12

1420 Words

Bagai disambar petir, Livia kini yang melongo. Apa? Apa ia tak salah dengar? Raphael berkata baiklah?? Tapi sangat jelas mata Raphael menunjukkan bahwa apa yang ia katakan tak salah dan ia juga tidak mabuk! Livia menatapnya lama sebelum bersuara, "Kenapa? Alasan apa?" Raphael mengangkat bahunya santai, "Karena hanya peraturan. Lagipula sepertinya itu cara yang bagus." Datarnya suara Raphael dan sikap cuek lelaki itu mengoyak hati Livia. Apalagi saat ia ingat bahwa ia sedang membuatkan syal bagi Raphael. Apa yang ia simpan selama ini serasa membludak dan hatinya hancur. Tapi Livia bertahan di batas keputusasaannya. Ia tersenyum datar dan berdoa agar pertahanannya stabil, "Baiklah. Tapi langkah pertamaku sebagai calon istrimu, aku tak ingin mendengar bahwa kau baru saja menjadi pembun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD