Day (28): P3K

1168 Words
“Fairel” Ucapan Fairel terhenti ketika seseorang memanggilnya, membuat Fairel mengalihkan pandangannya kepada orang itu untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata itu adalah teman sekelasnya. Kening Fairel berkerut penasaran kenapa temannya itu memanggilnya padahal mereka sangat jarang berkomunikasi. “Kein nyariin lo” ujarnya lalu berlalu pergi dari hadapan Fairel dan Aneira Fairel mengalihkan tatapannya kepada Aneira. Saat Fairel hendak membuka mulutnya tiba tiba ucapan Aneira membuatnya tak jadi berbicara. “Kak Kein nyariin lo kak, kalau gitu gue pamit dulu” Aneira merapikan kotak P3K lalu bersiap melangkah pergi dari hadapan Fairel. Fairel yang tak bisa berbuat apa apa akhirnya hanya membiarkan Aneira pergi, tak ada lagi yang bisa membuatnya menghentikan Aneira. Fairel mengikuti langkah Aneira, kemudian mereka berbaur di antara tamu undangan. Fairel yang mencari Kein, sedangkan Aneira mencari makanan karena perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Ia lupa kalau dirinya belum makan malam, padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00. *** Kein duduk di sudut ruangan memperhatikan setiap tamu undangan yang menikmati pesta adiknya, ia sangat bersyukur karena semua tamu dapat hadir di acara spesial adiknya itu. Kein sejak tadi mencari Fairel, yang sudah beberapa waktu tidak ia lihat semenjak Fairel turun dari panggung bersama Aneira. “Kein” Sebuah suara terdengar, itu adalah orang yang sedang ditunggu tunggunya sejak tadi Fairel, sahabatnya. “Woi Bro” Kein menepuk kursi yang ada di sebelahnya Fairel kemudian duduk disamping Fairel. Kein menatap wajah Fairel dengan cepat Fairel memukul wajah Kein pelan “Lo ngapain liatin gue kek gitu, najis” Kein mencebik kesal, temannya itu tak bisa membedakan antara melihat atau sedang memperhatikan. “Perasaan tadi luka lo belum diobati deh” Kein melihat luka Fairel yang sudah diobati dengan baik Fairel menyentuh lukanya yang telah tertutup plester, kemudian ia tersenyum membuat Kein bergidik ngeri karena ia pikir sahabatnya sudah gila. Kini giliran Kein yang memukul kepala Fairel Pletak “Aww” teriak Fairel kesakitan sudah berulang kali Fairel merintih kesakitan ini semua terjadi karena perbuatan para teman temannya. “Lo kenapa mukul gue b**o?” “Lo sih ditanya malah senyam senyum, lah gue pikir lo gila” Pletak Fairel membalas Kein tepat seperti yang Kein lakukan kepadanya “s**t” u*****n dari bibir Kein keluar sempurna “Siapa suruh lo ngatain gue gila” Sebenarnya Kein dan Fairel ini bagaikan anjing dan kucing yang selalu bertengkar tapi itulah yang menjadi bumbu bumbu yang membuat persahabatan mereka makin dekat. Kein sudah mengganggap Fairel sebagai saudaranya begitu pula dengan Fairel yang sudah menganggap Kein sebagai saudaranya. “Jadi siapa yang ngobatin luka lo?” mode serius Kein kembali kali ini ia harap pertanyaannya akan dijawab serius oleh Fairel. Tapi memang tak semudah itu membuat Fairel akan menjawab dengan mode yang serius “ Kepo banget lo ” Kein menghela nafasnya berat, terkadang ia bertanya tanya apakah ada yang salah dengan temannya ini, wajahnya saja yang tampan tapi IQ nya jongkok. “Gue udah berusaha sabar Fairel Atthariz Calief” Kein masih menahan emosinya demi mendapat jawaban yang ia inginkan. “Sabar kok bilang bilang” Fairel mengucapkannya tanpa rasa bersalah Sudah cukup bagi Kein terus menerus sabar menghadapi Fairel “Gue cabut capek ngomong sama orang yang childish” ujar Kein lalu berdiri di kursi untuk beranjak pergi. Dengan cepat Fairel memberikan jawaban yang diinginkan Kein “Aneira” Langkah Kein seketika terhenti ia berbalik tersenyum sumringah, Fairel sangat terkejut dengan perubahan ekspresi yang dimiliki Kein. Dalam waktu beberapa detik wajah Kein yang terlihat tertekuk lemah berubah menjadi sangat bersemangat. Kein langsung duduk di tempatnya sebelumnya, matanya terus menatap Fairel menuntut penjelasan lebih. “Nggak ada yang mau gue jelasin” kini giliran Fairel yang berdiri tapi dengan cepat Kein menarik tangannya membuat Fairel kembali terduduk “Lo nggak bisa lari lagi, jelasin semuanya” paksa Fairel membuat Fairel mengacak rambutnya kasar Inilah alasan dirinya mengapa ia tak mengatakan yang sebenarnya kepada Kein, reaksi Kein terlalu berlebihan lihatlah sekarang ia tampak sangat bersemangat menuntut penjelasan padahal memang tak ada yang perlu dijelaskan sudah cukup rasanya Kein tahu hanya sebatas bahwa Aneira lah yang mengobati lukanya, tak bisakah hal yang lain menjadi rahasian bagi dirinya. “Apa yang mau gue jelasin, kan lo udah tau kalau Aneira yang ngobatin luka gue” Fairel mencoba menjawab dengan tenang “Terus terus, lo ada ngomong apa gitu ke dia” Kein terus mencercanya dengan pertanyaan pertanyaan yang membuatnya berada di posisi sulit. “Gue harus ngomong apa emangnya” “b**o banget lo!” Kein menghardik Fairel kenapa sahabatnya ini sangat lama dalam berfikir seharusnya ia mengatakan sesuatu kepada Aneira “Loh kok lo malah ngatain gue” Fairel tak terima dirinya di katakan b**o “Iya gimana, gue nggak marah lo harusnya minta maaf ke Aneira” ujar Kein perlahan agar sahabatnya bisa berfikir dengan jernih “Maaf?” Ulang Fairel tak mengerti kenapa juga dirinya harus minta maaf memangnya apa yang ia perbuat dengan Aneira “Itu mangkanya gue bilang lo b**o, dikatain b**o malah marah. Kan tadi gue udah bilang kalau Aneira ngasih kotak P3K ke gue keknya dia lagi kesal banget ke lo tersirat wajah marahnya saat menyebut nama lo, walaupun gue nggak tahu apa alasannya tapi bisa gue pastiin ini semua terjadi karena lo” Fairel terdiam mendengar penjelasan Kein, memang benar apa yang dikatakan Kein. Tadi ia menunggu Aneira tak kunjung datang pasti ada penyebab Aneira seperti itu kepadanya. “Dan.. “ Kein kembali menjeda ucapannya, membuat Fairel kembali memfokuskan perhatiannya kepada apa yang akan diucapkan Kein. “Lo tanya nggak kaki Aneira kenapa?” Fairel baru ingat bahwa ia tak menanyakan keadaan Aneira, sudah jelas ia melihat Aneira berjalan ke atas panggung seperti orang yang sedang menahan rasa sakit. Tapi mengapa dirinya malah tidak bertanya. “Dari ekspresi lo, gue tau jawabannya nggak.” “FAIREL LO b**o BANGET SIH” Teriak Kein yang membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian “Lo bisa kecilin suara lo dikit nggak” erang Fairel saat dirinya dengan sengaja dipermalukan oleh Kein “Sorry bro, soalnya reflek karena kebodohan lo yang melewati batas” “Ba**sat lo” Fairel menoyor kepala Kein membuat kepala Kein miring ke kiri. “Rel, kepala gue nggak bisa digerakin” ucap Kein dengan posisi kepala yang masih sama yaitu miring ke kiri. Fairel segera menarik telinga kanan Kein, membuat kepala Kein kembali ke posisi semula “Garing lo” ujar Fairel. “Jadi gimana nih?” Kein malah bertanya kepada Fairel, yang notabene juga tak tahu harus apa. “Gue juga nggak tau” Dua sahabat itu hanya duduk terdiam memikirkan solusi yang terbaik untuk Fairel, Fairel yang tak memiliki pengalaman cinta sekarang bergantung kepada Kein yang sangat ahli dalam bidang ini. “Antar dia pulang, itu jalan satu satunya” Fairel tersenyum sumringah, benar bukan sahabatnya ini sangat bisa diandalkan otaknya memang bisa dijalankan sebagaimana mestinya. “Tumben lo pintar” puji Fairel sambil mengedipkan matanya kepada Kein “Lo mau gue bantai?” ancam Kein dengan cepat Fairel lari dari hadapan Kein sebelum dirinya menjadi korban dari keganasan Kein. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD