Kamis sepulang sekolah, Adhista datang lagi kerumah sakit ditempat Arjuna berada. Adhista berjalan ke kamar Sadewa dimana Arjuna dirawat.
Bagai mendapat uang ratusan juta, Adhista senang karena hari ini Arjuna sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Tapi, belum boleh untuk pergi ke sekolah, jadi Arjuna akan libur dan masuk lagi minggu depan.
"Una, Mama udah beresin barang-barang kamu disana ya. Kalo Dhista udah sampe langsung aja ke bawah, Mama mau bayar biaya administrasi nya dulu ya," jelas Indah lalu melenggang pergi dari kamar Arjuna.
Arjuna sedang rapi-rapi sambil membenarkan rambutnya agar terlihat tampan dan gagah di depan Adhista nanti.
"Kak, punten. princess dateng nih," ucap Adhista lalu langsung saja masuk ke dalam kamar Arjuna.
"Belom dijawab udah masuk aja. dasar Panjul!" seru Arjuna yang masih setia di depan cerminnya.
"Widih masih sakit juga, udah narsis aja lo. udah yuk pulang, Bunda udah nunggu di bawah," ajak Adhista lalu membawa barang-barang Arjuna ke bawah.
Arjuna mendorong kursi roda nya sendiri bersama Adhista yang berjalan di sampingnya.
"Ngga bisa main dong ya, padahal lagi ada acara di Gunung Gede Pangrango," ucap Adhista sambil memencet nomor lift.
"Iya, lain kali aja. Waktu taun baru deh ya? kita ke Gunung Semeru, pasti rame. eh apa kita ke Raja Ampat aja ya duh jadi pengen kan anjir, lo si ngajakin gue," Omel Arjuna.
"Dih bisa gitu, yaudah rencananya nanti aja. yang penting kamu sembuh dulu. Udah yuk masuk, kasian Bunda nungguin nya lama," ajak Adhista lalu masuk ke dalam lift bersama Arjuna.
Sesampainya mereka berdua dibawah, ternyata sudah ada beberapa teman Arjuna. Seperti Chandra, Rizky, Reihan, dan Naufal. Semua tanpa sepengetahuan Arjuna, dan Adhista lah yang merencanakan semua itu.
"Weh anjir, udah gue bilang jangan jenguk malah pada ngeyel ya lo pada," seru Arjuna sedikit emosi.
"Santai dong, disuruh pacar lo kita-kita ini. Marahin Adhista tuh," balas Chandra memanas-manasi Arjuna.
Arjuna langsung diam, karena dia tak bisa marah kepada perempuan yang sangat di sayanginya.
"Una, ayo nak," panggil seorang perempuan di depan loby rumah sakit.
"Nah ayo kak, udah sana lo pada pergi. Rencananya ngga kaya gini juga, memang penghacur rencana kalian mah," omel Adhista lalu dirinya dan Arjuna berjalan ke depan loby.
Adhista menaruh barang-barang Arjuna di bagasi kemudian Adhista membantu Arjuna untuk menaiki mobilnya. Teman-teman Arjuna juga ikut mengantar Arjuna sampai menaiki mobil.
"Woi gue duluan balik ye, Titi DJ bro," ucap Arjuna sambil melambaikan tangannya ke arah para laki-laki tampan itu.
"Ah anjir, ngabisin bensin doang ini mah gue," seru Chandra tak terima.
"Yaudah, mending kita ke rumah Juna sambil bawa buah kayak yang disuruh Adhista tadi," ajak Rizky orang paling waras diantara mereka semua.
"Nah bener juga, yaudah dah yok. Gue ambil mobil dulu, kalian nunggu disini apa ikut gue nih?" tanya Chandra.
"Ya nunggu disini lah anjir. Ogah banget gue ikut ambil mobil, mana jauh lagi," jawab Naufal orang termager di antara mereka.
"Yeu bajing, yaudah tunggu lo semua disini," balas Chandra lalu dia pergi ke basemen untuk mengambil mobilnya.
***
Dirumah Arjuna, Adhista dan Indah sedang merapikan kamar Arjuna yang berantakan itu. Arjuna sedang tiduran di kamar Indah sambil bermain game, seperti Raja.
"Bun, kamar Kak Juna tuh emang bau rokok ya? bau nya ngga enak lagi," tutur Adhista sambil kadang menutup hidungnya menggunakan baju.
"Kamu ngga tau toh? Una itu perokok aktif. Bunda sampe capek bilangin dia, padahal udah sakit-sakitan begitu masih aja ngerokok terus. Bunda juga bingung mau bilangin gimana lagi. Coba Dhista kamu ngomong sama dia, barangkali nurut," jawab Indah tentang putranya yang tampan itu.
"Lah iya kah? padahal bibirnya kak Juna ngga item, dan ngga keliatan kalo dia perokok aktif. soalnya ngga ada bau-bau rokok gitu Bun di mulut atau bajunya. Kak Juna juga udah sering aku bilangin jangan ngerokok, tapi kayaknya dia masih dn belum berhenti deh," ucap Adhista menjelaskan.
"Keren banget pencitraan nya si Una, iya emang anak lanang satu itu kalo dibilangi susah banget, ngga kaya Daniel," gumam Indah sambil membereskan Kasur Arjuna dan Adhista membereskan lemari belajar nya.
"Bun, aku jadi penasaran.. Kak Juna tuh sakit apa ya?" tanya Adhista.
"Arjuna ngga cerita toh sama kamu?" Tanya Indah yang mulai serius pembicaraan nya.
"Ngga, kak Juna ngerahasiain itu semua. Setiap aku nanya, pasti langsung di alihin topiknya," jawab Adhista sedih.
"Arjuna tuh sebenernya sak...." ucapan Indah terpotong karena ada suara bell dari bawah.
"Yah, yaudah deh Bun kapan-kapan aja. aku buka pintunya dulu ya," seru Adhista lalu dirinya turun ke bawah untuk membukakan pintu rumah Arjuna yang besar itu.
Adhista berjalan menuju pintu besar yang berwarna Brokenwhite, lalu membukanya.
"Ahelah lo mah ganggu gue lagi rumpi aja," omel Adhista saat tau siapa yang datang.
"Anyink lo marah-marah mulu si, giliran sama Juna aja lemah lembut lo. dasar cewek," balas Chandra gantian.
"Udah elah lo berdua kalo ketemu berantem terus, akur kek kali-kali bosen gue liatnya. Yaudah yuk ah langsung masuk aja," ajak Rizky lalu mereka semua masuk ke dalam rumah Arjuna yang super besar dengan tema Brokenwhite.
"Kak Juna ada di kamar Bunda tuh, jangan berisik lo pada," seru Adhista kepada para lelaki itu.
"Wuidih sokap bener lo Dhis, manggil Mak nya Arjuna Bunda. udah kek mantu aja," ejek Chandra lagi dan lagi.
"Kan emang bener Ndra, Dhista ini calon mantu Mama," jawab Indah dari lantai atas.
"Mampus lo Chan haha," Rizky gantian yang mengejek Chandra.
"Eh ada Tante," ujar Chandra malu-malu lalu salim kepada Indah dan diikuti oleh ketiga temannya.
"Yaudah sana langsung aja ke kamar, Una ada di kamar. Tante mau bikin minuman dulu, kalian mau minum apa?" tanya Indah.
"Eh Tante mah, duh ngga enak jadinya ngerepotin. Rizky mau es jeruk aja deh," ucap Rizky malu-malu t*i kucing.
"Yeu k*****t, gue kira lo ngga mau minta apa-apa. Yaudah deh Tante saya juga samain aja kaya Rizky," jawab Chandra lalu mendapat tatapan tajam dari Adhista.
"Dhista sama Chandra kok sedikit mirip ya, duh jangan-jangan jodoh nih kalian," ucap Indah tiba-tiba yang tidak mengetahui bahwa Chandra dan Adhista adalah kakak beradik.
"Aduh tante, gamau ya saya dapet jodoh modelan Adhista gitu. Istighfar terus yang ada," sergah Chandra memandang Adhista jijik.
"Chandra ngga boleh begitu kamu nak, Dhista anak baik gini kok gak mau. mantu idaman tau Dhista tuh, iya ngga Dhista?" tanya Indah sekaligus membela Adhista lalu memeluk calon mantunya itu.
"Iya tuh Bun bener, Bunda aja sayang banget kan sama aku," jawab Adhista mulai bermanja-manja kepada Indah.
"Nah iya, yaudah kita bikin minum aja yuk Dhista. biar mereka ke kamar Arjuna," ajak Indah lalu dirinya dan Adhista berjalan ke arah dapur.
Di dapur, tak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Adhista yang fokus memeras buah jeruk dan Indah yang sedang menyiapkan gelas dan gula itu pada fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
"Dhis, kamu itu beneran mirip lho sama Chandra. Duh Bunda jadi takut gini," seru Indah memecah keheningan.
"Aduh Bundaaaa, aku itu sama Kak Chandra kakak adik. beda dua tahun doang, astaghfirullah jangan salah sangka gitu dong," jawab Adhista gemas lalu Indah hanya tertawa saja.
"hahaha aduh Dhista maafin Bunda ya haha, Bunda beneran ngga tau. Una soalnya ngga pernah cerita apa-apa," ucap Indah dan Adhista hanya memakluminya.