“Sekarang aku tahu, kamu mengatakan itu karena tidak memperbolehkan kami memakannya kan?” ucap Arion dengan ekspresi wajah yang sangat tidak sedap dipandang. Sinclair juga melangkah mundur dan tidak mau makan lagi.
“Aku mencintaimu,” ucap Lilac kepada Angel sambil menyerahkan bubur tersebut kepada gadis itu.
“Aku tidak mau makan lagi, karena kamu tidak memperbolehkan mereka makan,” ucap Angel kepada Lilac. Tiba-tiba Ming Chandra dengan bertekad untuk memakan bubur itu, dia ingin tahu rasanya, apakah sangat enak seperti yang dikatakan oleh Angel.
“Oh Lilac, aku akan menerima cintamu, bagaimanapun juga aku adalah pasanganmu, dan kamu belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Bagaimana mungkin aku tidak akan membuka hatiku untukmu,” ucap Ming Chandra mengejek Lilac sambil makan bubur itu.
Lilac yang baru saja mendengarkan Ming Chandra mengatakan itu, semua bulu kuduknya merinding mendengarnya. Angel juga tertawa mendengar ucapan Ming Chandra kepada Lilac. Mereka benar-benar tidak menyangka Lilac bisa memasak dengan baik seperti ini, setelah ini mereka akan memaksa Lilac agar memasak untuk teman-temannya.
***
Setengah bulan berlalu, seperti biasanya Lilac selalu membawakan makanan untuk Angel. Lilac merasa sangat senang dan bahagia dalam hatinya.
“Lilac kenapa kamu datang pagi-pagi seperti ini, biasanya jam tujuh?” tanya Via kepada Lilac. Dion yang menemani Via dan Vincent untuk mengunjungi Angel di rumah sakit juga bingung ketika melihat Lilac sudah datang sepagi itu. Mereka juga kaget setelah melihat Lilac memegang kotak makanan dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.
“Hari ini aku bangun pagi untuk memasak makanan kesukaan Angel, jadi aku ke sini untuk membawakannya makanan dan kami akan makan bersama,” ucap Lilac tersenyum kaku kepada mereka bertiga. Via mengerutkan kening dan tersenyum, lalu berbalik untuk melihat ke arah Dion.
“Kalian berdua berteman, mengapa kalian berbeda sekali, seperti langit dan bumi? Dia bisa memasak dengan sangat baik, sedangkan kamu?” tanya Via pada Dion.
“Aku telah mencoba yang terbaik untuk meningkatkan kemampuan memasakku, tapi itulah hasilnya,” ucap Dion cemberut pada Via.
“Baiklah, ayo masuk ke dalam,” ajak Vincent sambil tertawa bingung melihat kedua pasangan itu.
Mereka membuka pintu dan memasuki ruangan, tetapi mereka melihat ruangan kosong tanpa bayangan seorang pun.
Para pengawal masuk dan melihat ruangan sambil mencari-cari ke setiap sudut ruangan, tetapi tidak ada Angel di sana. Mereka bingung dan merasa takut, kemudian mereka terburu-buru pergi untuk mencari gadis itu ke mana pun. Via membuka pintu kamar mandi, tetapi dia hanya melihat seorang perawat yang diikat dan ditutupi mulutnya dengan lakban. Via melepaskan ikatan pada tubuh perawat tersebut dan membantunya keluar dari sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi, di mana Angel?” tanya Via kepada perawat. Perawat yang sedikit panik memberitahu semua orang di sana.
“Tadi saya membawakan obat untuk Putri Angel, tetapi saya tidak menyangka sang Putri akan memukuli saya dan kemudian dia menukar pakaian saya dengan pakaiannya. Setelah itu dia mengatakan agar saya tidak menyampaikan apa pun kepada semua orang tentang kepergian sang Putri. Dia bilang, jangan khawatir, dia akan kembali beberapa saat lagi,” ucap perawat kepada Via. Lilac sangat menghawatirkan kesehatan Angel, dan dengan cepat dia menyuruh orang-orangnya untuk segera mencari Angel ke mana pun. Dion dan yang lainnya juga mencari Angel ke mana-mana, mereka terus mencarinya tanpa henti.
