Chapter 14

1007 Words
“Tidak apa-apa semua orang sudah tahu. Tadi malam mereka ada di sana dan juga tahu mengenai identitasmu,” ucap Lilac. Alis Angel berkerut, dia tidak ingin semua orang tahu bahwa identitasnya adalah seorang Putri. Lilac menatap wajahnya sangat lucu, dia tertawa mencubit pipi kekasihnya yang tembam. “Jangan terlalu banyak berpikir. Aku sudah memutuskan kamu akan menjadi sekretarisku,” ucap Lilac. “Tetapi bukankah kamu sudah punya sekretaris sendiri?” tanya Angel lagi. “Ya sudah, tetapi tidak ada masalah. Kamu sekretaris pribadiku, tugasmu hanya perlu ada di sisiku. Oh iya, sore ini kamu punya satu misi lagi,” ucap Lilac. Angel menggerakkan sudut bibirnya penasaran. “Misi? Misi apa?” tanya Angel. Lilac dengan tenang menjawabnya. “Misimu adalah memeluk aku saat tidur setiap malam. Jika kamu tidak memelukku, aku yang akan memeluk kamu, bahkan mencium kamu di depan semua orang di perusahaan,” ucap Lilac santai. Sudut bibir Angel bergerak-gerak, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria ini. “Wah ini masih pagi, ayo kita tidur lagi,” ucap Lilac dan mereka memejamkan mata kemudian terlelap. Sebentar lagi hampir tengah hari Lilac bangun untuk pergi ke toilet dan berganti pakaian. Lilac duduk di meja kerjanya untuk mulai bekerja. Setelah beberapa saat Angel bangun melihatnya duduk di tempat kerja tapi kenyataannya bahwa suaranya masih terdengar mendengkur. “Bukankah hari ini hari libur dan kamu masih juga bekerja? Apa kamu gila kerja?” tanya Angel. Lilac berhenti kemudian berbalik. Dia bangun dan berjalan ke arahnya. Dia dengan lembut menyisir rambut Angel. “Aku benar-benar gila kerja, tetapi apakah kamu marah padaku,” ucap Lilac. Semakin dia mencintainya, memanjakannya, membuatnya semakin tertarik pada gadis itu. Sementara Angel juga terbiasa dengan cara yang penuh kasih ini. Angel duduk dengan lengan terulur padanya dan berkata. “Aku malas, tolong sikati gigiku dan cuci mukaku,” ucap Angel. Lilac tertawa dan menggendongnya. Kaki Angel memeluk punggungnya, dan tangan melingkari leher kekasihnya, mereka ke kamar mandi. Di kamar mandi, Lilac mengambil sikat dan pasta gigi dan menyikat gigi gadis itu. Sementara Angel berdiri di sampingnya tidak pernah meninggalkannya. Tiba-tiba Lilac langsung melepaskan pakaian atas yang pria itu kenakan. “Aku mau ganti baju, tolong ambilkan,” ucap Lilac. Angel menolak untuk mengambil pakaian sehingga dia juga yang harus memakaikan pakaian ganti Lilac. Melihat pria itu masih di sana, dia menyipitkan mata dan bertanya. “Mengapa kamu masih berdiri di sini? Keluar, ambil baju sendiri,” ucap Angel. Lilac menunjukkan wajah licik, dia tersenyum menirukan gaya bicara Angel. “Apa yang kamu takuti, pokoknya kamu akan melihatnya cepat atau lambat," jawab Lilac. “Ambil, ambil sendiri dan pakai sendiri! Cepat keluar,” ucap Angel mendorong pria itu keluar dan menutup pintu. Lilac tertawa, dia berdiri di luar menunggunya keluar. Sesaat kemudian Angel melangkah keluar ternyata pria itu masih menunggu. Baru saja ingin mengomel, pria itu langsung melangkah dan menggendongnya di bahunya. “Apa yang kamu lakukan, turunkan aku!” teriak Angel. Lilac masih tidak menurunkannya. “Kita akan ke bawah untuk sarapan. Aku yakin kamu suka. Semua orang libur