Day (14)

1015 Words
Aneira, Kein, dan Fairel entah sudah berapa kali menguap. Hampir dua jam mereka berada di butik, Aneira yang sejak tadi menahan kantuknya benar benar tak bisa lagi menahannya. dalam keadaan duduk ia tertidur. "Lihat tu si aneira sampai ketiduran" tunjuk Kein kepada Fairel ketika sadar bahwa Aneira sudah tertidur. Fairel juga melihat ke arah Aneira yang ternyata benar benar tertidur. Saat Fairel sedang memperhatikan Aneira yang sedang tertidur, tiba tiba tubuh Aneira sedikit oleng membuatnya hampir terjatuh ke arah Fairel, dengan cepat Fairel menahan kepala Aneira dengan tangannya agar tidak jatuh. Tapi lihatlah Aneira seperti tidak sadar akan apa yang terjadi ia malah semakin nyenyak tidur di telapak tangan Fairel. Fairel meletakkan kepala Aneira seperti sedia kala tapi belum sempat ia melakukannya suara Kein terdengar "Rel, sandarin aja ke bahu lo Rel, kasihan leher dia pasti sakit" Fairel segera mengalihkan pandangannya kepada Kein, tapi hal yang pertama ia lihat adalah wajah jahil Kein seperti sedang menggodanya "Udah di bahu lo aja" Ingin rasanya Fairel marah di hadapan Kein tapi mengingat Aneira yang sedang tertidur tidak mungkin ia menganggu Aneira, tapi tanpa diduga tiba tiba kepala Aneira terjatuh di bahu milik Fairel yang mau tak mau akhirnya Fairel mengikuti saran dari Kein. Fairel merendahkan sedikit bahunya agar Aneira bisa nyaman berada disana. "Cwiiit banget sih lo" Ujar Kein dengan nada yang diimutkan Andai saja Fairel tak memikirkan Aneira tentu saja sejak tadi Fairel sudah menghabisi Kein. Divandra kemudian datang dengan membawa beberapa paperbag yang sudah memenuhi tangannya. "Yuk kak, gue udah selesai" Ajak Divandra tanpa menyadari bahwa Aneira tertidur. "Tunggu Di, temen lo tidur tuh" Divandra yang mendengar perkataan Kein langsung melihat ke arah Aneira yang sedang tertidur dibahu milik Fairel "Kok bisa ketiduran sih" "Lu tanya aja sendiri sama diri lo, lihat jam udah jam berapa lo sih enggak mikir kalau ada orang yang nungguin lo disini apalagi kita belum pada makan" Ujar Kein kepada Divandra yang membuat Divandra merasa bersalah "Maaf Kak gue kira masih jam berapa, terus ini gimana?" tanya divandra sambil melihat kepada Aneira "Bangunin aja" "Ya udah lo sama kein jalan aja dulu biar gue yang bangunin Aneira" saran Fairel yang langsung mendapat persetujuan dari Kein dan Divandra mereka melangkah menuju pintu keluar. Fairel mencoba membangunkan Aneira "Aneira" panggil Fairel pelan sambil menepuk pipinya pelan tak lama Aneira bereaksi hanya dalam beberapa detik, matanya sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Aneira seketika sadar, bahwa dirinya tertidur di bahu seseorang. Dengan cepat Aneira mengangkat kepalanya untuk melihat bahu milik siapa. "Kak Fairel?" "Gue tidur di bahu Fairel" Batinku dalam hati. "Eh, kak Fairel maaf ya kak" Aneira merasa bersalah karena telah merepotkan Fairel "Nggak apa apa, yuk" Fairel berdiri dari tempat duduknya mengulurkan tangannya kepada Aneira, Aneira yang tak mengerti kenapa Fairel mengulurkan tangannya, dengan cepat Fairel menjelaskan "Biasanya kalau orang baru bangun keseimbangannya kurang baik" Aneira akhirnya mengerti maksud dari uluran tangan itu segera dengan cepat meraih tangan Fairel untuk berdiri dan ternyata benar keseimbangannya memang kurang baik jika saja ia tak berpegangan dengan Fairel sudah pasti ia akan jatuh. Fairel dan