***
Satu bulan kemudian, di Kota Z, di Lilac General Corporation.
“Ketua Lilac,” sapa semua staf yang melihat Lilac masuk, mereka segera membungkuk di hadapannya. Lilac hanya berdiri dengan dingin yang membuat semua orang di sekitarnya merasa segan dan takut. Dia segera berjalan tanpa melirik siapa pun, dia langsung saja menuju ke ruangannya.
***
“Angel, tugas yang aku minta sudah kamu kerjakan. Apakah kamu sudah siap?” tanya seseorang yang berbicara dengan Angel. Dia adalah Olivia, yang sudah Angel anggap sebagai sahabat terbaiknya di perusahaan itu. Angel mengangguk dan menyerahkan benda itu kepada Olivia.
“Iya, setelah selesai makan malam,” ucap Angel singkat.
“Aku mencintainya dan aku ingin memberinya hadiah besar malam ini,” ucap Olivia lagi sambil mengangkat alisnya kepada Angel.
“Ingat, aku tunggu,” jawab Olivia kepada Angel.
“Oke,” jawab Angel mengangguk sambil tersenyum.
Di ruangan CEO, Lilac dengan tatapan yang tampak tajam dan wajah yang semakin tidak sedap dipandang mengarah kepada Marcel.
“Bagaimana, apakah sudah ada kabar tentang Angel?” tanya Lilac kepada Marcel. Marcel merasa tertekan dan gugup saat mendengar ucapan bosnya yang sedikit galak kepadanya.
“Be-belum,” jawab Marcel terbata-bata menjawabnya.
Lilac hanya menatap Marcel dengan mata dingin, lalu dia melanjutkan pekerjaannya. Marcel ingin menyampaikan isi hatinya dengan khawatir, dia menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan ucapannya.
“Ketua, Ketua Ming Chandra akan datang ke sini untuk membicarakan tentang kontrak kerja sama,” ucap Marcel lagi kepada Lilac.
“Ya aku tahu,” jawab Lilac semakin memancarkan aura dingin. Marcel sudah tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi di sana. Dia dengan cepat segera pergi, daripada dia mati kedinginan di dalam ruangan atasannya.
***
“Angel, ayo kita makan aku sudah lapar,” ajak Olivia menarik tangan Angel.
Dengan senang hati mereka segera pergi ke restoran bersama-sama. Mereka berdua berjalan sambil berbicara, Angel tanpa sengaja menabrak seorang pria. Ponsel pria itu terjatuh ke lantai, Angel langsung membungkuk untuk mengambilnya. Sedangkan, Olivia memasang wajah ketakutan dan berulang kali meminta maaf kepada orang yang ditabrak oleh Angel. Angel mendengar temannya meminta maaf berulang kali membuatnya merasa kesal, kemudian dia berdiri dan ingin segera menatap siapa orang yang diajak bicara oleh Olivia.
“Kenapa kamu minta maaf, kita tidak sengaja menabraknya,” ucap Angel kepada Olivia.
Olivia memegang tangan Angel sambil menggelengkan kepalanya, ekspresinya sedikit khawatir dan takut. Angel berbalik untuk melihat siapa yang membuat Olivia begitu ketakutan. Begitu dia berbalik, dia terdiam membisu. Angel hanya bisa menelan air liurnya sendiri.
“Kenapa kamu di sini? Kartu karyawan apa ini?” tanya pria yang Angel tabrak itu. Orang tersebut adalah Lilac, dia menatap Angel dengan sedikit cemberut lalu melihat kartu karyawan yang dipakai oleh Angel dan Olivia.
Olivia bingung dan mengangkat alisnya karena terkejut, dia tidak mengerti apa yang terjadi di depannya. Angel menoleh dan membuang muka ke arah Olivia, dengan lembut dia menarik lengan baju temannya untuk mengajaknya pergi.