1- Manusia Biasa

1013 Words
Lima belas tahun yang lalu.... Pengumuman kelulusan sekolah akhirnya dimulai. Hampir seluruh murid sudah berkumpul di lapangan untuk mendengar pengumuman yang akan dibacakan oleh kepala sekolah mereka. Beberapa siswa tampak antusias, bersiap bersorak ria ketika mendengar nama mereka dinyatakan lulus. Satu persatu nama dipanggil dengan angka yang juga disebutkan. "Dihyan Aradhana." Satu nama itu akhirnya disebut. Nama yang melegenda di Genandhi Highscool dimana dia selalu memiliki nilai tertinggi hampir di semua mata pelajaran selama tiga tahun. Ditambah olimpiade fisika yang selalu ia menangkan dengan nilai sempurna, membuat akreditas sekolah tempatnya belajar menjadi yang terbaik di Abadher, salah satu desa agak terpencil di bagian barat Convodia. Sayangnya nama yang dipanggil tak juga muncul, beberapa murid tampak mencari keberadaannya. Ternyata bukan hanya Dihyan yang menghilang, tapi bersama dua temannya yang lain. Mereka sering disebut tiga serangkai. Atau kadang jika sedang bercanda, pasti mereka menyebut Dihyan sebagai pelaku poligami karena dua teman lainnya adalah wanita, yang cantik dan juga tak kalah terkenal darinya. Yang dibicarakan sedang berara di rooftop gedung sekolah mereka, menatap ke arah lapangan dengan tawanya. Seolah lucu melihat orang- orang yang tampak mencari keberadaan mereka. "Kan. Enakan kita lihat dari sini. Dibanding dibawah, panas udah gitu pengap." Zafhira tampak menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya yang tertiup angin. Ia kemudian sibuk dengan kuku- kukunya yang dipoles kutek bening. "Nilai kamu tertinggi. Sudah aku duga." Kali ini Fredella, gadis dengan rambut bergelombang membenarkan letak kacamatanya sambil menatap kagum pada pria berseragam abu- abu disebelahnya. Dihyan, pria yang sedang dicari hampir seluruh penghuni sekolah itu hanya duduk sambil menatap langit dengan kaki terjuntai ke bawah. "Ya, mau bagaimana lagi? Aku terlalu sulit dikalahkan." Zafhira memutar bola matanya," Kalo bukan sahabat udah aku dorong kamu dari sini." "Hey. Yang nilainya pas- pasan diam saja." ucap Dihyan dengan nada mengejek. Zafhira membentuk cakaran melayang dengan tangannya kearah Dihyan tapi pria itu hanya tertawa," see. Nilai tidak mempengaruhi kepopuleran manusia kok." "Iya deh yang sebentar lagi mau debut di Convolywood." cibir Dihyan. Zafhira mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh." Tidak juga kok. Aku kan masih merintis dari bawah." "Tetap saja peluang kamu besar. Anak seorang sutradara keluarga Azrana sih." sahut Fredella kali ini. Zafhira mengerucutkan bibirnya," mulai deh. Kalian itu tidak boleh nepotisme dong. Aku kan mau usaha dengan usaha aku sendiri bukan dengan nama keluargaku. Jika aku mau begitu, mungkin kalian tidak akan bisa jadi sahabat dari aktris terkenal seperti aku." ia tersenyum sinis tapi tentu dengan niat bercanda. "Iya deh iya. Lalu selanjutnya apa?" Fredella mencoba mengalah. "Aku akan casting model video klip Rujana." "Wah! Ketemu Devdan dong!" Fredella terlihat antusias. Bagaimana tidak. Nama grup band yang disebutkan Zafhira tadi adalah salah satu band terkenal saat ini. Dengan vokalis sekaligus bintang utama si pria bertampang maskulin dengan kulit kuning langsat dan mata coklatnya. Membuat siapapun jatuh cinta. Devdan. "Jelas. Mungkin aja malah jadi cinta lokasi." Zafhira terkekeh geli. "Mimpi!" balas Dihyan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Pria itu kini berdiri kemudian melompat ke lantai rooftop. Ia menepuk- nepuk celananya yang tampak terkena debu. "Heh! Yang menolak aku ajak jadi model lebih baik diam. Padahal kamu tuh pas loh. Bisa debut juga aku yakin." Zafhira menatap Dihyan dengan kesal. Bagaimana tidak karena sahabatnya itu menolak jadi model dengan agensi dibawah naungan keluarganya. "Dan menelantarkan kuliahku? Big No!" Dihyan memang sangat mengutamakan pendidikan. Sama seperti keluarga besarnya. Meski perekonomian keluarganya masih terbilang rendah, tapi soal pendidikan selalu mereka nomor satu kan. "Iya sih apalagi Dihyan dapat beasiswa. Kalo nilai dia turun bisa- bisa beasiswanya dicabut." "Exactly! Kamu memang paling mengerti aku, sayang." Dihyan mencubit pipi Fredella dengan gemas. Ya, mereka pacaran. Tepatnya setahun yang lalu ketika mereka berdua menyadari perasaan mereka bukan sekedar sayang sebagai sahabat. "Udah deh! Awas kalo aku udah punya pacar nanti." Fredella hanya terkekeh kecil dengan Dihyan yang merangkul pundaknya dengan posesif. "Kalian pasangan yang membosankan. Pasti kencannya di perpustakaan sama buku- buku." cibir Zafhira mengingat hobby kedua sahabatnya itu sama. Sama- sama suka dikelilingi buku dan hal membosankan lainnya. "Iya deh, gadis kota seperti kamu pasti mainnya di kafe atau restoran terkenal. Tidak seperti kami." balas Fredella yang tau jika Zafhira memang suka ke pusat kota Convodia untuk sekedar shooting video klip atau pemotretan model majalah. "Iya dong. Ya udah. Hayo kita pergi dari sini. Ke rumahku?" Zafhira beranjak dari tempatnya dan mengibaskan roknya. "Aku ke rumah dulu." balas Dihyan. "Aku juga." "Dan aku harus jadi supir kalian? Dasar!" Fredella dan Dihyan tertawa puas karena berhasil membuat sahabat mereka kesal. ...... Sekitar dua puluh menit, mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang terlihat usang dari luar. Yang membuat Dihyan heran adalah keadaan rumahnya yang mendadak ramai. Walau memang penghuni rumahnya banyak. Tapi ini terlihat lebih ramai lagi. Bahkan tetangga- tetangga tampak datang dan duduk sampai ke bagian halaman rumahnya. "Ada apa di rumah kamu, Dihyan?" Zafhira tampak mengerutkan keningnya dengan heran. Merasa perasaannya mendadak gelisah, Dihyan segera turun dari mobil mewah milik sahabatnya itu dan berlari ke dalam rumahnya. Beberapa orang menatapnya dengan sendu dan pandangan kasihan. Tatapan yang sama sekali tak ia sukai sejak dulu.  Tubuhnya kaku seketika melihat seseorang didepannya tengah berbaring  dengan kain putih yang menutupi sampai ke wajahnya. Tanpa perlu Dihyan buka kain penutupnya, ia tau siapa seseorang yang tengah berbaring disana. Seseorang yang tidak menyambut kedatangannya hari ini seperti biasa.  Ibu. "A- apa yang terjadi?" "Dihyan." Kakak sepupunya, Revrana. Wajah gadis itu tampak sembab dengan tatapan sendu mengarah pada Dihyan." Bibi... Dia..." Dihyan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia segera berbalik dan berlari, meninggalkan orang- orang yang memanggil namanya. Juga Zafhira dan Fredella yang menatap penuh arti padanya. Pria itu berlari dengan kencang dengan gemuruh pada dadanya. Ia harap dengan berlari seperti ini, rasa sesak itu bisa hilang. Tapi ternyata rasa sesak itu malah semakin menjadi. Ia jatuh terduduk di pinggir jalan raya dan menunduk disana.  Tetesan demi tetesan air dari matanya lolos seketika. Ia berteriak dengan keras, tak memperdulikan tatapan orang padanya.  Zafhira dan Fredella hanya bisa diam beberapa meter dibelakang Dihyan yang tampak hancur. Di hari istimewanya, pria itu harus kehilangan satu- satunya orangtua yang dia miliki. "IBU! Dihyan tidak punya siapa- siapa lagi. Bagaimana Dihyan bisa hidup? Siapa lagi yang akan menyambut Dihyan didepan pintu dan mengingatkan PR Dihyan." Tangisan itu sungguh menyayat hati, membuat baik Zafhira maupun Fredella tak mampu membendung air mata di pelupuk mereka. Dihyan yang biasanya terlihat kuat meski dia seorang anak yatim, kini dia tampak serapuh sayap kupu- kupu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD