Telfon Dari Mama

1113 Words
Setelah sampai disalah satu mall di Jakarta, Adhista dan Arjuna segera masuk kedalam, dengan keadaan rambut Adhista yang sedikit berantakan karena habis menggunakan helmn dan masker steril yang masih setia diwajahnya. "Beli boba doang kan?" Tanya Adhista sambil menyisir rambutnya menggunakan tangan. "Buset, niat bener beli boba sampe jauh banget segini. sekalian main Timezone atau nonton bioskop kan kane tuh dhis" Jawab Arjuna meletakkan tangannya dipundak Adhista. "Yaudah oke, makan dulu yu. laper banget aku kak" Ucap Adhista lalu mereka berdua pergi ke tempat makan. Mereka berdua memilih naik eskalator dari pada lift, karena agar bisa jalan-jalan sekalian melihat-lihat barang apa yang bagus. "Emang nanti mau nonton film apa?" Tanya Adhista sambil bermanja-manja kepada Arjuna dengan meletakkan kepalanya di bahu Arjuna. "Hmm, kamu maunya apa?" Jawab Arjuna menatap dalam ke mata coklatnya Adhista. "Deeh, kan yang ngajak kamu. aku mah ngikut aja hehe" Jawab Adhista. "Yaudah main Timezone aja, tapi kan udah pernah" Ucap Arjuna bingung. "Lah kan nonton bioskop juga udah sering" Jawab Adhista yang sekarang sedang menghadap kearah Arjuna. "Yaudah ntar lagi, naik eskalator aja dulu" Seru Arjuna lalu merangkul Adhista lagi.                                                                              *** Sesampainya di KFC, mereka berdua memilih makanan kesukaannya masing-masing. "Aku burger box nya deh kak" Ucap Adhista kepada Arjuna. "Apalagi?" Tanya Arjuna. "Udah itu aja" Jawab Adhista lalu Arjna langsung memesan makanannya. "Mbak, Burger Box nya satu sama Full Boxnya satu ya" Ucap Arjuna. "Jadi tujuh puluh lima ribu kak" Jawab sang kasir lalu Arjuna mengeluarkan uang pas, agar tidak ribet. "Oke kak, ditunggu ya" Ucap sang kasir sambil tersenyum. Lalu Arjuna berjalan kembali ke tempat Adhista berada. "Yaudah berarti abis ini mau gimana?" Tanya Arjuna sambil duduk didepan Adhista. "Nih, apa nggak kita jalan-jalan aja. naik motor, mengelilingi kota sambil memecahkan celengan rindu hehe" Saran Adhista dengan muka datar. "Emang kamu rindu aku?" Ejek Arjuna sambil mencubit hidung Adhista. "Yeu pede, itukan lagu kak" Jawab Adhista memberitahu. "Kok gue ga tau ya, yaudah berarti nanti jalan-jalan doang kan? Beli Boba nya gimana" Tanya Arjuna bingung. "iya jalan-jalan aja, biar irit ga usah beli boba" Jawab Adhista sambil membentuk tangannya menjadi bentuk 'sip' sambil mengedipkan sebelah matanya, sungguh centilnya. "Centil" Ucap Arjuna sambil mengacak-acak rambut Adhista. "Gapapa, centil buat pacar emang salah. toh kamu juga seneng kan hahaha" Jawab Adhista sambil tertawa membuat matanya menjadi hilang. "Iya juga sih, yaudah sama aku harus centil terus ya!" Perintah Arjuna pura-pura memaksa. "Kak, mau tanya" Ucap Adhista. "Apa" Jawab Arjuna sambil meletakkan tangannya di atas meja lalu fokus menatap Adhista. "Ketek nih ya, kalo bau, yang diilangin keteknya apa baunya?" Tanya Adhista se-normal mungkin, karena dia sudah ingin tertawa saja dari tadi. "Anjrit, lo dapet pertanyaan itu dari mana anjir" Ucap Arjuna bingung, karena pertanyaan nya benar-benar tak masuk diakal. "Jawab dulu ish" Seru Adhista kesal. "Ya bau nya lah anjrit, kalo keteknya yang diilangin creepy nanti Dhis" Ucap Arjuna dengan muka yang di sedih-sedih kan. "Kenapa ngga keteknya? kan jadi beda itu unik" Tanya Adhista santai sambil jarinya membentuk angka tujuh dan diletakkan dibawah dagunya. "Ya.. ya.. ya tapi beda nya ya gak gitu juga duh, ngimpi apasi gue punya pacar macem begini" Ucap Arjuna pasrah sambil menepuk wajahnya dengan telapak tangannya. "Iya ish iya, aku cuma bercanda haha, abisan itu pertanyaan lucu banget" Jawab Adhista memasang mimik wajah merasa bersalah. "Ya bercanda si, tapi.. tau ah puyeng gue Dhis, mending makan" Ajak Arjuna lalu mereka berdua memakan makanannya sambil sesekali bercanda. "Dhis, a coba a" Seru Arjuna sambil memutar-mutar kan sendoknya di udara seolah-olah sendok itu adalah pesawat terbang lalu perlahan-lahan menuju kearah mulut Adhista. "Apa?" Tanya Adhista memasang muka sok polosnya. "A cepetan dhis, pesawat nya keburu jatuh nanti" Perintah Arjuna memaksa Adhista yang belum mengerti juga. "oh iya iya, AAAAAAAA" Ucap Adhista sambil membuka mulutnya lebar-lebar agar pesawat nya bisa masuk. "Ih pinter banget si pacar siapa si" Ucap Arjuna gemas sambil mencubit pipi Adhista. "Ya kalo gemes tuh jangan bikin orang sakit apa kak, merah nih pasti pipi aku" Seru Adhista mengelus-elus pipinya sendiri. "Yaudah iya-iya maaf, yaudah lanjut makan, abis itu kita langsung pergi" Seru Arjuna lalu fokus makan setelah dimarahi oleh Adhista sang ibu negaranya. Mereka berdua hanya diam, sambil fokus makan agar cepat pergi lalu jalan-jalan berkeliling kota sambil memecahkan celengan rindu, kata Adhista. Arjuna yang selesai duluan berlalu untuk ke kamar mandi, katanya ingin buang air kecil dan mencuci tangannya yang kotor. Saat Arjuna masih di kamar mandi, tiba-tiba ponselnya Arjuna berdering dan muncul tulisan 'Mommy' di layarnya dan tanpa ragu Adhista mengangkat telepon nya itu. "Juna, Kamu abis check up lho, pulangnya jangan lama-lama. obatnya juga kamu belum diminum kan, mama gak mau ya kalau penyakit kamu tambah parah, mama mau pergi dulu ya. kuncinya Mama taroh dirak sepatu, didalem sepatu kamu yang merah ya sayang. Mama pergi dulu, see u" Jelas Ibunda Arjuna dari sebrang telepon lalu mematikan teleponnya. Adhista langsung buru-buru meletakkan ponsel Arjuna seperti tempat semula, dan Adhista hanya terdiam mendengar ucapan dari Mama nya Arjuna. Adhista kesal, kenapa Arjuna menyembunyikan tentang ini. padahal Adhista sudah menceritakan semuanya, tentang apapun dia ceritakan. Tapi Arjuna masih bermain rahasia-rahasiaan dengan nya. Adhista bingung, apakah habis ini dia dan Arjuna akan tetap pergi atau ditunda saja. karena setelah mendengar penuturan ibunda Arjuna, Adhista rasa bahwa Arjuna memiliki penyakit yang serius. Adhista hanya bengong saja dari tadi, dia rasanya ingin menangis mengetahui bahwa kekasihnya itu memiliki penyakit yang serius, sampai ibundanya berkata seperti itu. Arjuna yang sudah sampai, hanya memperhatikan Adhista yang diam saja sejak tadi. "Dor!" Ucap Arjuna sambil menggerakkan tangannya didepan wajah Adhista agar dia berhenti bengong. Adhista langsung gelagapan dan menatap Arjuna. "kok aku ga tau kalau kakak udah sampe?" Tanya Adhista kikuk. "Ya gimana mau tau, kamu bengong. udah belom? kalo udah yuk sekarang aja, nanti keburu sore" Ajak Arjuna melirik kearah Jam tangannya. "Kayaknya jalan-jalan nya kapan-kapan aja deh kak, tiba-tiba badan aku kayak lemes gitu" Ucap Adhista, padahal badannya sehat sejahtera dan tidak lemas sama sekali. "Kamu sakit?" Tanya Arjuna meletakkan tangannya di kening Adhista. "Ga panas tuh, yaudah kalo mau ditunda mah. berarti sekarang pulang ya, kamu jangan kangen aku kalo gitu haha" Ejek Arjuna sambil melempar lelucon . "Iya, yuk kak cepetan" Ajak Adhista lalu berjalan meninggalkan Arjuna dibelakang. Sesampainya Adhista di parkiran, dia langsung memakai Masker dan Helmnya. Arjuna yang baru saja sampai, langsung memakai helm dan scarfnya, agar tetap putih katanya. Arjuna lalu menaik motornya dan menyalakannya, kemudian Adhista langsung naik ke atas motornya. "Udah Dhis?" Tanya Arjuna memastikan. "Udah" Jawab Adhista lemas tak bersemangat, lalu Adhista langsung memeluk badan Arjuna erat, seperti Arjuna akan pergi jauh. Arjuna yang bingung akan tingkah laku Adhista, hanya diam saja sambil fokus mengendarai motor. Adhista hanya ingin cepat-cepat sampai rumah, dan menangis dibalik pintu kamarnya. Adhista benar-benar bingung harus menanyakan nya kepada siapa. teman-teman nya pun pasti tak akan tahu, Arjuna sakit apa. Karena menurut Adhista, Arjuna adalah orang yang sangat tertutup tentang hal pribadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD