"Saya yang gak tau malu?" Aku menatapnya takjub. Bukankah seharusnya dia yang malu? Siapa sih yang salah dalam hal ini? "Iya kamu!" tunjuknya dengan nyalang. "Ra..." Aku kembali memberi isyarat supaya mas Panca diam. Belum saatnya dia berbicara. "Haha lucu banget Mbaknya." Aku tertawa sambil memegangi perutku. Dia benar-benar lucu, seperti badut. "Mbak bilang saya gak tau malu? Lalu Mbak apa? Gak punya malu?" Aku menyeringai miring. "Apa lo bilang?" Panggilannya padaku sudah mulai berubah, persis seperti warna wajahnya yang juga berubah, menjadi merah. Aku beristighfar dalam hati supaya emosiku mereda. Dia lagi hamil. Di dalam perutnya ada dedek bayi. Dibawa sabar aja. Mungkin karena hormon makanya emosinya tidak stabil. Mungkin karena sedang hamil, makanya ia jadi tak peka. "Saran

