Sama sekali tak ada obrolan di sepanjang perjalanan menuju kantor pengadilan agama. Hesa lebih banyak diam, memandang ke arah jalan raya yang ramai seolah tengah menertawai nasibnya. Sementara Hakim fokus mengemudi dengan segala kecamuk yang menyesakkan d**a. Pikiran keduanya bercabang, yang intinya sama-sama tak menginginkan perpisahan. Ide gila sempat melintas di benak Hakim, haruskah ia memutar balik mobilnya dan membawa kabur Hesa? Mungkinkah ia bisa? Ingin membatalkan semua sudah terlambat, palu diketok beberapa jam mendatang. Dan bisa-bisa Hesa semakin membencinya jika ide itu benar-benar ia lakukan. Diliriknya perempuan yang sedari tadi terus membuang muka. Hakim melihat persis bahu Hesa yang bergetar, kedua tangan di pangkuan mengepal. Hakim membatin, Nangis lagi? Why? Bukankah h