hari ini dan aku ingin kita berdua memiliki ruang pribadi bersama,” ucap Lilac. Di lantai bawah dia meletakkan piring-piring itu di meja makan, hidangan mewah telah siap untuk dinikmati. Makanan yang Angel sukai. Sambil makan Lilac bertanya ke kekasihnya. “Angel, aku ingin pergi jalan-jalan. Kamu akan ikut denganku,” ucap Lilac. Angel berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku tidak ingin pergi ke mana-mana sekarang, aku malas,” ucap Angel. Setelah makan Lilac berdiri dan membersihkan piring. “Lilac, apa yang kamu lakukan?” tanya Angel. Lilac dengan tenang menjawabnya. “Aku sedang mencuci piring,” ucap Lilac. Angel bangun karena merasa sangat tidak percaya. “Apakah kamu mencuci piring, apa aku tidak salah dengar? Kamu juga tahu cara cuci piring?” tanya Angel. “Ini hanya mencuci piring, apa sih yang tidak aku ketahui," ucap Lilac bangga. Begitu dia mengatakan itu dia pindah ke wastafel untuk membilas. Angel masih tidak percaya bahwa seorang Ketua yang dingin yang tidak pernah melakukan apa pun, ternyata jemarinya telah dibawa ke tempat itu. “Lilac, aku mau bantu kamu,” ucap Angel. “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya,” ucap Lilac. Gadis itu cemberut menarik tangannya dan berdiri di dinding memperhatikan. Lilac terus mencuci tetapi dia tidak bisa menahan tawanya. *** Siang hari Lilac dan Angel duduk di kamar tamu yang menonton film. Gadis itu berbaring di pangkuan kekasihnya sambil memainkan handphone. Sementara Lilac terus menonton, tetapi sebenarnya dia tidak fokus menonton film itu, tetapi lebih sering menatap wajah gadis di pangkuannya sambil membelai rambutnya. Tiba-tiba sang Putri berdiri. “Olivia datang mengantarkan mantel. Aku ambil dulu ya,” ucap Angel. Begitu dia selesai berbicara Angel dengan cepat berlari keluar untuk menemui Olivia. Dia membuka pintu dan mengambil mantel itu dengan ekspresi senang. “Terima kasih, silakan masuk dan main sebentar di sini,” ucap Angel. Olivia mendengar perkataan itu, dia langsung menggelengkan kepalanya dengan marah. Mana berani dia masuk ke dalam untuk bermain, hanya akan stres karena menahan napas di hadapan bos yang dia takuti itu. “Wah terima kasih. Aku tidak masuk aku tidak mau mengganggu aktivitas kalian berdua. Oh iya apakah Ketua dulu menembakmu?” tanya Olivia penasaran. Angel mengangkat alisnya kemudian bertepuk tangan. “Tentu saja dia menembakku dulu,” ucap Angel. Olivia mengangguk sedikit, tak disangka Ketua mereka yang tadinya tidak dekat dengan perempuan, kini lihai mengejar gadis. “Baiklah, bye,” ucap Olivia. “Bye,” ucap Angel melambai dan menutup pintu. Begitu dia kembali dia melihat Lilac berdiri menunggunya masuk, ekspresinya seperti anak anjing yang menyedihkan. Pria itu cemberut sambil bertopang dagu. “Ada apa denganmu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Angel. “Aku merindukanmu,” ucap Lilac dengan gugup membungkuk sambil menyandarkan kepalanya di pundaknya. Angel langsung membuka handphone-nya untuk mengecek waktu, alisnya berkerut melihatnya. “Benar begitu? Aku baru saja pergi ke sana 12 menit yang lalu, lalu kamu bilang merindukanku?” tanya Angel. Lilac berdiri di belakangnya sambil memeluk lehernya Angel sambil berkata pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD