“Hiks …. Siapa yang menculikku, hiks.” Elitia menangis dan berteriak sesudah ia sadar. Tangan dan kakinya diikat pada bangku kayu. Matanya juga ditutup rapat, hanya mulut saja yang tidak. Ruangan dirasa sangat pengap dan gelap karena Elitia tidak bisa menghirup udara segar. Keringat juga keluar dari pori-porinya. Elitia berpikir, sepertinya yang menculiknya ini adalah saingan ayahnya atau yang menjadi haters sang ayah. “Heii …. Siapapun kamu. Ini dimana? Sini tunjukkan siapa kamu,” teriak Elitia lagi. Dia sampai mengguncangkan kursinya agar bisa sedikit bebas, sayang ikatan tali ini begitu kuat sekali. “Tolonggg …. Tolong lepaskan aku.” Elitia terus berteriak lagi agar ada yang mendengarnya. “Tolong ….” Teriak Elitia lagi. Teriakannya ini rupanya ada yang dengar. “Berhenti berteriak