Aneira keluar dari butik, Kein dan Divandra sudah menunggu mereka sejak tadi. Segera sesampai di mobil, Aneira melepaskan pegangannya dari tangan Fairel "Makasih Kak" Fairel hanya mengangguk kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil yang didalamnya sudah ada Divandra dan Kein. "Kita kemana?" tanya Kein meminta saran dari yang lainnya "Gue lapar" ujar Fairel "Gue juga" "Kalian para ciwi ciwi" "Iya kami juga" ujar Divandra dan Aneira kompak Lalu Kein melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir menuju tempat makan yang biasa mereka kunjungi *** Akhirnya mereka sampai di tempat makan Kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang terkenal walaupun hari sudah menunjukkan pukul 21.00 malam tapi restoran ini masih saja ramai "Permisi mas" Sapa salah satu pelayan yang ada di sana "Untuk berapa orang?" tanyanya kepada kami "Empat orang Mas" Jawab Fairel Pelayan itu kemudian menyuruh mengikutinya agar ia bisa menunjukkan di mana tempat duduk untuk mereka "Silaikan Ikuti saya" dan kami berempat mengikuti pelayan itu. Kami duduk di tempat yang tersedia, pelayan itu memberikan buku menunya kepada kami "Silahkan" ucapnya ramah Aneira, Fairel, Kein, dan Divandra sedang asyik memilih pesanan masing masing. Aneira duduk bersebelahan dengan Divandra dan tepat diseberangnya adalah Fairel. Aneira masih mengingat kejadian dirinya yang tertidur di bahu Fairel "Sial, jangan sampai aku terayu" ujarnya kepada dirinya sendiri. Setelah memesan makanan pelayan itu pun beranjak untuk menyiapkan makanan kami "Ne, Maafin gue ya, gara-gara gue lo ketiduran" divandra masih merasa tak enak dengan apa yang ia lakukan tadi, ia terus memilih pakaian hingga lupa bahwa teman-temannya sedang menunggunya "Enggak apa-apa di Gue ngerti kok" ujar Aneira sambil tersenyum kepada Aneira sebagai tanda bahwa dirinya benar benar baik saja. Sifat jahil Divandra kembali muncul "Tapi enakkan tidur di bahunya kak Fairel" ucapnya menggoda Aneira Aneira yang digoda seperti itu entah kenapa jadi merasa malu "Apaan sih Di" Kini giliran Kein yang menggoda Fairel "Sok nggak mau sih lo, tadi awalnya Fairel nggak mau lo Ne, tapi tiba tiba kepala lo jatuh di bahu dia" perkataan Kein meluncur bebas tanpa memikirkan bahwa Fairel dan Aneira sudah sangat malu satu sama lain. Bahkan Aneira hanya menunduk tak berani melihat Fairel. Fairel bereaksi berbeda dari Aneira, untuk menyembunyikan rasa malunya ia meninju kecil perut Kein yang berada di bawah meja "Aww" ucap Kein manja "Lo kenapa mukul gue sih Rel, malu?" sukses pertanyaan Kein kembali membuat Fairel membesarkan matanya kepada Kein agar menutup mulutnya rapat rapat jika tak ingin habis di tangannya malam ini juga. "Santai aja Ne, kalau lo sama kak Fairel gue seratus no seribu persen setuju, lo gimana kak?" untuk hal seperti ini Kein dan Divandra bisa sangat kompak malah seperti menjadi satu berbeda dengan biasanya yang selalu bertengkar. "Gue juga setuju Di, Fairel udah lumutan jadi jomblo" sepertinya ancaman Fairel benar benar tak berhasil bagi Kein. Aneira dan Fairel ingin pembicaraan mereka berdua berhenti, jika saja ada sesuatu yang bisa menyumbat mulut mereka mungkin sejak tadi sudah Aneira lakukan. "Ne, mau kan sama kak Fairel?" "Rel, lo mau kan sama Aneira?" Pertanyaan duo sibling itu kompak, yang membuat Fairel dan Aneira saling bertatapan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD