bawah meminta kepada Bibi Anna untuk menyiapkan makanan buat Angel. Setelah makanan siap, Ibu dari Lilac, Deasy langsung menghampiri Bibi Anna. “Kamu bisa cuci piring saja, biarkan aku yang mengantar makanan ini ke atas,” ucap Deasy kepada Bibi Anna. Deasy menghampiri kamar tempat Angel istirahat dengan memegang nampan berisi makanan di tangannya. Kebetulan sekali Lilac masih berada di depan pintu kamar itu. Deasy menatap anaknya dengan ekspresi marah dan menatap tajam kepadanya. “Kudengar kamu membentak Sandra gara-gara gadis itu kemarin, kan?” tanya langsung ibunya kepada Lilac. Bahkan tidak ada sedikit riak otot wajah Lilac yang berubah, dia masih tetap dengan wajah datar yang dingin untuk menjawab pertanyaan ibunya. “Memang seharusnya seperti itu Bu. Dan aku juga ingin memberitahu Ibu, apa yang dia lakukan jangan sampai menyentuh Angel. Jika perempuan itu masih berani mengganggu Angel, jangan salahkan aku jika sampai terjadi sesuatu. Tolong sampaikan kepada perempuan itu Bu,” ucap Lilac. “Kenapa kamu tergila-gila terhadap gadis biasa itu memangnya apa lebihnya dia daripada Sandra?” tanya Deasy berteriak marah kepada Lilac. “Angel bukanlah gadis biasa Bu. Dia adalah gadis yang baik dan tulus hatinya,” jawab Lilac. “Lagi pula identitas macam apa yang dia miliki sampai membuatmu menyerah dan meninggalkan Sandra yang sudah jelas gadis baik-baik dan mencintai kamu apa adanya?” tanya Deasy kesal kepada anaknya. “Jika menyangkut identitas, Angel jauh lebih mulia daripada Sandra. Bagiku semua kekurangan ataupun kelebihannya, semua baik di mataku dan dia lebih baik dari siapa pun di dunia ini dan dia masih seorang gadis polos dan aku sangat mencintainya sepanjang hidupku Bu. Aku mencintai semua yang ada padanya,” ucap Lilac dengan tegas sambil mengambil nampan yang berisi makanan itu dari tangan ibunya dan berjalan masuk ke kamar. Sementara Angel yang sedari tadi mendengar semua perkataan Lilac dan ibunya dari balik pintu, dia merasa tersentuh dengan ucapan yang disampaikan oleh Lilac. Tak terasa air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Melihat Lilac sudah membuka pintu kamar, Angel langsung menghapus air matanya dengan panik. “Angel, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang memarahimu?” tanya Lilac terburu-buru langsung meletakkan nampan itu dan menghampiri Angel. Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil mengusap hidungnya. “Tidak ada, tidak ada yang menggangguku. Sebenarnya aku lapar,” rengek Angel kepada Lilac berpura-pura lapar. “Oh ya, ini makananmu,” ucap Lilac langsung menarik meja makan lebih dekat dengan Angel. “Kamu juga harus makan, kita makan bersama,” ucap Angel. Lilac terkejut karena ini adalah kali pertamanya gadis itu mengajaknya makan bersama. Lilac menjadi seperti orang bodoh, dia langsung mengambil banyak mangkuk beserta sumpit yang akan digunakan untuk makan bersama gadis itu. Lilac mengambil beberapa potong makanan dan memberikannya kepada Angel beserta menyuruh gadis itu untuk makan lebih banyak lagi. Dia pun memberikan air minum kepada Angel. Meskipun makanan itu sudah terasa agak dingin daripada sebelumnya, karena terlalu lama menunggu saat Lilac dan ibunya berseteru tadi. Namun, mereka berdua tetap menikmati makanan itu dengan sukacita dan penuh rasa cinta. Setelah selesai menikmati hidangan itu, Lilac membawa piring dan mangkuk kotor itu ke bawah. Di kamar, tiba-tiba teleponnya berdering. Gadis itu langsung mengangkat dan mendengarkan orang di seberang sana mengeluarkan suara. “Halo,” ucap orang di seberang sana dan terdengar suara seorang pria. “Apakah kamu Angel?” tanya pria itu lagi. “Benar, kamu siapa?” tanya Angel balik kepada pria itu. “Aku ayahnya Lilac. Apakah kamu ada waktu luang, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu?” tanya pria itu kepada Angel. “Iya, ada,” jawab Angel. “Oke, kalau begitu aku akan mengirimkan alamatnya,” jawab pria itu dari ujung telepon. Saat Lilac kembali ke kamar, dia melihat Angel sedang bersiap-siap untuk pergi keluar. "Angel kamu mau pergi ke mana?" tanya Lilac begitu penasaran. "Aku harus keluar sebentar, kamu tidak perlu ikut denganku, sebentar saja kok," jawab Angel sambil menyelempangkan tasnya. Setelah mengatakan itu Angel keluar dan pergi ke alamat yang dikirim oleh Charles, ayah Lilac. Tempat itu adalah sebuah restoran mewah. Setelah tiba di sana, Angel turun dari taksi dan sudah ada seseorang yang menjemputnya untuk mengantarkannya ke ruang VIP tempat ayahnya Lilac menunggu. "Halo, Nak Angel," ucap Charles memanggil Angel. Angel masuk dan melihat Charles, dia langsung membungkuk dengan sopan untuk menyapa pria paruh baya itu. "Silakan duduk," ucap Charles sambil tersenyum ringan dan berbicara dengan suara rendah. Secara perlahan pria itu ingin mengetahui jawaban dari sederet pertanyaan yang akan ditanyakannya. "Aku tidak menyangka Om memintaku datang ke sini, ngomong-ngomong ada apa ya Om?" tanya Angel kepada Charles. Pria paruh baya itu memberikan senyuman. "Aku hanya ingin berkenalan dengan pacar dari putraku, karena yang kutahu bahwa anak itu tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun dan dia juga memiliki penyakit gila bersih, jadi ini yang membuatku penasaran tentang dirimu. Aku ingin tahu bagaimana kamu bisa membuatnya berhasil memiliki perasaan kepadamu dan membuatnya tunduk kepadamu,” ucap Charles kepada Angel. Angel tersenyum kecut dia tidak tahu harus berkata apa. Kemudian Charles mengamatinya dan kemudian berkata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD